Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.
Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.
Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!
IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com
Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar di Sunway, Badai di Jakarta
Pukul 03.30 pagi. Suara hujan gerimis yang menyapu genting apartemen studio di kawasan Subang Jaya menjadi satu-satunya irama di dalam kamar yang remang. Emily Valencia melangkah masuk dengan napas perlahan. Aroma kayu cendana dari jaket Sean yang ia peluk saat berpisahan di Bandara Subang dua jam lalu masih menempel samar di ceruk lehernya.
Ia tidak langsung berkemas dengan panik. Emily berjalan mendekati meja belajarnya yang penuh dengan tumpukan kertas kalkulasi ekonometrika, buku teks Corporate Finance, dan cangkir kopi dingin sisa kemarin sore.
Di kamar sewaan berukuran dua puluh meter persegi ini, Emily menikmati perannya sebagai mahasiswi baru yang sederhana. Ia mengingat bagaimana ia menyeduh mi instan bersama Mei Ling di tengah malam, berjalan kaki di bawah terik matahari Sunway menuju kantin SS15 demi nasi lemak tiga ringgit, dan merasa menjadi manusia biasa yang berhak atas masa muda yang tenang. Kehidupan maba di Kuala Lumpur ini adalah tempat persembunyiannya sekaligus bukti bahwa ia sanggup meraih prestasi akademis murni tanpa bayang-bayang kekuasaan siapa pun.
Emily mengambil selembar kertas catatan berlogo kampus Sunway, lalu menuliskan pesan singkat untuk sahabatnya:
"Mei, aku harus izin ke Jakarta selama dua hari untuk urusan keluarga yang sangat mendadak. Tugas kelompok ekonometrika sudah kuselesaikan dan ada di dalam folder terbagikan di laptop. Tolong titip absen ke Dosen. Aku bakal bawa oleh-oleh kopi terbaik saat balik ke Sunway nanti."
Emily menyertakan kunci cadangan apartemen dan sedikit uang tunai di samping catatan tersebut. Meskipun badai finansial dan intrik keluarga menunggunya di Jakarta, Emily menolak untuk melepaskan studinya di Malaysia. Ia bukan lagi gadis korban keadaan; ia adalah seorang wanita yang mengendalikan dua dunia secara bersamaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 05.00 pagi. Sebuah sedan hitam milik Helios Capital meluncur tenang membelah kabut fajar menuju Terminal Penerbangan Eksekutif Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA).
Di dalam ruang ganti privat terminal eksekutif, Emily menanggalkan pakaian maba-nya. Kaus oblong tipis dan celana jins kusamnya ia lipat rapi ke dalam koper kain. Ia melangkah keluar dalam balutan gaun setelan double-breasted blazer berwarna putih gading buatan rumah mode Eropa, dipadukan dengan celana pipa berpotongan tajam serta sepatu stiletto warna senada. Kacamata tipis sederhananya digantikan oleh bingkai kacamata berdesain modern yang memberi kesan tegas, dingin, dan sangat dominan.
Lukas, asisten pribadinya dari Zurich, membungkuk sopan seraya menyerahkan sebuah map kulit tebal berstempel segel merah timbul dari Mahkamah Arbitrase Internasional.
"Seluruh jaringan media nasional Indonesia sudah kami koordinasikan, Nona Valencia," ujar Lukas dengan suara rendah dan profesional. "Pukul sembilan pagi ini, pengumuman pertunangan paksa Tuan Sean dan Nona Valerie akan disiarkan secara langsung oleh lima stasiun televisi swasta utama di Jakarta."
Emily menerima map kulit tersebut, meraba segel timbul yang memuat salinan sah sertifikat 25% saham warisan almarhumah ibu Sean, kunci utama untuk melumpuhkan kekuasaan Ayah Sean di Anderson Group.
"Bagus," bisik Emily, matanya memancarkan keteguhan yang tak tergoyahkan dari balik lensa kacamatanya. "Biarkan mereka menyiapkan panggung kemenangannya terlebih dahulu. Semakin tinggi mereka memanjat, semakin menyakitkan saat mereka jatuh."
Pesawat jet pribadi Helios Capital melepaskan roda-rodanya dari landasan pacu KLIA, terbang menembus awan pagi menuju langit Jakarta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 08.30 WIB. Grand Ballroom Hotel Mulia, Jakarta.
Gemerlap lampu kristal gantung membiaskan pendaran mewah di seluruh ruangan yang didekorasi oleh ribuan tangkai mawar putih impor. Ratusan tamu undangan dari kalangan pejabat tinggi, konglomerat papan atas, dan puluhan awak media nasional memadati ruangan. Kamera-kamera berita terpasang di setiap sudut, siap menyiarkan acara penggabungan dua raksasa bisnis terbesar di Indonesia.
Di atas panggung utama, Valerie Wijaya berdiri dengan senyum kepuasan yang amat memuakkan. Ia mengenakan gaun pengantin couture bernilai miliaran rupiah, merapatkan tubuhnya di samping Sean yang berdiri kaku bagaikan patung es.
Di sisi kanan panggung, Tuan Besar Anderson dan Tuan Wijaya berdiri dengan senyum lebar, bersiap menandatangani dokumen penggabungan konsorsium dan surat perjanjian pertunangan resmi yang mengikat harta kedua keluarga.
Sean mengenakan tuksedo hitam kaku. Wajahnya pucat, pandangannya dingin menatap lurus ke arah pintu utama ballroom yang tertutup rapat. Di dalam saku celananya, tangan Sean mengepal begitu keras hingga pergelangan tangannya memutih.
Dua puluh menit lagi, Mil... batin Sean, menahan gejolak napasnya yang berat di tengah tekanan ruangan yang menyiksa.
Valerie menyenggol pelan lengan Sean, berbisik dengan nada beracun di balik senyum manisnya untuk kamera media. "Jangan pasang muka mayat gitu, Sean. Cewek kacamata miskinmu itu nggak bakal datang. Dia pasti lagi menangis ketakutan di apartemen murahnya di Subang Jaya setelah diproses tim hukum keluargaku."
Sean sama sekali tidak menoleh. Suaranya mengalun sangat rendah dan membekukan. "Tutup mulutmu, Valerie. Kamu belum kenal siapa Emily Valencia yang sebenarnya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 09.00 WIB tepat. Pembawa acara mengumumkan momen puncak acara melalui pengeras suara utama.
"Hadirin yang berbahagia, kini tibalah saatnya penandatanganan Dokumen Penggabungan Aset Anderson-Wijaya serta Penandatanganan Perjanjian Pertunangan Resmi antara Tuan Sean Anderson dan Nona Valerie Wijaya!"
Tepuk tangan riuh bergema di seluruh ballroom. Kilatan lampu kamera wartawan menyala bertubi-tubi bagaikan badai petir.
Petugas membawa dua meja mahoni kecil ke tengah panggung. Tuan Besar Anderson menyunggingkan senyum kemenangan, mengambil pena emas dan langsung menorehkan tanda tangannya di dokumen konsorsium. Selanjutnya, ia menyodorkan pena emas tersebut kepada Sean.
"Tanda tangani sekarang, Sean," bisik Ayahnya dengan nada mengancam yang amat dingin dari balik giginya yang rapat. "Jangan bikin malu nama keluarga di depan seluruh media Indonesia."
Sean memegang pena emas tersebut. Jemarinya membeku di atas lembar kertas putih.
Valerie menatap Sean dengan mata membelalak penuh tuntutan kemenangan. "Tanda tangani, Sean!"
Hitungan detik terasa menyiksa. Keheningan mencengangkan mendadak menyelimuti ratusan tamu undangan yang menantikan sapuan pena Sean.
Dan tepat pada detik ketiga saat ujung pena emas itu hampir menyentuh kertas...
BAM!
Pintu mahoni raksasa setinggi lima meter di ujung utama ballroom terdorong terbuka lebar hingga menghantam dinding beton dengan bunyi nyaring yang menggelegar.
Seluruh tamu undangan tersentak kaget. Puluhan kamera wartawan seketika berputar 180 derajat ke arah pintu masuk.
Di bawah sorotan lampu kilat yang membabi buta dan dalam naungan dua puluh pengawal berjas hitam dari Helios Capital, Emily Valencia melangkah masuk.
Langkah kakinya yang terbalut stiletto mengetuk lantai marmer dengan irama yang amat dominan, anggun, dan berkuasa. Gaun blazer putih gadingnya memancarkan pesona seorang Ratu Finansial yang tak tersentuh.
Di tangannya, Emily menggenggam tinggi dokumen berstempel emas Mahkamah Arbitrase Internasional.
"Hentikan penandatanganan itu!" suara Emily mengalun jernih, tegas, dan menggema menguasai seluruh ruangan ballroom. "Seluruh transaksi penggabungan aset Anderson Group dinyatakan Batal demi Hukum!"
Wajah Valerie Wijaya seketika berubah pucat pasi bagaikan mayat. Ayah Sean berdiri mendadak dengan mata membelalak penuh amarah, sementara Sean menyunggingkan sebuah senyuman bangga yang amat tulus dari atas panggung.
Ratu telah tiba di medan perang.
Bersambung......