Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Dalam Novel Psikopat Tampan

Tersesat Dalam Novel Psikopat Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dark Romance / Psikopat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

"Baru juga mau mulai..." desah Sena lesu saat berjalan menyusuri trotoar. Langkah kakinya terasa seberat timah, meratapi nasibnya yang selalu apes dalam urusan asmara.

Karena terlalu malas mengemudi dengan pikiran kacau, Sena memutuskan untuk duduk sejenak di sebuah halte bus yang sepi. Namun, saat ia menyandarkan punggungnya dan menatap ke seberang jalan, pandangannya langsung tertahan. Tepat di hadapannya berdiri sebuah kafe eksklusif dengan dinding kaca transparan yang sangat luas.

Di dalam kafe itu, terpisah oleh jajaran meja, tampak dua sosok yang sangat dikenalnya: Lucian dan Liona.

Dari balik kaca jernih, Sena bisa melihat betapa sempurnanya pemandangan itu dari sudut pandang orang luar. Liona tampak mengobrol dengan ceria, tersenyum manis, dan berkali-kali menyodorkan piring kuenya ke arah Lucian. Di sisi lain, Lucian tetap mempertahankan ekspresi datarnya yang dingin, hanya sesekali mengangguk tipis. Namun, fakta bahwa pria itu membiarkan Liona duduk di depannya, menemaninya makan, dan menyentuh lengannya sudah cukup menjadi bukti bahwa Liona memiliki posisi khusus yang tidak bisa diganggu gugat.

"Kan... apa kata gue?" gumam Sena seraya menopang dagunya, menatap tajam ke seberang jalan. "Kalauuuu aja gue bisa jadi ceweknya, pasti dia kagak bakalan tega ngebunuh gue! Minimal rasa kemanusiaannya muncul dikitlah buat pacar sendiri!"

Sena menundukkan kepalanya lemas, memandangi ujung sepatunya dengan pandangan berkaca-kaca. Jiwa jomblo akut dari kehidupan lamanya mendadak bangkit meratapi takdir.

"Kok gue nggak pernah beruntung banget ya soal punya cowok?" bisik Sena meratapi nasib. "Di dunia nyata ditolak cowok kafe, cowok tetangga, sampai mas-mas boba... Eh, pas pindah ke dunia novel, cowok psikopat yang gue suka pun tetep aja udah ada yang punya! Kenapa sih takdir gue mengenaskan banget?!"

Sena mendengus kasar, lalu berdiri dengan gontai. Tanpa melirik kafe itu lagi, ia berjalan lesu meninggalkan halte, melangkah tak berarah menyusuri trotoar.

Sementara itu, di dalam kafe yang hangat dan harum aroma kopi.

Lucian baru saja menyesap secangkir kopi hitamnya ketika sudut matanya menangkap pergerakan dari luar jendela. Pandangan mata sehitam malamnya perlahan bergulir ke arah halte bus di seberang jalan.

Dari balik kaca transparan, Lucian melihat sosok gadis bergaun indah yang tadi mengganggunya Estella Aurora. Gadis itu sempat terduduk lama di sana, menatap lurus ke arah kafenya dengan raut wajah yang aneh: campuran antara jengkel, sedih, dan keputusasaan yang tidak ditutup-tutupi. Lucian bahkan bisa melihat bagaimana gadis itu menunduk lemas dan melangkah pergi dengan bahu terkulai loyo bagaikan bunga yang layu.

"Lucian? Kamu dengerin aku, kan?" tanya Liona manja, menepuk jemari Lucian di atas meja.

Lucian tidak langsung menjawab. Iris matanya yang dingin tetap tertuju pada sosok Estella yang perlahan mengecil dan menghilang di belokan jalan. Ada kilat penilaian yang sangat samar di balik matanya yang datar.

Gadis itu sangat berbeda. Korban-korban perburuannya biasanya akan menunjukkan ketakutan, kepanikan, atau berusaha melarikan diri sejauh mungkin begitu ia memberikan 'tanda'. Namun Estella justru mendekatinya dengan sangat terang-terangan, merusak semua pola permainan, dan kini bertingkah seolah-olah dirinyalah yang paling terzalimi di dunia ini.

Lucian menarik pandangannya dari jendela, lalu menatap Liona dengan ekspresi tanpa emosi.

"Dengar," sahut Lucian pendek dengan suara deep voice-nya, kembali meneguk kopinya seraya mencatat sesuatu yang baru tentang calon korbannya di dalam pikiran.

Rasa lelah fisik dan mental yang menumpuk membuat Sena mengambil keputusan cepat. Rumah besar keluarga Aurora di lantai tiga itu memang sangat megah, tetapi menghuninya sendirian hanya menambah rasa hampa dan kesepian. Belum lagi jaraknya yang cukup jauh dari kampus, memakan waktu mengemudi yang tidak sedikit setiap pagi.

"Mending gue sewa apartemen aja yang dekat kampus," gumam Sena mantap seraya mengemas beberapa pakaian dan barang-barang pribadinya ke dalam koper bermerek. "Lagian hidup di apartemen pasti lebih praktis dan gampang buat diurus sendiri. Nggak usah pusing mikirin rumah seluas lapangan bola!"

Tanpa membuang waktu, berbekal Black Card dan koneksi cepatnya, Sena langsung menyewa sebuah unit apartemen penthouse eksklusif di gedung pencakar langit yang lokasinya hanya berjarak lima menit dari area perkuliahan. Unit apartemen itu terletak di lantai paling atas—lantai 35—dengan pemandangan gemerlap lampu kota yang spektakuler saat malam hari. Interiornya sangat modern, dilengkapi dinding kaca raksasa, perabotan serba elegan, dan sistem keamanan tingkat tinggi.

Begitu proses kepindahan kilatnya selesai, Sena langsung melompat dan selonjoran di atas kasur king size apartemen barunya yang amat empuk.

Ia memeluk bantal erat-erat, meratapi nasibnya yang tak kunjung membaik. "Aish... kenapa sih hidup gue di sini ruwet banget?!" gerutu Sena kesal, menendang-nendang udara dengan kedua kakinya. "Udah mah dikejar hitung mundur kematian satu bulan, mau deketin sang psikopat malah dihalangi ceweknya! Ngeselin banget tuh wajah si Liona! Muncul terus di ingatan gue bikin tambah emosi!"

Sena mengacak-acak rambutnya frustrasi sampai kusut. Perutnya yang mendadak berbunyi nyaring memotong kekesalannya. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

"Duh, lapar lagi. Bahan makanan di kulkas belum ada sama sekali," keluh Sena. "Mending gue keluar bentar deh, cari minimarket terdekat buat belanja harian."

Sena menyambar kunci Porsche abu-metaliknya, memakai jaket kasual untuk melapisi gaun tidurnya, lalu turun menuju garasi bawah tanah apartemen. Mobil mewahnya kemudian membelah jalanan malam kota yang mulai lengang dan temaram.

Mengikuti ingatan petunjuk jalan, Sena mengambil rute jalan pintas melalui sebuah jalanan agak sepi yang diapit oleh dinding-dinding bangunan tua. Lampu jalan di area itu beberapa kali berkedip redup, menciptakan suasana remang-remang yang agak mencekam.

Namun, di tengah kesunyian malam tersebut, tiba-tiba—

SRET!

Sebuah bayangan manusia melompat keluar dari gang gelap dan berdiri limbung tepat di tengah jalanan, berada persis di jalur mobil Sena!

"ASTAGA!"

CITTTTT!

Sena refleks menginjak pedal rem sedalam-dalamnya! Ban mobil Porsche-nya mencicit keras menghantam aspal, menciptakan bau karet terbakar yang menyengat. Mobil itu berhenti mendadak hanya berjarak beberapa sentimeter dari tubuh pria asing tersebut.

Sena mengatur napasnya yang memburu, dadanya naik turun karena kaget setengah mati. Tangannya bergetar hebat di atas roda setir. Namun, ketika sorot lampu depan mobil mewahnya menerangi sosok pria di depannya, rasa takut Sena seketika berlipat ganda.

Pria yang berdiri di depan kap mobilnya mengenakan kemeja lusuh yang sudah terkoyak. Seluruh tubuhnya berlumuran darah segar. Wajah pria itu pucat pasi, napasnya terengah-engah penuh ketakutan, dan ia menatap ke arah mobil Sena seolah-olah sedang memohon pertolongan.

"T-tolong... tolong..." lirih pria itu dengan suara parau, menempelkan telapak tangannya yang berdarah ke kap mobil Sena.

Keringat dingin mengucur deras di pelipis Sena. Jantungnya berdegup kencang bak dentuman drum. Ini... ada apa lagi sih ya Tuhan?! Jangan bilang gue terjebak di arena pembunuhan lagi?! batin Sena panik, tubuhnya gemetaran kaku di kursi kemudi.

Pria berdarah itu mencoba melangkah mundur satu langkah, hendak mengitari mobil untuk membuka pintu. Namun, sebelum pria itu sempat menggapai gagang pintu

JLEBBBB!

Sebilah pisau berburu bermata ganda yang sangat tajam terbang membelah udara malam dan menancap dengan sangat pas, tepat menembus bagian belakang kepala pria itu!

Cairan darah segar menyembur keras menabrak kaca depan mobil Porsche milik Sena, menutupi pemandangan dengan noda merah yang mengerikan. Pria itu langsung ambruk kaku ke atas aspal tanpa sempat mengeluarkan jeritan akhir.

"AAAKKKHHH!"

Sena terpekik histeris dari dalam mobil, menutup mulut dan matanya rapat-rapt dengan kedua tangan yang gemetaran hebat! Napasnya tersengal-sengal di dalam kabin mobil yang terasa mendadak kedap udara, sementara dari balik noda darah di kaca depan, sebuah bayangan jangkung berbalut pakaian serba hitam perlahan melangkah keluar dari kegelapan gang...

1
putmelyana
bodoh banget ceweknya orang MH ngejauh dari kematian malah ngedeketin udah tau dia psikopat malah deketin. orang mh kabur nikmati karena transmigrasi jadi kaya malah jadi babu
putmelyana
apasih karakter ceweknya sikapnya berlebihan banget gajelas.
Alissia
up thor🤭🤭
Alia Chans
Hadir Thor, saling support💪/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!