Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Putri Raja Dan Anak Penempa Pedang

Cinta Terlarang Putri Raja Dan Anak Penempa Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cintapertama / Fantasi
Popularitas:761
Nilai: 5
Nama Author: Ayyasy Asy-Syaif

Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.

Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.

Takdir memperte

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan & Gua

Hari-hari berlalu bagaikan helai daun yang diterbangkan angin sore, membawa kebahagiaan manis yang tak pernah dibayangkan oleh Putri Celestia sebelumnya. Seperti biasa, begitu mendapat izin dari Raja David, sang putri langsung berlari meninggalkan kemewahan dinding istana. Langkah kakinya begitu ringan menelusuri rute yang telah ia hafal di luar kepala, menuju gubuk kecil di ujung kerajaan.

Di sana, Zass sudah menyambutnya dengan senyuman hangat. Hari itu, udara terasa sangat terik. Matahari memancarkan sinar emasnya yang membakar tanah, namun hal tersebut tidak sedikit pun menyurutkan semangat dua anak itu untuk menjelajah. Mereka memutuskan untuk berjalan lebih jauh ke area perbukitan batu di pinggiran hutan, tempat di mana angin bertiup sedikit lebih kencang di antara celah-celah tebing.

"Zass, lihat! Aku bisa lari lebih cepat darimu hari ini!" seru Celestia sambil tertawa riang, gaun sederhananya melambai-lambai saat ia melompati bebatuan kecil di sepanjang jalan setapak.

Zass yang membawa sebuah tas kain di pundaknya tertawa kecil sambil mengikuti langkah Celestia dari belakang. "Hati-hati, Celestia! Jalanan di dekat tebing ini penuh dengan kerikil tajam!"

"Jangan khawatir, aku tidak selemah yang kau pikir—"

Krak!

Belum sempat Celestia menyelesaikan kalimatnya, sebuah batu licin bergeser di bawah pijakan kakinya. Tubuh sang putri kehilangan keseimbangan. Ia memekik kaget saat terperosok ke tepi jalanan berbatu.

"Celestia!" teriak Zass panik.

Zass dengan cepat melompat maju dan menahan tubuh Celestia agar tidak terguling lebih jauh ke bawah lereng. Namun, benturan dengan batuan tajam tak terhindarkan. Celestia terduduk di tanah sambil meringis kesakitan, memegangi pergelangan kaki kanannya. Di sana, tampak goresan luka yang lumayan dalam dengan bercak darah segar membasahi kulit putihnya.

"Aduh... sakit sekali," bisik Celestia dengan mata berkaca-kaca, menahan rasa panas yang menjalar di kakinya.

Zass berlutut di hadapan Celestia dengan raut wajah yang sangat cemas. Rasa bersalah langsung menyelimuti hatinya. "Maafkan aku, aku seharusnya tidak membiarkanmu berlari di tempat seperti ini. Tahan sebentar, jangan digerakkan dulu."

Zass menoleh ke sekeliling untuk mencari tempat berlindung. Cuaca yang sangat terik dan menyengat di luar bisa membuat luka Celestia makin terasa memakar. Tepat di samping mereka, terdapat sebuah tebing batu dengan bukaan mulut gua yang lumayan besar dan teduh. Tanpa ragu, Zass perlahan membantu Celestia berdiri, lalu menyangga tubuh sang putri untuk dibawanya masuk ke tepi mulut gua tersebut.

Ia mendudukkan Celestia di atas sebuah batu datar yang terlindung dari terik matahari. Zass kemudian mengambil kantung air dari tasnya dan merobek sedikit kain bersih dari dalam tas yang biasa ia gunakan untuk membersihkan peralatan tempa. Dengan kelembutan yang sangat ekstra—jauh dari kesannya sebagai anak penempa besi yang kasar—Zass membasuh luka di kaki Celestia dengan air bersih.

"Mungkin ini akan terasa sedikit perih," kata Zass lembut sebelum mengusap luka itu.

Celestia memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya saat rasa perih menyerang. Namun, melihat betapa telaten dan khawatirnya raut wajah Zass saat merawatnya, rasa sakit itu mendadak kalah oleh kehangatan yang menjalar di dadanya. Celestia memperhatikan jemari Zass yang cekatan mengikatkan kain pembalut di sekeliling kakinya.

Namun, di tengah proses pengobatan itu, perubahan alam terjadi begitu mendadak.

Sinar matahari terik yang tadinya membakar udara mendadak lenyap ditelan kegelapan. Awan hitam pekat merayap cepat dari balik bukit, menutup seluruh langit hanya dalam hitungan menit. Angin pegunungan yang tadinya berembus sepoi-sepoi kini berubah menjadi tiupan kencang yang membawa hawa dingin menusuk tulang.

Blarrr!

Suara gemuruh petir menggelegar menembus angkasa, disusul oleh curahan hujan yang sangat deras. Hujan turun bagaikan tirai air raksasa yang mengurung mulut gua. Suasana yang tadinya amat panas seketika berubah menjadi dingin membeku.

Meskipun berada di dalam gubuk batu mulut gua, cipratan air hujan yang terbawa angin deras tetap berhasil masuk. Udara dingin perlahan menembus pakaian tebal Celestia. Sang putri mulai menggigil kecil, merapatkan kedua tangannya di dada seraya menggosok-gosokkan jemarinya yang mulai pucat.

Zass yang baru saja selesai mengikat kain luka Celestia menyadari perubahan tubuh sang putri. Tanpa berpikir panjang, Zass melepaskan jubah pelapis luar yang terbuat dari kain karung goni tebal—pakaian yang selalu ia kenakan untuk melindungi tubuhnya dari percikan api tempaan maupun hawa dingin.

Zass melangkah mendekat dan menyelimutkan jubah karung goni tebal itu ke bahu Celestia.

"Pakailah ini. Pakaianmu agak basah terkena cipratan air hujan, ini bisa membantu menahan dingin," ujar Zass seraya merapatkan jubah itu di sekitar tubuh Celestia.

Bau khas arang, kayu, dan aroma maskulin yang jujur menyergap indra penciuman Celestia dari jubah tersebut. Walaupun terbuat dari bahan karung goni yang kasar dan jauh dari kata mewah jika dibandingkan dengan gaun sutra istana, jubah itu terasa sangat hangat di tubuhnya.

Namun, saat Celestia menengadah, ia melihat Zass kini hanya mengenakan baju linen tipis yang sudah koyak di beberapa bagian. Angin malam dan cipratan hujan yang masuk ke dalam gua membuat tubuh pemuda itu gemetar pelan, meski Zass berusaha keras menyembunyikannya.

"Zass... bagaimana denganamu?" tanya Celestia dengan nada khawatir yang mendalam. Ia mencoba melepaskan sebagian jubah itu untuk dibagikan kepada Zass. "Kau juga kedinginan. Jubah ini cukup lebar, kita bisa memakainya bersama."

Zass dengan cepat menggeleng dan menahan tangan Celestia, menolak secara halus. Ia mengumbar senyum paling menenangkan yang ia miliki, meski bibirnya sendiri mulai tampak sedikit pucat karena terpaan angin dingin.

"Tidak usah, Celestia. Jangan khawatirkan aku," cegah Zass dengan nada bersikeras namun penuh kelembutan. "Aku ini anak penempa besi. Tubuhku sudah terbiasa berdiri di depan tungku pembakaran bersuhu tinggi dan diterpa angin malam. Dingin seperti ini tidak ada apa-apanya dibanding hawa dingin di gubukku saat musim hujan. Yang terpenting sekarang adalah kau tidak sakit."

"Tapi, Zass—"

"Aku sungguh tidak apa-apa, Celestia. Percayalah padaku," potong Zass mantap. Untuk membuktikannya, ia berjalan sedikit lebih ke dalam gua, mengambil beberapa ranting kayu kering yang kebetulan tergeletak di sana, lalu duduk bertengger di atas batu yang agak jauh dari cipratan air hujan.

Celestia memandangi Zass dari balik balutan jubah karung goni tebal tersebut. Hatinya luluh oleh ketulusan pemuda di hadapannya. Di istana, semua ksatria dan pelayan melayaninya karena itu adalah tugas dan hukum kerajaan. Namun Zass... pemuda ini mengutamakan keselamatan dan kenyamanannya murni karena kepedulian yang tulus dari dalam lubuk hatinya.

Suara gemericik air hujan yang menghantam batuan di luar serta deru angin deras menciptakan irama alam yang syahdu di dalam gua tersebut. Celestia memeluk lututnya yang berselimutkan jubah Zass, menatap bayangan pemuda itu di tengah remang-remang gua.

"Terima kasih, Zass," bisik Celestia lirih di antara suara hujan. "Untuk semuanya."

Zass menoleh dan tersenyum dari kegelapan kecil gua. "Sama-sama, Celestia. Selama aku ada di sini, aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu."

Di dalam gua batu yang dingin dan terisolasi dari dunia luar itu, dua insan dari status yang bertolak belakang duduk berdampingan. Kehangatan tidak hanya datang dari jubah goni yang melingkupi tubuh Celestia, melainkan dari sebuah perasaan tak kasat mata yang makin mengakar kuat di dalam dada mereka berdua—sebuah perasaan yang kian sulit untuk diabaikan.

1
Guzzie
next
Guzzie
lanjut
Guzzie
💪💪💪
Guzzie
keren
Ayyasying
TIDAKKKKK CELESTIAAA!!!
Ayyasying
lah! tiba-tiba berubah pikiran nih orang?
Ayyasying
ga ekspet ternyata temen bapaknya
Ayyasying
bau bau adventure nih
Ayyasying
celestia mimpin perang? terkejut aku wak
Ayyasying
kapan romance nya bg
Ayyasying
akhirnya ketemu arwah bapaknya
Ayyasying
segala di puyengin Ama labirin
Ayyasying
🔥🔥🔥🔥
Ayyasying
update terus bang. resep bet ceritanya
Ayyasying
rasain lu David! malu malu sonoh
Ayyasying
apakah zass bakalan sama celestia lagi?
Ayyasying
si bro pake nama samaran euy
Ayyasying
woy lah! hampir aja itu!
Ayyasying
semangat zass!!!🔥🔥🔥
Ayyasying
zass kuat kuat ya😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!