Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.
Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).
Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 — Kazenagi
Rin udah kirim pesan semalam sebelumnya, nanya apa Kazenagi bersedia ketemu kalo mereka dateng ke Osaka. Balasannya pendek dan penuh keraguan, tapi akhirnya bilang iya, janjian di sebuah kedai kopi kecil deket stasiun jam dua siang.
Mereka nyampe lebih awal, duduk di meja pojok yang udah dipesen Rin lewat telepon, dan dari situ Kaito bisa liat Rin makin lama makin gelisah, tangannya sesekali ngremes ujung lengan bajunya sendiri.
Kedai itu kecil nggak terlalu rame, dengan musik instrumental pelan yang ngalun dari speaker langit-langit. Kaito ngeliatin sekitar, nyoba nenangin dirinya sendiri sambil diem-diem ngawasin Rin yang keliatan makin tegang tiap kali pintu kedai kebuka.
"Lo oke?" tanya Kaito pelan.
"Nggak sepenuhnya, tapi gue di sini. Itu udah lebih dari yang gue bayangin bisa gue lakuin dua tahun lalu." kata Rin.
"Apa pun yang kejadian nanti, gue di samping lo." kata Kaito.
Rin ngangguk sambil natap tangannya sendiri sebentar, sebelum akhirnya narik napas panjang coba nenangin diri.
Jam dua tepat pintu kedai kebuka, dan sesosok pria masuk, celingukan sebentar sebelum matanya berhenti di meja mereka. Dia keliatan lebih kurus dari yang mungkin Rin inget, wajahnya pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata, dan tangan kirinya diperban, keliatan kayak cedera yang belum lama.
"Rin," katanya, suaranya pelan, ragu.
"Kazenagi," Rin berdiri, nggak yakin harus meluk atau cuma sapa biasa, akhirnya cuma berdiri canggung di tempat.
Kazenagi duduk di kursi kosong, natap Kaito sebentar dengan tatapan curiga. "Ini siapa?"
"Kaito, dia... panjang ceritanya. Tapi dia bisa dipercaya." jawab Rin.
Mereka pesen minuman, dan buat beberapa menit, suasana di meja itu canggung banget, diisi obrolan basa-basi soal cuaca dan perjalanan, sebelum akhirnya Rin narik napas panjang dan mutusin buat masuk ke topik yang sebenarnya.
"Gue nemuin sesuatu, soal apa yang kejadian ke lo dulu. Bukan cuma teori random, tapi... ada penjelasannya." kata Rin.
Kazenagi diem, tangannya yang nggak diperban mengepal pelan di atas meja. "Penjelasan apa?"
Rin ngejelasin semuanya, dari Kaito yang tiba-tiba jadi anomali keberuntungan, sampe gerbang di lembah timur laut, sampe suara misterius yang ngejelasin soal keseimbangan, sampe wawancara Kaito sama Kirishima yang mengonfirmasi ada minimal tiga kasus ekstrem, salah satunya kemungkinan besar Kazenagi sendiri.
Kazenagi dengerin semuanya dengan ekspresi yang susah dibaca, kadang kaget, kadang keliatan mau nangis, kadang keliatan marah.
"Jadi semua yang kejadian ke gue, kerjaan yang nggak pernah gue dapetin, kecelakaan motor yang bikin tangan gue kayak gini, hubungan gue sama keluarga yang berantakan gara-gara gue jadi terlalu sensitif dan gampang putus asa, semua itu ada hubungannya sama dia?" katanya dengan suara gemeteran.
Dia nunjuk Kaito, suaranya naik sedikit, campuran antara nggak percaya dan marah. Kaito ngerasa dadanya sesak banget, nggak tau harus jawab apa.
"Kami nggak tau pasti, tapi kemungkinannya ada. Dan itu kenapa kami dateng ke sini, bukan buat minta maaf yang nggak ada gunanya, tapi buat coba ngerti bareng-bareng, dan mungkin cari cara buat ngebantu." kata Rin cepet, coba nenangin situasi.
Kazenagi natap Kaito lama, matanya penuh emosi yang campur aduk. "Lo tau rasanya nggak, hidup lo berubah jadi serangkaian kesialan yang nggak masuk akal? Setiap hari, nunggu hal buruk berikutnya, sampe akhirnya lo berhenti berharap sama sekali?"
"Gue tau, itu persis hidup gue sebelum semua ini dimulai. Bedanya, gue nggak pernah tau kenapa. Lo sekarang tau kenapa, dan gue rasa itu... mungkin sedikit lebih baik daripada nggak tau sama sekali." kata Kaito pelan tapi tegas.
Kazenagi diem, kata-kata itu keliatan ngena dalem walau dia belum siap ngakuinnya langsung.
"Gue nggak minta lo maafin gue, gue bahkan nggak tau apa gue pantas dimaafin. Tapi gue di sini, dan gue mau bantu sejauh yang gue bisa." lanjut Kaito.
Mereka duduk diem cukup lama, keheningan yang berat tapi nggak sepenuhnya bermusuhan lagi.
"Gimana caranya lo mau bantu?" tanya Kazenagi akhirnya, suaranya lebih tenang.
"Gue nggak tau persis, tapi kita punya tim yang lagi nyelidikin ini lebih dalam. Kalo emang ada cara buat nyeimbangin efeknya, kita bakal cari tau bareng-bareng." kata Kaito jujur.
Kazenagi natap cangkir kopinya yang udah dingin lalu mikir lama. "Gue... butuh waktu buat mikirin semua ini."
"Nggak apa-apa, kita nggak maksa. Yang penting lo tau, gue nggak pernah berhenti mikirin lo, walau kita udah lama nggak ngobrol." kata Rin.
Untuk pertama kalinya sejak dia dateng, Kazenagi senyum, walau tipis dan penuh luka. "Makasih, Rin. Buat masih peduli."
Di tengah momen itu, pelayan kedai dateng bawa nampan berisi kue yang katanya, "gratis dari kedai, promo hari ini, kebetulan pas kalian yang jadi pelanggan ke seratus." Kazenagi natap kue itu dengan ekspresi aneh.
"Ini... jarang banget kejadian ke gue, kebetulan baik maksud gue." gumamnya.
Kaito sama Rin saling lirik, sama-sama nyadar kemungkinan yang sama.
"Mungkin, mungkin efeknya udah mulai berubah, sekarang kita tau apa yang kejadian." kata Rin dengan hati-hati.
Kazenagi natap kue itu lama, terus natap Kaito, ekspresinya campuran antara harap dan takut buat berharap terlalu jauh. "Gue nggak mau langsung percaya. Udah terlalu sering gue berharap, terus dikecewain lagi."
"Nggak apa-apa, nggak usah langsung percaya. Tapi mungkin, pelan-pelan, kita bisa cari tau bareng-bareng." kata Kaito.
Kazenagi ngangguk pelan, terus buat pertama kalinya sepanjang pertemuan itu, dia keliatan sedikit lebih rileks, walau matanya masih keliatan lelah dan waspada.
"Gue nggak janji bakal balik main lagi, tapi... gue nggak keberatan kalo kalian mau tetep kontak. Kabarin gue kalo ada perkembangan." katanya.
"Pasti," kata Rin dengan senyumnya yang kali ini beneran nyampe ke matanya.
Mereka ngobrol lebih lama setelah itu, suasananya perlahan jadi lebih ringan, walau bekas-bekas kecanggungan masih ada.
Kazenagi cerita dikit soal kerjaan barunya di sebuah percetakan kecil, soal gimana dia coba ngebangun hidup lagi dari nol setelah semua yang kejadian, dan Rin dengerin dengan penuh perhatian, sesekali ketawa kecil di momen-momen yang lebih ringan.
"Lo masih inget nggak, waktu kita berdua kena kick dari raid gara-gara lo salah pencet skill pas boss udah HP satu persen?" kata Rin di satu titik, senyumnya mulai lebih lepas.
Kazenagi ketawa, buat pertama kalinya sepanjang pertemuan itu ketawa beneran, bukan cuma senyum tipis. "Anjir, gue lupa-lupa inget soal itu. Raid leader-nya sampe marah-marah di voice chat."
"Terus lo malah ketawa-ketawa nggak berhenti, bikin gue ikut ketawa juga, padahal seharusnya gue ikut kesel." kata Rin.
Mereka berdua ketawa bareng, dan buat sesaat, Kaito bisa ngeliat sekilas gimana persahabatan mereka dulu, hangat, penuh tawa, sebelum semua beban itu dateng dan ngerusak semuanya.
Begitu mereka akhirnya pamit, Kazenagi berdiri di depan kedai, natap mereka berdua sebentar sebelum akhirnya ngomong lagi.
"Rin, makasih udah nggak nyerah nyari gue." katanya.
"Selalu, apa pun yang terjadi." kata Rin.
Kaito sama Rin jalan kembali ke stasiun, langit Osaka mulai berubah warna jadi jingga keemasan menjelang senja. Rin diem sepanjang jalan, tapi bukan diam yang berat, lebih ke diam yang penuh sama pikiran dan perasaan yang butuh waktu buat diproses.
"Makasih, buat nemenin gue ngelakuin ini." katanya.
"Nggak perlu makasih, kita tim inget?" kata Kaito dengan senyum lembut.
Rin natap dia, dan buat sesaat, ada sesuatu di matanya yang lebih dalam dari sekadar rasa terima kasih biasa, sesuatu yang belum sepenuhnya dia ucapin, tapi keliatan jelas di ekspresinya.
Mereka jalan berdampingan menuju stasiun, langkah mereka pelan, nggak buru-buru, ngebiarin senja Osaka jadi latar dari satu babak penting yang akhirnya, mulai nemuin titik terang setelah sekian lama.
Di dalam kereta pulang, Rin sandarin kepalanya ke jendela, natap bayangan dirinya sendiri yang pantul samar di kaca, bercampur sama pemandangan luar yang berlalu cepat.
"Gue nggak nyangka bakal secair ini rasanya, gue kira bakal lebih berat, lebih menyakitkan." gumamnya.
"Kadang hal yang kita takutin nggak seburuk yang kita bayangin," kata Kaito.
"Kadang, tapi kadang juga lebih rumit dari yang kita bayangin. Kayak sekarang gue lega, tapi juga masih khawatir. Masih banyak yang belum selesai." Rin ngangguk dengan senyum kecil.
"Kita selesain pelan-pelan, nggak harus buru-buru." kata Kaito.
Rin natap dia lama, terus akhirnya nyender lagi ke bahunya, kali ini tanpa ragu sedikit pun, seolah momen di kereta berangkat tadi udah bikin dia lebih nyaman buat ngelakuinnya lagi.
"Makasih buat semuanya, Kaito." katanya pelan.
Kaito nggak jawab apa-apa, cuma biarin momen itu berjalan, ngerasa hatinya penuh dengan cara yang susah dia jelasin lewat kata-kata.