Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Pijar Pertama Sang Pelindung
Sedan hitam milik Dimas baru saja melaju memasuki jalan lingkar utama yang menghubungkan kawasan pinggiran dengan pusat kota. Lampu-lampu jalan memancar konstan, memantul di kaca depan mobil yang meluncur mulus. Di dalam kabin, Bayu masih memandangi jam tangan titanium di pergelangan tangan kirinya saat tiba-tiba pendar merah kebiruan menghiasi langit malam dari kejauhan.
"Bay, lihat ke depan!" seru Dimas seraya memperlambat laju kendaraan dan menunjuk ke arah pusat bisnis kota. "Itu asap tebal kan? Kok ada pendar merah membumbung tinggi begitu?"
Bayu menengadah, matanya menyipit menembus kegelapan malam. Sirine mobil pemadam kebakaran dan ambulans mulai bersahut-sahutan nyaring dari beberapa penjuru jalan raya.
Ponsel Android milik Bayu di dasbor berkedip cepat, menyalurkan suara Jarvis secara otomatis ke dalam sistem pengeras suara mobil.
"Peringatan darurat insiden," panggil Jarvis dengan nada cepat namun tetap teratur. "Terjadi kebakaran tingkat empat di Gedung Graha Kirana, sebuah kompleks perkantoran delapan lantai di pusat kota. Kebocoran gas utama di lantai tiga memicu ledakan sekunder yang kini membakar tangga darurat dan menutup akses evakuasi utama."
Dimas membelalakkan matanya, memegang kemudi erat-erat. "Gedung Graha Kirana?! Bay, itu kan gedung perkantoran tua yang sering buka sampai malam! Jarvis, apa ada korban yang terjebak di dalam?!"
"Pemindaian frekuensi sinyal seluler dan titik suhu termal mengonfirmasi adanya delapan orang korban yang terperangkap di lantai delapan," papar Jarvis presisi. "Lantai lima hingga lantai tujuh telah sepenuhnya dilalap api. Petugas pemadam kebakaran di lokasi belum dapat menjangkau lantai atas karena tangga armada mereka hanya mencapai lantai lima."
"Delapan orang terjebak di lantai delapan..." bisik Bayu pelan. Tangannya di pergelangan kiri terkepal erat.
"Bay," panggil Dimas, menoleh menatap Bayu dengan riak cemas bercampur dorongan kuat di matanya. "Tangga pemadam nggak bakal sampai ke atas tepat waktu. Asap tebal begitu dalam sepuluh menit bisa bikin mereka kehabisan oksigen!"
Bayu menatap Dimas lurus-lurus. "Dim, belokkan mobil ke gang gelap di belakang kompleks gedung itu sekarang juga."
"Siap, Bay!" seru Dimas antusias seraya membanting kemudi melintasi persimpangan jalan. "Lu beneran mau pakai zirah itu malam ini?"
"Ibu sudah selamat, dan kita punya teknologi ini bukan cuma buat disimpan di dalam bengkel, Dim," jawab Bayu tegas, suaranya sarat ketenangan mutlak. "Aku tidak akan membiarkan delapan orang itu mati terbakar kalau kita punya kemampuan untuk menyelamatkan mereka."
Mobil sedan berhenti cepat di sebuah gang sempit yang gelap, terlindung oleh dinding beton tinggi dua puluh meter di belakang Gedung Graha Kirana. Suara gemuruh kobaran api dan teriakan histeris warga dari bagian depan gedung terdengar samar-samar membahana.
"Jarvis, sambungkan audio helm zirah ke sistem suara mobil Dimas," perintah Bayu seraya melangkah keluar dari mobil.
"Koneksi radio terenkripsi Alpha terhubung," sahut Jarvis.
Bayu berdiri di tengah kegelapan gang, lalu menekan kenop kristal safir pada jam tangannya dua kali.
Klik-klik.
Dalam sekejap, cairan nano-cell perak memancar keluar, membungkus tubuh Bayu secara kilat hingga membentuk zirah baja matte hitam kelabu bergaris biru dalam waktu satu koma dua detik. Helm tertutup rapat melengkapi sosoknya yang kini berdiri kokoh bak pahlawan baja.
Dimas menurunkan kaca jendela mobilnya, menatap sosok zirah sahabatnya dengan napas tertahan. "Gila... Ksatria Baja beneran beraksi malam ini! Bay, suara lu masuk jelas di headset mobil!"
"Dim, tetap di dalam mobil dan awasi pergerakan lalu lintas polisi lewat pemindai Jarvis," ujar Bayu dengan suara berat berwibawa dari balik helmnya. "Jika ada personel darurat yang mendekati gang ini, langsung beri tahu aku."
"Pasti, Bay! Bawa mereka turun dengan selamat!" pancing Dimas penuh semangat.
"Jarvis, aktifkan pendorong terbang dan penyeimbang gravitasi," instruksi Bayu.
"Pendorong aktif. Medan gravitasi lokal dikalibrasi," jawab Jarvis.
Wusss!
Tanpa suara raungan mesin yang bising, zirah Bayu melesat vertikal ke atas membelah kegelapan malam, membubung lurus sejajar dengan dinding belakang gedung setinggi tiga puluh meter. Hanya dalam tiga detik, Bayu sudah melayang sejajar dengan jendela kaca lantai delapan yang tertutup asap hitam pekat.
Melalui pandangan termal di dalam helm, Bayu dapat melihat siluet delapan manusia yang tersudut di dekat dinding kaca, batuk-batuk hebat sambil memukuli kaca tebal yang terkunci rapat.
Brak!
Dengan satu pukulan terukur dari lengan zirahnya, Bayu meremukkan kaca temper tebal tersebut menjadi pecahan kecil. Bayu melompat masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi asap tebal dan hawa panas membakar.
"Sistem sirkulasi oksigen internal zirah beroperasi normal," Jarvis memberi laporan cepat. "Suhu lingkungan berada pada empat ratus derajat Celsius. Pintu keluar ruangan ini telah rubuh terbakar."
Orang-orang yang terperangkap di ruangan itu terperanjat ketakutan, melangkah mundur saat melihat sosok tinggi berzirah baja hitam muncul dari balik kepulan asap.
"Si... siapa kamu?! Hantu?! Robot?!" teriak salah seorang pria berjas yang memegangi lehernya sambil terbatuk parah.
"Jangan takut," kata Bayu, suaranya mengalun tenang dan bergema penuh wibawa melalui pengeras suara helmnya. "Saya di sini untuk menyelamatkan kalian semua. Jangan panik dan ikuti instruksi saya."
"Tapi lewat mana?! Tangga darurat di luar sudah jebol terbakar!" tangis seorang wanita muda di sudut ruangan.
"Lewat jendela ini," jawab Bayu mendetail seraya melangkah mendekati mereka. "Jarvis, aktifkan gelembung pelindung medan gravitasi mikro untuk empat orang pertama."
"Gelembung gravitasi terkalibrasi," tutur Jarvis. "Gaya tekan dorong dirancang aman untuk anatomi manusia tanpa risiko cedera fisik."
"Empat orang pertama, dekati saya dan pegang bahu zirah ini erat-erat," perintah Bayu mantap. "Percayalah pada saya. Tahan napas kalian sebentar."
Dua pria dan dua wanita yang sudah lemas akibat asap menuruti perintah tersebut tanpa ragu. Bayu merangkul pinggang mereka dengan kedua lengan zirahnya yang kokoh, lalu melompat keluar melintasi jendela lantai delapan menuju udara bebas.
para korban menjerit tertahan, namun jeritan itu berubah menjadi rasa takjub luar biasa saat mereka menyadari tubuh mereka tidak jatuh menghantam tanah. Sebuah pendar cahaya biru lembut menyelimuti tubuh mereka, membuat mereka melayang aman bersama zirah Bayu yang meluncur mulus turun menuju area taman belakang gedung yang sepi dari kerumunan warga.
Tuk.
Bayu mendaratkan keempat korban tersebut dengan sangat lembut di atas rumput taman.
"Kalian sudah aman di sini. Segera lari ke arah ambulans di depan," kata Bayu tenang.
Pria berjas yang diselamatkan menatap Bayu dengan mata membelalak tak percaya. "Kamu... kamu terbang?! Siapa sebenarnya kamu?!"
"Segera periksakan paru-paru kalian ke petugas medis," sahut Bayu tanpa menjawab pertanyaan itu.
Dalam hitungan detik, Bayu kembali melesat vertikal ke atas menuju jendela lantai delapan untuk menyelamatkan empat korban tersisa yang masih terperangkap di dalam ruangan berasap.
Dari dalam mobil sedan di gang, Dimas memukuli kemudinya penuh rasa haru dan bangga seraya memandangi layar pemindai. "Bay! Lu berhasil membawa empat orang pertama turun! Empat lagi, Bay!"
"Sedang dieksekusi, Dim," balas Bayu singkat di tengah udara.
Bayu kembali memasuki ruangan lantai delapan yang apinya mulai merambat ke langit-langit. Dengan gerakan cepat dan presisi, ia merangkul empat korban terakhir yang sudah hampir pingsan, mengaktifkan medan gravitasi penyeimbang, dan meluncur turun kembali menuju taman belakang dengan selamat.
Saat empat korban terakhir didudukkan di tanah, beberapa petugas pemadam kebakaran dan warga yang berlari ke area taman belakang terpana membeku. Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri sosok zirah baja hitam melayang anggun satu meter di atas tanah sebelum akhirnya memutar badannya.
"Lihat di sana! Ada robot besi melayang!" teriak salah seorang warga dengan histeris.
"Siapa dia?! Ksatria Baja?!" seru petugas pemadam kebakaran terpukau.
Sebelum kerumunan warga dan kamera media sempat mendekati area taman belakang, Bayu mengepalkan tangannya dan melesat cepat seperti kilat, menghilang di balik kegelapan gang belakang gedung dalam waktu kurang dari satu detik.
Wusss!
Bayu mendarat mulus di samping mobil sedan Dimas. Ia menekan kenop biometrik dua kali untuk menarik kembali seluruh lapisan zirah nano-cell masuk ke dalam jam tangannya. Bayu kembali berwujud mahasiswa biasa dengan kemeja dan kacamata tebalnya, lalu masuk ke dalam pintu penumpang depan.
"Jalan, Dim!" bisik Bayu cepat seraya bernapas teratur.
Dimas langsung menginjak pedal gas, melarikan sedan hitamnya membelah malam menjauhi area kompleks gedung yang kini dipenuhi sirine mobil polisi dan pemadam kebakaran.
"Gila... Bay... Lu bener-bener gila!" sorak Dimas histeris di dalam kabin mobil dengan wajah memerah gembira. "Delapan orang! Lu menyelamatkan delapan nyawa manusia tanpa ada satu pun yang terluka atau jatuh! Lu dengar tadi warga teriak-teriak nanya siapa lu?!"
Bayu menyandarkan punggungnya ke jok mobil yang empuk, menghembuskan napas lega yang sangat dalam seraya tersenyum puas. "Yang penting mereka semua selamat, Dim. Terima kasih atas panduan navigasimu dari bawah."
"Sistem melaporkan indikator integritas zirah tetap berada pada tingkat seratus persen," Jarvis menambahkan informasi secara stabil. "Aksi penyelamatan berjalan dengan efisiensi mutlak tanpa meninggalkan jejak biologis Pengguna."
Dimas menoleh sekilas ke arah Bayu, menepuk bahu sahabatnya itu dengan penuh rasa hormat. "Malam ini dunia belum tahu siapa nama lu, Bay. Tapi malam ini, lu sudah resmi jadi Ksatria Baja pelindung yang sebenarnya."
Bayu memandangi jam tangan titaniumnya yang berkedip lembut di pergelangan tangannya. Di tengah riuk hiruk-pikuk kota yang mulai heboh oleh berita aksi penyelamatan misterius tersebut, Bayu Anggara merasa mantap. Langkah perdananya telah berhasil ditorehkan, membuktikan bahwa teknologi di tangannya adalah berkah nyata bagi kemanusiaan.