Indonesia
NovelToon NovelToon
Cintai Aku Mas

Cintai Aku Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Marisa putri

"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8 - tiba-tiba banget

Aku menunggu jemputan yang tak kunjung datang. Baru kali ini menunggu begitu lama. Ternyata memesan taksi online di jam malam begini susah sekali ya.

Aku berdiri sendirian di halte, suasana malam semakin sepi dan sunyi. Tiba-tiba sebuah mobil melaju pelan lalu berhenti tepat di hadapanku. Lampu mobil itu menyinari tempatku berdiri. Aku menatap sekilas ke arah kaca jendela—wajah di baliknya terasa tidak asing. Saat kulihat lebih jelas... ternyata itu Rizki.

Kenapa dia berhenti di sini?

Jendela mobil terbuka perlahan, wajah Rizki tampak di sana. "Indah, naiklah. Sudah malam begini, pasti sulit mencari kendaraan lewat sini."

Aku sempat ragu. "Tidak usah, Mas. Takut merepotkan."

"Naik saja. Kita searah kok," jawabnya tenang namun tegas.

"Terima kasih, Kak."

Aku membuka pintu penumpang dan masuk ke dalam mobil. Rasanya begitu canggung. Ini pertama kalinya kita berdua bersama lagi setelah sekian lama.

"Rumahmu masih di tempat yang lama kan?" tanyanya pelan, memecah keheningan.

"Iya, masih, Mas."

"Oke."

Dia begitu singkat dan padat bicaranya. Hanya itu. Dan itu justru membuat jantungku berdegup kencang di dalam mobil yang sunyi itu.

"Kok tumben tidak membawa mobil? Malah menunggu kendaraan umum," tanyanya tiba-tiba.

"Mobilku sedang diperbaiki. Mungkin besok sudah bisa diambil."

"Begitu ya..." rizki.

mengangguk pelan, lalu menatap lurus ke depan.

"Ibu... kondisinya sudah membaik ya. Aku tadi baru saja dari rumah sakit."

"Iya, Mas.sudah membaik tinggal pemulihan saja tadi aku hanya sebentar menemaninya di sana, "

Rizki terdiam sejenak, lalu berkata lembut, "Terima kasih, Indah. Terima kasih sudah menemani dan merawat Ibuku."

"Sama-sama, Mas. Itu sudah tugasku kok."

Rizki memang begitu ya—kadang terlihat dingin dan jauh, tapi sesekali bisa begitu lembut. Seperti tadi, saat dia mengucapkan terima kasih dengan tulus.

"Pantas saja dia mengantarku sampai rumah... Ternyata itu hanya karena dia ingin membalas kebaikanku saja," batin Indah, hatinya terasa sedikit perih namun ia berusaha menenangkan diri. "Aku ini sudah ke-geer-an saja sejak tadi. Mana mungkin dia punya perasaan sama aku? Dulu kita masih kecil, dan sekarang... kita sudah berbeda dunia. Tidak mungkin dia melihatku lebih dari sekadar kenangan masa lalu."

Ia menatap ke luar jendela mobil, berusaha menepis harapan yang mulai tumbuh itu. Baginya, kebaikan Rizki hanyalah bentuk rasa terima kasih—bukan tanda cinta. Dan ia tak boleh berharap lebih dari itu.

Mataku tanpa sengaja tertuju pada pelipisnya. Di sana, masih terlihat samar bekas luka lama—bekas kecelakaan yang pernah menimpanya dulu. Meski tertutup sebagian oleh poni rambutnya, aku tetap bisa melihatnya dengan jelas.

Tanpa sadar, aku berucap pelan. "Luka bekas kecelakaanmu itu... ternyata masih berbekas ya, Rizki."

Rizki menoleh sejenak, menyentuh pelipisnya sekilas. "Oh, ini... Iya, masih ada. Aku sengaja membiarkannya, jadi kenang-kenangan."

"Kirain kamu mau merawatnya," jawabku tulus. "Aku punya kenalan dokter kulit, bisa membantu menghilangkan bekas lukamu itu kalau kamu mau."

"Tidak usah, Indah. Terima kasih," jawabnya singkat dan tegas.

Kata-katanya membuatku seketika terdiam. Ada nada penolakan yang halus namun jelas. Sepertinya... dia tidak suka aku menanyakan hal itu.

Sementara itu, di dalam hati Rizki, pikirannya berputar bingung. "Kenapa Indah bisa tahu kalau ini bekas kecelakaan? Bukannya hanya Mama dan Hana yang tahu soal itu? Bahkan Hana-lah orang pertama yang menolongku saat itu. Mungkin Mama yang bilang ke Indah? Iya, kan Mamanya Indah teman dekat Mama... Pantas saja dia tahu."

Sesampainya di perumahan tempat Indah tinggal, Rizki mengantarkannya sampai tepat di depan pintu rumah. Indah menyadari satu hal—Rizki memang sosok yang tenang dan berwibawa, tapi di balik itu ia tetap sopan dan tahu tata krama. Benar-benar orang yang menjaga harga diri sekaligus ramah.

"Mah... Aku pulang," panggil Indah pelan sambil mengetuk pintu.

Tok... tok...

Pintu terbuka, dan Mama keluar menyambutnya. Namun senyum di wajah Mama seketika melebar saat melihat sosok yang berdiri di depan pintu bersama putrinya.

"Indah, dia siapa, Nak?" tanyanya penasaran.

"Itu anaknya Tante Maya, Mah. Rizki," jawab Indah lembut.

"Wah, Rizki! Kamu sekarang makin tampan dan gagah saja ya!" puji Mama dengan gembira.

"Terima kasih, Tante Laras. Kebetulan tadi kami searah, jadi sekalian saya antar Indah pulang," jawab Rizki sopan.

"Terima kasih banyak ya sudah mengantar Indah sampai rumah."

"Sama-sama, Tante. Kalau begitu Rizki pamit pulang dulu ya, sudah mulai malam."

"Loh, tidak mau mampir sebentar? Sekalian makan malam bersama Om dan Tante," tawar Mama ramah.

"Maaf, Tante. Lain kali saja.

Titip salam untuk Tante Maya ya."laras.

"Baiklah. Sampaikan juga semoga cepat sembuh ya ibumu."

"Terima kasih, Tante. Rizki pamit dulu."

"Hati-hati di jalan ya..."

Rizki pun melangkah pergi meninggalkan rumah itu, sementara Mama menatap punggungnya yang menjauh dengan senyum penuh arti.

Setelah pintu tertutup, Mama langsung meledek putrinya.

"Cieee... diantar calon mantu Mama nih!"

"Mah, ngarep banget sih!" keluh Indah sambil tersipu malu. "Yaudah Indah mau mandi dulu ya, badan sudah bau asem begini."

"Iya, sana mandi dulu. Nanti turun lagi ya, kita makan malam bersama."

"Siap, Mama!"

Sesampainya di kamar, aku membuka ponsel dan melihat ada pesan masuk. Ternyata dari Daffa.

Daffa: Indah, lu sudah pulang belum?

Aku mengerutkan kening bingung. "Nih orang aneh banget... Emangnya dia nggak lihat gue tadi pas keluar rumah sakit? Kenapa tiba-tiba nanyain gue udah pulang belum?"

Aku membalas singkat.

Indah: Gue udah pulang, Daf. Kenapa?

Tak lama pesan balasan masuk.

Daffa: Gue tadi mau nganterin lu pulang. Gue cari-cari lu nggak ada di mana-mana tadi.

Hatiku terasa sedikit berdebar, tapi aku segera menepisnya.

Indah: Gue udah pulang kok, Daf. Nggak usah khawatir ya.

Daffa: Oke deh kalau gitu.

Aku meletakkan ponsel di meja sambil menggeleng pelan, bingung sekaligus sedih. "Dasar cowok aneh... Tadi kan dia baru saja mengantar pulang Mawar, kok sekarang malah bilang mau nganterin gue juga? Lagian gue udah pulang duluan, jadi percuma juga."

"Tuh kan... Pasti Indah marah sama gue gara-gara perempuan itu," gerutu Daffa dalam hati sambil melaju perlahan. "Dia yang maksa-maksa minta diantar pulang, gue nggak bisa nolak terus. Akibatnya gue telat nyari Indah, dan dia udah pulang duluan."

Daffa menghela napas panjang, rasa frustrasi bercampur cemas memenuhi dadanya. Ia baru saja meninggalkan area rumah sakit, namun hatinya tak tenang. Semua berawal saat Mawar tiba-tiba datang dan memaksa ikut pulang bersamanya—mengatakan tidak ada kendaraan, dan memohon dengan sangat. Daffa sempat menolak, tapi Mawar terus mendesak sampai akhirnya ia tak punya pilihan lain selain menyetujuinya sebentar. Dan di saat itulah, Indah sudah pergi tanpa ia ketahui.

"Pasti Indah lihat gue sama dia tadi... Pasti dia salah paham dan pikir gue pergi bareng dia sengaja," batinnya cemas. "Indah, tolong jangan berpikir yang bukan-bukan ya. Gue nggak bermaksud begitu..."

Namun pesan singkat tadi—"gue udah pulang"—terasa begitu dingin dan jauh. Daffa tahu, kali ini mungkin Indah benar-benar tersinggung. Dengan hati yang berat, ia pun melajukan motornya pulang, berharap esok hari bisa menjelaskan semuanya pada Indah.

1
Lisna Wati
kok beres lanjut dong
nurulmarisa: belum aku update ka,abis jagain ade🤣
total 1 replies
aswati seran
💪
nurulmarisa: cemangat💪👍
total 1 replies
Naura Azizah
suka heran sama cowo bingung,gak bisa milih mau dua duanya bukannya terlalu serakah ya kasian indah tertekan🙏
nurulmarisa: emng kdg bikin kesel km😄
total 1 replies
Clara Maiy
begitulah cewe yang di kerja umur di suruh nikah Mulu persis kaya mama ku kasian indah🤣
nurulmarisa: hmm aku nyimak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!