Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.
Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.
Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.
"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Kebenaran yang Terungkap, Ancaman yang Semakin Nyata
Genggaman tangan Arga begitu kuat, seakan takut jika dilepaskan sedikit saja aku akan hilang. Di hadapannya, Laras tampak gemetar hebat, wajahnya pucat namun matanya masih menyala penuh amarah yang tak tertahankan.
"Kau... kau memanipulasinya!" seru Laras, suaranya melengking penuh keputusasaan. "Arga, jangan percaya padanya! Dia hanya pandai berpura-pura!"
Arga melepaskan tanganku perlahan, lalu melangkah mendekati Laras dengan tatapan sedingin es—sangat berbeda dari tatapan lembut yang baru saja ia berikan padaku.
"Cukup, Laras," ucap Arga rendah namun berat, membuat seluruh ruangan seakan menahan napas. "Aku sudah mendengar semuanya. Isi hati Freya tak bisa dibohongi. Dan selama ini... kaulah yang berbohong dari awal sampai akhir."
Laras mundur selangkah, menelan ludah dengan susah payah. "Tuan... saya hanya... saya ingin melindungimu dari wanita jahat ini—"
"Melindungiku?" potong Arga tajam. "Kau menyuap penjaga, memutarbalikkan fakta, mengancam nyawa istriku, dan mencoba meracuni Ayahku. Itu bukan perlindungan. Itu kejahatan murni."
Arga memberi isyarat pelayan yang berdiri di pintu. "Panggil Pak Budi—penjaga kebun belakang. Sekarang juga."
Beberapa menit kemudian, Pak Budi datang dengan wajah tegang. Saat melihatku berdiri di samping Arga, matanya membelalak kaget. Arga menatapnya tajam.
"Pak Budi, katakan yang sebenarnya. Apa yang kau lihat kemarin siang di kamar Ayah?" tanya Arga tanpa mengalihkan pandangan.
Pak Budi melirik Laras sekilas, lalu menunduk tak berani menatap. "Saya... saya diberi uang oleh Nona Laras, Tuan. Dia bilang... bilang kalau saya harus bilang melihat Nyonya Freya menuangkan sesuatu ke dalam obat. Padahal... yang saya lihat kemarin siang justru Nona Laras yang berdiri di dekat meja obat saat Nyonya sedang berpaling."
Kata-kata itu jatuh bagai palu menghantam lantai. Laras mundur terhuyung, wajahnya kehilangan seluruh warna.
"Kau dengar itu, Laras?" ucap Arga dingin. "Semua sudah terungkap. Kau telah melakukan banyak kesalahan di rumah ini. Mulai sekarang, kau dilarang mendekati Ayahku, Freya, maupun bagian rumah ini. Aku akan membiarkanmu pergi dari sini dengan selamat—karena aku tak ingin menambah dosa. Tapi jika kau berani kembali atau mengganggu kami sekalipun, jangan salahkan aku jika harus melaporkanmu ke pihak berwenang."
Laras menatap Arga dengan tatapan tak percaya sekaligus penuh kebencian yang dalam. "Kau membuangku demi dia? Setelah semua yang kulakukan untukmu selama bertahun-tahun? Arga, kau akan menyesal!"
"Pergi," ucap Arga singkat, tanpa belas kasih.
Laras menggertakkan gigi, lalu berbalik dan berlari keluar ruangan dengan langkah gontai, meninggalkan kesunyian yang mendalam di antara kami.
Setelah sosoknya hilang, Arga segera berbalik ke arahku. Wajahnya yang tadi tegas dan dingin kini melembut seketika—namun disertai rona kesedihan dan penyesalan yang begitu dalam. Ia kembali meraih kedua tanganku, menggenggamnya seakan takut kehilangan.
"Freya... maafkan aku," bisiknya, suaranya bergetar. "Aku seharusnya mempercayaimu sejak awal. Aku seharusnya tidak pernah membiarkanmu dikurung, tidak pernah meragukanmu... kau menderita karena kebodohanku sendiri."
Air mata kembali mengalir di pipiku, namun kali ini bukan air mata kesedihan atau ketakutan. Itu air mata kelegaan yang tak sanggup kubendung. Aku menggeleng pelan, menyentuh wajahnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
"Aku tidak menyalahkanmu, Arga," jawabku pelan namun tegas. "Semua ini terlihat begitu nyata. Bahkan aku sendiri pun sempat berpikir... mungkin takdirku tak bisa diubah. Tapi kau mendengarkan hatiku. Dan itu sudah cukup bagiku."
Arga menarikku ke dalam pelukannya—erat, hangat, dan penuh rasa syukur. Di sana, di pelukannya, aku merasakan ketenangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Ancaman Laras mungkin sudah pergi, tapi perasaan di antara kami berdua kini tumbuh semakin kuat, tak tergoyahkan.
Namun di tengah kebahagiaan itu, satu hal masih mengganjal di benakku. Laras pergi dengan penuh dendam. Dan ancaman terakhirnya sebelum pergi... sepertinya bukan sekadar gertakan.
Malam itu, saat kami berjalan beriringan menuju kamar Ayah untuk memastikan kondisinya membaik, Arga menautkan jemarinya ke tanganku dengan erat.
"Aku takkan pernah membiarkan siapapun menyakitimu lagi, Freya," ucapnya lembut namun penuh tekad. "Tak peduli apa yang terjadi nanti. Kau istriku. Dan aku akan menjagamu dengan seluruh nyawaku."
Aku menatapnya, tersenyum tipis namun tulus. "Dan aku akan tetap di sisimu, Arga. Selamanya."
Lanjut ke Bab 13? 🥰 Mereka akhirnya saling percaya sepenuhnya! Tapi Laras pergi dengan dendam mendalam—apakah dia benar-benar pergi, atau sedang merencanakan sesuatu yang lebih buruk? Mau dilanjutkan? 😊