Ketika cinta berubah menjadi sebuah penjara.
Menikah adalah impian setiap wanita, pernikahan yang bahagia penuh keharmonisan adalah harapan. Namun, bagaimana jika cinta hanya membawanya dalam sebuah Sangkar Pernikahan?
Seruni menikahi Tuan Muda pertama dari keluarga Danuel. Tentu pernikahan dalam sebuah keuntungan bagi orang tuanya. Namun, sial ketika Seruni jatuh cinta pada sosok ramah dan hangat itu. Yang dalam sekejap mata berubah, nyatanya Tuan Muda pertama keluarga Danuel ini adalah sosok pria arogan yang dingin.
Seruni menjalani pernikahan yang bagaikan sebuah penjara. Dia harus melepas karir sebagai model yang saat itu sedang begitu naik. Lalu, semua hal yang dia lakukan harus atas persetujuan suaminya. Hingga, Seruni mulai jengah dan memberanikan diri mengajukan Perceraian. Tapi, apakah suaminya akan menyetujui Perceraian itu?
"Ceraikan aku, Mas. Pernikahan ini tidak akan bisa di lanjutkan lagi. Wanita dari masa lalumu sudah kembali sekarang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan Yang Pernah Mawar Punya
Suasana dalam ruangan masih hening, para pelayan sudah masuk ke dalam kamar masing-masing, dan Pak Gun masih berdiri diam memperhatikan keadaan. Namun dia yakin pasangan suami istri itu tidak akan kembali keluar dari kamar sebelum pagi tiba.
Entah keduanya akan berpikir dengan tenang, saling terbuka dan akhirnya saling memahami. Atau hanya terus berteriak satu sama lain dengan emosi yang meluap-luap. Pecahan kaca dari meja mengenai kaki Seruni, membuatnya berdarah. Namun dia mengabaikan itu.
"Mas, kalau kamu belum bisa lupa dengan masa lalumu, kenapa harus menahan aku dalam pernikahan ini? Seharusnya kamu lepaskan saja aku"
Raifan mengusap wajah kasar, dia menatap lekat pada istrinya itu. "Jadi selama ini kau berpikir aku masih menginginkan wanita lain yang bukan istriku? Iya?"
Seruni diam, mengusap kasar air matanya. "Semua orang tahu Mas, kamu dan Mawar adalah cinta pertama, dan kalian seharusnya menikah jika bukan orang tuamu yang tidak setuju"
Raifan menundukan wajahnya, melihat kaki Seruni yang berdarah terkena serpihan kaca dari meja yang pecah, Raifan menarik tangan Seruni untuk duduk di sisi tempat tidur, lalu dia membuka laci nakas mencari kotak obat disana.
"Mas, jawab aku dulu-"
"Diam! Obati dulu luka di kaki kamu"
Seruni diam, melihat Raifan mengambil kotak obat dan berlutut di depannya, meraih kaki Seruni dan menumpukannya pada satu kakinya yang di tekuk. Seruni menatapnya bingung, melihat Raifan yang mengobati lukanya dengan perlahan.
Perhatian seperti ini yang semakin membuat Seruni terjerat dalam perasaannya sendiri.
Raifan selesai menempelkan plester di luka Seruni. Lalu dia menoleh ke belakang, melihat serpihan kaca yang berserakan. "Aku panggil Pak Gun untuk membersihkannya"
Seruni hanya diam saja, menatap suaminya yang pergi keluar kamar. Seruni menatap kondisi kamarnya yang berantakan dengan serpihan kaca dari meja yang pecah. Kemarahan suaminya memang menakutkan, tapi tidak pernah sekalipun dia memukul atau menyakiti Seruni secara fisik.
Raifan berlari menuruni anak tangga, menemui Pak Gun yang masih berada di ruang tengah, baru saja Pak Gun ingin mematikan lampu dan pergi tidur, tapi suara langkah membuatnya mengurungkan niatnya.
"Bereskan kamar Pak"
"Baik Tuan"
Tanpa bertanya apa, atau bagaimana, Pak Gun sudah mengerti. Dia pergi ke kamar Tuannya, sementara Raifan sendiri pergi ke ruang kerja.
Saat Pak Gun masuk setelah mengetuk pintu, dia melihat meja kaca yang pecah dan berantakan, Pak Gun menoleh dan melihat Seruni yang masih duduk di pinggir tempat tidur, melirik ke arah kakinya yang terluka.
"Nona, sebaiknya anda tidur di kamar lain malam ini. Saya akan bersihkan dulu semuanya disini"
Seruni mengangguk, dia berjalan keluar kamar dan pergi ke kamar lain. Ketika masuk ke dalam kamar, dia hanya duduk di pinggir tempat tidur, masih bingung dengan semua ini. Setelah pertengkaran ini terjadi, entah akan seperti apa besok pagi.
Seruni menunduk dengan mata bekaca-kaca, melihat kakinya yang terluka yang tadi di obati oleh suaminya. Terkadang perasaannya semakin membuncah ketika mendapatkan perhatian lebih dari suaminya. Raifan bukan tidak peduli, tapi dia menunjukan kepeduliannya tidak seperti pada umumnya. Membuat Seruni bingung, apa suaminya benar peduli atau hanya karena Seruni masih istrinya saja.
"Sampai saat ini, aku masih tidak paham dengan perasaanmu, Mas. Aku tidak bisa menebak perasaanmu seperti apa"
*
Sekarang Raifan berada di ruang kerja, berdiri di depan kaca besar yang sengaja tirainya dibuka. Sebatang rokok menjadi cara dia menenangkan diri.
"Kau berpikir aku telah bermain di belakangmu dengan Mawar. Haha... Kenapa dia tidak bisa menjernihkan pikirannya"
Raifan berjalan ke arah sofa, duduk di sana sambil menghisap rokoknya. Menghembuskan asap ke udara yang perlahan menghilang. Setelah menghabiskan satu batang rokok, Raifan berbaring di sofa, menatap langit-langit ruangan dengan tatapan menerawang.
Hari dimana pernikahan terjadi, memang Raifan tidak mempunyai perasaan apapun. Dia marah dan kesal pada Seruni yang dengan mudah menerima perjodohan. Tapi, hari-hari berlalu sampai satu tahun pernikahan, dua tahun pernikahan, semuanya berubah. Hal yang dulu dia sesali, berubah menjadi hal yang dia jalani dengan tenang. Perlahan Raifan menerima pernikahan yang sudah terlanjur terjadi. Meski, dia masih belum bisa mengatakan jika dia mempunyai rasa cinta lagi. Karena perasaan cinta telah menghancurkannya.
Dering ponsel membuatnya tersadar dari segala lamunan, Raifan mengambil ponselnya dari atas meja. Menatap nama yang tertera di layar ponsel, menghela napas pelan melihat nama itu.
"Ada apa?"
"Kenapa sudah lama kamu tidak datang menemuiku?"
"Kamu sudah pulang dari rumah sakit, dan aku sudah menugaskan seseorang untuk menjagamu. Jadi, tidak perlu aku yang datang kesana menemuimu"
"Kamu benar-benar berubah ya, Rai. Bukankah dulu selalu menjadikan aku yang utama"
Raifan menghela napas pelan, memijat pelipisnya yang mulai pening. "Mawar, sekarang aku sudah menjadi suami orang. Dan kepedulianku padamu kemarin, hanya karena aku masih menganggapmu teman. Aku tidak bisa jika harus seperti Raifan yang dulu, karena nyatanya aku sudah milik wanita lain, bukan kamu"
Suara Raifan terlalu tegas, membuat Mawar sedikit tertegun. Selama ini dia hanya mendapatkan sikap hangat dan penuh kasih sayang dari seorang Raifan. Tapi sekarang, Raifan sudah tidak menunjukan sisi hangatnya lagi.
"Ternyata, Seruni berhasil merubah kamu ya"
Raifan tersenyum tipis, entah apa yang membuatnya berpikir jika Seruni memang merubahnya dalam hal apapun. Meski gadis itu pasti tidak tahu dan tidak pernah menyadari hal ini.
"Ya, dia merubahku. Namun, salahnya dia telah membuat aku menjadi pria yang sangat posesif terhadapnya. Membuat dia merasa aku telah mengekangnya"
Di seberang sana, Mawar terdiam mendengar ucapan Raifan. Suara yang riang menunjukan jika pria itu berkata sambil tersenyum. Meski Mawar tidak bertatap muka langsung dengan Raifan.
"Kamu mencintainya?"
Akhirnya pertanyaan itu keluar juga, padahal sudah lama Mawar memendamnya. Bukan karena dia tidak berani bertanya, tapi Mawar takut mendengar jawabannya. Mawar takut kecewa dengan jawaban dari Raifan.
"Kau tahu, aku sangat mencintaimu dulu. Bahkan aku rela pergi meninggalkan semua keluargaku dan marga Danuel, hanya untuk bisa menikah denganmu. Perempuan yang aku cintai. Tapi, kau menolaknya, kau menolak untuk hidup bersamaku dengan alasan restu. Padahal, aku hanya ingin kita menikah dan hidup bersama lalu nanti bisa mencoba mendapatkan restu orang tuaku dengan perlahan. Setidaknya kita sudah menikah"
Di seberang sana Mawar hanya diam, dalam hati merutuki kebodohannya saat itu. Menyesal pun sudah terlambat untuk sekarang, semuanya hanya akan sia-sia. Kesempatan yang pernah dia punya, tapi bodohnya dia telah membuat kesempatan itu hilang.
"Tidak bisakah kita kembali sekarang? Aku dan kamu seperti dulu lagi, aku masih mencintaimu, Raifan"
"Tidak mungkin ada kata kita lagi diantara aku dan kamu"
Bersambung
semangat berkarya kak 🤗