Indonesia
NovelToon NovelToon
Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

SINOPSIS

Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!

Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Investasi Meledak, Hujan Black Card, dan Bunga Layu Pangeran

Pagi harinya di Taman Royal Istana. Sinar matahari menyinari dedaunan, menciptakan suasana yang seharusnya sangat romantis.

Aura duduk di bangku taman yang terbuat dari marmer putih, memegang tablet hologramnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya sibuk menyendok puding sutra mahal. Matanya tak berkedip menatap layar.

"Hijau! Hijau semua! Gila, harga gandum dari wilayah Timur meroket lima kali lipat sejak berita akuisisi Departemen Keuangan rilis pagi ini!" seru Aura pada Mia, yang berdiri di sebelahnya membawakan payung sutra agar Bu Bos-nya tidak kepanasan.

"I-itu artinya kita untung banyak ya, Bu Bos?" tanya Mia polos.

"Untung banyak? Kita ngerampok pasar, Mia!" Aura tertawa layaknya tokoh antagonis di film kartun. "Dividen bulan pertama aja udah nutupin modal. Gaji lo bulan ini gue naikin sepuluh persen! Malam ini kita makan seafood sepuasnya!"

"Terima kasih, Bu Bos!" Mia ikut melompat kegirangan.

"Elara... kau terlihat sangat bahagia dengan penderitaanku."

Suara penuh luka itu menghentikan tawa Aura. Ia menoleh. Pangeran Arthur berdiri beberapa meter dari mereka, mengenakan pakaian sederhana tanpa jubah kerajaan, wajahnya terlihat kuyu. Di tangannya, ia memegang sebuah mahkota bunga yang terbuat dari mawar putih segar.

Aura menghela napas panjang. "Aduh, Hama Pirang datang lagi. Mia, siapin semprotan anti-serangga."

"J-jangan begitu, Bu Bos. Kasihan Pangeran Arthur," bisik Mia panik. Tokoh utama wanita ini memang masih memiliki hati yang sangat lembut.

Arthur melangkah mendekat, matanya menatap Aura dengan pandangan memelas. "Elara, aku tahu apa yang terjadi semalam di dewan itu bukan murni idemu. Caden pasti mengancammu. Dia menggunakan otak cerdasmu untuk menghancurkanku, kan?"

Aura meletakkan pudingnya. "Pangeran Arthur. Stop delusi. Bos Caden nggak ngancam saya. Saya yang ngajuin proposal itu. Kenapa? Karena itu menguntungkan."

"Tolong jangan berbohong untuk melindungiku, Elara," potong Arthur dengan nada pahlawan kesiangan. "Aku tahu jauh di lubuk hatimu, kau bukan wanita yang gila harta. Kau adalah wanita yang terluka oleh kemiskinan. Biarkan aku menyembuhkan lukamu. Kau tidak perlu menjadi budak uang Caden."

Arthur berlutut dengan satu kaki di depan Aura, menyodorkan mahkota bunga mawar putih itu.

"Tinggalkan Caden," bujuk Arthur lembut. "Aku memang kehilangan setengah tanahku, tapi aku masih memiliki gelar dan cintaku. Ikutlah denganku, Elara. Jadilah permaisuriku. Aku tidak bisa memberimu gunung emas, tapi aku bisa memberimu cinta yang tulus dan bunga mawar segar setiap pagi."

Mia di belakang Aura sudah menggigit sapu tangannya, terharu melihat adegan yang terasa seperti keluar dari novel romantis. "Wah... romantis sekali," gumam Mia tanpa sadar.

Namun, Aura menatap mahkota bunga itu dengan dahi berkerut, seolah Arthur baru saja menyodorkan sampah organik kepadanya.

"Pangeran Arthur," kata Aura dengan nada mendidik. "Anda tahu berapa depreciation rate (laju penyusutan) dari seikat bunga mawar?"

Arthur mengerjap bingung. "A-apa?"

"Bunga itu," Aura menunjuk mahkota mawar itu, "hanya punya nilai estetika selama dua puluh empat jam. Besok dia layu, lusa dia busuk, tiga hari kemudian jadi kompos. Nilai investasinya nol besar. ROI-nya negatif."

"Cinta tidak bisa dihitung dengan angka, Elara!" protes Arthur patah hati.

"Oh, ya jelas bisa!" balas Aura lantang. "Kalau Anda cinta sama gue, Anda harus mikirin masa depan gue! Anda nawarin gelar permaisuri, tapi tanah Anda aja baru gue akuisisi. Berarti Anda itu bangsawan yang lagi krisis likuiditas! Terus Anda mau gue bantu mikirin utang Anda sisa umurnya? Maaf ya, gue bukan relawan panti sosial!"

"Elara, kumohon..."

Tiba-tiba, sebuah kartu persegi panjang berwarna hitam legam melayang di udara dan jatuh tepat di pangkuan Aura.

Clack!

Aura dan Arthur serempak menoleh ke arah sumber lemparan.

Pangeran Caden berdiri di jalur setapak taman, diapit oleh selusin pengawal elit berpakaian hitam. Wajahnya gelap gulita, memancarkan aura membunuh yang membuat burung-burung di sekitar taman langsung terbang menjauh ketakutan.

"Menjauh dari asistenku, Arthur," desis Caden, melangkah mendekat bagaikan dewa kematian.

"Caden!" Arthur berdiri, memasang badan menantang. "Aku sedang berbicara dengannya! Aku menawarinya kehidupan yang jauh dari kelicikanmu!"

Caden mendengus meremehkan, sama sekali tidak memandang Arthur sebagai ancaman. Ia menunduk menatap Aura yang sedang asyik mengusap-usap kartu hitam baru di pangkuannya.

"Itu Kartu Debit Imperial Platinum, Elara," ucap Caden pelan namun suaranya terdengar oleh semua orang. "Limitnya lima kali lipat lebih besar dari Imperial Black yang kuberikan kemarin."

Mata Aura seketika membulat nyaris keluar. Rahangnya jatuh. "L-lima kali lipat?! Bos... ini seriusan buat gue?!"

"Tentu saja," Caden tersenyum posesif, menatap tajam ke arah Arthur yang mematung. "Itu untuk uang jajan bobamu hari ini. Jika kau mau, gunakan kartu itu untuk membeli seluruh toko bunga di ibukota, lalu bakar semuanya di depan wajah pangeran miskin ini."

Arthur memerah padam, tangannya gemetar memegang bunga mawar yang kini terlihat sangat menyedihkan dibandingkan kartu platinum tanpa batas itu.

"K-kau... kau mencoba membelinya dengan uang, Caden! Ini menjijikkan!" teriak Arthur.

"Ya, aku memang membelinya dengan uang. Karena asistenku tahu, masa depannya tidak bisa dijamin oleh mawar yang besok akan masuk tong sampah," balas Caden sangat telak.

Caden mengulurkan tangannya pada Aura. "Ayo kembali ke ruangan, Elara. Kau bilang kau ingin menghitung keuntungan dari saham gandum kita hari ini. Jangan buang waktumu meladeni hama yang sedang meratapi kebangkrutannya."

Aura bahkan tidak berpikir dua kali. Ia menendang mahkota bunga Arthur ke samping secara tidak sengaja saat ia bangkit berdiri, langsung menyambut uluran tangan Caden dengan senyum lima jari.

"Siap, Bosku yang paling tampan sedunia akhirat!" seru Aura riang, mencium kartu platinum itu berkali-kali. "Ayo kita hitung cuan! Bos mau makan siang wagyu lagi? Gue traktir pakai kartu Bos!"

"Boleh. Pesan seluruh menu restoran," Caden merangkul pinggang Aura di depan mata Arthur, sengaja memamerkan klaim kepemilikannya.

"Elara! Kau benar-benar memilih uang daripada cinta sejati?!" teriak Arthur putus asa dari belakang.

Aura menoleh dari balik bahu Caden, memberikan senyuman paling rasional sedunia.

"Pangeran Arthur! Uang itu tidak pernah selingkuh, uang itu bisa bayar rumah sakit kalau gue sakit, dan uang itu abadi! Cinta sejati Anda nggak bisa bayar tagihan listrik penthouse gue! Bye, Hama Pirang!"

Arthur jatuh berlutut di atas rumput, meremas mahkota bunganya hingga hancur. Protagonis utama yang biasanya selalu mendapatkan apa yang ia mau, kini hancur berkeping-keping oleh kekuatan kapitalisme absolut.

Sementara itu, di lorong menuju ruangan VIP, Caden tertawa pelan. Ia menarik Aura lebih dekat ke tubuhnya.

"Kau kejam sekali, Elara. Bahkan aku sebagai Antagonis merasa kasihan padanya."

"Ah, Bos bisa aja. Kalau Bos beneran kasihan, Bos nggak bakal ngasih gue kartu platinum ini buat manasin dia," balas Aura sambil mencubit pinggang Caden pelan. "Ngomong-ngomong, uang jajan boba pakai platinum? Kalau bobanya gue beli se-pabriknya sekalian, boleh kan?"

Caden menunduk, mengecup puncak kepala gadis yang gila uang itu dengan penuh rasa gemas yang aneh.

"Beli saja pabriknya. Beli seluruh kekaisaran ini jika kau mau. Selama kau tetap berada di sampingku untuk menghitung uangnya."

1
Nathalia
hama pirang gak tuh🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!