Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)
Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.
Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)
Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Cahaya lampu temaram dari menara Eiffel memantul indah di atas permukaan Sungai Seine, menciptakan kilauan keemasan yang membasahi malam dingin di Paris. Kota mode dunia itu tengah diselimuti udara akhir musim gugur yang menusuk tulang, namun di dalam sebuah penthouse pribadi mewah yang menghadap langsung ke jantung ibu kota Prancis tersebut, atmosfernya terasa begitu hangat dan intim.
Keisha Azalea Pramesti berdiri di dekat jendela kaca besar, mengenakan kardigan kasual berbahan kasmir lembut di atas gaun malam sederhananya. Di tangan kanannya, ia memegang cangkir berisi cokelat panas, menikmati keheningan malam Eropa yang jauh berbeda dari hiruk-pikuk Jakarta. Perjalanan bisnis mereka ke Paris kali ini bukan sekadar kunjungan biasa; ini adalah langkah awal pembukaan cabang utama butik Azalea Label di kancah internasional, sebuah impian yang dulu terasa begitu jauh kini berdiri nyata di depan mata.
Langkah kaki tegap mendekat dari arah ruang kerja pribadi di sudut ruangan. Alexander Ar-Rasyid melangkah keluar dengan mengenakan kemeja hitam tanpa jas, lengan kemejanya digulung sampai siku, memperlihatkan aura dominasi alami yang selalu melekat pada dirinya. Tanpa suara, Alex melingkarkan kedua lengannya dari belakang, memeluk pinggang Keisha erat-erat dan menyandarkan dagunya di atas bahu wanita itu.
"Kenapa belum tidur, Nyonya Ar-Rasyid?" bisik Alex parau, suaranya yang rendah dan hangat membelai indra pendengaran Keisha di tengah sunyinya malam Paris. "Besok pagi kita harus menghadiri jamuan makan malam resmi dengan para direktur asosiasi fesyen Prancis sebelum pembukaan butik lusa."
Keisha menyandarkan punggungnya pada dada bidang sang suami, menikmati detak jantung Alex yang berirama tenang di balik kemejanya. Ia tersenyum tipis, matanya menatap kerlap-kerlip lampu kota di luar sana.
"Aku hanya merasa takjub, Alexander," ucap Keisha pelan. "Jika ada seseorang yang memberitahuku beberapa tahun lalu bahwa aku akan berdiri di Paris sebagai pemilik butik internasional dengan dukungan penuh dari imperium Ar-Rasyid, aku pasti akan menertawakannya."
Alex mengecup lembut sisi leher istrinya, memberikan rasa aman yang selalu berhasil menenangkan setiap keraguan. "Itu karena kau tidak pernah melihat dirimu melalui mataku, Keisha. Kau selalu memiliki ketangguhan dan bakat luar biasa yang menunggu waktu yang tepat untuk meledak."
Alex memutar tubuh Keisha agar menghadapnya. Pria itu menatap manik mata cokelat istrinya dengan intensitas yang dalam. Jemari kokohnya menyelipkan sehelai rambut Keisha ke belakang telinganya. Namun, di balik tatapan penuh cinta itu, Keisha menangkap secercah kilatan kerutan di dahi suaminya—sebuah ekspresi serius yang sangat jarang diperlihatkan Alex saat mereka sedang berdua.
"Ada apa, Alex?" tanya Keisha langsung, insting tajamnya sebagai seorang wanita yang telah melewati berbagai badai langsung menangkap perubahan kecil itu. "Ada sesuatu yang mengganggumu sejak kita mendarat di bandara Charles de Gaulle kemarin, kan?"
Alex terdiam sejenak, menghela napas perlahan sebelum menjawab. Ia meraih tangan kiri Keisha, mengusap lembut jemari wanita itu. "Kau benar-benar tidak bisa dibohongi, ya."
Alex menatap lurus ke mata istrinya. "Tadi sore, sebelum kita kembali ke penthouse, tim keamanan privat kita di Jakarta mengirimkan laporan mendesak melalui jaringan terenkripsi. Ada pergerakan mencurigakan di sekitar aset properti sisa milik Victor Ar-Rasyid yang telah disita negara."
Keisha sedikit mengerjap, alisnya terangkat. "Sita negara? Bukankah pamanmu itu sudah dijatuhi hukuman penjara seumur atas kasus pengkhianatan dan korporat?"
"Benar," jawab Alex dingin. "Tapi Victor bukanlah tipikal orang yang akan menyerah begitu saja meskipun ia berada di balik jeruji besi. Jaringan gelap yang ia bangun selama puluhan tahun di Eropa ternyata memiliki beberapa sel tidur (sleeper cells) yang belum tersentuh oleh audit kita maupun interpol."
Alex mengepalkan rahangnya sesaat. "Laporan itu menyebutkan ada seseorang yang mencoba mengakses dokumen rahasia perusahaan kita melalui celah server cabang Eropa yang berpusat di Jenewa. Dan orang yang memimpin operasi rahasia itu menggunakan nama sandi yang sangat spesifik... nama yang pernah kita dengar di masa lalu."
Keisha menegang seketika. Sebuah nama melintas cepat di dalam ingatannya. "Jangan bilang... orang kepercayaan Victor yang dulu melarikan diri ke Swiss?"
"Tepat," konfirmasi Alex. "Marc Vance—bukan, maksudku Marc Laurent, tangan kanan Victor yang dulu merancang skema pemalsuan dokumen uji laboratorium di Jakarta. Rupanya, ia berhasil melarikan diri ke daratan Eropa sebelum penangkapan besar-besaran terjadi, dan sekarang ia mencoba memanfaatkan proyek ekspansi kita di Paris untuk melancarkan serangan balasan."
Alih-alih merasa takut atau panik, sudut bibir Keisha justru terangkat membentuk senyuman tipis yang penuh ketegasan. Ia meletakkan cangkir cokelat panasnya di atas meja konsol terdekat, lalu menangkup wajah tegas suaminya dengan kedua telapak tangannya.
"Alex," ucap Keisha dengan suara jernih dan penuh wibawa. "Kita tidak terbang ribuan mil dari Jakarta hanya untuk bersembunyi di balik dinding kaca penthouse mewah ini karena bayang-bayang seorang buronan yang ketakutan."
Alex menatap istrinya dengan sorot mata yang melunak, diisi oleh kekaguman yang begitu besar. "Kau tidak takut?"
"Takut?" Keisha terkekeh pelan, manik matanya memancarkan kilau keberanian baja. "Aku sudah menghadapi kakekmu yang kolot, intrik keluarga besar, ancaman pembunuhan karakter di media sosial, hingga skandal palsu di butikku sendiri. Apakah kau pikir aku akan gentar menghadapi tikus got seperti Marc Laurent yang bersembunyi di kegelapan Eropa?"
Alex akhirnya tersenyum lebar—sebuah senyuman langka yang membuat ketampanannya berkali-kali lipat lebih memukau. Ia merangkul pinggang Keisha semakin erat, menarik tubuh istrinya hingga tidak ada jarak di antara mereka.
"Kau benar, Nyonya Ar-Rasyid," bisik Alex penuh pemujaan. "Kita tidak perlu bersembunyi. Kita akan menyambut mereka di arena mereka sendiri, dan membuktikan sekali lagi mengapa nama Ar-Rasyid tidak pernah bisa dihancurkan oleh siapa pun."
Keesokan paginya, matahari musim gugur menyinari jalanan kota Paris dengan bias cahaya keemasan yang cantik. Di sebuah restoran privat mewah di kawasan Champs-Élysées, Alexander dan Keisha duduk berdampingan menghadapi meja makan panjang tempat para direktur asosiasi fesyen Prancis berkumpul.
Meskipun di balik permukaan yang tenang, jaringan keamanan internasional Ar-Rasyid Group telah bergerak senyap untuk memburu keberadaan Marc Laurent di seluruh penjuru Eropa, di hadapan para tamu undangan, Keisha tetap memancarkan keanggunan, pesona, dan kecerdasan luar biasa yang membuat seluruh tokoh penting mode Paris tertegun kagum.
Namun, di seberang jalan raya, dari balik kaca jendela mobil sedan hitam yang terparkir di bawah naungan pohon berdaun tembaga, sepasang mata mengawasi setiap gerak-gerik mereka dengan pandangan penuh kebencian dan dendam membara. Seorang pria berjas kelabu tua dengan luka bekas sayatan tipis di pipi kanannya mengepalkan tangan di atas setir kemudi.
Itu adalah Marc Laurent.
Ia mengangkat telepon genggamnya, menghubungi seseorang di ujung sambungan gelap, lalu berbisik tajam, "Target sudah berada di lokasi. Laksanakan rencana malam pembukaan butik lusa. Kita akan tunjukkan pada Alexander dan istri jalangnya arti kehancuran yang sesungguhnya di tanah Eropa."
Badai baru mungkin sedang merangkak mendekat di bawah langit Paris yang dingin, namun Alexander dan Keisha tidak lagi berjalan sendiri. Mereka berdiri sebagai satu kesatuan yang utuh—dua jiwa yang dipersatukan oleh takdir, cinta, dan kekuatan mutlak untuk menaklukkan setiap musuh yang berani menghalangi jalan mereka.