Indonesia
NovelToon NovelToon
Terikat Oleh Perjodohan

Terikat Oleh Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:914
Nilai: 5
Nama Author: saphal_tha

#history Romantic
by : Saphal_tha

Anna adalah istri yang tidak pernah Xavier inginkan… sekaligus kelemahan yang tak pernah ia sangka.

Kekayaan, kekuasaan, dan kecerdasan. Xavier Romanov memiliki segala sesuatu yang diimpikan banyak orang. Sebagai seorang CEO muda yang disegani, hidupnya nyaris sempurna, kecuali satu hal yang tidak pernah ingin ia miliki, seorang istri.

Pernikahan tidak pernah ada dalam rencana hidup Xavier, sampai sebuah ancaman pemerasan memaksanya bertunangan dengan wanita yang hampir tidak ia kenal.

Annastasia Clifford ahli waris perusahaan perhiasan sekaligus putri dari musuh terbarunya.

Tidak peduli seberapa cantik atau menawannya wanita itu, Xavier akan melakukan segala cara untuk memusnahkan bukti ancaman tersebut dan membatalkan pertunangan mereka.

Namun satu hal yang tidak pernah ia predeksi akan terjadi, sekarang setelah mendapatkan Anna... ia tidak sanggup melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saphal_tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Xavier

“Tidak, tapi yang jelas tata krama sosial tidak termasuk merusak makan malam yang menyenangkan dengan ketidaksopanan,” kata Anastasia dingin. “Anda seharusnya membeli sekantong tata krama yang baik agar sepadan dengan setelan jas Anda, Tuan Romanov. Sebagai CEO perusahaan barang mewah, Anda tentu tahu betul bagaimana satu aksesori jelek bisa merusak penampilan.”

Satu lagi senyuman tipis muncul di bibirku, kali ini sedikit lebih nyata.

Ternyata dia tidak semembosankan itu.

Namun, sisa-sisa rasa bahagiaku langsung padam menguap menjadi asap saat ibunya ikut campur dalam percakapan kami.

“Xavier, apakah benar semua anggota keluarga Romanov selalu menikah di vila keluarga yang ada di Danau Como? Kudengar renovasinya akan selesai musim panas mendatang, sebelum acara pernikahan kalian.”

Senyumku seketika sirna, otot-otot tubuhku menegang saat teringat hal itu.

Aku berpaling dari Anastasia untuk menatap ekspresi Cellianabyang antusias. “Ya,” kataku dengan nada suara singkat dan kaku. “Semua pernikahan keluarga Romanov selalu diselenggarakan di Villa Verinan sejak abad ke-18.”

Kakek buyutku yang terdahulu membangun vila itu dan menamainya sesuai dengan nama istrinya. Silsilah keluargaku dapat ditelusuri hingga ke Sisilia, tetapi mereka kemudian bermigrasi ke Venesia dan membangun kekayaan dari perdagangan tekstil mewah. Ketika masa kejayaan perdagangan Venesia berakhir, mereka telah melakukan diversifikasi bisnis yang cukup untuk mempertahankan kekayaan, yang kemudian digunakan untuk membeli aset properti di seluruh Eropa.

Kini, berabad-abad kemudian, kerabat modernku tersebar di seluruh dunia, New York, Roma, Swiss, Paris, tetapi Villa Varinan tetap menjadi aset keluarga yang paling dicintai. Aku lebih baik menenggelamkan diri di Laut Mediterania daripada menodai tempat itu dengan sebuah lelucon pernikahan sandiwara.

Kemarahanku kembali membakar dengan hebat.

“Luar biasa!” Celliana berbinar-binar. “Oh, aku sangat senang kamu akan segera menjadi bagian dari keluarga ini. Kamu dan Anastasia adalah pasangan yang sangat cocok. Kamu tahu, Anna menguasai enam bahasa, bisa bermain piano dan biola, dan.......”

“Permisi.” Aku mendorong kursiku ke belakang, memotong ucapan Celliana di tengah kalimat. Kaki kursi berdecit keras menghantam lantai, menghasilkan suara dengkingan yang memuaskan. “Aku harus ke toilet.”

Keheningan melingkupi ruangan akibat ketidaksopananku yang mengejutkan itu.

Tanpa menunggu siapa pun berbicara, aku melangkah keluar dan meninggalkan Jarvis yang mendidih menahan amarah, Celliana yang kebingungan, serta Annastasia yang wajahnya memerah menahan malu di ruang makan.

Kemarahanku masih membakar di bawah kulit, tetapi perlahan mendingin seiring langkah kakiku yang makin jauh dari mereka.

Di masa lalu, aku selalu membalas dendam pada siapa saja yang berani mengusikku secara langsung. Masa bodoh dengan kiasan dendam adalah hidangan yang paling nikmat disajikan saat dingin. Prinsipku selalu serang dengan cepat, serang dengan keras, dan serang tepat pada sasaran.

Dunia bergerak terlalu cepat bagiku untuk tidak ikut bergerak bersamanya. Aku membereskan masalah dengan cukup kejam untuk memastikan tidak ada masalah lagi di masa depan, lalu aku melangkah maju.

Menyelesaikan situasi dengan keluarga Clifford, sangat berbeda,ini membutuhkan kesabaran. Itu adalah kebajikan yang tidak kukenal, dan hal itu terasa menekan erat seperti setelan jas yang kesempitan.

Gema langkah kakiku memudar saat lantai marmer berganti menjadi karpet tebal. Aku sudah sering mengunjungi rumah-rumah mewah dengan tata letak serupa untuk menebak lokasi toilet, tetapi aku melewatinya dan memilih mengarahkan langkah ke pintu kayu mahoni kokoh di ujung koridor.

Putaran pada gagang pintu memperlihatkan sebuah ruang kerja yang dirancang menyerupai perpustakaan bergaya Inggris. Dinding berpanel kayu, perabotan kulit tebal, dan nuansa warna hijau hutan.

Ruang pribadi Jarvis.

Setidaknya tempat ini tidak terlalu dipenuhi ornamen emas yang norak seperti bagian rumah lainnya. Mataku sudah mulai sakit melihat pemandangan menyakitkan di rumah ini.

Aku membiarkan pintu terbuka dan berjalan menuju meja kerja tanpa terburu-buru. Jika Jarvis bermasalah dengan kegiatanku mengaduk-aduk ruang kerjanya, dia dipersilakan untuk mengonfrontasiku secara langsung.

Dia tidak sebodoh itu untuk meninggalkan foto-foto bukti di balik pintu yang tidak terkunci saat dia tahu aku akan berada di sini malam ini. Bahkan jika foto-fotonya ada di sini, dia pasti punya salinan cadangan yang disimpan di tempat lain.

Aku duduk di kursinya, mengambil sebuah cerutu Kuba dari kotak di dalam laci mejanya, lalu menyalakannya selagi mengamati sekeliling ruangan. Kemarahanku berganti menjadi perhitungan matematis.

Layar komputer yang gelap menggodaku, tetapi aku menyerahkan urusan meretas kepada Edgard, yang sudah mulai melacak salinan digital foto-foto tersebut.

Pandanganku beralih ke foto Jarvis dan keluarganya dalam bingkai saat berada di Hamptons. Risetku menunjukkan mereka memiliki rumah musim panas di Bridgehampton, dan aku berani bertaruh demi lukisan Renoir milikku yang baru bahwa dia menyimpan setidaknya satu set bukti di sana.

Di mana lagi kira-kira…

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

Asap cerutuku menutupi wajah Anastasia, tetapi rasa tidak sukanya terdengar sangat jelas dan tegas.

Cepat juga. Aku mengira butuh waktu setidaknya lima menit lagi sebelum orang tuanya menyuruhnya mengejarku. “Menikmati waktu istirahat sambil merokok.” Aku menarik napas dalam-dalam dari cerutu itu dengan santai.

Aku tidak menyentuh rokok biasa, tetapi sesekali aku menikmati Cohiba. Setidaknya Jarvis punya selera tembakau yang bagus.

“Di ruang kerja ayahku?”

“Jelas.” Kepuasan yang dingin memenuhi dadaku saat asap menipis dan memperlihatkan kerutan di dahi Annastasia.

Akhirnya. Emosi yang jujur terlihat juga.

Aku tadi sempat berpikir akan terjebak bersama sebuah robot selama sisa masa pertunangan konyol kami ini.

Dia melangkah melintasi ruangan, mengambil cerutu dari tanganku, dan menjatuhkannya ke dalam gelas air yang terisi setengah di atas meja tanpa mengalihkan pandangannya dariku.

“Aku paham kamu mungkin terbiasa melakukan apa pun yang kamu mau, tetapi sangat tidak sopan menyelinap pergi di tengah acara makan malam dan merokok di ruang kerja tuan rumahmu.” Ketegangan tercetak di fitur wajahnya yang anggun. “Tolong kembali ke ruang makan bersama kami. Makananmu makin dingin.”

“Itu masalahku, bukan masalahmu.” Aku bersandar. “Kenapa kamu tidak bergabung bersamaku untuk beristirahat sejenak? Aku janji ini akan jauh lebih menyenangkan daripada mendengarkan ibumu yang cemas meributkan susunan bunga.”

“Berdasarkan interaksi kita sejauh ini, aku sangat meragukannya,” jawabnya tajam.

Aku memperhatikan dengan geli saat dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dalam satu tarikan napas panjang yang terkontrol.

“Aku tidak mengerti kenapa kamu ada di sini,” kata Annastasia, suaranya kini terdengar lebih tenang. “Kamu jelas-jelas tidak bahagia dengan perjodohan ini, kamu tidak butuh uang atau relasi dari keluargaku, dan kamu bisa mendapatkan wanita mana pun yang kamu mau.”

“Masa?” kataku santai. “Bagaimana kalau aku menginginkanmu?”

Jari-jarinya mengepal longgar. “Kamu tidak menginginkanku.”

“Kamu terlalu meremehkan dirimu sendiri.” Aku berdiri dan mengitari meja sampai aku berdiri cukup dekat untuk melihat denyut nadi di lehernya yang bergetar. Seberapa cepat denyut itu berpacu jika aku melingkarkan rambutnya di tanganku dan menarik kepalanya ke belakang? Jika aku menciumnya sampai bibirnya memar dan menaikkan roknya sampai dia memohon agar aku menidurinya?

Rasa hangat mendadak mengalir ke selangkanganku.

Aku sebenarnya tidak tertarik untuk benar-benar menidurinya, tetapi penampilannya yang begitu alim dan sopan seolah memohon untuk dirusak.

Keheningan terasa begitu pekat saat aku mengangkat tangan dan menyapukan ibu jariku di atas bibir bawahnya. Napas Annastasia mendadak dangkal, tetapi dia tidak bergerak menjauh.

Dia menatapku dengan mata penuh perlawanan saat aku meluangkan waktu menikmati lengkungan bibirnya yang ranum. Bibir itu penuh, lembut, dan sangat menggoda dibandingkan dengan formalitas kaku dari sisa penampilannya yang lain.

“Kamu wanita yang cantik,” kataku santai. “Mungkin aku melihatmu di suatu acara dan begitu terpesona hingga meminta izin ayahmu untuk melamarmu.”

“Entah kenapa, aku ragu itu yang terjadi.” Hembusan napasnya menerpa kulitku. “Kesepakatan seperti apa yang kamu buat dengan Dadyku?”

Peringatan akan kesepakatan itu membunuh sensualitas momen tadi secepat kedatangannya.

Ibu jariku terhenti di tengah bibir bawahnya sebelum aku menurunkan tanganku diiringi umpatan tanpa suara. Kulitku terasa panas oleh ingatan akan kelembutannya.

Aku membenci Jarvis karena pemerasan itu, tetapi aku membenci Annastasia karena menjadi bidaknya. Jadi apa yang sedang kulakukan, mempermainkannya di ruang kerja ayahnya sendiri?

“Kamu harus menanyakan pertanyaan itu pada ayahmu tersayang.” Senyumku terkembang di wajahku, kejam dan tanpa rasa humor saat aku menguasai kembali ketenanganku. “Detailnya tidak penting. Ketahuilah bahwa jika aku punya pilihan lain, aku sama sekali tidak akan mau menikah. Tapi bisnis adalah bisnis, dan kamu…” Aku mengedikkan bahu. “Kamu hanyalah bagian dari kesepakatan itu.”

Annastasia tidak tahu mengenai manipulasi yang dilakukan ayahnya. Jarvis telah memperingatkanku untuk tidak memberitahunya, lagipula aku juga tidak akan memberitahunya. Makin sedikit orang yang tahu tentang pemerasan ini, makin baik.

Pria itu berhasil membongkar salah satu dari sedikit kelemahanku, dan aku tidak akan pernah menyiarkannya ke seluruh dunia.

Mata Annastasia berbinar penuh amarah. “Kamu benar-benar berengsek.”

“Ya, memang. Lebih baik kamu terbiasa dengan hal itu, mia cara, karena aku calon suamimu. Sekarang, permisi…” Aku merapikan jasku dengan cermat. “Aku harus kembali ke makan malam. Seperti yang kamu katakan tadi, makananku makin dingin.”

Aku berjalan melewatinya, menikmati rasa kekesalannya yang tersembunyi. Suatu hari nanti, dia akan mendapatkan keinginannya yang tak terucap dan terbangun dengan berita pembatalan pertunangan.

Sampai saat itu tiba, aku akan menunggu waktuku dan berpura-pura mengikuti permainannya karena ultimatum Jarvis sudah sangat jelas.

Menikahi Annastasia, atau saudaraku akan mati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!