Indonesia
NovelToon NovelToon
Cici, Aku Suamimu

Cici, Aku Suamimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / CEO / Cinta Terlarang / Nikah Kontrak
Popularitas:192
Nilai: 5
Nama Author: Aluna Senja

Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?

Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.

Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.

"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"

Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.

Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—

Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31 Teman Sekolah

"Sarapanmu cuma telur dua?"

Nathan memandang piring Keira seperti sedang membaca laporan yang meragukan.

"Ada roti dan buah juga."

"Kamu butuh lebih banyak protein setelah olahraga tadi malam."

Keira mengoleskan selai ke roti. "Kegiatan itu tidak masuk kategori olahraga."

"Detak jantung meningkat, otot bekerja, kalori terbakar. Secara ilmiah masuk."

"Kalau kamu lanjut, aku pergi ke Hotel Sentosa sendiri."

Nathan segera memasukkan telur ke mulutnya dan berhenti bicara.

Keira mengenakan blazer krem untuk acara industri. Di dalam tasnya ada konsep permainan yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun: gim otome dengan karakter pendamping yang berkembang melalui respons pemain, bukan sekadar pilihan dialog bercabang. Ia ingin menggabungkan ilustrasi dengan AI, tetapi menggunakan NARA akan membuat proyek pribadinya terlalu dekat dengan perusahaan Nathan.

Ia belum siap dituduh mendapat jalan pintas dari suami.

"Kalau butuh model percobaan, bilang," kata Nathan seolah membaca pikirannya.

"Aku belum memutuskan membuat apa pun."

"Aku tidak bertanya isinya."

"Wajahmu bertanya."

"Wajahku hanya tampan."

Sebelum mengantar Keira, Nathan menunjukkan berita resmi kerja sama NARA dan Antares Aerospace. Tidak ada foto dirinya dalam rilis itu, hanya logo kedua perusahaan dan kutipan juru bicara.

"Media masih belum punya fotomu?" tanya Keira.

"Ada foto lama, tapi tim sengaja tidak mendorong profil pribadiku. Produk dulu."

"Bagus."

Nathan berhenti di depan Hotel Sentosa. "Jam selesai?"

"Sekitar lima. Tidak perlu menunggu."

"Aku jemput kalau rapat selesai."

"Tawarkan dulu, jangan memutuskan."

"Baik. Nanti aku tawarkan lagi."

Lobi hotel ramai oleh peserta konferensi. Keira mengambil tanda pengenal Nebula Games, lalu masuk ke aula panel. Dimas sudah berada di depan. Di sampingnya berdiri seorang laki-laki berkemeja abu-abu dengan senyum yang terasa samar-samar akrab.

"Keira?" Laki-laki itu mendekat. "Kamu benar-benar nggak ingat aku?"

Keira mengamati wajahnya. "Maaf."

"Fandy. Kita satu SMA. Kelas sebelas."

Nama itu akhirnya menarik gambar lama dari ingatannya. Seorang siswa pindahan yang duduk dua baris di belakang, sering meminjam catatan matematika, lalu menghilang sebelum akhir semester.

"Oh. Fandy. Rambutmu dulu panjang."

"Akhirnya ingat juga."

Dimas menepuk bahu mereka. "Bagus, reuni nanti saja. Kita masuk dulu."

Panel berlangsung hampir dua jam. Fandy berbicara sebagai manajer pemasaran baru, sementara Keira menjelaskan bagaimana alat generatif sebaiknya membantu proses, bukan mengambil karya seniman tanpa izin. Ketika seorang peserta bertanya apakah ilustrator akan hilang, jawabannya tetap tenang.

"Teknologi bisa mempercepat bagian teknis. Tapi selera, arah emosi, dan tanggung jawab atas karya tetap membutuhkan manusia. Yang harus kita bangun adalah aturan izin dan kompensasi, bukan ketakutan kosong."

Moderator meminta contoh konkret. Keira menampilkan satu karakter yang sama dalam empat ekspresi. Perbedaannya tidak besar, hanya garis bahu, fokus mata, dan tekanan pada bibir. Namun ketika disusun berurutan, penonton dapat melihat perjalanan dari curiga menjadi percaya.

"Sistem bisa menghasilkan variasi," jelasnya. "Tapi seseorang tetap harus memahami kenapa karakter memilih diam, siapa yang membuatnya aman, dan apa yang berubah sebelum senyum ini muncul. Tanpa konteks, ekspresi hanya dekorasi."

Fandy menyambung dari sisi pemasaran. "Dan konteks itulah yang membuat pemain bertahan. Kami tidak menjual jumlah gambar. Kami menjual keterikatan."

Jawaban mereka cocok di panggung. Setelah turun, Fandy memuji konsepnya dan bertanya apakah Keira pernah mempertimbangkan proyek pribadi.

Keira menyentuh tas yang menyimpan sketsa otome. "Pernah. Belum matang."

"Kalau butuh tim pemasaran, aku bisa membantu."

"Kalau sudah waktunya, aku akan melalui jalur profesional."

"Masih hati-hati seperti dulu."

Kalimat itu memunculkan rasa tidak nyaman yang belum jelas sumbernya. Ia tidak suka seseorang menggunakan versi dirinya dari dua belas tahun lalu untuk menyimpulkan siapa dirinya sekarang.

Setelah acara, Fandy menunggunya di dekat meja kopi.

"Kamu masih sama," katanya. "Kalau bicara hal penting, suaramu malah makin pelan."

Keira mengambil air mineral. "Aku tidak ingat kamu memperhatikan itu."

Pandangan Fandy jatuh pada cincin ular di jari manisnya. "Kamu menikah?"

"Sudah. Resepsinya bulan depan."

"Cepat sekali. Suamimu siapa?"

"Namanya Nathan."

Fandy tertawa kecil, tetapi matanya tidak ikut. "Dulu ada Koko yang selalu menjemputmu. Seram sekali. Aku kira kamu akhirnya akan bersama dia."

Keira meletakkan botolnya. "Ko Fabian bukan pasangan dan tidak pernah akan jadi pasangan."

"Maaf. Aku nggak bermaksud."

"Kenapa kamu pindah waktu itu?"

Fandy terdiam. Musik lobi dan suara gelas beradu mengisi jarak di antara mereka.

"Ayahku dapat pekerjaan di Surabaya," jawabnya akhirnya.

Keira mengenali jeda sebelum kebohongan itu, tetapi tidak membongkarnya di tempat ramai.

Fandy mengulurkan ponsel. "Boleh tukar kontak? Untuk urusan Nebula."

Keira memberikan nomor kerja. "Hanya urusan kerja."

"Tentu."

Beberapa langkah setelah berpisah, ingatan lain muncul.

Pada semester pertama kelas sebelas, Fandy pernah berdiri di belakang gedung olahraga dan mengatakan ia menyukai Keira. Keira menolaknya dengan sopan karena tidak ingin berpacaran. Dua hari kemudian, Fabian datang ke sekolah untuk memberi pidato alumni tentang masa depan.

Pidato itu dipuji guru-guru. Fabian berbicara tentang disiplin, reputasi, dan pentingnya memilih lingkungan pergaulan. Setelah acara, ia menjemput Keira dengan senyum biasa dan bertanya siapa saja yang duduk dekat dengannya.

Keira tidak menyebut Fandy. Namun di gerbang sekolah, Fabian menatap tepat ke arah anak laki-laki itu.

Keesokan harinya, Fandy dipanggil kepala sekolah. Teman-teman hanya mendengar kabar bahwa beasiswanya bermasalah dan pekerjaan ayahnya terancam karena sebuah pengaduan anonim. Fandy menyangkal melakukan kesalahan. Tidak lama kemudian, keluarganya pindah ke Surabaya.

Saat itu Keira tidak menghubungkan kejadian tersebut dengan Fabian. Ia bahkan merasa bersalah, mengira pengakuan Fandy menjadi sumber gosip yang merugikan keluarganya.

Sekarang, setelah mengetahui pola PHK dan serangan reputasi terhadap laki-laki lain yang mendekatinya, potongan itu tersusun sendiri.

Ponselnya bergetar. Nathan mengirim pertanyaan singkat: Boleh aku jemput?

Keira mengetik boleh, lalu menambahkan pintu lobi timur. Jarinya berhenti sesaat sebelum mengirim kalimat berikutnya.

Ada teman SMA. Nanti kuceritakan.

Ia tidak ingin ada lagi orang yang membuat keputusan untuknya di balik pintu tertutup. Termasuk orang yang mencintainya.

Seminggu setelah itu, Fandy pindah.

Saat dulu, Keira menganggap waktunya kebetulan.

Sekarang ia tidak lagi percaya pada kebetulan yang selalu menguntungkan Fabian.

Di ujung lobi, Fandy menoleh sekali lagi. Keira sedang melihat layar ponsel dengan ekspresi yang lebih lembut daripada sepanjang percakapan mereka. Ia tidak perlu melihat nama pengirim untuk mengetahui siapa yang membuatnya begitu.

Fandy mengepalkan kartu nama Keira di dalam saku.

Pada usia tujuh belas tahun, ia pergi karena tidak punya kekuatan melawan keluarga Sutanto. Dua belas tahun kemudian, ia bertanya-tanya apakah segalanya akan berbeda jika dirinya lebih kuat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!