Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penasaran
BAb 6
“Siapa yang menikah, papi?”
Bara menoleh ke arah pintu, begitu pun dengan kedua orangtuanya. Jelita mendorong pintu lebih lebar, rupanya ia mencuri dengar pembicaraan para orang dewasa, entah sengaja atau tidak sengaja.
“Sayang,” ucap Bara lalu berdiri.
“Jelita,” panggil Husnah.
Rendra menghela pelan. “Jelaskan ke mereka, jangan ditunda lagi.”
“Papi menikah dengan siapa? Tante Nilam, kan?”
Bara berjongkok di hadapan putrinya, butuh effort untuk menjelaskan masalah itu pada kedua anaknya. Kedekatan Jelita dengan Nilam, adik dari mendiang istrinya membuat sang putri rupanya memiliki ekspektasi lain.
“Sayang ….”
“Tante Nilam ‘kan?”
Bara berdiri lalu mengusap kepala Jelita. “Kita bicara di luar, panggil abangmu.”
Bertempat di sofa ruang keluarga, Jelita dan Adly duduk bersisian. Bara menempati sofa tunggal, menekan tombol remote televisi yang sejak tadi menyiarkan layanan streaming film anak-anak. Rendra tidak ikut campur, masih berada di ruangan tadi. Memberi kesempatan pada Bara untuk mengatasi masalah di rumah tangganya. Begitupun dengan Husnah, memilih ke dapur mengawasi bibi menyiapkan makan malam.
“Ada apa, pih?”
“Papi menikah lagi,” sahut Jelita dengan tangan bersedekap.
Adly menatap Bara heran tapi tidak terkejut. Dorongan agar papinya menikah lagi sudah lama dan sudah sering ia dengar dari opa dan oma. Bahkan Jelita pernah dibully dan sedih karena di beberapa acara sekolah yang mengharuskan didampingi orangtua, hanya Papinya yang hadir atau oma dan opa.
“Papi sudah menikah lagi, kalau kalian sudah dewasa akan paham mengapa orang dewasa harus menikah,” cetus Bara tanpa basa basi. “dan dia bukan tante Nilam, namanya Ruby. Kalian belum pernah bertemu, tapi secepatnya akan bertemu.”
“Kenapa bukan tante Nilam,” ujar Jelita. “Dia bukan orang lain, adiknya mamih. Oma juga setuju kalau Papi menikahi tante Nilam. Namanya turun, turun ….”
“Turun ranjang,” potong Adly.
“Dari mana kalian tahu istilah itu?” Adly menunduk dan Jelita menggeleng. “Papi paham, tidak akan mudah menerima orang baru di rumah ini," tutur Bara hati-hati. "Percayalah, keputusan ini tidak akan pernah mengubah posisi kalian. Kalian selalu dan selamanya menjadi prioritas utama dalam hidup Papi."
Jelita menunduk, wajahnya cemberut. "Jelita cuma takut... takut nanti Papai berubah. KAlau istri papi punya anak, Papi jadi beda sama kita."
"Tidak akan, Sayang," Bara mencondongkan tubuhnya meraih tangan Jelita dan menggenggamnya erat. "Rasa sayang Papi ke kalian itu tidak bisa dikurangi atau dibagi-bagi. Tante Ruby masuk ke kehidupan kita bukan untuk mengurangi kasih sayang yang ada, tapi justru untuk menambahkannya. Dia tahu betul betapa berharganya kalian buat Papi.” Meski dalam hati Bara sanksi kalau Ruby bisa mencurahkan kasih sayang untuk anak-anak, dengan dirinya pun masih perang dingin. Sepertinya waktu yang akan merubah segalanya, hanya butuh kesabaran.
Berbeda dengan Jelita yang langsung mengeluarkan isi hati dan emosinya, Adly hanya diam, raut dan tatapan wajahnya biasa saja bahkan cenderung dingin. Memang begitu sikapnya, Bara pernah mengkonsultasikan pada dokter spesialis tumbuh kembang anak. khawatir ada hubungannya dengan kondisi disabilitas sang putra. Namun, kesimpulan dokter, semuanya masih aman dan normal.
"Papi tidak minta kalian langsung menerima dan memanggilnya 'Mama' hari ini," ungkap Bara. "Proses ini butuh waktu. Papi mohon bukalah sedikit pintu hati kalian. Beri kesempatan untuk kita menjadi keluarga yang lebih utuh dan bahagia."
Adly dan Jelita saling tatap, kembali menatap Bara dan mengangguk.
“Besok, papi bawa tante Ruby kemari.”
***
Bara menghempaskan tubuhnya di ranjang bersandar pada headboard. Baru saja mandi dan berganti piyama. Pikiran dan tubuhnya cukup lelah menghadapi masalah sejak tadi malam, malah ia tidak bisa tidur karena menjelang pernikahan dadakannya. Sempat memejamkan mata menjelang subuh, hanya 1 jam sudah terjaga lagi.
Ia menguap sambil membuka ponsel yang sejak tadi diabaikan. Membalas pesan teratas, urusan kampus juga merespon pembahasan di grup yang berurusan dengan jabatannya di kampus. Menggulir ke pesan lainnya, mendapati pesan dari Ruby.
...Ruby...
P
P
Pak
Pak Bara
Woy, suamiiiii 🤔
Ck, belum apa-apa udah diabaikan begini. Udah kayak pelakor hubungi laki orang
^^^Maaf, baru buka ponsel^^^
^^^Ada masalah?^^^
Pake nanya, dari awal kita ini masalah bapak Barata yang terhormat 🙄
^^^Sudah malam, istirahat. ^^^
^^^Saya lelah, besok kita bicara lagi^^^
Nggak bisa gitu dong
^^^Harusnya gimana? Saya ke tempat kamu terus temani kamu tidur^^^
Enak aja, emang cewek apaan
^^^Kita sudah menikah, remember^^^
Bodo amat
Bara menghela nafas, ternyata bukan Jelita saja yang suka tantrum. Istri kecilnya ini tantrum melebihi sang putri. Meletakan ponsel di atas nakas lalu mengganti lampu tidur dan menarik selimut setelah berbaring.
Di kamar berbeda, di lantai bawah. Jelita turun dari ranjang. Melangkah pelan keluar dari kamar menuju kamar Adly. Menekan handle pintu dan mendorong pelan. Bara melarang mereka mengunci pintu. Pun saat marah dan merajuk, hanya menutup rapat pintu kamar.
“Abang,” panggil Jelita memasuki kamar Adly. “Udah tidur?”
“Tadinya udah, tapi kamu datang jadi kebangun.” Adly beranjak duduk, meraba nakas mengambil kaca mata dan memakainya. “Lapar lagi?”
Jelita menggeleng lalu duduk di ranjang. “Tentang istrinya papi, menurut abang gimana?”
Adly menggaruk kepala, bibirnya berdecak pelan. “Gimana apanya sih.”
“Ya itu, istri papi, ibu tiri kita.”
“Terus kenapa? Harusnya kamu seneng dong. Ambil rapor bukan oma lagi, kegiatan parenting yang hadir benar-benar parents kita.”
“Tapi, bang.”
“Ta, ini udah malam, aku ngantuk. KAlau penasaran, besok bisa kamu buktikan. Papi ajak dia bertemu kita, besok.” Adly kembali melepas kacamatanya lalu berbaring membelakangi Jelita.
“Ish, abang,” rengek Jelita.
“Tidur Ta, pintunya tutup!”
Jelita menghentakan kakinya saat meninggalkan kamar Adly. “Aku bukan penasaran, tapi takut dia gak asyik jadi ibu kita. Gimana kalau dia galak, cerewet, sudah tua dan gak cantik, gimana coba. Nggak pantes dong buat papi.”
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
Awas ya kamu .....🤭