Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.
Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.
Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 : Kedamaian yang di awasi.
"Damian!"
Celine terkejut, napasnya tercekat di kerongkongan. Jantungnya berdegup kencang di balik dada Damian, namun anehnya, di tengah ketakutan itu, ia merasa terlindungi. Seolah tubuh pria itu adalah benteng yang tak bisa ditembus siapa pun.
"Shh..." bisik Damian tepat di telinganya, suaranya tenang, terlalu tenang meski situasinya mendesak. "Jangan bergerak. Jangan takut. Tetap di sini."
Matanya tak lagi ke langit. Tatapannya tajam menembus gelap, menyapu atap gedung seberang dengan presisi yang mematikan. Bukan tembakan — belum. Hanya pengawasan. Mengintai. Menguji. Dan itu membuat darahnya mendidih lebih dari sekedar ancaman peluru.
Detik demi detik berlalu terasa seperti jam. Angin malam berdesir pelan, namun tak ada yang berani bergerak sedikit pun. Damian tetap memeluknya erat, tubuhnya tegak tak bergeming, menjadi tameng hidup yang tak akan membiarkan siapa pun menyentuh wanita di bawah perlindungannya.
Satu menit. Dua menit.
"Target pergi." Suara Luca kembali terdengar pelan dari earpiece. "Turun lewat tangga darurat. Tidak ada senjata api yang terlihat."
Barulah Damian melepaskan pelukannya. Perlahan, seolah sedang meletakkan benda paling rapuh di dunia. Tangannya tetap berada di bahu Celine sejenak, memastikan wanita itu berdiri tegak, mencari tanda-tanda ketakutan yang berlebihan.
Ia menatap wajah Celine, memeriksa setiap inci wajahnya. Yang ia temukan adalah keterkejutan, namun bukan kepanikan yang hancur. Celine menatapnya balik, napasnya masih memburu, tapi matanya tetap teguh.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya pelan, suaranya sedikit serak, seolah menahan amarah yang baru saja ditahannya.
Celine mengangguk pelan, lalu tiba-tiba tertawa kecil — tawa yang gemetar, bercampur rasa lega dan ketakutan yang baru saja ia rasakan.
"Aku cuma mau lihat bintang..." bisiknya getir namun lembut. "...tapi malah hampir melihat peluru."
Damian tidak tertawa. Ia kembali mendongak menatap langit, tatapannya kembali tegas, namun kini ada sesuatu yang lain di sana, kecemasan yang tak biasa ia tunjukkan.
"Bintangnya masih di sana." ucapnya datar. "Tapi lain kali... melihatnya dari dalam mobil saja. Di tempat yang lebih aman."
Celine menatapnya bingung. "Kau khawatir?"
Damian terdiam sejenak, seolah kata itu terlalu asing untuk diucapkannya. Namun ia tak menyangkal.
"Aku tidak suka ada yang mengawasimu." jawabnya pelan namun tegas. "Apalagi dengan maksud yang tidak baik."
Ia mengangkat tangan kanannya, menekan tombol kecil tersembunyi di dalam manset jasnya — interkom pribadinya yang terhubung langsung ke pusat komando.
"Perkuat pengawalan Nyonya." ucapnya rendah, tak terbantahkan. "Dua puluh empat jam. Jarak minimal dua puluh meter. Siapa pun yang mendekat tanpa izin, hentikan."
Lalu ia berbalik sepenuhnya menghadap Celine, mengulurkan tangannya, menawarkan genggaman.
"Pulang."
Celine menatap tangan itu selama dua detik. Dingin. Keras. Kuat. Namun kali ini... tidak lagi menakutkan. Justru terasa seperti satu-satunya tempat yang benar-benar aman.
Perlahan ia mengulurkan tangannya, menggenggam tangan itu. Jari-jemarinya saling bertaut erat, seolah tak ingin terpisah lagi.
Mereka berjalan kembali menuju pintu keluar atap dengan langkah yang selaras. Di sampingnya, Celine sesekali melirik ke arah wajah Damian yang tampak tegas di bawah cahaya remang lampu darurat. Garis rahangnya yang keras, sorot matanya yang masih menyisakan ketajaman yang tak bisa dipadamkan, dan cara ia berjalan — tegak, siap menghadapi siapa pun yang berani mendekat. Semuanya begitu mengesankan, namun di saat yang sama... menakutkan.
Hatinya tiba-tiba mencelos.
Apakah ini dunia tempatnya berada setiap hari? batinnya bergemetar. Dunia di mana melihat bintang saja bisa berarti diawasi, di mana setiap sudut gelap bisa menyembunyikan bahaya, di mana peluru bisa datang kapan saja tanpa peringatan?
Ia menatap wajah pria itu lebih lama. Di balik kekuatan yang seakan tak tertembus ini, tersembunyi bahaya yang selalu mengintai, bahaya yang kini juga mulai mengancam dirinya. Dan yang paling membuat dadanya sesak, Damian telah hidup di tengah bahaya seperti ini sendirian, selama bertahun-tahun. Tanpa perlindungan. Tanpa tempat untuk bersandar.
"Apakah aku siap?" tanyanya dalam hati, rasa takut bercampur dengan rasa iba yang mendalam. "Apakah aku siap menerima tidak hanya dirinya, tapi juga seluruh dunia gelap yang selalu mengelilinginya?"
Tangannya yang menggenggam tangan Damian perlahan meremas sedikit lebih erat. Bukan karena takut akan bahayanya, tapi karena takut kehilangan satu-satunya cahaya yang kini ia temukan di tengah kegelapan itu.
Damian merasakan genggaman itu mengencang. Ia menoleh sekilas, menangkap keraguan yang samar di mata wanita di sampingnya.
"Berpikir apa?" tanyanya pelan, rendah, hanya untuk telinga mereka berdua.
Celine menggeleng pelan, namun tatapannya tetap tak lepas dari wajah pria itu.
"Hanya... baru sadar... betapa berbahayanya duniamu, Damian." suaranya bergetar halus. "Dan sekarang... aku juga ada di dalamnya."
Damian berhenti sejenak di depan pintu keluar. Ia menatapnya lekat-lekat, lalu perlahan mengangkat tangan kanannya yang masih bebas dan menyentuh pipi Celine dengan lembut, seolah menenangkan segala ketakutan yang baru saja menyelinap di hati wanita itu.
"Kau tidak sendirian di dalamnya." ucapnya tegas, penuh janji yang tak bisa diingkari. "Selama aku berdiri... tidak ada satu pun yang berani menyentuhmu. Dan kalau pun ada... mereka harus melangkahi mayatku dulu."
Celine menahan napas. Kata-kata itu sederhana, namun terdengar begitu berat, begitu tulus, hingga matanya perlahan berkaca-kaca.
"Damian..."
"Masuk." Ia membukakan pintu mobil, membiarkan wanita itu melangkah lebih dulu, lalu berjalan mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi.
-
-
-
Lampu kristal raksasa menggantung rendah di atas meja marmer sepanjang enam meter, memancarkan cahaya putih yang terang namun dingin, menyapu setiap sudut ruangan tanpa menyisakan bayangan, memantul di permukaan lantai granit yang mengilap hingga tampak seperti cermin hitam pekat.
Ruangan itu sunyi senyap. Tak ada suara langkah kaki, tak ada napas yang terdengar. Hanya bunyi detak jam dinding kuno di dinding seberang.
tik... tok... tik... tok...
Berdentang begitu keras hingga terasa berirama di tulang belakang.
Di ujung meja yang paling jauh, duduk seorang pria. Jas abu-abu tua yang dijahit sempurna menempel pas di tubuhnya, tak ada satu kerutan pun. Uban di pelipisnya tampak berkilau samar di bawah cahaya lampu. Di jari kelingking kanannya, cincin emas besar bermata batu hitam berkilau dingin.
Don Vincenzo Moretti.
Di hadapannya, seorang pria berlutut dengan kepala tertunduk dalam. Kemeja putihnya basah kuyup di bagian punggung dan leher, bukan karena hujan, melainkan keringat dingin yang terus membasahi tubuhnya karena ketakutan yang mencekik. Bahunya gemetar halus, berusaha tak menimbulkan suara.
"Sampaikan." Suara Moretti terdengar pelan, hampir berbisik. Namun di ruangan itu, setiap kata terdengar berat dan mematikan.
Pria berlutut itu menelan ludah, napasnya tercekat.
"Gagal, Don." Suaranya bergetar pelan. "Bukan orang kita yang menembak... atau mengawasi di atap itu. Itu pasukan Romano, Don. Kami baru sampai di lokasi, Damian sudah menyadari keberadaan mereka dan segera membawa perempuannya turun. Tidak ada kesempatan."
Vincenzo menyeka bercak darah di punggung tangannya dengan sapu tangan putih bersih. Kain itu menyerap merah pekat, namun noda itu justru makin melebar, menyebar seperti bunga yang mekar.
Ia melempar sapu tangan itu ke lantai dengan santai. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis — senyum yang tak sampai ke matanya yang gelap dan tak berdasar.
"Bagus." Kata itu jatuh pelan, namun penuh makna licik. "Biarkan Romano dan Damian saling bertarung. Biarkan mereka saling melukai, saling membunuh dulu. Kita hanya perlu duduk dan menonton. Lalu... tinggal ambil sisanya."
Matanya menyipit pelan, dingin dan penuh perhitungan.
"Bersihkan sisa kekacauan itu." Perintahnya rendah, tanpa ampun. "Dan awasi mereka berdua dengan ketat. Siapa yang jatuh duluan... dialah yang kita kubur. Dan yang tersisa... dialah yang akan kita hadapi selanjutnya."
-
-
-
Bersambung...