"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22. Test DNA
Rasa penasaran yang membakar dada membuat Adam tak lagi bisa berpikir jernih. Pagi-pagi sekali, ketika kabut tipis masih membungkus kota Bandung, pria itu sudah memarkirkan mobil tuanya di sudut jalan, tak jauh dari area tempat penitipan anak tempat Fitri biasa menitipkan Aiden. Matanya menatap tajam ke arah gerbang kayu bergaya minimalis itu, menunggu momen yang tepat dengan jantung berdegup kencang.
Adam tahu betul konsekuensi dari tindakan nekatnya. Namun, rasa haus akan kebenaran membuatnya mengabaikan akal sehat. Ia harus mendapatkan bukti yaitu sehelai rambut atau sampel biologis apa pun yang sanggup merobohkan dinding penolakan yang dibangun Fitri.
Tepat pukul delapan pagi, SUV putih milik Fitri berhenti di depan gerbang. Fitri melangkah turun, menuntun Aiden yang tampak menggemaskan dengan tas punggung kartun. Wanita itu berlutut sejenak, mengelus lembut kepala anaknya.
"Aiden pinter, ya? Nanti siang Ibu jemput," tutur Fitri lembut sambil membenahi letak topi merah di kepala anaknya.
"Iya, Ibu! Aiden mau main bola sama Mbak!" sahut balita itu riang.
Fitri mendaratkan ciuman hangat di dahi sang buah hati, lalu menyerahkannya kepada seorang pengasuh yang menyambut di pintu masuk. Setelah memastikan mobil Fitri melaju jauh menuju rumah sakit, Adam menarik napas panjang. Pria itu merapikan kemeja linennya, menyusun sandiwara di dalam kepala.
"Hati-hati sayang.. " ucap Fitri.
Dengan langkah mantap namun hati was-was, Adam melangkah mendekati gerbang. Pengasuh muda berseragam merah muda yang tadi menyambut Aiden kebetulan masih berdiri di area teras depan.
"Permisi, Mbak," sapa Adam dengan nada suara yang dibuat seramah mungkin.
Pengasuh itu menoleh lalu tersenyum sopan. "Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa dibantu? Mau bertanya seputar pendaftaran anak?"
Adam mengukir senyum tipis, mencoba menyembunyikan getaran di jemarinya. "Bukan, Mbak. Saya pamannya Aiden."
"Pamannya Aiden?" Pengasuh itu menatap Adam dengan dahi berkerut halus. "Tapi... Dokter Fitri tadi tidak menyampaikan apa-apa soal wali lain."
"Ah, iya. Dokter Fitri tadi keburu-buru ada panggilan operasi darurat di rumah sakit," potong Adam cepat, menyuntikkan kebohongan manis dengan intonasi meyakinkan. "Beliau baru saja telepon saya, minta tolong ambilkan topi merah milik Aiden yang tertinggal di area bermain depan. Soalnya nanti siang Aiden mau diajak acara keluarga, takut kepanasan."
Pengasuh muda itu tampak ragu sejenak. "Topi merah yang ada bordiran huruf A itu ya, Pak?"
"Nah, benar sekali, Mbak! Topi merah itu," sahut Adam mantap, mengangguk cepat. "Cuma di bangku taman depan, kan? Biar saya ambil sendiri sebentar, tidak sampai satu menit kok. Boleh?"
Melihat penampilan Adam yang rapi dan bahasa tubuhnya yang sangat meyakinkan, kewaspadaan pengasuh itu akhirnya melunak. "Oh... baiklah, Pak. Silakan, tapi di area teras depan saja ya, jangan masuk ke ruang dalam."
"Terima kasih banyak, Mbak," bisik Adam lega.
Langkah kaki Adam bergetar saat memasuki area bermain luar yang beralaskan rumput sintetis. Di atas bangku kayu kecil dekat perosotan, tampak topi kain berwarna merah tergeletak.
Adam menyambar topi tersebut dengan tangan gemetar. Tanpa membuang waktu, ia membalikkan bagian dalam topi di bawah paparan sinar matahari pagi. Matanya memicing tajam. Di sana, menempel pada lipatan kain bagian dalam, terdapat beberapa helai rambut halus anak kecil yang tertinggal.
Napas Adam memburu kencang. Dengan kehati-hatian luar biasa, jemarinya memungut tiga helai rambut halus itu, lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik klip kecil yang sudah ia siapkan di saku celana.
"Sudah ketemu topinya, Pak?" panggil pengasuh dari ambang pintu.
"Sudah, Mbak! Ini topinya. Terima kasih banyak, ya!" sahut Adam penuh kepura-puraan, menunjukkan topi merah itu sebelum bergegas melangkah keluar gerbang.
Begitu kembali ke dalam mobilnya dan mengunci pintu rapat-rapat, Adam menyandarkan kepala ke lingkar kemudi. Ia merogoh saku celana, menatap plastik klip berisi helai rambut mungil itu dengan mata berkaca-kaca. Tanpa menunda sepatah detik pun, Adam menyalakan mesin mobil, melaju kencang menuju laboratorium medis terkemuka di pusat kota Bandung untuk melakukan tes korelasi DNA.
Tiga hari berlalu bagaikan deretan jam penyiksaan paling lambat dalam hidup Adam. Pagi itu, udara dingin Bandung tertutup kabut tebal, menyelimuti pelataran gedung laboratorium medis di kawasan Dago.
Adam duduk mematung di dalam mobil tuanya. Seorang staf laboratorium pria mengetuk kaca jendela mobil Adam, menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal berstempel *Rahasia & Konfidensial*.
"Atas nama Pak Adam, ya? Silakan diperiksa dulu kelengkapannya, Pak," ucap petugas laboratorium itu sopan.
"Terima kasih, Mas..." suara Adam tercekat.
Jemarinya gemetar hebat sewaktu menerima amplop tersebut. Petugas itu berlalu, meninggalkan Adam sendirian dalam keheningan yang mencekam. Dengan rasa takut yang membuncah, ia merobek pinggiran kertas cokelat, menarik keluar dua lembar kertas putih berlogo resmi laboratorium.
Matanya melompati baris-baris istilah medis, langsung terkunci rapat pada kolom kesimpulan di bagian bawah halaman.
'Berdasarkan analisis penanda DNA (STR) dari sampel teruji, Probabilitas Paternitas antara Terduga Ayah (Adam) dan Anak (Aiden) adalah 99,99%. Dengan demikian, Terduga Ayah tidak dapat disingkirkan sebagai Ayah Biologis dari Anak.’
Plak!
Lembaran kertas itu terlepas dari genggamannya, melayang jatuh ke lantai mobil. Adam membenamkan wajah di atas lingkar kemudi, menangis sesenggukan. Dugaan yang selama ini memburu jiwanya kini telah terbukti secara ilmiah.
"Aiden... kamu benar-benar anakku, Nak..." bisik Adam serak di tengah isak tangisnya.
Rasa haru seketika tersapu oleh gelombang penyesalan yang dahsyat. Saat Fitri harus melewati masa kehamilan yang berat sendirian pasca perceraian, Adam justru sibuk menghamburkan uang demi menuruti kemanjaan Rosa. Saat Fitri bertaruh nyawa melahirkan Aiden, Adam sedang tenggelam dalam pertengkaran finansial yang picik.
Adam menyapu air matanya kasar, merapikan kembali kertas hasil tes DNA itu, lalu memasukkannya ke dalam tas kerja. Sebuah tekad nekat terpancar dari matanya yang memerah. Ia tidak bisa lagi diam. Ia harus menemui Fitri hari ini juga.
Sore harinya, hujan deras mengguyur area parkir Rumah Sakit Medika Utama. Adam berdiri menyandarkan tubuhnya di dekat mobil SUV putih milik Fitri, mengabaikan cipratan air hujan yang membasahi kemejanya. Tangannya mencengkeram erat amplop cokelat berisi hasil tes DNA.
Tak lama kemudian, sosok Fitri terlihat melangkah keluar dari pintu belakang rumah sakit, membawa payung lipat hitam. Langkah Fitri mendadak terhenti total saat menyadari keberadaan Adam yang berdiri menghadangnya di samping mobil.
"Mau apa lagi Anda ke sini, Pak Adam?" tanya Fitri dingin, nada suaranya ketus dan penuh batasan. "Saya sudah katakan, jangan pernah temui saya atau anak saya lagi!"
Adam melangkah mendekat, mengabaikan tatapan tajam Fitri. "Aku punya sesuatu yang harus kamu lihat, Fitri."
"Saya tidak berminat melihat apa pun dari Anda. Mencegat saya di area parkir seperti ini sangat tidak sopan!" tegur Fitri tajam, hendak membuka pintu mobilnya.
"Ini soal Aiden!" potong Adam setengah berteriak, mengalahkan deru suara hujan. Ia menyodorkan amplop cokelat itu tepat di depan dada Fitri. "Aku sudah melakukan tes DNA, Fitri! Ini hasilnya... 99,99 persen Aiden adalah darah dagingku!"
Tangan Fitri yang memegang gagang pintu mobil membeku seketika. Raut wajahnya yang tadinya tenang dan dingin mendadak berubah pucat pasi. Payung di tangannya sedikit miring, memperlihatkan sorot matanya yang gemetar hebat menatap amplop cokelat berstempel laboratorium di tangan Adam.
Adam menatap Fitri dengan mata berkaca-kaca, suaranya parau penuh keharuan sekaligus tuntutan. "Kamu tidak bisa menyembunyikannya lagi dari aku, Fitri. Dia anakku... anak kita!"
Fitri membuang muka sejenak, menarik napas panjang untuk menguasai emosinya yang nyaris pecah. Ketika ia kembali menatap Adam, sorot matanya tidak lagi panik, melainkan berganti menjadi tatapan dingin yang teramat asing dan berbahaya.
Fitri mengukir senyum tipis yang terasa begitu menyayat hati.
"Hasil tes DNA?" bisik Fitri pelan, namun setiap katanya terdengar begitu tajam menembus gemuruh hujan. "Lalu kenapa kalau dia memang darah dagingmu, Adam?"
Adam terpaku. "Fitri... aku ini ayahnya! Aku punya hak atas anak itu!"
Fitri maju satu langkah, menatap lurus ke dalam manik mata Adam tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Hak seorang ayah?" Fitri terkekeh sinis, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Adam. "Dengar baik-baik, Adam... lembaran kertas di tanganmu itu memang membuktikan kamu ayah biologisnya. Tapi di mata hukum dan hukum agama... status anak yang lahir dari pernikahan yang sudah kamu hancurkan... kamu tahu apa status hukummu di mata negara atas anak ini?"
Fitri menggantung kalimatnya, menatap Adam dengan tatapan kemenangan yang dingin, sebelum berbisik tepat di samping telinga Adam.
"Kamu... sama sekali tidak punya hak asuh, Adam. Bahkan untuk mencantumkan namamu di akta kelahirannya pun... kamu tidak akan pernah bisa."
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.