Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.
Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.
Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja 19
Plaaaakkk
Senja lebih dahulu menangkis tangan Arum alias Lyra sebelum tangan wanita itu menamparnya. Arum mungkin mengira kalau Senja wanita lemah yang akan menangis dan juga ketakutan saat melihatnya datang. Apalagi saat kembali teringat semua foto dan video yang dia kirimkan selama ini. Arum sedikit kaget dengan keberanian Senja menangkis tangannya.
"Kamu jangan asal bicara ya! Kamu pikir kamu siapa, hah?! Kamu cuma staf kecil di sini! Kalau aku mau, satu telepon ke Angkasa atau Papi bisa membuatmu dipecat hari ini juga!"
Senja malah mengulas senyum tipis yang amat dingin, sebuah ketenangan yang justru membuat Lyra makin kalap.
"Silakan dicoba, Mbak Lyra atau aku panggil Arum," tantang Senja pelan, memajukan tubuhnya sedikit hingga jarak mereka sangat dekat.
"Telepon Pak Angkasa sekarang. Bilang padanya kalau kamu sedang melabrak analis keuangannya karena foto-foto syurmu bersama Mas Adam sudah resmi saya daftarkan ke Pengadilan Agama."
Mata Lyra membelalak sempurna. Napasnya tercekat di tenggorokan.
"Kamu... kamu sudah mendaftarkannya?!"
"Sudah. Tadi siang," bisik Senja penuh kemenangan.
"Jadi, daripada kamu membuang energi berteriak di sini, lebih baik kamu persiapkan diri untuk panggilan persidangan. Atau mungkin... persiapkan dirimu untuk acara makan malam keluarga minggu depan?"
"Awas kalau kamu berani mengatakan semuanya kepada Angkasa! Aku pastikan hidupmu yang sebatang kara akan menderita selamanya!"
"Loh kok malah ketakutan begitu. Mbak? Bukannya kamu sendiri yang mengumbar aibmu? Jadi wanita jangan maruk!"
Lyra gemetar hebat. Rasa cemas dan ketakutan yang teramat sangat menyergap dadanya seketika. Sebelum Lyra sempat membalas, suara langkah kaki yang tegap terdengar mendekat.
"Ada keributan apa di sini?" suara Rian memecah ketegangan, berdiri di ujung koridor dengan wajah datar khas kepercayaannya.
"Mbak Lyra, Pak Angkasa memberi arahan agar Anda segera meninggalkan area perkantoran demi kenyamanan bersama. Mohon jangan buat keributan di kantor! Apa anda ada masalah dengan Bu Senja?"
"Bukan urusanmu, Rian!"
Lyra menoleh pada Rian, lalu kembali menatap Senja dengan dada naik turun menahan gumpalan amarah dan kepanikan yang tak tertahan.
"Urusan kita belum selesai, Senja!" desis Lyra penuh ancaman sebelum akhirnya memutar tubuh dan melangkah cepat meninggalkan lantai itu dengan wajah sepucat kapas.
Senja menghela napas panjang, kembali duduk di kursinya dengan perasaan yang jauh lebih lega. Perang terbuka baru saja dimulai, dan ia tahu, di balik layar, Angkasa sedang menyiapkan skenario takdir terbaik untuk meruntuhkan wanita itu sepenuhnya.
Sore menjelang malam, sebuah sedan mewah berpenyejuk udara milik perusahaan berhenti dengan mulus di pelataran rumah bergaya klasik modern di kawasan perumahan elit. Lampu-lampu taman bernuansa hangat menyala, menerangi halaman yang asri.
Senja menatap rumah itu dari balik jendela mobil dengan napas tertahan. Itu adalah kediaman orang tua Adam—tempat di mana ia selalu disambut dengan senyuman hangat, tempat di mana mertuanya sering membelanya dari sikap dingin Adam. Namun hari ini, kedatangan Senja membawa beban berat yang siap menghancurkan seluruh kehangatan semu itu.
"Silakan, Bu Senja," ucap Rian ramah dari balik kemudi, mematikan mesin mobil.
"Pak Angkasa berpesan agar saya menunggu di sini sampai urusan Anda selesai. Jangan khawatir, tim hukum kita sudah mengantisipasi segala kemungkinan. Jika ada eskalasi situasi yang tidak terkendali, saya akan langsung masuk."
Senja menoleh, mengangguk pelan pada Rian. "Terima kasih, Pak Rian. Tolong sampaikan rasa terima kasih saya pada Pak Angkasa."
Senja menarik napas dalam-dalam, menguatkan hatinya. Ia meraih tas tangannya, membuka pintu mobil, dan melangkah keluar. Langkah kakinya terasa berat, namun tekadnya sudah bulat. Sebelum Adam atau Arum memutarbalikkan fakta di depan mertuanya, Senja harus menyampaikan kebenaran itu terlebih dahulu.
Ting tong.
Senja menekan bel rumah. Tak lama kemudian, pintu utama terbuka lebar. Wajah seorang wanita paruh baya yang anggun dengan senyuman ramah langsung menyambutnya.
"Ya ampun, Senja, Sayang!" seru Ibu Adam, Mama Maya dengan mata berbinar senang, langsung menarik Senja masuk ke dalam pelukannya.
"Udah lama banget kamu nggak mampir ke rumah. Adam bilang kamu sibuk banget di tempat kerja barunya. Ayo masuk, cuaca di luar dingin."
Kehangatan pelukan itu justru membuat tenggorokan Senja mencekat. Ada rasa bersalah yang menyayat hati, bukan karena kesalahannya, tapi karena ia tahu betul betapa hancurnya wanita paruh baya ini nanti saat mendengar kebenarannya.
"Iya, Ma... Maaf Senja baru bisa datang sekarang," bisik Senja parau, melepaskan pelukan perlahan.
Mama Maya menuntun Senja duduk di sofa ruang tamu yang mewah, sementara asisten rumah tangga segera membawakan secangkir teh hangat.
"Kamu kok pucat banget, Nak? Ada apa? Mana Adam? Kenapa kamu nggak bareng dia kesini?" tanya Mama Maya penuh perhatian, duduk di sebelah Senja dan menggenggam jemari menantunya itu.
"Kalau si Adam bikin ulah atau sibuk kerja terus sampai kamu diabaikan, bilang sama Mama. Nanti Papa yang jewer dia!"
Senja menunduk, menatap cangkir teh yang mengepulkan uap tipis. Air matanya hampir tumpah, namun ia tahan mati-matian.
"Ma... Maafkan Senja," ucap Senja terbata, suaranya bergetar hebat. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat, salinan berkas gugatan cerai dan cetakan bukti digital yang diberikan Raka.
Mama Maya mengernyit bingung, menerima amplop itu. "Apa ini, Senja? Dokumen apa?"
"Buka saja, Ma..."
Dengan tangan gemetar, Mama Maya membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isi di dalamnya. Foto-foto kebersamaan Adam dan Arum di ranjang apartemen, tangkapan layar pesan mesra, hingga salinan pendaftaran gugatan cerai di Pengadilan Agama terpampang nyata di depan matanya.
Wajah Mama Maya mendadak pias. Senyum ramahnya lenyap seketika, berganti dengan kejut luar biasa yang membuat napasnya sesak.
"Ini... apa-apaan ini, Senja?!" pekik Mama Maya dengan suara bergetar, menjatuhkan beberapa lembar foto ke atas meja marmer.
"Foto apa ini?! Adam... anak itu berselingkuh?!"
"Maafkan Senja, Ma..." air mata Senja akhirnya tumpah juga. Ia menggenggam tangan mertuanya yang mulai dingin.
"Selama ini Senja diam karena ingin menjaga nama baik keluarga. Tapi... wanita di foto itu, Arum, wanita yang dulu kabur sebelum pernikahan mereka ternyata masih berhubungan dengan Mas Adam di belakang Senja."
"Arum...?" Mama Maya menyebut nama itu dengan nada penuh kebencian dan kemarahan yang meluap-luap. Darahnya mendidih seketika.
"Wanita kurang ajar itu lagi?! Beraninya dia merusak rumah tangga kalian?!"
"Dan bukan cuma itu, Ma..." suara Senja makin parau.
"Mas Adam menggunakan aset perusahaan untuk membiayai wanita itu, sampai-sampai perusahaannya sekarang terancam hancur karena masalah keuangan. Dan... dan Mas Adam berniat menutupi semuanya dengan tetap mengikat Senja sebagai tameng keluarga."
Mama Maya terduduk lemas, dadanya naik turun menahan amarah yang teramat sangat hingga air matanya tumpah membasahi pipinya.
"Anak sialan... Berani sekali dia mengkhianati kepercayaan Mama dan Papa! Jahat sekali dia memperlakukanmu seperti ini, Senja!"
"Ada apa ini? Kenapa kalian menangis?"
Sebuah suara bariton yang tegas menggelegar dari arah pintu masuk ruang keluarga. Papa Surya, ayah Adam berdiri di sana dengan jas kantor yang belum dilepas, menatap istri dan menantunya dengan kening berkerut dalam.
Mama Maya mendongak, menunjuk lembar-lembar foto di atas meja dengan tangan gemetar. "Lihat apa yang diperbuat anak kandungmu itu, Papa! Lihat kelakuan bejat Adam di belakang Senja!"
Papa Surya melangkah mendekat, memungut foto-foto tersebut. Seketika itu juga, rahang pria paruh baya itu mengeras, urat-urat di lehernya menonjol, dan matanya memerah menahan amarah yang mencapai puncaknya.
"Panggil Adam sekarang juga!" bentak Papa Surya pada asisten rumah tangga dengan suara menggelegar.
"Suruh anak kurang ajar itu pulang ke rumah ini sekarang juga! Atau saya pastikan dia tidak akan pernah lagi menginjakan kaki di perusahaan keluarga!"