JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya
***
"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."
***
Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."
Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: RENCANA DARI BAWAH TANAH
Di sebuah gudang tua dan berbau oli di dekat dermaga utara, suasana terasa begitu dingin dan mencekam. Cahaya lampu bohlam kuning bergoyang lambat di langit-langit akibat embusan angin laut, menyinari selembar jaket putih berlambang kepala macan yang sudah robek dan penuh noda darah kering. Jaket itu tergeletak begitu saja di atas meja kayu panjang, baru saja dilepaskan dari tiang listrik oleh beberapa anak buah yang tersisa dari kejaran faksi Black Cobra.
Di ujung meja, berdiri Rian si Belut Jalanan dengan tatapan mata yang kosong namun menyimpan kemarahan yang luar biasa besar. Wajahnya terlihat mengeras, menahan rasa malu yang amat sangat setelah melihat kondisi tiga orang pengintainya yang pulang dengan tubuh babak belur, wajah hancur, dan tulang kaki yang patah total. Bagi Rian, tindakan pasukan Bara memajang jaket pasukannya di tempat umum bukan sekadar gertakan biasa. Itu adalah sebuah penghinaan terbuka yang menginjak-injak harga diri faksi utara tepat di depan hidung mereka sendiri.
"Eksan Prasetya... kau benar-benar merasa sudah menjadi raja tunggal di atas aspal kota ini, ya?" kata Rian dengan suara yang sangat rendah, berat, dan dipenuhi oleh nada dendam yang begitu pekat. Kedua tangannya mengepal begitu kuat di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar menahan amarah yang membakar dada.
"Ketua, apa yang harus kita lakukan sekarang? Anak buah Black Cobra benar-benar memperketat penjagaan di seluruh wilayah sektor barat sejak siang tadi. Kita bahkan tidak bisa mendekati gerbang sekolah atau gang rumah gadis bernama Nasya itu lagi. Seluruh jalur pergerakan kita di sana dipotong total oleh pasukan inti milik Bara," lapor salah satu anak buah Rian yang bertubuh kurus dengan perban putih yang melilit kepalanya yang bocor.
Rian membalikkan tubuhnya perlahan, lalu berjalan mendekati sebuah peta kota berukuran besar yang tertempel di dinding gudang yang berkarat. Matanya yang licik bergerak menyusuri garis-garis wilayah, hingga akhirnya tertuju pada kawasan pusat distrik bisnis—sebuah area elite yang dipenuhi oleh gedung-gedung pencakar langit yang mewah.
"Kalian semua benar-benar bodoh jika mengira seorang Eksan akan menyembunyikan kelemahan terbesarnya di tempat kumuh atau di sekitar markas sektor barat," kata Rian sembari mengulas sebuah senyuman tipis yang penuh dengan rencana jahat. "Eksan itu berandal yang sangat licik. Dia tidak akan membiarkan gadis sekolah itu berada di tempat yang mudah ditebak oleh musuh atau bahkan oleh pihak kepolisian yang sedang melakukan penyelidikan resmi."
Rian mengambil sebilah pisau kecil dari balik saku celananya, lalu dengan satu hentakan kuat, ia menancapkan mata pisau tajam itu tepat di titik tengah peta kota, tepat di atas kawasan apartemen mewah pusat bisnis. "Dia pasti membawa gadis itu ke salah satu aset properti rahasia miliknya di pusat kota. Tempat yang sangat aman dan tidak tersentuh oleh anak buah biasa dari kelompok mana pun. Dan untuk menjatuhkan seorang monster jalanan seperti Eksan, kita tidak bisa lagi menggunakan cara kasar dengan menyerang markas utamanya di gudang kontainer. Kita harus memancing serigala hitam itu keluar dari persembunyian mewahnya."
"Bagaimana rencana konkretnya, Ketua? Bukankah pertahanan mereka sangat rapat?" tanya anak buahnya lagi, tampak ragu dengan kegilaan rencana pemimpin barunya tersebut.
Rian menarik pisaunya kembali dari dinding dengan gerakan lambat. "Ibu gadis itu. Wanita tua itu saat ini sedang menangis histeris di kantor polisi sektor barat karena mengira anaknya diculik, bukan? Kita akan memanfaatkan situasi itu. Buat skenario palsu seolah-olah informan kita tahu di mana lokasi penyergapan rahasia milik Black Cobra. Kita akan membocorkan informasi itu kepada pihak kepolisian, mengatakan bahwa Eksan sedang menyandera anak sekolah di salah satu gudang terbengkalai wilayah pelabuhan bawah."
Rian menjaga kalimatnya, lalu tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat mengerikan di dalam gudang yang sepi itu. "Begitu polisi bergerak dalam skala besar ke arah pelabuhan bawah, konsentrasi dan pasukan Black Cobra otomatis akan terpecah untuk melindungi jalur logistik mereka di sana. Dan di saat semua orang sibuk bertaruh nyawa di pelabuhan, kita akan bergerak ke pusat kota untuk mengambil apa yang paling berharga dari tangan seorang Eksan Prasetya."
***
Sementara itu, jauh di atas ketinggian lantai tiga puluh penthouse yang terisolasi dari seluruh kekacauan dan kebisingan jalanan, siang hari berlalu dengan keheningan yang terasa sangat menyiksa bagi Nasya. Setelah tangisnya sempat mereda di dalam pelukan hangat Eksan tadi pagi, gadis itu memilih untuk duduk terdiam di sebuah kursi santai di dekat jendela kaca besar. Matanya menatap kosong ke arah gumpalan awan putih yang bergerak lambat di langit biru yang cerah. Di atas meja makan yang terletak tepat di belakangnya, sebuah piring berisi makanan mewah yang diantar oleh anak buah Black Cobra sejak beberapa jam yang lalu sama sekali tidak disentuh, dibiarkan mendingin begitu saja.
Eksan yang sedang berbaring miring di atas sofa beludru panjang dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka setengah terus memperhatikan setiap gerak-gerik Nasya. Meskipun tubuh tegapnya terasa sangat lelah, lemas, dan perut kirinya berdenyut nyeri luar biasa akibat luka jahitan yang sesekali berdarah lagi, fokus mata elangnya tidak pernah teralih sedetik pun dari punggung mungil gadis itu. Ia bisa merasakan ada sebuah dinding pembatas tak kasatmata yang mulai terbangun kokoh di antara mereka berdua—sebuah dinding yang lahir dari rasa takut dan keterkejutan Nasya atas kejamnya dunia hitam yang ia pimpin.
Perlahan dan dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak memicu pendarahan baru, Eksan menurunkan kedua kakinya ke atas lantai marmer, lalu bangkit berdiri tegak. Ia melangkah perlahan menghampiri posisi Nasya, langkah kakinya yang besar hampir tidak mengeluarkan suara sama sekali di atas permukaan lantai yang mengilat. Saat jarak di antara mereka sudah sangat dekat, Eksan mengulurkan tangan kanannya yang kasar, menyentuh lembut helai demi helai rambut panjang Nasya yang terurai bebas.
Nasya sedikit tersentak kaget merasakan sentuhan tiba-tiba itu, namun ia memilih untuk tidak menghindar atau menjauhkan kepalanya. Ia membalikkan wajah pucat nya secara perlahan, mendongak menatap lurus ke dalam sepasang mata elang pekat yang selalu menguncinya dalam sebuah lingkaran perlindungan yang sangat ketat dan tidak masuk akal.
"Kenapa makanannya sama sekali tidak disentuh, Nasya? Kau bisa jatuh sakit jika terus-menerus menolak untuk mengisi perutmu seperti itu," kata Eksan dengan nada suara yang melembut, sebuah intonasi yang sangat berbeda jauh dengan suaranya yang menggelegar penuh ancaman saat memimpin pertempuran massal di jalanan.
"Aku tidak lapar, Eksan. Pikiranku benar-benar tidak bisa tenang di tempat sunyi ini," jawab Nasya dengan jujur, suaranya terdengar sangat parau dan lemah akibat terlalu lama menangis. Ia mengumpulkan seluruh sisa keberanian di dalam dadanya untuk menatap balik mata pemuda yang paling ditakuti itu. "Eksan... bolehkah aku meminta satu hal saja padamu malam ini? Tolong, izinkan aku menghubungi ibuku melalui telepon. Hanya satu menit saja, Eksan. Aku hanya ingin memberi tahu dia bahwa aku berada dalam kondisi baik-baik saja di sini, agar dia tidak terus-menerus menangis ketakutan di kantor polisi."
Mendengar permintaan tersebut, perubahan ekspresi yang sangat drastis langsung terlihat jelas di wajah tegas Eksan. Gurat kelembutan yang sempat muncul tadi seketika lenyap, digantikan oleh tatapan mata yang kembali memancarkan sisi protektif yang luar biasa kuat dan ekstrem. Eksan memegang kedua pundak kecil Nasya dengan pegangan yang erat, menahan tubuh gadis itu agar tetap diam di tempatnya dan tidak bergerak menjauh darinya.
"Sudah berkali-kali kukatakan tidak bisa, Nasya. Tolong mengertilah posisi kita saat ini," kata Eksan dengan nada suara yang kembali memberat, dingin, dan dipenuhi oleh penekanan mutlak yang tidak boleh didebat oleh siapa pun. "Satu saja panggilan telepon keluar dari dalam gedung penthouse ini bisa memicu sistem pelacakan sinyal digital dari alat komunikasi milik faksi utara atau bahkan tim siber kepolisian. Aku tidak akan pernah membiarkan lokasi persembunyian rahasia kita bocor ke telinga luar hanya karena rasa kasihanmu yang tidak pada tempatnya. Kau aman di atas sini, dan kenyataan itu sudah lebih dari cukup untuk sekarang."
"Tapi dia itu ibuku, Eksan! Kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu yang mengkhawatirkan nyawa anaknya!" suara Nasya ikut meninggi, air matanya kembali mengalir deras membasahi pipinya yang pucat karena rasa frustrasi dan tertekan yang sudah mencapai puncaknya. "Kau menahan di tempat mewah ini seperti seorang tawanan yang tidak punya hak, bukan seperti orang yang sedang kau lindungi dari bahaya!"
Mendengar kata 'tawanan' keluar dari bibir mungil Nasya, Eksan menarik napas panjang yang berat, berusaha sekuat tenaga untuk menahan emosi dan amarahnya yang hampir meledak di dalam dada. Ia memajukan tubuh tegapnya, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka berdua tersisa beberapa sentimeter saja, menatap lurus ke dalam mata Nasya dengan pandangan posesif yang luar biasa pekat dan menggelapkan akal sehatnya.