Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Menyusun Strategi
Lima hari tersisa sebelum pertemuan pembagian saham, dan rumah keluarga Wijaya berubah menjadi markas kecil penuh kertas kerja, laptop menyala di setiap sudut ruang tamu, dan diskusi tegang yang berlangsung hingga larut malam.
Sari, dengan latar belakang pendidikan hukum bisnis yang selama ini jarang benar-benar ia gunakan sejak memilih fokus mengurus keluarga, kini mengambil alih peran sebagai koordinator strategi mereka. Ia duduk di meja makan yang telah disulap menjadi meja kerja darurat, dikelilingi tumpukan dokumen perusahaan yang berhasil mereka kumpulkan.
"Kita punya masalah besar," Sari membuka diskusi malam itu, wajahnya serius menatap Kirana dan Denis yang duduk di seberangnya. "Surat wasiat Bapak yang asli tidak bisa kita temukan di rumah. Aku sudah mencari di semua tempat yang mungkin, termasuk brankas kecil di kamarnya."
"Mungkin ada di kantor notaris?" usul Kirana.
"Sudah kutelepon," Sari menjawab, "tapi notaris keluarga kita, Pak Yusuf, sedang cuti ke luar negeri selama dua minggu. Stafnya bilang mereka tidak bisa mengakses dokumen sensitif tanpa kehadirannya."
Denis mengetuk-ngetukkan pena di atas meja, tanda kegelisahannya. "Tanpa surat wasiat yang jelas, kita akan kesulitan menunjukkan apa sebenarnya keinginan Bapak soal kepemilikan dan pembagian saham. Ratna bisa memanfaatkan celah ini."
"Aku sudah menghubungi seorang pengacara," Sari melanjutkan, mengeluarkan kartu nama dari dompetnya. "Namanya Pak Wibowo, rekomendasi dari temanku yang bekerja di firma hukum korporat. Dia bilang tanpa surat wasiat, kita bisa mengandalkan anggaran dasar perusahaan dan akta pendirian untuk menunjukkan struktur kepemilikan yang sah saat ini. Tapi itu tidak akan menghentikan Ratna untuk mengajukan tuntutan atas nama kekerabatan, terutama karena kondisi kesehatan Bapak."
"Bagaimana dengan posisi Bapak sebagai pemegang saham mayoritas?" tanya Kirana. "Bukankah itu seharusnya cukup melindungi kepentingan keluarga?"
"Secara hukum, ya," jawab Sari. "Tapi masalahnya, karena Bapak sedang tidak bisa mengambil keputusan sendiri, ada celah hukum yang memungkinkan pihak lain mengajukan permohonan pengampuan sementara terhadap aset dan sahamnya, terutama jika mereka bisa meyakinkan bahwa keluarga inti tidak kompeten mengelolanya."
Kirana merasakan kekhawatiran baru muncul. "Jadi Ratna bisa saja mengklaim bahwa kita, sebagai keluarga, tidak mampu mengelola perusahaan, dan meminta pengadilan menunjuknya sebagai pengampu sementara?"
"Tepat sekali," Sari mengangguk berat. "Dan sayangnya, dia punya cukup pengaruh di kalangan bisnis kota ini untuk membuat argumen itu terdengar meyakinkan di mata orang luar."
Denis yang sejak tadi diam, tiba-tiba angkat bicara. "Bagaimana kalau kita menunjukkan bahwa keluarga ini justru sudah mengambil langkah proaktif? Maksudku, kita bisa mengajukan salah satu dari kita untuk mengambil peran sementara sebagai direktur operasional, dengan persetujuan tertulis dari Bapak sebelum operasi kemarin, kalau memang ada."
"Itu ide bagus," Sari matanya berbinar sedikit. "Tapi apa memang ada persetujuan tertulis semacam itu?"
Mereka semua terdiam, mencoba mengingat-ingat kembali dokumen apa saja yang sempat Bapak tandatangani sebelum operasi.
"Tunggu," Kirana tiba-tiba teringat sesuatu. "Waktu aku menemukan surat-surat di ruang kerja Bapak, ada map berisi dokumen-dokumen legal lain yang belum sempat aku periksa detail. Mungkin ada sesuatu di sana."
"Ayo kita cek sekarang," Denis segera bangkit, semangat baru muncul di wajahnya.
Mereka bertiga menuju rumah keluarga malam itu juga, meski jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Ruang kerja Bapak masih dalam kondisi yang sama seperti terakhir kali Kirana tinggalkan, gelap dan sunyi. Kirana menyalakan lampu, dan mereka mulai memeriksa setiap map dokumen dengan teliti.
Setelah hampir satu jam mencari, Sari akhirnya menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. "Ini dia," ia mengangkat sebuah dokumen bertuliskan "Surat Kuasa Sementara" dengan tanda tangan Bapak yang tertanggal beberapa bulan sebelum ia jatuh sakit.
"Apa isinya?" tanya Kirana, mendekat penuh harap.
Sari membaca cepat, alisnya berkerut konsentrasi. "Ini surat kuasa yang memberikan wewenang kepada Sari Wijaya untuk bertindak atas nama Hartono Wijaya dalam hal operasional bisnis, jika suatu saat beliau berhalangan karena kondisi kesehatan. Ditandatangani dan disaksikan oleh dua orang saksi."
Ruangan itu hening sejenak, semua orang mencerna implikasi dari penemuan itu.
"Bapak sudah mengantisipasi ini," bisik Kirana, terharu memikirkan betapa jauh pemikiran ayahnya, bahkan di tengah semua kebohongan yang ia jaga. "Dia sudah menyiapkan jalan keluar, bahkan sebelum kita tahu tentang ancaman Ratna."
"Ini bisa jadi senjata kuat kita," Denis berkata penuh semangat. "Dengan surat kuasa ini, Sari punya legitimasi hukum untuk mewakili kepentingan Bapak dalam pertemuan nanti."
Sari menatap dokumen itu dengan campuran perasaan—bangga karena kepercayaan yang diberikan ayahnya, namun juga cemas dengan beban besar yang kini ada di pundaknya. "Aku tidak pernah membayangkan harus menggunakan ini dalam situasi seperti ini."
"Kamu tidak sendirian, Kak," Kirana menggenggam tangan kakaknya. "Kita akan hadapi ini bersama-sama. Kau, aku, Denis, dan Ibu."
Denis mengangguk setuju, meski matanya menunjukkan sedikit keraguan. "Aku tahu aku bukan pemegang saham resmi di sini, tapi aku akan mendukung kalian semaksimal mungkin, bahkan jika itu hanya berarti duduk di kursi penonton selama pertemuan berlangsung."
"Kau lebih dari sekadar penonton, Denis," Sari menatapnya dengan tulus, sesuatu yang beberapa hari lalu masih terasa canggung antara mereka kini mengalir lebih alami. "Kau bagian dari keluarga ini. Pendapatmu penting."
Malam itu, mereka menghabiskan waktu berjam-jam menyusun strategi bersama Pak Wibowo melalui panggilan video, mempersiapkan setiap kemungkinan argumen yang bisa diajukan Ratna dan bagaimana cara menghadapinya. Meski lelah, ada semangat baru yang tumbuh di antara mereka—semangat yang lahir bukan dari ketakutan semata, melainkan dari tekad untuk melindungi warisan keluarga yang, terlepas dari segala kerumitannya, tetap layak diperjuangkan bersama.
Menjelang dini hari, saat mereka akhirnya memutuskan untuk beristirahat, Kirana menyempatkan diri singgah sebentar ke kamar lamanya. Ia menatap ponselnya, mendapati pesan baru dari Pak Anton, atasannya di kota.
*"Kirana, tim manajemen menyetujui proposal kerja jarak jauhmu untuk tiga bulan ke depan, dengan evaluasi berkala. Semoga ayahmu lekas pulih."*
Senyum lega mengembang di wajah Kirana yang kelelahan. Setidaknya, satu beban di pundaknya kini sudah menemukan jalan keluar—memberinya sedikit ruang untuk bernapas di tengah badai lain yang masih harus mereka hadapi bersama keluarganya.
Ia meletakkan ponselnya di meja kecil dekat ranjang, menatap langit-langit kamar lamanya yang sudah begitu familiar sejak masa kecil. Pikirannya melayang pada Sari, yang kini menanggung beban besar sebagai calon penanggung jawab operasional perusahaan, dan pada Denis, yang meski bukan bagian resmi dari struktur kepemilikan, telah menunjukkan dedikasi yang mengejutkan dalam beberapa hari terakhir.
Ada sesuatu yang menenangkan dalam menyaksikan bagaimana krisis ini, alih-alih memecah belah mereka lebih jauh, justru mulai menyatukan kepingan-kepingan keluarga yang selama bertahun-tahun terpisah oleh kebohongan. Kirana menyadari bahwa mungkin inilah cara alam semesta bekerja—terkadang, badai paling hebat sekalipun dibutuhkan untuk memaksa orang-orang yang saling mencintai namun terlalu takut untuk jujur, akhirnya berani berdiri berdampingan menghadapi kenyataan bersama-sama.
Ia memejamkan mata, membiarkan kelelahan hari itu perlahan menariknya ke dalam tidur, dengan harapan kecil bahwa esok hari akan membawa mereka selangkah lebih dekat menuju penyelesaian dari seluruh kekacauan ini.
---
*Bersambung ke Bab 15...*