Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Mata Aisyah

Rahasia Di Balik Mata Aisyah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Aisyah dokter 23 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang awalnya dia pikir semua baik-baik saja, tetapi ternyata kecelakaan 5 tahun lalu di saat dirinya masih remaja mengakibatkannya terikat dalam pernikahan itu.
Rahasia besar yang disembunyikan banyak orang kepadanya. Pria yang dia nikahi, ternyata menerima perjodohan dari orang tuanya karena memiliki maksud tertentu darinya.
Lalu bagaimana Aisya menjalani pernikahannya, di saat dia merasa semua baik-baik saja dan ternyata pernikahannya hanyalah sebuah kebohongan yang menyakiti hatinya, karena perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Mari harus membaca karya saya dari awal sampai akhir, jangan lewatkan sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15 Penyesuaian

Kaivan saat ini duduk di sofa ruang tamu bersama dengan kedua orang tuanya.

"Kaivan kamu sekarang sudah menikah dengan Aisyah. Besar harapan Mama dan Papa, kamu bisa menjaga pernikahan kamu dan ingat ada janji yang kamu ucapkan di hadapan Allah dalam pernikahan kamu, jadi jangan sakiti istri kamu, kamu menyakiti istri kamu sama saja menyakiti keluarga kamu!" tegas Toni memberi nasehat kepada putranya.

"Mama sangat berharap Kaivan, kamu menikah dengan Aisyah karena kamu benar-benar tulus, bukan karena kamu menjadikannya pelampiasan atau pelarian dari hati kamu yang belum sepenuhnya bisa melupakan wanita itu," sahut Lidya.

Kaivan mengangkat kepalanya melihat ibunya, mungkin perasaan seorang ibu yang tahu apa yang dilakukan putranya tidak akan pernah salah.

"Aisyah tidak mengerti apa-apa, tidak tahu apapun, seharusnya sebelum kamu menikah dengan Aisyah, kamu menceritakan yang sebenarnya, Mama takut, suatu saat nanti Aisyah mengetahui bahwa kamu belum bisa melupakan dia dan ini akan menjadi permasalahan dalam rumah tangga kalian," lanjut Widya.

"Mama mengatakan apa. Aku sudah menuruti permintaan Mama dan Papa untuk menikah dengan Aisyah, jadi tolong untuk selanjutnya biarkan aku menjalani rumah tangga ini bersama Aisyah," sahut Kaivan.

"Kami sebagai orang tua pasti mendukung, pasti memberi doa yang terbaik untuk kamu dan Aisyah, tetapi jika kamu menyakiti seorang wanita, mungkin peran kami sebagai orang tua berarti gagal kepada kamu," sahut Toni dengan tegas.

Mereka hanya mewanti-wanti apa yang akan terjadi berikutnya, putra mereka merasa galau kehilangan wanita yang hampir dia nikahi, Kaivan bahkan hidup seperti orang yang tidak memiliki tujuan, hidup karena memang masih hidup, itulah yang dialami Kaivan.

Lidya berusaha untuk menjodohkan putranya ke banyak wanita dan tetap Kaivan menolak sampai akhirnya mereka memikirkan untuk menjodohkan pada Aisyah yang mana setiap Kaivan pulang ke Jakarta dan tidak sengaja bertemu Aisyah. Kaivan selalu menatap dalam diam dan itu disadari oleh Lidya dan Toni akhirnya membuat mereka memutuskan untuk menjodohkan keduanya.

******

Aisyah dan Kaivan sama-sama menuruni anak tangga menghampiri keluarganya yang sedang memulai sarapannya.

"Selamat pagi Aisyah," sapa Amira dengan senyum ceria menyambut sahabatnya itu.

Lidya dan Toni hanya geleng-geleng kepala melihat bagaimana putri mereka yang sudah pasti berbicara seperti itu karena ingin menggoda Aisyah.

"Aisyah ayo sarapan!" ajak Lidya membuat Aisyah menganggukkan kepala.

"Aisyah kamu mau sarapan apa? nasi goreng atau mau makan roti saja?" tanya Lidya ingin mengambilkan untuk Aisyah.

"Tante biar Aisyah saja yang melakukannya," Aisyah merasa tidak enak harus dilayani secara berlebihan.

"Aisyah kami ini sudah menjadi orang tua kamu, jadi kamu jangan panggil tante atau Om lagi. Kamu harus memanggil kami mama dan papa seperti Amira dan Kaivan memanggil kedua orang tua mereka," sahut Lidya.

"Baik Tan.... maksud Aisyah, baik Ma," Aisyah dengan cepat mengubah kalimatnya.

"Tidak apa-apa Aisyah, namanya juga masih baru dan wajar saja gugup," sahut Amira.

"Amira kamu juga harus menjaga sikap, jangan membuat Aisyah tidak nyaman di rumah ini!" tegas Lidya.

"Hmmmm, membicarakan masalah rumah saya dan Aisyah berencana untuk tinggal di apartemen saja," sahut Kaivan tiba-tiba membuka obrolan baru.

"Kenapa? Apa takut Amira akan mengganggu Kakak dan Aisyah atau jangan-jangan Aisyah benar-benar marah kepada Amira?" tanya Amira justru terlihat panik ketika mendengar permintaan dari Kaivan.

"Tidak ada permasalahan yang serius, saya dan Aisyah sudah menikah dan lebih baik belajar mandiri mulai sekarang," jawab Kaivan.

"Kalau Mama terserah bagaimana kalian berdua. Mama dan Papa tenang jika kalian berdua tinggal di rumah ini. Mama dan Papa tidak akan memberi dukungan jika kalian memutuskan untuk tinggal di rumah kalian," takut Lidya sebagai orang tua bersikap bijak.

"Benar apa kata Mama kamu, jadi terserah kalian berdua dan merasa seperti apa nyamannya," sahut Toni tidak keberatan sama sekali.

******

Aisyah membawa secangkir teh, berjalan menghampiri Kaivan yang terlihat duduk di teras kamar dengan laptop yang berada di atas pahanya.

"Kak!" tegur Aisyah sudah berdiri di samping suaminya membuat Kaivan mengangkat kepala.

"Ini tehnya!" Aisyah memberikan secangkir teh tersebut kepada Kaivan.

"Makasih Aisyah," sahut Kaivan mengambilnya.

Kaivan juga langsung meneguk teh tersebut yang membuat Aisyah menunggu reaksi dari suaminya dengan gugup yang mana jari-jarinya saling memencet.

Kaivan kembali melihat sang istri ketika meminum teh tersebut sedikit saja.

"Aisyah saya kurang suka manis, ini terlalu manis untuk saya," ucap Kaivan.

"Benarkah, kalau begitu biar Aisyah ganti!" Aisyah merasa bersalah dan buru-buru ingin pergi tetapi ditahan oleh Kaivan.

"Kamu tidak perlu menggantinya, ini masih bisa diminum dan lagi pula mubazir jika tidak dihabiskan," ucap Kaivan begitu lembut berbicara.

"Lalu jika ingin membuat sekali lagi, gulanya harus sebanyak apa?" tanya Aisyah sudah pasti ingin belajar karena ini memang teh buatan pertama untuknya pada sang suami.

"Hmmm, cukup satu sendok saja," jawab Kaivan.

"Baik. Kak!" sahut Aisyah menganggukkan kepala.

Aisyah memberi kode kepada suaminya untuk tangannya dilepas.

"Maaf Aisyah," sahut Kaivan menyadari sejak tadi tidak melepas genggaman tangan istrinya.

"Aisyah mau ke dalam dulu," ucap Aisyah gugup.

"Kamu memang ada pekerjaan?" tanya Kaivan.

"Oh tidak, hanya ingin berbaring saja," jawabnya

"Kenapa tidak duduk di sini saja?" tanya Kaivan mengarahkan pada Aisyah pada tempat duduk di sebelahnya.

"Apa tidak mengganggu Kakak?" tabah Aisyah.

"Saya hanya memeriksa beberapa pekerja," jawab Kaivan.

"Ayo duduk!" ajak Kaivan membuat Aisyah menganggukkan kepala.

Aisyah begitu gugup duduk di samping suaminya.

"Kamu sendiri bagaimana Aisyah? Apa kamu menyukai minuman manis?" tanya Kaivan.

"Tidak, Kak. Aisyah juga kurang menyukai minuman manis dan lagi pula memakan sesuatu dengan gula yang terlalu berlebihan itu tidak sehat," jawab Aisyah.

"Saya lupa jika kamu adalah seorang dokter, pasti kamu mengetahui segalanya apa yang terbaik untuk diri sendiri, apa yang tidak boleh dan porsi yang sebenarnya," ucap Kaivan.

"Tetapi bukan berarti seorang dokter tidak pernah sakit, terkadang terlalu banyak teori di dalam kepala dan mengurusi banyak pasien, dokter juga melupakan kesehatannya," ucap Aisyah.

"Kamu harus terus menjaga kesehatan, kamu jangan lalai, meski tugas kamu sebagai tenaga medis untuk mengingatkan dan sebagai perantara menyembuhkan orang-orang, kamu juga harus memikirkan kesehatan kamu dan menjaga pola hidup kamu," ucap Kaivan secara tidak langsung terselubung nasehat untuk istrinya sebuah pesan yang mendalam.

"Kakak juga harus menjaga kesehatan. Aisyah pernah mendengar dari Amira, Kakak suka menunda makan karena mementingkan pekerjaan, terkadang harus tidur lama karena banyaknya pekerjaan, begadang itu tidak boleh, itu juga akan mempengaruhi kesehatan," sahut Aisyah tidak kalah mengingatkan kepada suaminya.

"Sekarang saya akan mulai di cereweti, karena memiliki istri seorang dokter dan otomatis segala sesuatu harus sesuai resep," sahut Kaivan dengan candaan yang membuat Aisyah tertawa kecil.

Kaivan ternyata juga tersenyum yang membuat Aisyah melihat ke arah suaminya itu.

"Aisyah pikir kakak tidak bisa tertawa, wajahnya terlihat tegang dan ternyata bisa tersenyum juga," ucap Aisyah.

"Benarkah, jadi kamu menganggap saya aneh karena tidak pernah tertawa?" tanya Kaivan.

"Tidak seperti itu. Kak. Aisyah hanya jarang melihat Kakak tertawa lepas dan bahkan hampir tidak pernah tersenyum," jawab Aisyah.

"Itu karena kamu tidak terlalu mengenal saya," sahut Kaivan.

Bersambung....

1
Herman Lim
jgn nanti kebuka aja menikah karna ada mata mantan di tubuh Aisyah lihat apa yg akan Aisyah buat ke mata nya nanti ga sabar tgg part ne
Herman Lim
jgn menyesel aja nanti kaivan klo Aisyah tau niat kamu waktu nikah sama dia bukan utk Aisyah tapi mata mantan mu di tubuh Aisyah
puji hastuti
Kaivan bertanya " Jadi kamu tugasnya dii bali ?"
suaminya loh ....pengantin baru looh
Fauziah Rahma
kenapa bisa ayah aisyah menikah dengan Kamila?
Herman Lim
kaivan kamu pasti melihat mantan mu mk bisa gitu lembut sama aisyah
Herman Lim
kasian Aisyah yg di bohongi semua org tua dan suami nya 🤪😔
Herman Lim
gila ternyata Aisyah yg jadi korban dari semua ego kalian,tdk ada Aisyah kyk kian bangga kan tapi wanita yg dh mati hanya kerna mata nya yg Masi ada di tubuh Aisyah kalian paksa Aisyah nikah dgn kekasih ny dl 😔
Herman Lim
apa jangan² dl yg bertabrakan dgn aishay anak dari bini ayah nya yg mati Dan mata nya di donor ke aishay dan kaivan dl berpacaran dgn anak lain ayah nya 😔😔 rumit guys 🤣🤣
Oma Gavin
orang tua cerminan buat anaknya bila ayahnya saja poligami merasa paling bener jgn salahkan aisyah bila jadi pemberontak
Gian Hazza
lanjut thor👍
Rian Moontero
mampiiirr😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!