Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.
Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.
Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Getaran keras dari dentuman mesin raksasa The Juggernaut yang menghantam dinding terowongan di ujung jalur buntu masih merambatkan gelombang kejut yang membuat piring-piring logam di rak dapur gerbong Vanguard berdenting nyaring. Lampu-lampu darurat yang berkedip dengan pendaran kuning pucat memantulkan bayangan-bayangan panjang yang menari liar di dinding kabin, menciptakan suasana tegang yang kian mencekam.
Namun, di tengah ancaman moncong meriam pemecah es milik Korporasi Aether yang tinggal menghitung detik untuk menghancurkan palka depan mereka, perhatian Gavin justru terkunci mati pada barisan kode data yang berkedip aneh di layar terminal sekundernya.
Pemuda berkacamata tebal itu tidak lagi memedulikan alarm bahaya yang menjerit-jerit di panel utama. Jemarinya menari dengan kecepatan panik di atas keyboard, meretas paksa sekumpulan berkas terenkripsi tingkat militer yang baru saja tersedot masuk ke dalam server lokal kereta ketika mereka bersinggungan dengan frekuensi The Juggernaut beberapa saat lalu.
"Sial... sistem enkripsi mereka berlapis tiga, tapi struktur dasarnya menggunakan arsitektur arsip lama," gumam Gavin dengan suara bergetar, napasnya memburu tidak teratur. Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya, membasahi kerah kemejanya. "Ada sesuatu... ada sesuatu yang disembunyikan di balik log operasional korporasi ini. Sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar perburuan buronan."
Di dekat kursi kemudi, Soju yang sedari tadi bersiap dengan panel navigasi darurat mendadak menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke belakang, menatap punggung Gavin dengan dahi berkerut tajam. Suasana tegang di dalam kabin berubah drastis dari kepanikan fisik menjadi keheningan mental yang menekan.
"Gavin, apa yang kau lakukan?" suara Soju terdengar tajam, memotong deru mesin reaktor yang mulai melemah. "Kereta lapis baja militer itu tinggal berjarak kurang dari satu kilometer dari titik buntu kita! Kalau kita tidak segera membalikkan arah rel sekarang, kita akan hancur berkeping-keping!"
"Tunggu sebentar!" teriak Gavin, suaranya melengking tinggi, nyaris putus asa. Ia menekan tombol enter terakhir dengan keras. Clack!
Seketika itu juga, tampilan layar monitor utama berubah total. Barisan teks hijau yang rumit menghilang, digantikan oleh sebuah dokumen digital kuno dengan stempel merah berukuran besar bertuliskan: [KLASIFIKASI MUTLAK: PROYEK CRYOGEN-ZERO].
Gavin menelan ludahnya yang terasa kering. Matanya membelalak lebar, menatap barisan kalimat demi kalimat yang terpampang di hadapannya dengan perasaan ngeri yang merambat naik dari ujung jari kaki hingga ke tulang belakang.
"Ini... ini tidak mungkin," bisik Gavin gemetar, jemarinya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih.
Leo, yang baru saja bangkit dari lantai setelah sempat terjatuh akibat guncangan tadi, merapat ke sisi meja Gavin. Pemuda berambut biru itu menaikkan sebelah alisnya, ekspresi wajahnya berubah masam. "Apa lagi yang kau temukan, Hacker? Jangan bilang kau meretas resep kue koki militer, karena kita tidak punya waktu untuk itu!"
"Bukan..." potong Gavin dengan suara tercekat. Ia mengangkat wajahnya, menatap Leo dan Soju secara bergantian dengan tatapan kosong penuh ketidakpercayaan. "Data ini... log militer dari arsip pusat Aether sebelum Perang Es Pertama. Ini bukan sekadar catatan perang atau perebutan wilayah kekuasaan."
Soju melangkah mendekati meja Gavin, alisnya bertaut rapat. "Lalu, apa isinya? Cepat katakan sebelum meriam mereka meratakan gerbong ini!"
"Badai es permanen... musim dingin abadi yang membekukan seluruh daratan bumi selama beberapa dekade terakhir..." Gavin menarik napas dalam-dalam, suaranya bergetar hebat saat ia membacakan kalimat demi kalimat dari layar monitor. "...itu bukan bencana alam. Itu bukan siklus iklim bumi yang berubah secara alami."
Kalimat itu menggantung berat di udara kabin.
Leo dan Soju sontak saling berpandangan. Dua pasang mata itu melebar seketika, menangkap keheningan aneh yang mendadak terasa hampa. Otak mereka menolak untuk langsung mencerna apa yang baru saja didengar, seolah-olah informasi tersebut berada di luar batas nalar kemanusiaan yang mereka kenal selama bertahun-tahun hidup di dunia es.
"Kau... kau bercanda, kan?" cibir Leo, mencoba tertawa kecil untuk meredakan ketegangan, meskipun tawanya terdengar hampa dan dipaksakan. "Bencana es itu terjadi secara global. Seluruh benua terkubur di bawah gletser setinggi ratusan meter sejak kakek buyut kita belum lahir! Bagaimana mungkin... bagaimana mungkin itu bukan bencana alam?"
"Karena itu adalah hasil eksperimen," lanjut Gavin dengan suara lirih namun tegas, menunjuk layar monitor yang menampilkan grafik penurunan suhu buatan skala masif. "Korporasi Aether... atau entitas di balik mereka pada masa lalu... sengaja memicu anomali termal global menggunakan jaringan menara penstabil inti bumi. Mereka membekukan dunia dengan sengaja."
Soju tertegun, tubuhnya mematung di tempat. Tangannya yang tadinya memegang sabuk pengaman perlahan terkulai lemas ke samping. "Sengaja... membekukan dunia?" bisik Soju, suaranya nyaris tak terdengar di atas deru angin luar. "Untuk apa? Membunuh miliaran populasi manusia hanya untuk... untuk apa?!"
Di sudut ruangan, Ren yang sedari tadi duduk bersandar dengan tenang mendadak menegakkan tubuhnya. Pendaran cahaya biru dari The Core Engine di dadanya berdenyut lebih cepat dari biasanya, memancarkan gelombang panas kecil yang menghangatkan udara di sekitarnya.
Wajah Ren mengeras. Untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai, ekspresi datarnya menyiratkan penolakan yang begitu dalam.
"Itu tidak masuk akal," ucap Ren dengan suara parau namun penuh penekanan, memotong percakapan mereka. Ia menatap Gavin tajam. "Tidak ada manusia atau organisasi yang memiliki motif untuk menghancurkan rumah mereka sendiri. Alam memiliki jalurnya sendiri. Jangan percaya pada data usang yang belum tentu kebenarannya."
Gavin menoleh menatap Ren, menggelengkan kepalanya perlahan dengan mata yang menyiratkan keputusasaan mutlak. "Aku berharap ini data palsu, Kapten! Aku berharap ini hanyalah bualan sistem eror! Tapi log ini terintegrasi langsung dengan kode sandi The Core Engine yang ada di dalam dadamu!"
Mendengar penyebutan inti mesin di dadanya, Ren terdiam. Alisnya bertaut.
"Dalang di balik eksperimen itu memang tidak disebutkan secara terbuka dalam file yang terenkripsi ini," sambung Gavin, suaranya melemah seiring beban emosional yang menghimpit dadanya. "Nama arsitek utamanya telah dihapus secara permanen dari server pusat. Kita tidak tahu siapa yang memerintahkannya, kita tidak tahu alasan pasti kenapa dunia harus diselimuti salju abadi... dan yang lebih menyedihkan..."
Gavin mengepalkan tangannya, memukul meja dengan pelan.
"...kita tidak tahu untuk apa selama ini kita hidup, berjuang, berlari, dan hampir mati setiap hari di atas rel-rel berkarat ini. Apakah kita hanya boneka yang berjalan di atas jalur yang sudah dirancang oleh monster yang sama?"
Suasana di dalam kabin gerbong mendadak jatuh ke dalam keheningan yang sangat pekat. Tidak ada yang bersuara. Leo menundukkan kepalanya, menatap lantai logam gerbong dengan tatapan kosong. Soju terdiam seribu bahasa, meresapi kenyataan pahit bahwa dunia tempat ia bertahan hidup selama bertahun-tahun ternyata hanyalah sebuah sangkar es buatan dari eksperimen yang tidak berujung.
Gejolak batin menghantam keempat karakter itu dengan gelombang emosi yang berbeda-beda. Rasa lelah, kebingungan, kemarahan yang tertahan, dan pertanyaan eksistensial mengenai arti eksistensi mereka berputar hebat di dalam kepala masing-masing.
Untuk apa mereka mempertaruhkan nyawa melawan Ratu Laba-Laba Es? Untuk apa mereka melarikan diri dari kejaran militer? Jika pada akhirnya seluruh penderitaan di dunia es ini hanyalah bagian dari permainan rahasia yang tidak pernah mereka ketahui aturannya.
Namun, renungan emosional itu tidak diberi waktu untuk berlarut-larut.
Bum!
Sebuah hantaman sonik yang masif mengguncang seluruh bodi kereta Vanguard dengan sangat keras. Dinding es terowongan di sisi kiri meledak berkeping-keping, menampakkan kilatan cahaya merah menyilaukan dari moncong meriam plasma berat milik The Juggernaut yang telah berhasil merangsek masuk menembus dinding batu buntu, mengapit posisi mereka tanpa jalan keluar.
Di atas layar monitor Gavin yang sempat menyala terang menampilkan dokumen rahasia tadi, sebuah sistem otomatis mendadak mengambil alih seluruh layar, menghapus seluruh data log Proyek Cryogen-Zero dalam hitungan detik, dan menggantinya dengan satu kalimat ancaman tunggal berwarna merah darah yang berkedip tanpa henti tepat di hadapan mata mereka:
[Akses Ditolak: Penghapusan Data Selesai. Target Akan Dimusnahkan Bersama Seluruh Kebenaran Yang Belum Terungkap.]