Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Kunjungan Sang Sponsor Utama dan Pria Kulkas yang Tersiksa
Suasana di lapangan utama SMA Garuda pagi itu diwarnai keriuhan luar biasa. Bukan hanya karena persiapan Pentas Seni (Pensi) tahunan yang tinggal menghitung hari, melainkan karena beredarnya kabar bahwa donor utama seluruh fasilitas sekolah dan sponsor tunggal acara Pensi akan datang melakukan kunjungan inspeksi mendadak.
Di lorong utama dekat ruang OSIS, Dimas berdiri tegap bersama jajaran panitia lainnya. Pria jangkung itu memegang papan kertas rencana anggaran dengan raut wajah bangga. Namun, kebanggaan itu pecah seketika ketika rombongan mobil mewah memasuki gerbang sekolah.
Sebuah armada Rolls-Royce hitam mengkilap beriringan dengan dua mobil pengawal berhenti tepat di depan gedung rektorat. Petugas keamanan berbaju hitam bergegas membukakan pintu. Dari dalam kabin, melangkah keluar sosok pria bertubuh tegap setinggi 185 cm dengan setelan jas eksklusif berwarna abu-abu gelap.
Exel Dirgantara.
Aura dingin, dominan, dan aura kekuasaan yang amat pekat seketika menyelimuti seluruh area lapangan. Para siswi yang berdiri di pinggir koridor langsung berbisik histeris.
"Anjir! Itu bukannya Pak Exel Dirgantara?! CEO Dirgantara Group yang viral itu?!"
"Ganteng banget, gila! Berasa lihat aktor drama Korea!"
"Katanya beliau yang mendanai seluruh Pensi kita dan mau bangun laboratorium baru!"
Exel melangkah tegap, didampingi oleh Achmad yang tampil rapi membawa dokumen kerja sama, serta Kepala Sekolah dan para guru yang membungkuk sopan menyambutnya.
Pandangan mata cokelat gelap Exel bergerak tajam melintasi kerumunan, hingga pandangannya terkunci pada dua sosok: Alexa yang sedang berdiri bersama Rin dan Safi di dekat kantin, serta Dimas yang berdiri di dekat spanduk OSIS.
Exel sengaja menghentikan langkah kakinya tepat di depan barisan panitia OSIS. Suasana seketika membeku. Aura intimidasinya yang sangat pekat membuat beberapa anggota OSIS menundukkan kepala kaku.
"Jadi, kamu Ketua OSIS yang bertanggung jawab atas acara ini?" suara Exel menggema rendah, sangat berat dan menusuk tulang.
Dimas meneguk ludahnya kaku. Pria muda yang biasanya percaya diri dan populer itu mendadak merasa seperti seekor semut di hadapan raksasa. Keringat dingin merembes di pelipisnya. Tekanan aura dari sang CEO membuat nyali dan keberanian Dimas kuncup seketika hingga ke titik nol.
"I-iya, Pak... Saya Dimas, Ketua OSIS..." cicit Dimas dengan suara yang sedikit bergetar, tak berani menatap langsung manik mata Exel.
Exel menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman dingin yang sangat mengintimidasi. "Pastikan seluruh acara berjalan aman. Dan ingat... fokuslah pada tugasmu sebagai panitia. Jangan mencampuradukkan urusan organisasi dengan perasaan pribadi pada siswi mana pun di sekolah ini. Mengerti?"
Deg!
Dimas membelalakkan matanya kaku. Kata-kata 'perasaan pribadi' yang diucapkan Exel dengan tatapan mata membunuh itu seperti anak panah yang menancap tepat di dadanya. Dimas seketika sadar... pria di depannya ini bukan sekadar sponsor biasa.
"M-mengerti, Pak!" balas Dimas cepat seraya menunduk dalam-dalam, tubuhnya kedinginan.
Di sudut koridor, Rin menyenggol lengan Alexa seraya berbisik heboh. "Ca! Lihat tuh! Kak Dimas langsung kuncup kaya putri malu disiram air es! Mas Exel bener-bener tandai wilayahnya secara brutal!"
Alexa yang berdiri memegangi botol air mineralnya hanya bisa menepuk jidatnya pelan, wajahnya merona merah. Mas Es Batu ngapain sih sampai datang ke sekolah segala... Mana mukanya galak banget lagi, batin Alexa menjerit polos.
Malam harinya di kediaman utama keluarga Dirgantara...
Jika di luar rumah Exel adalah sosok CEO kejam yang ditakuti ribuan orang, maka di dalam kediaman utama, statusnya merosot drastis menjadi "Suami Teraniaya Hormon Kehamilan".
Usia kandungan Alexa yang memasuki minggu kelima makin menunjukkan efek maternal rejection to partner scent yang sangat ekstrem. Pasangan pengantin baru itu masih menginap di kediaman utama atas pengawasan Mama Maria dan Mama Sarah.
Di ruang keluarga lantai dua, Exel duduk kaku di ujung sofa paling kanan. Pria bertubuh tegap itu hanya mengenakan kaus polos putih yang sudah dicuci ulang tiga kali tanpa pelembut pakaian, mencoba menghilangkan sisa-sisa aroma tubuh alaminya.
Di sofa seberang yang berjarak empat meter, Alexa duduk bersila mengenakan piyama beruang warna kuning. Wajah mungilnya tampak jauh lebih segar, dipangkuannya ada sekeranjang buah-buahan.
Exel menatap istri mungilnya dengan tatapan memelas dan rasa rindu yang membakar dada. Pria itu mencoba memajukan tubuhnya satu jengkal.
"Aca..." panggil Exel pelan, suaranya sangat lembut dan penuh harapan. "Mas boleh duduk di sofa yang sama? Mas cuma mau pegang tangan Aca... sedikit saja..."
Namun, baru saja Exel menggeser duduknya beberapa sentimeter...
Srettt!
Alexa seketika mendongak, hidungnya kumat mengendus udara seraya menutup mulutnya rapat-rapt!
"JANGAAAAN! MAS EXEL JANGAN MAJU!" jerit Alexa histeris dengan suara cemprengnya yang melengking tinggi. "Tuh kan! Hidung Aca langsung gatal! Baunya kaya minyak tanah campur kaos kaki basah! Hoeeekkk! Jangan dekat-dekat!"
Exel seketika membeku, mendesah pelan seraya menyandarkan punggungnya kembali ke ujung sofa dengan wajah tertunduk pasrah. Rasa frustrasi tingkat dewa menyelimuti sang CEO. Pria yang biasanya dipeluk dan dimanja oleh Alexa itu kini benar-benar terisolasi dari istrinya sendiri.
"Aca..." bisik Exel frustrasi, jemari tegapnya meremas lututnya sendiri. "Mas sudah mandi empat kali hari ini..."
"Tapi di hidung Aca tetap bau, Mas Suami!" racau Alexa polos seraya mengunyah potongan buah naga. "Kata Dokter kan ini bawaan dedek bayi di dalam perut! Dedek bayinya gak mau dekat-dekat Papanya dulu!"
Mama Maria yang baru melintas membawa nampan teh menggeleng-gelengkan kepala seraya tertawa prihatin melihat putranya yang tampak sangat kasihan.
"Sabar ya, Exel," goda Maria menepuk bahu putranya. "Dulu Papa kamu juga Mama usir tidur di ruang tamu waktu hamil kamu."
"Tapi Ma... ini sudah seminggu saya tidak bisa memeluk istri saya," gumam Exel rendah dengan nada meratapi nasib yang sangat tragis.
Tiba-tiba, Alexa yang sedang mengunyah buah naga mendadak menghentikan kunyahannya. Mata bulatnya berbinar-binar memancarkan keinginan ngidam yang sangat mendadak dan absurd!
"Mama! Mas Exel!" panggil Alexa heboh. "Aca mendadak pengen makan sesuatu!"
Exel seketika menegakkan posisinya, matanya berbinar gembira. Ini adalah kesempatan emas baginya untuk membuktikan cintanya pada sang jabang bayi dan istrinya!
"Aca mau makan apa, Sayang?!" seru Exel cepat dari jarak jauh. "Mas suruh Achmad atau koki pribadi carikan sekarang! Sebutkan saja!"
Alexa menopang dagunya polos. "Aca pengen makan nasi goreng ati ampela yang dibeli langsung di gerobak pinggir jalan jam satu malam nanti... tapi yang masak harus abang-abang yang pakai topi warna merah! Dan pas belinya, Mas Exel harus ikut berdiri di samping gerobaknya sambil nungguin!"
DUARRR!
Exel membeku kaku. Rahang sang CEO hampir jatuh menghantam lantai marmer. Nasi goreng gerobak pinggir jalan jam satu malam?! Yang penjualnya pakai topi merah?!
"A-Aca... Nasi goreng restoran bintang lima buatan Chef Andre tidak mau?" tawar Exel mencoba tawar-menawar secara rasional.
"ENGGAK MAU!" potong Alexa cepat seraya memayunkan bibirnya kencang. "Dedek bayinya mau yang dari gerobak abang-abang topi merah! Kalau Mas Exel gak mau carikan, Aca gak mau makan seharian!"
"Iya! Iya, Mas carikan!" seru Exel panik setengah mati mendengar ancaman mogok makan dari istrinya. Pria itu buru-buru merogoh ponselnya dan memanggil nomor Achmad.
"Halo, Bos? Ada apa malam-malam—"
"Achmad! Cari gerobak nasi goreng pinggir jalan di seluruh area Jakarta sekarang juga!" bentak Exel tegas dan frustrasi. "Pastikan abang penjualnya pakai topi warna merah! Kita berangkat jam satu malam!"
Di seberang telepon, Achmad hening sejenak sebelum suara jeritannya terdengar: "HAH?! BOS, LU GILA YA?! JAM SATU MALAM NYARI ABANG NASGOR TOPI MERAH?!"
"Cari atau gaji kamu saya potong!" pangkas Exel kaku lalu mematikan telepon secara sepihak.
Pukul 01.30 WIB.
Misi ngidam absurd itu akhirnya terlaksana. Exel—CEO bertubuh tegap berjas kasual—beneran berdiri kaku di samping gerobak nasi goreng pinggir jalan bersama Achmad, menunggui abang penjual bertopi merah memasak pesanan istrinya.
Setelah mendapatkan nasi goreng tersebut dan membawanya pulang, Alexa memakannya dengan sangat lahap dan bahagia di atas kasur.
Namun, puncak penderitaan Exel terjadi saat jam tidur tiba.
Karena efek hormon kehamilan Alexa yang membuat gadis itu mual hebat jika menghirup udara di sekitar Exel, sang CEO berdarah dingin itu terpaksa diusir tidur di kamar tamu yang berada di ujung koridor lantai dua.
Pukul 02.30 WIB.
Di dalam kamar tamu yang sepi, Exel terbaring telentang di atas kasur king size. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar yang gelap. Selimut tebal membalut tubuh tegapnya, namun dadanya terasa sangat hampa dan dingin.
Biasanya, jam-jam seperti ini Alexa akan meringkuk hangat di dalam dekapannya, menyembunyikan wajah tembamnya di dada bidang Exel seraya menghirup aroma tubuh suaminya. Namun malam ini, Exel harus tidur sendirian karena "diusir" oleh efek hormon calon buah hatinya sendiri.
Exel menghembuskan napas panjang yang sangat berat, membalikkan tubuhnya seraya memeluk bantal guling kencang-kencang.
"Cepatlah berlalu masa mual ini, Sayang..." gumam Exel serak pada keheningan malam, meratapi nasibnya yang sangat frustrasi namun tetap memancarkan cinta yang begitu mendalam untuk istri mungil dan janin di dalam kandungannya.