Kecelakaan tragis merenggut orang tua Hana, menyisakan utang menumpuk yang mengandaskan mimpinya.
Demi bertahan hidup, ia rela menjadi office girl tak terlihat di Adhitama Group.
Namun, satu malam kelam merobek takdirnya. Akibat sabotase racun pemicu gairah, Alvaro Adhitama, CEO dingin dan berkuasa kehilangan kendali dan merenggut kesucian Hana secara biadab.
Didera rasa bersalah, Alvaro menuntut pernikahan. Sadar akan jurang kasta di antara mereka, Hana memilih kabur meninggalkan ibu kota.
Sayang, kekuasaan Alvaro sanggup mencegat pelariannya. Ditekan dominasi mutlak sang CEO, Hana akhirnya pasrah diseret kembali dan tanpa menyadari ada benih baru yang mulai tumbuh di rahimnya.
Bagaimana Kelanjutannya???? Ada yang penasaran??
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAA!!!
Follow IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Secercah Harapan
Keesokan harinya, proses pendaftaran pernikahan berlangsung sangat cepat dan tertutup rapat. Tak ada pesta megah, tak ada riasan pengantin yang mewah, apalagi sorotan kamera media yang biasa mengejar sosok CEO Adhitama Group.
Di sebuah ruangan privat berpendingin udara di kantor catatan sipil, mereka be dia masuk dan segera mendaftarkan pernikahan mereka agar tercatat dan pernikahan mereka pun dah.
Setelah seluruh berkas resmi ditandatangani dan dua buku nikah itu berada di tangan Alvaro, pria itu segera memotret dokumen tersebut.
Tanpa membuang waktu, Alvaro menyuruh Nakula mengirimkan dokumen dan buku nikah tersebut secara langsung melalui kurir khusus ke kediaman utama keluarga Adhitama.
Di kediaman mewah keluarga Adhitama di kawasan Kebayoran Baru, suasana pagi yang tenang mendadak gempar.
Tuan Hendra Adhitama sedang menikmati kopi paginya di ruang keluarga saat seorang pelayan mengantarkan sebuah amplop cokelat tebal berstempel khusus dari sekretariat pribadi Alvaro. Nyonya Kirana, ibu Alvaro, duduk di samping suaminya seraya merajut.
"Apa itu dari Alvaro, Pa?" tanya Nyonya Kirana penasaran.
Papa Hendra membuka amplop tersebut. Begitu melihat dua buku nikah resmi beserta salinan akta nikah atas nama Alvaro Adhitama dan Hana Anindita, kacamata baca di hidungnya hampir saja terlepas.
"Apa-apaan ini?!" seru Hendra kaget, matanya melotot menatap lembaran kertas berstempel resmi negara itu.
"Ada apa, Pa? Soal pekerjaan kantor lagi?" Kirana mendekat dan ikut melihat dokumen di tangan suaminya. Wanita paruh baya yang anggun itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, terkejut setengah mati.
"P-Pernikahan?! Alvaro... anak kita sudah menikah?!" seru Mama Kirana begitu terkejut dengan benda yang baru saja dia lihat ini.
"Nakula! Hubungi Nakula sekarang!" perintah Hendra tegas pada pengawalnya, dadanya naik turun akibat guncangan kabar angin puyuh ini.
Belum sempat telepon dihubungkan, ponsel pribadi Hendra berdering. Nama Alvaro tertera di layar. Hendra langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.
^^^Papa Hendra: [Alvaro! Apa maksudnya semua ini?! Kamu mengirimkan buku nikah tanpa memberitahu Papa dan Mama sedikit pun?!] cecar Hendra dengan suara membahana.^^^
Dari seberang telepon, suara Alvaro terdengar sangat tenang namun tegas tanpa ada sesuatu hal yang harus diributkan.
Alvaro: [Papa dan Mama selalu mendesak Alvaro untuk segera menikah, bukan? Alvaro sudah memenuhi keinginan kalian. Alvaro sudah menikah secara sah hari ini.]
^^^Mama Kirana: [Tapi siapa wanita ini?! Hana Anindita?!] timpal Nyonya Kirana yang merebut ponsel suaminya dengan mata berkaca-kaca.^^^
^^^Mama Kirana: [Alvaro, kenapa kamu merahasiakan hal sebesar ini dari Mama? Bawa menantu Mama ke rumah sekarang juga! Mama tidak mau tahu, bawa dia ke sini hari ini!]^^^
Alvaro: [Baik, Ma. Kami akan ke sana siang ini.] jawab Alvaro sebelum menutup sambungan telepon.
Siang harinya, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di depan pelataran rumah megah bergaya kolonial milik keluarga Adhitama.
Hana duduk di dalam mobil dengan tangan yang saling bertaut erat di pangkuan. Wajahnya pucat pasi. Ia membayangkan skenario terburuk yang akan menghantamnya yaitu dicaci maki, diusir, atau dituduh sebagai wanita pengeruk harta yang menjebak putra tunggal mereka.
Alvaro yang duduk di sisinya menggenggam jemari dingin Hana.
"Jangan takut. Ada aku." serunya mencoba menenangkan Hana yang terlihat begitu gugup sekali.
"Alvaro... bagaimana kalau orang tuamu benci sama aku?" bisik Hana gemetar.
"Aku cuma orang miskin dan office girl di kantor kamu..." ucapnya terpotong dengan Alvaro yang sudah berbicara terlebih dahulu.
"Mereka orang tuaku, Hana. Dan kau adalah istriku," tegas Alvaro.
Pria itu mengelus punggung tangan Hana untuk memberikan ketenangan, lalu membukakan pintu mobil untuknya.
Saat mereka melangkah menaiki anak tangga kediaman Adhitama, pintu jati besar terbuka lebar. Tuan Hendra dan Nyonya Kirana sudah berdiri menunggu di foyer utama.
Hana menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani menatap wajah kedua orang tua terpandang itu. Tubuhnya gemetar hebat, bersiap menerima penolakan pahit.
Namun, dugaan Hana meleset sepenuhnya.
Nyonya Kirana melangkah cepat memotong jarak. Bukannya menyemburkan amarah atau menatapnya dengan hinaan, wanita anggun berbusana sutra itu justru langsung merengkuh tubuh kecil Hana ke dalam pelukannya yang hangat dan harum.
Hana membeku di tempatnya, matanya membelalak kaget.
"Ya Tuhan... Nak," bisik Nyonya Kirana penuh kerinduan dan rasa haru seraya melepaskan pelukannya pelan-pelan.
Jemari wanita tua itu meraba pipi Hana yang halus dengan sangat lembut.
"Ini menantu Mama... Kenapa matamu sembap begini, Sayang? Kamu pasti sangat kaget dengan kelakuan anak Mama yang serba mendadak ini, ya?" tanya mama Kirana dengan begitu lembut dan berbeda jauh dengan drama-drama yang mengisahkan tentang mertua dan menantunya.
"M-Mama...?" panggil Hana terbata-bata, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Tuan Hendra melangkah mendekat. Pria sepuh berwajah wibawa itu menatap Hana dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada kilat keangkuhan di matanya, melainkan binar ketulusan seorang ayah yang lega.
"Alvaro sudah menceritakan sedikit latar belakangmu, Nak Hana." kata Tuan Hendra dengan suara berat namun hangat.
"Keluarga kami tidak pernah peduli dari mana asal-usulmu, apa pekerjaanmu dulu, atau berapa banyak harta yang kau miliki. Bagi kami, selama Alvaro memilihmu dengan terhormat dan kau adalah wanita baik-baik yang mau mendampingi anak kami yang keras kepala ini, kau adalah bagian dari keluarga Adhitama." turut Papa Hendra dengan begitu panjang dan memberitahukan bahwa Hana begitu diterima di keluarga mereka tanpa memandang status.
Hana terpaku. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes deras membasahi pipinya. Rasa hangat yang sudah lama hilang sejak kepergian kedua orang tuanya mendadak menyusup masuk memenuhi relung dadanya yang hampa.
"Terima kasih... Terima kasih banyak, Bapak... Ibu..." tangis Hana pecah, menyalami dan mencium tangan kedua orang tua Alvaro dengan penuh rasa hormat.
"Jangan panggil Bapak dan Ibu," potong Nyonya Kirana seraya mengusap air mata di pipi Hana dengan sapu tangan sutranya.
"Panggil kami Papa dan Mama. Mulai hari ini, rumah ini adalah rumahmu juga, Sayang." sahut Mama Kirana lagi dengan lembut.
Alvaro berdiri di samping Hana, menyaksikan pemandangan itu dengan dada yang bergemuruh. Pria itu menatap istrinya yang kini tersenyum tipis di dalam pelukan mamanya.
Untuk pertama kalinya sejak malam kelam itu, Alvaro merasakan secercah harapan bahwa keputusan nekatnya ini mungkin akan menjadi awal dari pemulihan luka di antara mereka.
Kehangatan di dalam ruang keluarga kediaman utama Adhitama mengalir begitu alami, seolah menghapus hawa dingin yang selama beberapa hari terakhir mencengkeram jiwa Hana.
.
.
Cerita Belum Selesai.....