hiduplah seorang penyihir cantik yang bernama Elizabeth bertemu dengan raj vampir .dan dia diam" mngandung ada vampir . sampai dia Terusir oleh ayahnya sendiri .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Latief_ayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 28
Leon mendongak menatap wajah ayahnya, senyum lebar seketika merekah di bibir kecilnya, matanya berbinar cerah memancarkan kebahagiaan dan harapan yang tulus. Dengan suara jernih dan penuh keyakinan, ia menjawab tanpa ragu sedikit pun:
"Aku ingin terbang... seperti Ayah! Aku ingin terbang tinggi menembus awan, melayang di atas langit yang luas sekali! Aku ingin terbang bersama Ayah... melihat dunia dari atas sana!"
Draven tertegun sejenak mendengar jawaban itu, lalu senyumnya melebar penuh kebanggaan dan kelembutan. Ia mengusap lembut rambut hitam putranya, matanya menatap lekat-lekat wajah Leon yang penuh harap itu.
"Terbang..." bisik Draven pelan, lalu mengangguk mantap. "Baiklah... keinginanmu itu akan Ayah kabulkan. Karena memang itulah takdirmu... kau lahir untuk terbang tinggi, putraku. Sama seperti Ayah... dan sama seperti leluhur kita yang teragung. Namun untuk saat ini... biarlah tubuhmu pulih sepenuhnya terlebih dahulu. Saat kekuatanmu telah kembali utuh... saat tujuh hari berlalu dan tubuhmu telah segar bugar... barulah Ayah mengangkatmu ke atas pundakku, dan kita terbang bersama-sama menembus awan setinggi langit. Ayah janji..."
Leon tersenyum semakin lebar mendengar janji itu, matanya berbinar bahagia seakan sudah dapat membayangkan dirinya melayang di angkasa luas bersama ayahnya. Ia mengangguk mantap, lalu memeluk erat leher Draven dengan penuh kasih sayang, menyandarkan kepalanya di dada bidang ayahnya itu dengan perasaan aman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Terima kasih, Ayah... Aku akan sabar menunggu! Aku akan beristirahat dengan tenang... agar cepat sembuh dan bisa segera terbang bersama Ayah!"
Draven membalas pelukan itu dengan penuh kehangatan, mencium kening putranya dengan penuh kasih sayang. Di dalam hatinya, ia berjanji dalam hati .
bahwa janji itu pasti ditepati, dan tak akan ada lagi yang menghalangi putranya untuk terbang setinggi kemampuannya kelak..
Draven tersenyum penuh kasih sayang melihat wajah putranya yang bersinar penuh harap. Dengan lembut, ia mengangkat kedua tangannya yang besar dan hangat ke udara. Cahaya kemerahan yang menyilaukan namun terasa hangat seketika memancar dari telapak tangannya, menyelimuti seluruh tubuh kecil Leon dengan lembut.
"Karena itu keinginan hatimu... maka Ayah kabulkan sekarang juga," ucap Draven pelan namun tegas.
Perlahan-lahan, tubuh mungil Leon yang masih terbaring lemas itu mulai terangkat naik perlahan-lahan ke udara. Kakinya yang kecil melayang di atas permukaan kasur, seakan ditopang oleh awan yang paling empuk dan lembut. Leon terbelalak takjub, matanya membulat lebar menatap ke bawah, lalu ke arah ayahnya yang berdiri tersenyum bangga di hadapannya. Cahaya itu melingkar indah di sekelilingnya, membuatnya terasa ringan seakan tak berbobot sedikit pun.
"Ayah... aku terbang! Aku benar-benar terbang!" seru Leon riang, tawanya yang jernih dan renyah memenuhi seluruh ruangan yang luas itu.
Ia mencoba menggerakkan tangannya dan kakinya di udara, berputar pelan ke kiri lalu ke kanan, melayang naik sedikit lalu turun perlahan, seakan sedang belajar merasakan kebebasan yang mengalir di dalam darahnya. Wajahnya berseri-seri penuh kebahagiaan, tak ada lagi rasa sakit atau kelelahan yang tampak di sana—hanya kegembiraan murni yang memancar dari segenap wajah kecilnya.
Draven terus menjaga putranya dengan sihir pelindung itu, membiarkan Leon melayang sesuka hatinya di udara ruangan yang luas itu. Cahaya keemasan perlahan menyelimuti tubuh Leon, membuatnya terlihat bagaikan bintang kecil yang berkilauan di tengah ruangan.