Indonesia
NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: Tangan Tak Terlihat

Satu minggu setelah keluarga Halim menunduk, kontrak PE kembali dibatalkan.

Kali ini nilainya lebih besar.

Sebuah agensi periklanan nasional menghentikan paket kampanye tiga merek dengan alasan restrukturisasi portofolio. Suratnya rapi, ditandatangani direktur, dan menyertakan pembayaran penalti. Secara hukum hampir tidak ada celah.

Anindya membaca surat itu dua kali. "Ini bukan Halim."

Arya berdiri di depan jendela kantor. "Kenapa yakin?"

"Halim baru memulihkan hubungan. Membayar penalti untuk membatalkan kontrak ini jauh lebih mahal daripada cara mereka menekan sebelumnya. Bu Meilani juga tidak punya pengaruh atas perusahaan induk di Jakarta."

Kevin memutar laptop agar layar terlihat. "Ada transaksi saham kecil dua hari sebelum pembatalan. Bukan cukup untuk mengambil alih, tapi cukup untuk memberi seseorang akses bicara ke komisaris. Pembelinya perusahaan khusus di Singapura, pemilik akhirnya tertutup lewat tiga lapis nominee."

"Bisa ditelusuri?" tanya Anindya.

"Secara legal lewat registri dan data korporat, iya. Tapi butuh waktu. Kalau gue masuk paksa ke sistem privat, kita justru memberi mereka alasan menyerang balik."

Arya mengangguk. "Gunakan jalur legal."

Anindya menaruh surat. "Orang ini membayar mahal hanya untuk membuat kita kehilangan kampanye. Tujuannya bukan keuntungan langsung."

"Mereka sedang mengukur reaksi," kata Arya. "Kalau kita panik mencari dana, mereka tahu arus kas lemah. Kalau kita menyerang terbuka, mereka tahu bukti kita sedikit."

"Jadi kita diam?"

"Kita ganti kampanye dengan jaringan kreator yang baru dibangun. Beri tiga merek klien paket percobaan dengan biaya lebih rendah. Mereka kehilangan agensi, bukan kebutuhan promosi."

Anindya memandangnya. "Pusat inkubasi belum diluncurkan penuh."

"Justru ini uji pertama. Gunakan lima kreator yang sudah punya audiens. Jangan meniru materi lama. Buat kampanye baru dan ukur konversi."

Rencana itu dijalankan sebelum sore. PE memang kehilangan satu kontrak utama, tetapi tidak kehilangan kliennya sekaligus. Tangan tak terlihat yang berharap melihat kepanikan hanya menemukan perusahaan bergerak melalui jalur lain.

Salah satu merek awalnya menolak. Direktur pemasarannya khawatir kreator kecil tak mampu mengganti jangkauan agensi nasional. Anindya meminta waktu dua jam dan menugaskan tim membuat contoh kampanye lokal dengan data penonton nyata.

Arya tidak menjanjikan angka besar. Ia menawarkan uji tujuh hari, pembayaran berdasarkan hasil, dan hak merek menghentikan tanpa penalti bila target minimum gagal.

"Anda mengambil risiko di pihak PE," kata direktur merek melalui panggilan video.

"Kami yang meminta Anda percaya pada jalur baru," jawab Arya. "Risikonya memang harus lebih besar di pihak kami."

Kesepakatan percobaan ditandatangani secara elektronik sore itu. Dua merek lain meminta proposal serupa setelah mendengar kabar.

Anindya menutup laptop. "Kalau konversinya gagal, kita menanggung biaya produksi."

"Kalau berhasil, kita membuktikan agensi yang membatalkan bukan satu-satunya gerbang."

"Anda yakin?"

"Tidak. Karena itu kita menguji dengan biaya terbatas, bukan berjudi seluruh anggaran."

Jawaban tersebut menghilangkan keberatan terakhir Anindya. Ia mulai melihat pola Arya: di depan lawan ia tampak nekat, tetapi setiap lompatan selalu memiliki batas kerugian yang sudah dihitung.

Malamnya, Arya, Kevin, dan Anindya berkumpul di markas teknis. Ini pertama kalinya Anindya masuk ke ruang tersebut. Bara memeriksa mobil di luar dan melaporkan dua kendaraan asing melewati rumah tiga kali dalam empat hari.

"Pelat berganti," katanya melalui panggilan, "model mobil sama. Orangnya bukan Halim. Saya tambah dua personel keamanan berlisensi di sekitar PE mulai besok."

"Jangan ikuti sampai rumah mereka," kata Arya. "Catat pola saja."

Anindya melihat deretan monitor. "Berapa lama Anda punya tempat seperti ini?"

"Cukup lama."

"Dan saya baru tahu karena perusahaan diserang?"

"Kamu tahu bagian yang perlu untuk mengambil keputusan."

"Jawaban itu akan menjadi masalah di pernikahan sungguhan."

Arya menoleh. "Kamu baru saja menyebut kemungkinan pernikahan sungguhan."

Anindya kembali ke layar. "Fokus pada kontrak."

Kevin menahan senyum dan membuka kumpulan percakapan dari forum privat pemasaran gelap. Data diperoleh dari akun umpan milik mereka sendiri, bukan membobol pesan pribadi. Beberapa operator buzzer membahas siapa yang berani menerima kampanye melawan PE.

"Yang ini menarik," katanya.

Sebuah tangkapan layar muncul.

Jangan sentuh orang Surabaya sembarangan. Di bawah ada Tuan Besar. Salah ambil proyek, kita bisa hilang dari pelabuhan.

Balasan dari akun lain berbunyi:

Tuan Besar cuma legenda. Klien Jakarta bayar dua kali.

Anindya membaca. "Siapa Tuan Besar?"

"Tokoh yang kabarnya mengendalikan sebagian jalur bawah tanah," jawab Kevin dengan wajah terlalu polos. "Sangat misterius. Sangat menakutkan. Mungkin juga sangat tampan."

Arya menatapnya.

Kevin melanjutkan, "Gue cuma menyampaikan rumor."

"Apakah orang ini bisa membantu?" tanya Anindya.

"Kalau dia sungguh ada, melibatkan dunia bawah justru memperbesar risiko," jawab Arya. "PE tetap memakai bukti, kontrak, dan keamanan legal."

Anindya mengangguk, tidak melihat tatapan singkat antara Arya dan Kevin.

Nama itu adalah milik Arya.

Namun bahkan Kevin tidak mengucapkan fakta tersebut di depan orang yang belum masuk lingkaran. Candaan hanya berhenti satu langkah sebelum pengakuan.

Kevin menampilkan bagan baru. Dana untuk akuisisi saham agensi iklan berasal dari rekening investasi besar yang pernah bergerak bersama perusahaan media di Jakarta. Nama pemilik tidak muncul, hanya kode akun dan perusahaan pengelola.

"Jejaknya profesional," katanya. "Mereka memakai transaksi sah untuk menciptakan pengaruh, lalu memisahkan instruksi melalui konsultan. Jauh di atas cara keluarga Halim."

"Ada hubungan dengan laboratorium Prof. Sri?" tanya Arya setelah memastikan Anindya sedang membaca dokumen lain.

Kevin menggeleng. "Belum ada. Jangan paksa dua garis jadi satu hanya karena sama-sama gelap."

"Benar."

Anindya mendengar nama itu. "Prof. Sri siapa?"

Ruangan hening satu detik.

"Ibu saya," jawab Arya akhirnya. "Kematiannya sedang saya selidiki."

Ia tidak memberi rincian. Namun kali ini ia juga tidak menutup pintu sepenuhnya.

Anindya tidak mendesak. "Kalau serangan ke PE berhubungan dengan penyelidikan itu, saya perlu tahu sebelum staf menjadi sasaran."

"Kamu akan tahu saat ada bukti."

Kevin memperbesar kode akun media. "Untuk sekarang, ada satu hal pasti. Seseorang dengan dana besar sedang membeli akses, bukan sekadar membayar preman digital."

Ia kembali melihat tangkapan layar dan terkekeh.

"Tapi serius, Bos. Mereka bicara tentang Tuan Besar seolah dia hantu pelabuhan." Kevin menoleh kepada Arya. "Orang yang mereka maksud itu jangan-jangan lo sendiri?"

Arya membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Anindya memandang mereka bergantian.

Untuk pertama kalinya malam itu, bahkan tangan tak terlihat di Jakarta kalah misterius dibandingkan diam Arya.

Kevin menyimpan tangkapan layar ke arsip terenkripsi. Di sudut monitor, kode akun modal itu berkedip lagi, kali ini mengirim dana menuju perusahaan yang belum pernah mereka lihat di Jakarta malam itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!