Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Takdir Yang Kupilih

Bukan Takdir Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Alisha Chanel

Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.

Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.

Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketakutan Yang Tak Bisa Disembunyikan

Jingga dan Bima menyempatkan diri untuk sarapan sebentar sebelum berangkat kembali ke ibu kota. Namun udara di ruangan itu terasa berbeda, berat, dingin, dan kaku, seolah ada beban tak kasat mata yang menindih setiap sudut ruangan. Aroma masakan yang biasanya menggugah selera kini terasa hambar dan menyesakkan.

Biasanya, suara Mawar akan segera memenuhi ruangan itu dengan celotehan riang, canda tawa, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak ada habisnya, membuat suasana rumah terasa hidup dan hangat. Namun hari ini, kehadiran gadis itu justru seperti bayangan gelap yang bergerak diam tanpa suara. Ia duduk membungkuk di ujung meja, kedua tangannya tergenggam erat di bawah meja, matanya menatap lurus ke depan tanpa memandang apa pun. Keheningan yang tercipta begitu berat hingga terdengar jelas bunyi detak jarum jam di dinding.

"Mawar, kamu kenapa? Kok dari tadi diam saja, tak bersuara sedikit pun?" Jingga menatap sang adik dengan alis berkerut dalam kebingungan. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, berusaha mencari tatapan mata gadis itu yang selalu berbinar ceria.

Hening.

Tak ada jawaban, tak ada pun sedikit gerakan kepala atau anggukan. Mawar seolah tidak mendengar, atau lebih tepatnya seolah jiwanya sudah pergi jauh meninggalkan tubuhnya yang duduk kaku di sana. Mata gadis itu yang dulu selalu bersinar penuh semangat kini tampak kosong, sayu, dan kering, menatap titik tak berarti di ujung meja makan, seolah sedang melihat sesuatu yang mengerikan yang tak bisa dilihat orang lain.

"Mawar? Kakakmu bertanya, lho. Kenapa tidak dijawab?" Bu Gendis ikut bersuara, nada bicaranya mulai berubah menjadi cemas dan khawatir. Ia meletakkan sendok dan garpu yang dipegangnya, lalu menatap anak bungsunya itu dengan pandangan yang penuh tanda tanya. Namun lagi-lagi Mawar diam saja, tak bergerak sedikit pun, napasnya pun terdengar dangkal dan tertahan.

"Mawar? Apa kamu sakit? Apa badanmu terasa kurang enak?" Bu Gendis berdiri perlahan dari kursinya, lalu berjalan mengelilingi meja mendekati anak perempuannya. Ia mengulurkan tangan lembut, hendak menyentuh bahu Mawar untuk menarik perhatiannya.

Namun apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan semua orang yang ada di ruangan itu.

Sentuhan ringan itu seolah menjadi pemicu yang melepaskan segala rasa takut dan trauma yang terpendam rapat di dalam dada gadis itu. Tubuh Mawar tersentak hebat, melonjak naik dari kursi seolah tersengat aliran listrik tegangan tinggi. Kemudian teriakan histeris meledak dari kerongkongannya, suara yang keras, tajam, dan penuh kepanikan yang mencekam, bergema memantul ke dinding-dinding rumah hingga membuat kaca jendela sedikit bergetar.

"AAAAHHH!! JANGAN SENTUH! JANGAN DEKATI AKU!"

Bu Gendis langsung menarik tangannya kaget hingga hampir terjatuh ke belakang. Wajah wanita tua itu pucat pasi karena terkejut dan sedih.

"Mawar! Mawar, tenanglah, Nak… ini Ibu, ini Ibu sayang… jangan takut, tidak ada apa-apa di sini!" Ia segera mengguncang bahu gadis itu lebih kuat, berusaha keras mengembalikan kesadaran Mawar yang seakan hilang ditelan ketakutan dan bayangan mimpi buruk yang panjang serta kelam.

Perlahan-lahan, teriakan itu mereda berubah menjadi isak tangis tertahan dan napas tersengal-sengal yang berat. Mawar mengedipkan mata berkali-kali, pandangannya masih kabur dan linglung, seolah baru saja terbangun dari tidur panjang yang mengerikan. Ia menatap wajah ibunya, lalu wajah kakaknya, dengan tatapan bingung seolah tidak ingat jelas apa yang baru saja ia lakukan.

"Maaf… Bu… Maafkan aku…" suara Mawar bergetar hebat, nyaris tak terdengar oleh siapa pun. Ia menurunkan kepalanya dalam-dalam, rambut panjangnya jatuh menutupi separuh wajah agar tak ada yang melihat air mata yang kembali menggenang.

"Sepertinya aku sedang tidak enak badan. Kepalaku terasa sangat berat. Aku… aku mau kembali ke kamar saja, boleh?" lanjut gadis itu, suaranya lemah bagaikan benang yang hampir putus.

"Ya, sepertinya kamu memang butuh istirahat yang cukup. Pergilah, Nak, beristirahatlah sepuasnya," jawab Bu Gendis lembut, namun sorot matanya penuh kekhawatiran yang mendalam. Ia segera memapah Mawar berdiri, menuntun langkah kaki gadis itu yang tampak goyah dan tak stabil keluar dari ruang makan, perlahan menjauh menuju kamar tidurnya.

Tinggallah Jingga dan Bima berdua saja di ruangan itu. Suasana menjadi hening kembali, namun kini keheningan itu terasa jauh lebih berat dan mencekam. Nafsu makan mereka lenyap seketika, hilang sama sekali. Piring yang masih berisi makanan utuh dan mengepul panas itu terabaikan di atas meja, tak tersentuh lagi.

Jingga menatap ke arah pintu yang baru saja dilewati ibu dan adiknya, keningnya berkerut, wajahnya penuh kerisauan yang tak bisa ia sembunyikan.

"Mas… apa tidak sebaiknya kita antar Mawar ke rumah sakit dulu sebelum pulang ke kota? Aku khawatir sekali. Aku merasa ada sesuatu yang buruk telah terjadi padanya, sesuatu yang berat sekali hingga membuatnya menjadi seperti ini. Dia bukan Mawar yang aku kenal, Mas." Jingga tak bisa menyembunyikan kekhawatiran yang meluap-luap di dadanya.

Mendengar usulan itu, Bima tersentak hebat hingga terbatuk-batuk paksa, batuk yang dibuat-buat untuk menutupi rasa kaget dan ketakutan yang mendadak menyerangnya. Wajahnya yang tadi berusaha tetap tenang dan wajar seketika menegang keras, urat-urat di lehernya tampak menonjol jelas.

"Jangan sampai Mawar dibawa ke rumah sakit… Jangan sampai ada yang memeriksanya. Kalau dokter melihat bekas luka, kalau mereka tahu apa yang terjadi padanya… semuanya akan terbongkar. Semuanya bisa hancur seketika menjadi debu!" jerit Bima dalam hati, jantungnya berpacu kencang karena ketakutan.

Bima segera mengatur napas, berusaha menenangkan diri, lalu menyusun kata-kata agar terdengar masuk akal dan meyakinkan. Ia memaksakan senyum lembut di bibirnya, lalu mengusap lembut punggung tangan sang istri.

"Tidak usah, Sayang. Kau sendiri yang sudah lama mengenal sifat Mawar, bukan? Dia memang sering kali bertingkah laku aneh, berlebihan, dan mudah terbawa suasana. Mungkin saja dia hanya sedang berusaha mencari perhatianmu karena kau jarang pulang ke sini. Dia tahu kalau kau sangat menyayanginya, jadi dia berpura-pura sakit supaya kau lebih lama tinggal di sini." ucap Bima dengan nada yang tenang dan meyakinkan, seolah-olah apa yang ia katakan adalah kebenaran mutlak.

Jingga diam sejenak, memikirkan ucapan suaminya itu. Kerutan di keningnya perlahan berkurang, meski masih ada sisa keraguan di matanya.

"Iya juga… Memang kadang Mawar bertingkah aneh dan berlebihan supaya diperhatikan dan disayang lebih. Lagipula kita harus segera kembali ke Jakarta, Mas. Pertemuan penting dengan perwakilan bisnis dari Tiongkok tidak bisa ditunda sedikit pun, sudah lama dijadwalkan dan disiapkan. Kalau kita terlambat, kerugiannya bisa sangat besar bagi perusahaan," Jingga akhirnya mengangguk setuju.

Bima menghela napas panjang yang sedari tadi tertahan di dadanya, mengeluarkan rasa lega yang meluap begitu besar hingga ia hampir saja bersyukur terang-terangan.

"Huh… Syukurlah, Jingga percaya begitu saja. Dia memang mudah dibohongi. Tapi ini belum selesai. Masalah ini belum berakhir. Sepertinya aku harus segera melakukan sesuatu yang lebih tegas agar Mawar benar-benar tahu tempatnya, tahu apa risikonya kalau dia berani bersuara, dan selamanya menutup mulut rapat-rapat. Aku harus pastikan dia tidak akan pernah berani membocorkan rahasia ini kepada siapa pun." Batin Bima sambil menatap tajam ke arah pintu kamar Mawar, sorot matanya dingin, tajam, dan penuh ancaman tersembunyi yang mengerikan.

Di balik pintu itu, Mawar meringkuk di sudut paling gelap kamar, memeluk lututnya erat-erat. Setiap kali ia mengingat wajah Bima, setiap kali terbayang senyum palsu pria itu, tubuhnya kembali gemetar hebat. Ia tahu, bahaya itu belum pergi. Bahaya itu masih ada, masih berjalan di atas bumi yang sama, dan masih memegang kendali atas nasibnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!