"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari cara menolong Karman
"Kenapa bapa tahu banyak tentang urusan para jin itu, bapak kan tidak pernah menemui Mbah Sudarso kalau tidak dengan NYI Dahlia" batin Karna
"Lalu apa Dahlia masih mengincar posisi itu pak?" Tanya Liam
"Tentu saja, Dahlia itu ular licik, dia bahkan menemui Suman untuk membantunya meneror warga di sini" jawab Karman
"Siapa Suman?" Tanya Liam bahkan Karna dan Hamka juga seperti tidak mengetahui sosok itu.
"Dia itu angin yang sering ke sini, angin itu adalah sosok Suman kakaknya angin Rana, dia siluman air sungai yang akan keluar saat ada seorang lelaki yang akan menikah di kampung ini" jawab Karman
"Tapi kenapa sekarang ikut meneror warga di sini pak?" Tanya Liam
"Itu pasti karena hasutan Dahlia" jawab Karman
"Pak..."
Liam memanggil Karman karena mata Karman sempat berkedip dan hampir kembali ke semula, tapi kembali berubah kosong setelah matanya terpejam sebentar.
"Tolong..." Mulut Karman berucap tolong tapi hanya berbisik karena tenggorokannya seperti sedang di cekik sesuatu.
Panca sudah ikut bergabung dengan Liam dan Hamka, dia juga melihat perubahan dari Karman sudah sangat banyak, sekarang Karman bahkan meminta daging mentah pada Warti dan Karna.
"Pocong itu sudah mulai mengambil sosok bapak, harus segera ditolong sebelum tengah malam" bisik Buto ijo yang ada di tubuh Karna
"Apa kamu tahu caranya?" tanya Karna
"Ada satu hal yang tidak di sukai pocong itu, tali pocongnya yang di lepas, tapi pocong yang masuk ke dalam tabuh bapak sudah tidak di ikat tali pocong, sengaja di ambil seseorang atau mahluk lain" jawab Buto ijo
"Dahlia" ucap semuanya
"Cari tali pocong itu dan ikatkan pada rambut putih yang menempel di rambut bapak, maka dia akan selamat, tapi itu harus di lakukan sebelum tengah malam, kalau gagal, raga bapak akan di kuasai oleh pocong itu, dengan kata lain, bapak sudah meninggal" jawab Buto ijo itu
"Dimana Kita akan mencarinya?" tanya Karna
"Bukit Mahoni, bukankah Dahlia ada di sana" jawab Hamka
"Dahlia pasti akan menyembunyikan itu di tempat lain" ucap Panca yakin
"Kenapa Dahlia melakukan ini pada bapak, padahal bapak adalah abdi setianya" kesal Karna
"Itu karena Kenanga tidak bisa di jadikan wadah lagi, itu sebabnya Dahlia melakukan itu" jawab Liam
"Tapi apa pengabdian bapak tidak berarti untuk jin sialan itu? Kenapa Dahlia tega setelah bapak memberikan banyak tumbal padanya" geram Karna
"Itulah tipu daya iblis kak, dia akan memberikan apa yang kita mau tapi dia tidak akan punya kasih sayang pada kita kak, yang dia inginkan dari kita hanya satu, menemani dia di neraka" jawab Liam
"Meski kalian memberikannya tumbal seluruh manusia di bumi ini sekalipun, yang namanya iblis tidak akan pernah tunduk pada manusia yang mereka anggap lemah" ungkap Hamka
"Andai ada petunjuk di mana tali pocong itu" gumam Panca
"Bang, gue lihat ada energi panas di bawah tanah kampung sukun, dekat aliran sungai yang mengalir ke kampung mahoni" suara batin Lintang yang terhubung ke Liam
"Kita cari energi panas di kampung sukun, dekat aliran sungai yang mengalir ke kampung mahoni" ucap Liam
"Ayo ke sana, tapi siapa yang jaga bapak?" tanya Karna
"Biar kami yang jaga, kalian pergilah mencari tali itu, kak Panca takut mungkin Mbah Karman akan mencelakai warga kampung sini" jawab Panca
"Baiklah, kak Prama juga jaga di sini saja, mungkin nanti kak Panca butuh bantuan" ucap Liam dan Prama mengangguk.
Ketiga orang itu berlari sesegera mungkin karena tempat yang mereka tuju lumayan jauh, Liam ke rumah terlebih dahulu untuk mengambil motor Sagara yang sudah di keluarkan oleh Lintang di depan rumah. Lalu mereka akan berangkat menggunakan motor itu sampai ke hutan kampung sukun.
Sudah setengah jam mereka mengendarai motor itu bertiga, mereka juga tidak sadar kalau mereka sedang di ikuti sosok lain hingga ....
Dhuar.
"Aakhh!" ketiga orang itu memekik saat terdengar ledakan di motor yang di bawa oleh Liam, padahal mereka baru sampai setengah jalan ke kampung yang di tuju.
Pyar.
Api tiba tiba saja muncul dan membakar motor itu tepat di depan Hamka. Liam langsung menarik Hamka agar menjauh, dan menggunakan energi miliknya untuk mendinginkan motor itu agar apinya padam.
"Ada yang mengikuti kita dan tidak mau kita sampai di sana, ayo berlari" ucap Liam
"Kalian pergilah, aku yang akan menahan sosok itu di sini" ucap Buto ijo tiba tiba keluar dari tubuh Karna
Sosok hijau itu bahkan tingginya mencapai lima belas meter, dengan rambut panjang dan juga mata yang besar, kukunya tajam dan ada taring di dua sisi bibirnya.
"Ayo, dia akan berjaga di sini" ucap Karna segera menarik tangan Liam dan Hamka.
"Kalana, kamu sudah tunduk pada Karna rupanya" ejek Dahlia yang mengikuti ketiga orang itu
"Iya, aku adalah jin pelindung Karna mulai sekarang" jawabnya bersedekap dada karena Dahlia Juga berubah wujud menjadi ular besar dengan panjang hampir dua puluh meter.
"Jangan halangi jalanku Kalana!" bentak Dahlia
"Aku akan menghalangi kamu, karena kamu membahayakan Karna" jawab Kalana
"Dasar jin sampah! Posisimu bahkan lebih rendah dari Karman!" bentak Dahlia maju untuk menyerang Kalana
######
di tempat Hamka
"Itu tempatnya, ayo kita harus cepat, hari sudah mulai gelap" tunjuk Liam pada tempat tali pocong itu di kubur Dahlia
"Kita mulai dari mana?" tanya Hamka
"Mulai dari semua titik panas di kanan lalu ke kiri" jawab Liam
"Tapi kakak tidak bisa melihat di mana titik panas itu" ucap Karna
"Tunggu"
Hamka mulai mengeluarkan energinya, dia masukkan energi miliknya yang terasa dingin ke dalam tanah, dan tiba tiba muncullah asap putih di banyak tempat.
"Gali setiap tempat yang ada asapnya, salah satunya adalah tempat tali pocong itu" ucap Hamka dan mereka segera menggali di setiap titik yang ada asapnya.
Setengah jam mencari, waktu Maghrib tiba dan Liam juga Hamka memilih untuk shalat terlebih dahulu, mengganti pakaian mereka dengan pakaian bersih yang di siapkan lintang di dalam tas, setelahnya mereka kembali melanjutkan mencari tali pocong itu.
"Senternya hampir mati, gunakan handphone Lo dulu Liam" ucap Hamka dan Liam langsung mengeluarkan handphone miliknya untuk menyalakan lampu di handphone itu.
Satu jam kemudian
"Tidak ada, setiap titik sudah di cari dan tidak ada" ucap Karna mulai lemas
"Pasti ada yang terlewat" ucap Liam melihat ke sekeliling tempat itu menggunakan lampu handphone miliknya.
"Itu.. Di balik batu itu juga ada asap meski sedikit" ucap Liam mengarahkan Lampu handphone nya ke arah sebuah batu yang menutupi satu titik asap di bawahnya.