Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.7
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24 - Hadiah Dari Undian

Safira tidak pernah percaya undian.

Menurutnya, kalau hidup ingin memberi sesuatu, biasanya ia meminta bayaran dulu. Jadi ketika Bu Maya mengajaknya datang ke pameran kain dan perlengkapan usaha kecil di sebuah convention hall Bandung, Safira hanya berniat mencari supplier baru, bukan mengejar hadiah.

"Datang saja," kata Bu Maya lewat telepon. "Banyak vendor kain. Ada mesin jahit industri juga. Siapa tahu dapat harga bagus."

"Aku masih harus hemat."

"Melihat-lihat gratis."

"Di tempat seperti itu, melihat-lihat biasanya berakhir beli."

"Berarti kamu harus kuat iman."

Safira datang bersama Arga. Dinda ikut setelah shift klinik, sedangkan Bima muncul tanpa diundang dengan alasan ingin memastikan "calon klien tidak menculik Mbak Safa dan Dinda". Arga menyebutnya pengangguran terselubung. Bima tidak tersinggung.

Pameran itu ramai. Stan kain memenuhi area kiri. Ada batik tulis, batik cap, tenun dari berbagai daerah, lace impor, kain polos premium, sampai aksesori kebaya. Safira berjalan pelan, matanya menyala.

Arga memperhatikan.

"Kamu terlihat seperti anak kecil di toko mainan."

"Ini lebih berbahaya dari toko mainan."

"Kenapa?"

"Karena semua ini bisa jadi baju."

Dinda tertawa. "Hanya kamu yang bisa terdengar romantis pada gulungan kain."

Bima mengangkat satu kain motif bunga besar. "Kalau ini jadi baju saya cocok tidak?"

"Cocok jadi taplak," jawab Dinda.

Bima memegang dada. "Kejam."

Mereka berpindah dari satu stan ke stan lain. Safira mencatat harga, mengambil kartu nama, dan menolak beberapa tawaran terlalu agresif. Di salah satu stan, seorang pria berusia tiga puluhan menyambutnya dengan senyum lebar.

"Mbak Safira?"

Safira berhenti. "Iya."

"Saya Arya. Kita sempat chat."

Arga yang berdiri di belakangnya langsung menegang tipis.

Arya berpenampilan rapi, kemejanya mahal, rambutnya ditata, senyumnya mudah. Di kartu namanya tertulis `Sinar Kain Premium Supplier`.

"Saya dengar Mbak sedang mengembangkan atelier baru. Selamat. Saya suka bekerja dengan desainer muda yang berani."

"Terima kasih."

Arya mengeluarkan beberapa sampel. "Saya punya lace dan organza yang cocok untuk klien high profile. Harga bisa saya bantu. Bahkan kalau Mbak perlu tempo pembayaran, kita bisa bicarakan."

Safira tidak langsung tergoda. "Syaratnya?"

Arya tertawa. "Belum apa-apa sudah tanya syarat. Bagus. Saya suka yang cerdas."

Arga melangkah ke sisi Safira. "Semua kerja sama sebaiknya tertulis."

Arya menatap Arga. Senyumnya tidak hilang, tetapi matanya berubah.

"Suaminya, ya?"

"Iya," jawab Safira.

"Wah, beruntung sekali bisa menemani istri kerja. Tidak semua suami tahan lihat kain berjam-jam."

Arga menjawab datar, "Saya tahan."

Bima menunduk, menahan senyum.

Arya menyerahkan katalog. "Tidak perlu putuskan sekarang. Nanti kita bisa bertemu lebih santai. Mungkin sambil makan siang, Mbak Safira?"

Safira menerima katalog, tetapi berkata, "Kalau soal supplier, bisa dibicarakan di atelier saya. Jam kerja."

Senyum Arya menipis sesaat.

"Tentu."

Setelah mereka pergi, Arga berkata pelan, "Jangan bertemu dia sendirian."

"Aku memang tidak berniat."

"Dia suka membuat orang merasa berutang."

"Kamu punya pengalaman?"

"Saya pernah melihat cara bisnisnya."

"Dari proyek?"

Arga diam.

Safira menghela napas. "Baik. Aku hati-hati."

Pukul tiga sore, panitia mengumumkan undian bagi pengunjung yang mendaftar sebagai pelaku usaha. Safira bahkan lupa ia mengisi formulir di pintu masuk. Bu Maya menariknya mendekat panggung.

"Lumayan, hadiahnya voucher mesin jahit."

"Aku tidak pernah menang undian."

"Jangan pesimis."

Bima muncul membawa es teh. "Saya sering menang."

Dinda menatapnya. "Menang apa?"

"Pernah menang lomba makan kerupuk waktu SD."

"Itu bukan undian."

"Tetap kemenangan."

Pengumuman dimulai dari hadiah kecil: paket benang, voucher potong kain, set gunting, setrika uap. Safira tidak memperhatikan. Ia sibuk membuka katalog Arya dan membandingkan harga dengan catatan vendor lain.

Lalu panitia berkata, "Hadiah utama hari ini, satu unit mobil niaga kecil untuk mendukung usaha kreatif, dipersembahkan oleh sponsor kami."

Safira mengangkat wajah.

Mobil?

Di layar muncul gambar mobil kecil putih, cocok untuk mengantar barang, kain, dan pesanan. Pengunjung bersorak.

Safira tertawa. "Ini pasti untuk orang yang sangat beruntung."

Arga berdiri terlalu tenang.

Bima tiba-tiba sibuk minum es teh.

Dinda menyipitkan mata ke arah Bima. "Kamu tahu sesuatu?"

"Saya? Tidak. Saya cuma haus."

Panitia mengocok nomor digital.

"Pemenangnya adalah... nomor peserta 0275. Safa Atelier, atas nama Safira Prameswari!"

Safira membeku.

Bu Maya menjerit.

Dinda melompat memeluknya.

Bima bertepuk tangan terlalu semangat.

Arga hanya tersenyum kecil.

"Aku?" Safira menunjuk dirinya sendiri.

Panitia memanggil lagi, "Mbak Safira Prameswari dari Safa Atelier?"

Safira naik ke panggung dengan lutut lemas. Ia menerima papan simbolis hadiah, difoto, dan diminta memberi komentar.

"Saya... tidak menyangka," katanya jujur. "Mobil ini sangat membantu usaha saya yang baru pindah tempat. Terima kasih."

Orang bertepuk tangan.

Di bawah panggung, Arga melihatnya dengan mata lembut.

Safira turun masih seperti orang mimpi. "Mas Arga, aku menang mobil."

"Iya."

"Mobil."

"Saya dengar."

"Aku tidak pernah menang undian."

"Sekarang pernah."

Safira menatapnya mendadak curiga. "Ini kamu?"

Arga mengangkat alis. "Saya apa?"

"Jangan pura-pura."

Bima langsung menjauh dua langkah.

Safira melihat itu. "Mas Bima."

"Saya tidak tahu apa-apa."

"Aku belum tanya."

"Nah, itu. Saya antisipasi."

Safira menatap Arga lagi.

Arga berkata, "Pameran ini memang punya hadiah sponsor."

"Sponsor siapa?"

"Beberapa perusahaan."

"Termasuk?"

"Saya tidak hafal."

Dinda berbisik kepada Safira, "Dia bohong."

Safira berbisik balik, "Aku tahu."

Namun di tengah kecurigaan itu, ia tidak bisa menahan kebahagiaan. Mobil itu akan mengubah banyak hal. Ia tidak perlu selalu menyewa ojek barang. Tidak perlu meminjam mobil Bu Maya. Tidak perlu membawa kain mahal dengan tangan gemetar.

Arya muncul lagi dengan senyum lebar.

"Selamat, Mbak Safira. Baru mulai saja rezekinya sudah besar."

"Terima kasih."

"Kalau sudah punya mobil, pengambilan kain dari gudang saya akan lebih mudah. Kita harus segera kerja sama."

Arga menatap Arya. "Belum tentu."

Arya tersenyum kepada Arga. "Tentu keputusan di Mbak Safira."

Safira mengangkat katalog. "Saya akan bandingkan dulu."

"Saya tunggu kabarnya."

Setelah Arya pergi, Safira menoleh kepada Arga. "Aku senang. Tapi kalau ini ternyata bukan undian murni..."

Arga menatapnya.

"Aku akan tetap pakai mobilnya karena sangat butuh," lanjut Safira. "Tapi aku akan marah dulu."

Bima tersedak es teh.

Arga bertanya, "Urutannya begitu?"

"Iya. Pakai, marah, lalu hitung apakah harus kuganti."

Arga akhirnya tertawa pelan.

Safira ikut tersenyum, meski curiganya belum hilang.

Di luar hall, mobil putih itu diparkir sebagai display. Safira berdiri di depannya, menyentuh kap mesin dengan hati-hati.

"Halo," bisiknya.

Dinda tertawa. "Kamu menyapa mobil?"

"Ini bukan mobil. Ini calon penyelamat tulang punggungku."

Bima berkata, "Namai saja."

"Jangan aneh-aneh."

Arga berdiri di samping Safira. "Kamu mau coba duduk?"

Safira mengangguk cepat.

Saat duduk di kursi pengemudi, tangannya memegang setir dengan campuran takut dan bahagia.

Arga berdiri di luar pintu.

"Cocok," katanya.

"Dengan aku?"

"Dengan masa depanmu."

Safira menoleh kepadanya.

Kalimat itu membuat kecurigaan sejenak diam.

Hari itu, Safira pulang dengan katalog supplier, daftar harga, satu sahabat yang hampir batal menikah, satu mobil niaga yang terlalu kebetulan, dan satu suami yang makin sulit ditebak.

Hidupnya benar-benar makin ramai.

Malamnya, ia duduk di kursi pengemudi mobil putih yang sudah terparkir di depan ruko. Mesin tidak dinyalakan. Ia hanya duduk, memegang setir, dan membayangkan kain-kain Bu Laras tersusun rapi di belakang.

Arga berdiri di luar pintu. "Kamu mau tidur di sini?"

"Aku sedang berkenalan."

"Dengan mobil?"

"Jangan menghakimi."

Arga bersandar di pintu. "Namanya siapa?"

"Aku belum memutuskan."

"Kamu benar-benar akan memberi nama."

"Mas Bima yang mulai."

"Jangan terlalu sering dengarkan Bima."

Safira tersenyum. Lalu senyumnya pelan-pelan turun.

"Mas, kalau ini memang kamu atur, suatu hari bilang."

Arga tidak menjawab cepat.

"Aku tidak marah karena dibantu," lanjut Safira. "Aku marah kalau dibuat merasa beruntung padahal sebenarnya diatur tanpa tahu."

Arga menatapnya melalui pintu mobil yang terbuka.

"Saya mengerti."

"Semoga."

Safira turun dan mengunci mobil. Di dalam hatinya, rasa senang masih lebih besar daripada curiga. Tapi curiga itu ada, duduk diam di kursi belakang, menunggu waktu.

1
e²n
Jovan itu sebenarnya keponakan Reyhan atau anaknya? diawal blg keponakan, kok skrg panggil nya pa...
e²n
kok tau2 tinggal di apartemen ya?
Heny
Dari awal baca gk ada romantis nya msh jln di tempat
Ivan Sumampouw
setelah mencoba bertahan 59 episode ternyata memang cerita JELEK !!!
Heny
Cerita nya datar arga dan safira gk ada romantis nya
Akbar Nasution
bagus
Hariyanti
ceritanya bagus dan menyenangkan 😘😘😘 masalahnya cuma nama tokoh yg bolak-balik salah😬
Ivan Sumampouw
sdh 51 episode,,, jauh dari judul,,, kenapa bukan Safira yg rahasia 🤣
Hariyanti
kenapa jg ga pake baby sitter 🤔🤔🤔
Hariyanti
dulu sebenarnya hubungan Rayhan dan nara seperti apa sih 🤔🤔 kok kesannya Nara yg paling bersalah padahal waktu bikin berdua
Imas Karmasih
thor kurang fokus aturan Bambangan bukan dimas
Hariyanti
Jovan itu hasil hubungan tanpa status kah🤔🤔karena Rayhan dan nara seperti dua orang yang tidak pernah dekat
Hariyanti
ibunya Rayhan sebenarnya siapa sih🤔Sinta atau Laras.byk betul yg namanya laras🤔🤔pelanggan Safa, mertua Safa jg Laras
Ayu Puput
udh eps 62 padahal pusing bacanya gitu² aja ceritanya, terlalu bertelew. tapi penasaran endingnya
Ratih magani
mmsh bingung ini do bdg ato jkt sih setting tempatnya?
Imas Karmasih
setuju
Hariyanti
kalo Safira bayi yg ditukar🤔apa maksudnya ditukar🤔🤔🤔kalo bayinya sendiri meninggal tapi ternyata masih hidup🤔semoga hasil tes Maya bukan keluarga santoso
Hariyanti
bertele-tele 😏 padahal jujur aja ttg statusnya .... kalo Safira ga nyaman dgn status suaminya lebih baik bubar drpd gengsi dibantu suami yg kaya raya
Hariyanti
Dimas kan pacar Rania 🤔🤔 emang ada berapa Dimas 🤔
Imas Karmasih
cerita nya bagus engga ngebosenin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!