Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.
Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.
Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 : Gengsi Setinggi Langit, Perut Selembek Bubur
Petaka yang sebenarnya, baru terjadi saat malam hari di rumah Khafi.
Brak!
Khafi keluar dari kamar mandi lantai bawah dengan langkah gontai dan wajah pucat pasi, satu tangannya menekan perut yang terasa seperti diremas-remas. Ini sudah kali kelima dia bolak-balik kamar mandi sejak jam delapan malam.
Mama Siska yang sedang merapikan meja makan langsung menghentikan kegiatannya, menatap anak bujangnya dengan dahi berkerut cemas.
"Khafi! kamu itu kenapa sih dari tadi keluar masuk kamar mandi terus? makan juga tadi nggak di abisin, malah dibuang-buang nih jadinya." omel Mama Siska sambil menghampiri dan menempelkan punggung tangannya ke dahi Khafi. "Kamu makan apa sih tadi sore? Jangan bilang jajan sembarangan lagi!"
"Nggak makan apa-apa Ma... cuma jajan biasa..." ringis Khafi lemas, menyandarkan badannya di sofa ruang tengah.
Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Ferdi masuk tanpa permisi dengan santainya memegang kantong plastik berisi gorengan.
"Assalamu'alaikum! Si Khafi masih bernapas kan?!" seru Ferdi tanpa dosa.
"Wa'alaikumussalam. Nah, Edi! Sini kamu!" panggil Mama Siska tegas. "Coba kasih tau Mama, temen kamu ini sebenarnya makan apa sih tadi sore? Kok bisa bolak-balik kamar mandi mulu dari tadi?"
Ferdi yang polos tanpa beban langsung tertawa geli. "Oalah, itu Mam, si Khafi mah tadi sore sok gagah-gagahan makan seblak level lima. Padahal mah nggak kuat pedas, demi gengsi di depan si Kia tuh, Mam!"
Seketika mata Mama Siska membelalak. Rasa cemasnya mendadak berpadu dengan omelan khas ibu-ibu kompleks.
"KHAFI MAHENDRA!" tegur Mama Siska sambil menepuk pelan paha anaknya. "Kamu itu ya, udah tau nggak kuat pedas, pakai acara makan seblak level lima segala. Demi gengsi sama cewek?! Ya Allah, Khafi... kamu tuh udah SMA, tapi kelakuannya masih kayak anak SD jajan es lilin!"
"Aduh Ma... perut Khafi udah mules banget, jangan diomelin terus napasnya makin sesak nih..." keluh Khafi merintih, makin malu karena Ferdi terus-terusan tertawa menutupi mulut di pojokan.
"Makanya kalau dibilangin orang tua tuh nurut. Ya sudah, minum obat diare dulu, terus tidur. Besok nggak usah sekolah atau main dulu. Mama tahan kamu di rumah sampai perut kamu beneran beres!" tegas Mama Siska sembari berkacak pinggang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suasana kelas XI IPS 2 agak terasa aneh pagi ini. Biasanya serangkai geng anak pojok itu selalu datang serombongan sambil bikin gaduh. Tapi kali ini, cuma ada Ferdi, Kevin, dan Pandu yang masuk. Kursi di sebelah bangku Ferdi kosong melompong tidak berpenghuni.
Kiara yang heran langsung menghampiri meja Ferdi saat jam istirahat.
"Edii, si Khafi kemana? Kok jam segini belum kelihatan? Mabal lagi dia?" tanya Kiara berkacak pinggang.
Ferdi, Kevin, dan Pandu saling pandang, lalu ledakan tawa mereka pecah seketika di dalam kelas.
"KIA, SI KHAFI DITAHAN MAMANYA DI RUMAH!" teriak Ferdi heboh sampai anak-anak kelas lain menoleh.
"Hah? Ditahan gimana maksudnya?" Neona ikut mendekat, penasaran.
"Dia diare berat gara-gara seblak level lima kemarin!" celetuk Kevin sambil tertawa sampai keluar air mata. "Tadi malam bolak-balik toilet sepuluh kali. Mamanya ngamuk terus ngunciin dia di rumah, nggak boleh sekolah."
"Sumpah?!" Neona ngakak menepuk bahu Kiara. "Gara-gara gengsi sama lo tuh, Kia!"
Wajah Kiara mendadak panas. Antara geli, mau tertawa, tapi juga ada rasa khawatir yang menyelusup di hatinya.
Nekat banget sih itu cowok, batin Kiara.
Kembali ke mejanya, Kiara menopang dagu menatap kursi kosong Khafi. Setelah menimbang-nimbang sebentar, jari-jarinya mulai mengetik pesan di WhatsApp.
...WhatsApp...
^^^~KiaraZefanya^^^
^^^Gimana rasanya jadi korban level 5?^^^
^^^Wkwkwk 😜^^^
^^^Kata Edii lo ditahan Tante Siska gara2 diare? Makanya, kalo gak kuat pedas tuh gak usah sok2an level 5!^^^
^^^Gimana keadaan lo skrg?^^^
^^^Udah mendingan blm?^^^
Khafi(r)
Diem lo triplek.
Gak usah ngetawain gue.
Gue gpp, cuma lemes dikit.
Besok jg gue masuk, gausah kangen.
^^^~KiaraZefanya^^^
^^^Sok kuat bngt dah^^^
^^^dih, geliii bangett, gaakan pernah.^^^
^^^Yaudah istirahat sana,^^^
^^^jgn lupa minum obat!^^^
Masih merasa kurang tenang dan agak bersalah, Kiara memberanikan diri membuka kontak Mama Khafi.
^^^~KiaraZefanya^^^
^^^Tantee^^^
^^^Gmn kabar Khafi? Kata Edi dia sakit perut ya Tan? Maaf ya Tante, kmrn Ara gak tahu kalo Ibran nekat pesen seblak level 5 😞🙏🏻^^^
Tante Siska
Eh gak apa2 kok nak,
bukan salah Ara sama sekali 😊
Si Khafi aja tuh yg sok gagah2an di depan Ara padahal mah gak kuat pedes wkwkwk🤦🏻♀️
Ini anaknya lg tiduran di kamar sambil megangin minyak kayu putih. Tadi udah Tante kasih obat diare juga kok. Nanti Tante sampaikan yaa biar dia makin kapok!
Makasih yaa Ara udah nanyain kabar Khafi ❤️
^^^~ KiaraZefanya^^^
^^^Syukur kalo udah mendingan Tante... Sama-sama Tante,^^^
^^^cepat sembuh buat Khafi yaa Tante! 🙏🏻😊^^^
Kiara senyum-senyum sendiri membaca balasan dari Mama Khafi yang hangat dan ramah. Rasa khawatir di dadanya perlahan sirna, berganti dengan perasaan manis yang bikin senyumnya awet seharian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Di depan kelas, Ferdi langsung menyenggol lengan Kiara. "Kia, jadi kan ikut jenguk si Khafi? Kita bertiga mau ke rumahnya nih. Tenang, lo nggak bakal kita tumbalkan kok."
"Ikut deh. Gue mau lihat sekotor apa muka sok kuatnya itu," sahut Kiara sambil merapikan tali tasnya. "Tapi mampir ke toko buah depan dulu ya, gue mau beliin pisang sama apel."
"Wuih, perhatian amat. Ntar si Khafi malah tambah demam dioles perhatian dari lo, Kia," ledek Kevin yang langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Kiara.
Sesampainya di rumah Khafi, gerbang belum sempat mereka dorong penuh tapi suara Tante Siska sudah terdengar dari halaman samping.
"Eh, anak-anak jam segini udah dateng! Masya Allah, ada Ara juga!" Tante Siska mematikan kran air penyiram tanaman, lalu menghampiri dengan wajah cerah. "Sini masuk, Nak. Duh, berasa ada angin segar rumah Tante kedatangan cewek manis. Nggak kayak bertiga ini, datang cuma numpang ngabisin stok makanan di kulkas."
"Diskriminasi banget," protes Pandu sambil terkekeh. "Kita kan juga meramaikan suasana, Mam,"
"Ramai sih ramai, Ndu, tapi bikin pusing!" bales Tante Siska bercanda. "Itu si Khafi ada di atas. Naik aja langsung, pintunya nggak dikunci kok, cuma anaknya aja yang mager turun."
Mereka bertiga langsung naik ke lantai dua, sedangkan Kiara melipir ke dapur mengikuti Tante Siska. Ferdi mendorong pintu kamar Khafi tanpa mengetuk dulu.
Klek.
"Permisi, paket seblak level sepuluh dateng!" seru Ferdi nyelonong masuk.
Di atas tempat tidur, Khafi sedang telentang memakai kaus oblong hitam polos dan celana pendek. Kedua tangannya mengenggam botol minyak kayu putih di atas perutnya. Matanya yang agak sayu langsung mendelik waktu melihat tiga temannya masuk.
"Gue bilang jangan ke sini dulu kan, Di? Gue lagi lemes, males ngelayanin ocehan lo bertiga," omel Khafi dengan suara agak serak.
"Yeu, siapa juga yang mau dilayanin sama lo? Kita ke sini mau nonton atraksi orang sakit perut!" Kevin langsung mengambil stik PS di meja belajar, sementara Pandu langsung duduk lesehan di karpet. "Mana coba liat muka lo, Khaf? Katanya tirus gara-gara sepuluh kali bolak-balik toilet?"
"Bacot lo, Ndu," dengus Khafi sambil membalikkan badan menyamping ke arah pintu.
Tapi detik berikutnya, gerak tubuh Khafi mendadak kaku. Dari balik punggung Ferdi, Kiara muncul sambil membawa piring berisikan potongan apel dan pisang dari dapur.
Tangan Khafi refleks melempar botol minyak kayu putih ke bawah bantal, lalu dengan gerakan secepat kilat dia duduk tegak, menyisir rambut acak-acakannya pakai jari, berusaha menegakkan posisi badannya biar nggak kelihatan kayak orang kuyu.
"Lo... lo ngapain ikut ke sini, Ra?" tanya Khafi pelan, suaranya mendadak diberat-beratkan biar kedengaran biasa aja.
Ferdi yang merhatiin gestur cepat Khafi langsung ngakak menepuk paha. "ANJIR LANSUNG DUDUK TEGAK! Minyak kayu putihnya dibuang ke bawah bantal dong! Gaya banget lo, Khaf!"
"Sok gantengnya kumat," celetuk Pandu sambil menekan tombol power PS. "Tadi pas kita belum masuk telentang kayak ikan asin dijemur."
"Diem lo pada!" desis Khafi menahan malu. Mukanya yang pucat mendadak agak kemerahan.
Kiara yang memperhatikan tingkah Khafi cuma bisa menggelengkan kepala. Ia meletakkan piring tersebut di atas meja belajar. "Kata Tante Siska lo belum makan dari siang, makanya gue bawain buah apel sama pisang biar ada yang masuk sama lebih ngelancarin diarenya."
"Gue... udah mendingan kok. Cuma butuh istirahat dikit doang," sahut Khafi sok kuat, padahal perutnya masih agak mengerut.
Nggak lama dari itu, Pintu terbuka menampilkan Tante Siska yang masuk membawa nampan berisi gelas-gelas es jeruk dan semangkuk bubur panas.
"Nih, diminum esnya. Buat Khafi, nih makan buburnya habisin," kata Tante Siska meletakkan mangkuk di atas meja kecil dekat kasur. "Ara, jangan percaya kalau dia bilang udah mendingan ya. Tadi pagi aja pas mau bangun dari kasur sambil merintih 'Aduh Ma, perut Khafi kayak diputer-puter', gitu."
"MAAA! Kenapa dibilang-bilang sih?!" potong Khafi panik setengah mati. Rasanya mau tenggelam di kasur saat itu juga.
Satu kamar langsung pecah oleh tawa. Kevin sampai tersedak es yang baru diseruputnya, sementara Ferdi tertawa tanpa suara sampai mukanya merah.
"Udah, habisin buburnya. Mama mau lanjut masak buat makan malam di bawah. Kalian kalau mau main PS pelan-pelan ya suaranya," pesan Tante Siska lalu melangkah keluar kamar.
Begitu pintu kamar agak terbuka separuh, ketiga cowok itu sibuk depan TV main game bola. Suasana kamar jadi riuh oleh teriakan Ferdi dan Kevin yang saling ejek gara-gara kalah main.
Kiara sendiri duduk di kursi belajar dekat meja tempat tidur Khafi. Ia menatap mangkuk bubur yang masih utuh.
"Makan tuh buburnya. Kenapa di diemin?" tanya Kiara pelan.
Khafi melirik mangkuk itu dengan raut malas. "Hambar, Ra. Nggak ada rasanya."
"Ya namanya juga orang sakit perut, Khaf. Mana boleh makan yang aneh-aneh dulu," balas Kiara, Ia mengambil sendok, lalu menyodorkannya sedikit lebih dekat ke arah Khafi. "Nih, makan dua tiga suap dulu biar ada isinya perut lo."
Khafi menatap sendok itu, lalu menatap Kiara. "Lo nggak ngetawain gue kan?"
"Dikit," Kiara mengaku sambil tersenyum kecil. "Tapi seriusan, habisin. Biar besok lo bisa sekolah. Kelas sepi kalau nggak ada lo yang gangguin gue."
Khafi akhirnya menerima sendok itu dan mulai menyuap buburnya pelan-pelan. "Gara-gara sambel Teh Desi emang. Jahat banget itu seblak."
"Lo-nya yang sok kuat, udah tau nggak tahan pedas," cibir Kiara. "Lain kali kalau gue bilang jangan, nurut. Nggak usah pakai gengsi segala."
Khafi cuma mengunyah pelan sambil bergumam pelan, tapi di balik wajah sok cueknya, ada ukiran senyum tipis yang berusaha ditahannya.
Satu jam kemudian, mereka semua sudah pindah ke ruang tengah di lantai bawah. Suasana rumah Khafi benar-benar riuh dan hangat. Karpet bulu tebal di depan TV jadi lapak berkumpul mereka sebelum makan malam disajikan.
"Eh, Di, motor si Ona tadi jadinya gimana di bengkel?" tanya Kevin sambil menyelonjorkan kakinya.
"Udah beres, Vin. Cuma karburatornya aja kotor kemasukan air pas dia cuci motor kemarin," jawab Ferdi sambil mengunyah keripik kaca dari meja. "Si Ona tadi balik boncengan sama Sisil."
"Lagian si Neona nekat banget, motor kagak pernah di-servis tapi dipake mondar-mandir," celoteh Pandu dari sofa. "Eh, Kia, lo besok nggak ada ulangan Sejarah kan?"
Kiara menggeleng. "Nggak ada, kan minggu lalu udah. Kenapa?"
"Yess, aman. Berarti besok kita bisa nongkrong di kantin agak lamaan pas jam istirahat," sahut Pandu santai.
Khafi yang duduk di sofa dekat Kiara—sudah memakai jaket tipis biar nggak makin masuk angin—melirik Pandu. "Lanjutin aja terus malas-malasannya, Ndu. Ntar pas pembagian raport muka lo yang pucat, bukan perut lo lagi."
"Dih, si Khafi udah mulai pamer taring padahal baru makan bubur setengah mangkuk!" ledek Ferdi. "Lagian ya, Kia, si Khafi tuh pas lo ngelap pipinya pakai tisu di bawah pohon waktu mogok itu, pas lo balik badan dia langsung senyum-senyum sendiri kayak orang ketempelan!"
Kiara yang lagi minum air putih langsung tersedak pelan. "Hah? Apaan sih!"
"Beneran, Kia! Tanya si Kevin nih kalau kagak percaya!" seru Ferdi nyari dukungan.
"Iya! Muka dia langsung merah bukan gara-gara oli, tapi gara-gara salting!" timpal Kevin ngakak.
"Bongkar terus, Di, Vin. Besok motor lo berdua gue kempesin ban-nya di sekolah," ancam Khafi santai tapi tatapannya tajam dan daun telinganya memerah, membuat suasana ruang tengah makin pecah oleh tawa.
Nggak lama, Tante Siska datang dari arah dapur sambil membawa mangkuk-mangkuk lauk. "Ayo-ayo, makan malam dulu! Udah siap nih meja makan!"
Meja makan kayu di rumah Khafi seketika dipenuhi aneka masakan rumah: ayam goreng serundeng, tumis kangkung, tempe mendoan hangat, dan sayur bening. Khusus di depan tempat duduk Khafi, Tante Siska meletakkan mangkuk bubur ayam dengan suwiran halus dan sedikit kuah bening.
"Ma, masa Khafi makan bubur lagi sih? Itu ayam gorengnya wangi banget," protes Khafi cemberut waktu melihat teman-temannya sudah siap mengambil paha ayam.
"Nggak ada ayam goreng buat kamu hari ini! Makan buburnya sampai habis, baru boleh minta buah!" tegas Tante Siska berkacak pinggang.
"Mampus lo, Khaf. Nikmatin ya buburnya," bisik Pandu tengil sambil menyendokkan nasi hangat ke piringnya.
"Kia, nih paha ayamnya ambil aja dua. Biar si Khafi ngeliatin doang," goda Ferdi sambil mengoper piring lauk ke depan Kiara.
Kiara tertawa geli. "Dimakan ya, Tante,"
Makan malam berlangsung meriah. Tante Siska nggak berhenti menyimpan lauk ke piring Kiara, merasa senang karena ada anak cewek yang meramaikan rumahnya. Obrolan mengalir tanpa henti dari cerita kelakuan guru IPS di sekolah, rencana nongkrong akhir pekan, sampai ledekan-ledekan kecil yang ditujukan buat Khafi.
Nggak terasa jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Setelah semuanya membantu merapikan meja makan dan berpamitan, Tante Siska menyerahkan satu kotak bekal berisi kue basah ke tangan Kiara.
"Nih, Ara, buat di rumah ya ngemil yang manis. Nanti sering-sering mampir ke sini, biar Tante ada temen ngobrolnya," ucap Tante Siska hangat sambil merangkul lengan Kiara.
"Iya Tante, makasih banyak ya, masakan Tante enak banget," jawab Kiara tulus dan balas merangkul lengan Tante Siska.
"Nah, ini udah malam. Pandu, kamu yang anterin Ara pulang ya? Rumah kamu kan searah tapi belok dikit, sekalian muter balik kan?" perintahkan Tante Siska.
"Siap, Ma! Aman, anak orang Pandu antar sampai depan pagar tanpa lecet sedikit pun!" sahut Pandu mantap sambil memasang jaketnya.
Khafi menyandarkan badannya di kusen pintu depan, menatap Kiara dan Pandu bergantian. "Ndu, bawa motornya pelan-pelan. Jangan sok-sokan standing kayak biasanya."
"Bawel amat lo, Khaf. Kayak mau melepas anak gadis merantau aja," ledek Pandu terkekeh sambil menyalakan mesin motornya.
Kiara naik ke boncengan motor Pandu, lalu menoleh ke arah Khafi yang masih berdiri di ambang pintu. "Gue balik ya, Khaf. Jangan lupa diminum obatnya biar besok nggak absen lagi!"
Khafi menyunggingkan senyum tipisnya, ia menghampiri motor Pandu seraya melambaikan tangan pelan. "Iya, Triplek. Hati-hati di jalan."
Motor Pandu perlahan melaju meninggalkan halaman rumah Khafi. Di sepanjang jalan membelah angin malam, Kiara tersenyum sendiri di balik helmnya yang dipinjamkan Khafi. Kehangatan rumah Khafi, ledekan kocak yang menyenangkan dari geng pojok, dan perhatian-perhatian kecil yang tersembunyi malam itu benar-benar bikin dadanya terasa penuh oleh rasa manis.