Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PEWARIS TABIB SAKTI

SISTEM PEWARIS TABIB SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Suasana lobi utama Prameswari Group mendadak sunyi senyap bagaikan kuburan.

Ratusan pasang mata menatap ngeri ke arah pemuda berseragam kebersihan lusuh yang baru saja melontarkan hinaan telak kepada sang CEO.

Wajah Kiara Prameswari memerah padam hingga ke telinga menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya.

Selama hidupnya memimpin kerajaan bisnis ini, tidak ada satu pun pria yang berani menatap matanya apalagi menceramahinya di depan umum.

"Kau benar-benar sudah bosan hidup ya, Genta?" desis Kiara dengan suara rendah yang mengancam.

"Hanya karena kau kebetulan menekan leher Tuan Surya dan dia siuman, kau pikir kau sudah setara dengan dokter spesialis?"

Dokter Hendra yang sedari tadi mencari celah langsung melompat maju untuk memanaskan situasi.

"Benar sekali Nona Kiara, gembel ini hanya beruntung belaka!" seru Dokter Hendra sambil menunjuk wajah Genta.

"Tuan Surya tadi hanya mengalami serangan asma ringan yang kebetulan mereda dengan sendirinya."

"Tindakan asal-asalan pemuda ini murni kebetulan dan sangat berbahaya bagi standar keselamatan perusahaan kita!"

Mendengar pembelaan konyol itu, Genta hanya tersenyum miring dan memutar bola matanya malas.

Dia benar-benar muak melihat kelakuan dokter berjas putih yang rela berbohong demi menutupi kepengecutannya sendiri.

Sebelum Genta sempat membuka mulut untuk membalas, suara batuk keras terdengar dari arah sofa.

Tuan Surya yang wajahnya sudah kembali memerah kini berusaha duduk dibantu oleh beberapa karyawan pabrik.

"Tutup mulut busukmu itu, Dokter Hendra," ucap Tuan Surya dengan napas yang masih sedikit tersengal.

"Aku tahu persis apa yang terjadi pada tubuhku sendiri."

Semua orang di lobi langsung menoleh ke arah Kepala Peneliti Formula Obat tersebut.

Kiara segera melangkah mendekat dengan raut wajah khawatir yang tidak bisa disembunyikan.

"Tuan Surya, syukurlah Anda sudah sadar, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Kiara lembut.

"Nona Kiara, saya tidak terkena asma ringan seperti bualan dokter penipu itu," jawab Surya tegas.

"Saya secara tidak sengaja menghirup uap senyawa kimia X-7 di laboratorium saat ventilator mati mendadak."

"Racun itu langsung menyumbat jalur napas dan membekukan aliran darah saya dalam hitungan detik."

Surya menatap Dokter Hendra dengan tatapan penuh kebencian dan kekecewaan.

"Dan saat saya meregang nyawa di lobi ini, dokter yang digaji puluhan juta oleh perusahaan ini malah mundur ketakutan."

"Jika bukan karena pemuda berseragam kebersihan ini yang berani mengambil tindakan menekan titik saraf krusial saya, saya pasti sudah menjadi mayat sekarang."

Pernyataan dari korban langsung itu meluncur bagaikan godam besi yang menghantam wajah Dokter Hendra.

Wajah dokter arogan itu langsung pucat pasi seperti kertas, keringat dingin mengucur deras membasahi kerah kemejanya.

Para karyawan di sekelilingnya mulai berbisik-bisik dan menatap Dokter Hendra dengan penuh cibiran.

Kiara mematung di tempatnya, matanya bergerak bolak-balik menatap Tuan Surya dan Genta secara bergantian.

Fakta bahwa suami kontrak yang selalu dihinanya sebagai gembel udik ternyata benar-benar menyelamatkan nyawa aset penting perusahaannya sangat sulit dicerna oleh akal sehatnya.

Ego Kiara sebagai wanita penguasa terasa sedikit tergores, namun dia tidak punya pilihan lain selain menelan ludahnya sendiri.

"Dokter Hendra, apa kau punya penjelasan atas kepengecutanmu tadi?" tanya Kiara dengan nada suara yang kembali membeku.

Dokter Hendra gelagapan, otaknya berputar keras mencari alasan untuk menyelamatkan karirnya yang terancam hancur.

Dia kemudian menatap Genta dengan sorot mata penuh kebencian yang menyala-nyala.

"Nona Kiara, Tuan Surya pasti sedang linglung akibat efek racun sehingga dia salah menilai situasi!" bantah Dokter Hendra putus asa.

"Pemuda udik ini tidak mungkin mengerti ilmu medis, dia tidak punya ijazah kedokteran apalagi lisensi praktik!"

Dokter Hendra melangkah maju menantang Genta dengan dada dibusungkan.

"Hei gembel, kalau kau memang tabib sakti yang hebat, buktikan di depan kami semua sekarang juga!"

"Coba kau diagnosis penyakit apa yang sedang aku derita saat ini hanya dengan melihat wajahku!"

"Jika kau salah menebak atau asal bicara, kau harus bersujud menjilat sepatuku dan merangkak keluar dari gedung ini seperti anjing!"

Kerumunan karyawan langsung terkesiap mendengar tantangan gila yang dilontarkan oleh dokter kepala tersebut.

Mereka semua menahan napas, menunggu reaksi dari tukang pel misterius yang sejak tadi terus membuat kejutan.

Kiara mengerutkan keningnya, dia sebenarnya ingin menghentikan keributan konyol ini sekarang juga.

Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Kiara juga sangat penasaran ingin melihat apakah Genta benar-benar memiliki kemampuan atau murni hanya mengandalkan keberuntungan.

Genta tidak menjawab tantangan itu dengan amarah, dia justru tertawa pelan hingga bahunya bergetar.

"Kau benar-benar yakin ingin aku mendiagnosis kondisimu di depan semua bawahan dan atasanmu ini, Dokter Hendra?" tanya Genta memastikan.

"Jangan banyak alasan, gembel! Katakan saja kalau kau memang penipu bodoh yang kebetulan hoki!" teriak Hendra semakin arogan.

Genta menghela napas panjang seakan merasa kasihan pada orang bodoh di depannya.

Dia memusatkan pikirannya dan memberikan perintah singkat di dalam kepalanya.

[Mata Surgawi Level 1 diaktifkan.]

[Memindai target: Hendra.]

[Status target: Kerusakan organ dalam stadium lanjut, infeksi bakteri akut.]

Seketika, pandangan mata Genta berubah warna menjadi kebiruan, menembus jas putih mahal dan kemeja yang dikenakan oleh Dokter Hendra.

Genta bisa melihat jelas ada gumpalan hitam pekat yang menyelimuti area ginjal kiri dokter tersebut.

Tidak hanya itu, Genta juga melihat adanya pembengkakan merah menjijikkan yang bersarang di area saluran kemih bagian bawah sang dokter.

Genta menyeringai sinis, tatapannya kini berubah menjadi sangat meremehkan seolah menatap sampah masyarakat.

"Baiklah kalau kau memaksa ingin dipermalukan, dengarkan baik-baik ya dokter gadungan," ucap Genta dengan suara lantang.

"Ginjal kirimu saat ini sudah mengalami nekrosis atau pembusukan jaringan tahap awal."

"Itu karena kau terlalu sering dan berlebihan menelan pil obat kuat murah dari pasar gelap untuk menutupi kelemahan fatal pria paruh bayamu."

Mata Dokter Hendra langsung terbelalak lebar, mulutnya menganga tak percaya mendengar rahasia tergelapnya dibongkar begitu saja.

Semua karyawan yang menonton langsung menahan tawa, beberapa bahkan terang-terangan menutup mulut mereka karena terkejut.

Kiara yang mendengarnya langsung memalingkan wajah dengan raut jijik yang tak tertahankan.

Namun Genta belum selesai, dia melangkah satu tindak lebih dekat ke arah Dokter Hendra yang mulai gemetar.

"Bukan cuma itu saja, kau juga menyembunyikan infeksi menular berbau busuk di area selangkanganmu."

"Itu adalah hasil dari hobimu yang sering bermain kotor di kelab malam pinggiran setiap akhir pekan, bukan begitu?"

Wajah Dokter Hendra kini tidak lagi pucat, melainkan berubah ungu karena rasa malu yang luar biasa menghantam mentalnya.

"Omong kosong! Kau memfitnahku! Ini pencemaran nama baik!" jerit Dokter Hendra histeris seperti orang gila.

"Nona Kiara, jangan dengarkan bualan orang gila ini, dia sengaja mengarang cerita untuk menjatuhkan saya!"

Genta hanya mengangkat bahunya santai merespons jeritan panik tersebut.

"Kalau kau merasa aku berbohong, coba kau tekan kuat titik dua inci di bawah tulang rusuk kirimu sekarang juga," tantang Genta dingin.

"Itu adalah titik saraf penghubung utama ke ginjal kirimu yang sudah rusak parah itu."

Dokter Hendra menelan ludah, tangannya bergetar hebat menolak untuk melakukan perintah itu.

Namun rasa panik dan tekanan dari ratusan pasang mata yang menatapnya menuntut pembuktian membuatnya kehilangan akal sehat.

Tanpa sadar, Dokter Hendra mengangkat tangannya dan menekan titik yang disebutkan Genta dengan jari telunjuknya.

Detik itu juga, jeritan melengking seperti babi yang disembelih meledak dari mulut Dokter Hendra.

"Arrrggghhh!"

Tubuh dokter tambun itu langsung ambruk ke lantai marmer dengan sangat keras.

Dia berguling-guling memegangi perut kirinya sambil menangis meraung-raung menahan rasa sakit yang seakan merobek organ dalamnya.

Saking tidak tahannya menahan rasa sakit di titik saraf tersebut, Dokter Hendra tanpa sadar mengompol di celananya sendiri.

Cairan kuning berbau pesing langsung menyebar mengotori lantai lobi yang baru saja dipel bersih oleh Genta.

Melihat pemandangan menjijikkan itu, seluruh kerumunan langsung mundur beberapa langkah sambil menutup hidung mereka.

Pembuktian instan itu sangat telak, brutal, dan meruntuhkan sisa-sisa harga diri Dokter Hendra tak tersisa sedikitpun.

Fakta bahwa seorang tukang pel lusuh bisa menebak penyakit kronis hanya dengan sekali pandang benar-benar membuat otak para penonton meledak.

Kiara memijat pangkal hidungnya, merasa sangat pusing dan malu memiliki dokter kepala dengan kelakuan serendah ini di perusahaannya.

"Panggil pihak keamanan sekarang juga," perintah Kiara dengan suara dingin yang menusuk tulang.

"Seret manusia menjijikkan ini keluar dari gedungku, dan pastikan surat pemecatan tidak hormatnya terbit dalam lima menit ke depan."

Beberapa satpam bertubuh kekar langsung berlari masuk dan menyeret Dokter Hendra yang masih menangis kesakitan keluar dari pintu utama lobi.

Tidak ada satu pun orang yang merasa kasihan pada dokter arogan tersebut, mereka semua merasa tamparan fakta dari Genta tadi sangat memuaskan.

Setelah suasana lobi kembali sedikit terkendali, Kiara perlahan menoleh menatap Genta.

Sorot matanya kini jauh lebih rumit, perpaduan antara rasa gengsi yang tinggi dan rasa takjub yang berusaha keras dia sembunyikan.

"Dari mana kau belajar mengenali gejala penyakit secepat itu?" tanya Kiara penuh selidik.

Genta membalas tatapan istrinya itu dengan raut wajah datar tanpa ekspresi berlebihan.

"Aku dibesarkan di gunung bersama tanaman herbal dan buku pengobatan kuno sejak aku baru bisa merangkak, Nona."

"Ilmu yang kau anggap sihir atau kebetulan itu, adalah makanan sehari-hariku."

Genta kemudian membungkukkan badannya dan mengambil kembali gagang pel besinya yang bersandar di dinding.

"Kalau Nona Kiara sudah selesai menonton pertunjukan ini, saya izin melanjutkan pekerjaan saya."

"Lantai ini baru saja dikotori oleh air kencing anjing penjaga Anda, dan gajiku akan dipotong jika aku tidak segera mengepelnya sampai mengkilap."

Tanpa menunggu persetujuan atau balasan dari Kiara, Genta langsung berbalik dan mulai mengepel genangan pesing itu dengan sangat santai.

Dia sama sekali tidak meminta imbalan, tidak menuntut kenaikan jabatan, dan bahkan tidak berusaha mencari muka di depan CEO yang merupakan istrinya sendiri.

Sikap Genta yang acuh tak acuh itu justru membuat Kiara semakin penasaran dan merasa seolah ada pukulan tak kasat mata yang menghantam egonya.

"Pemuda udik ini... sebenarnya siapa dia?" batin Kiara menggigit bibir bawahnya menatap punggung Genta yang menjauh.

Sementara itu, senyum tipis kepuasan mengembang di wajah Genta saat dia sibuk mendorong alat pelnya.

[Ding!]

[Misi darurat berhasil diselesaikan. Reputasi Master mulai terbentuk.]

[Sistem sedang memproses hadiah tambahan dari pembuktian medis...]

Suara mekanis di kepalanya menjadi musik paling indah yang menandai awal mula kebangkitan mutlaknya di kota ini.

1
yani
💕💞💕
pricilia
🥰🥰
Anton barly
🥰🥰🥳🥳
fitri
/Gift//Gift//Gift//Gift//Gift/
Antoni gergio
💞💞💞💞💞
Angel
🌹🌹🌹🥰🥰🥰
Shinta geol
❤❤❤❤
clara
andai di dunia nyata ada🥹
Jamrud Khatulistiwa
sistem sangat pelit, setiap misi tdk sda hadiah
Jamrud Khatulistiwa
sistim tdk pernah memberi tahu hadiah yg diberikan
Jamrud Khatulistiwa
murid orang sakti mendapat sistem
Gege
katanya diawal sudah belajar banyak di gunung Rinjani.. nyatanya masih bergantung sama sistem...tapi gpp biar lebih op laah MC nyaaaah .pesen 10 hareem yaa Thor...jangan lembek..🤭
Cherlly: iya kaka,judul nya aja sistem kaka,next crita ya kaka saya lagi mikir lgi biar menarik 😊😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!