Indonesia
NovelToon NovelToon
Hutang Harta Berujung Cinta

Hutang Harta Berujung Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Bad Boy
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Ia dijodohkan dengan anak orang kaya di kampungnya. Pria lumpuh dengan latar belakang yang tak enak di dengar. Anak tunggal dari orang terkaya di kampung itu. Cap play boy yang suka mempermainkan wanita melekat sangat kuat di nama si cowok.

Namun, Aulia tetap menerima pernikahan itu karena hutang ayahnya yang besar. Iya. Singkatnya, pernikahan itu karena hutang keluarga yang besar, yang tidak bisa ayahnya kembalikan.

Namun, siapa sangka kalau hidup akan berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode *13

"Apa?" Lia berucap dengan wajah serius.

"Perhatian." Zihan berucap enteng.

"Perhatian?" Lia dengan wajah bingung pun menatap lekat wajah Zihan yang masih mempertahankan senyum kecil di bibirnya.

"Maksud Kak Zihan perhatian apa?" Lia yang tidak mendapat jawaban pun kembali mengucapkan pertanyaan yang sebelumnya ia tanyakan.

Bukannya menjawab langsung. Zihan malah kembali mengukir senyum lebar. "Ya Tuhan, Lia. Wajah kamu itu kok bisa seserius itu menanggapi apa yang aku katakan. Aku hanya bercanda aja kok. Habisnya, kamu setiap hari sibuk dengan kegiatanmu mengurus taman. Aku .... "

"Tunggu deh." Lia dengan cepat berucap sambil mendekat beberapa langkah ke Zihan. "Kak Zihan bilang aku setiap hari sibuk dengan kegiatan mengurus taman? Bukannya Kak Zihan juga setiap saat selalu sibuk dengan pekerjaan Kakak? Sibuk sama ponsel, juga sibuk sama laptop. Kalau aku .... "

"Kamu cemburu ya .... " Zihan malah menggoda Lia dengan memotong ucapan Lia tanpa menunggu Lia selesai mengatakan apa yang ingin ia katakan terlebih dahulu.

"Eh! Cemburu apanya? Aku hanya tidak mau dituduh sendirian aja kok. Karena yang sibuk itu bukan cuma aku doang. Kak Zihan juga, bukan?"

Zihan yang mendengar ucapan dengan nada gugup itu malah tersenyum lebar. Entah kenapa, wajah itu terlihat sangat lucu di mata Zihan. Sudah lama ia menahan diri untuk dekat dengan Lia sejak kejadian waktu itu. Tepatnya, sejak kecewa akan harapan Lia yang ia harapkan cemburu karena ia dekat dengan perempuan lain.

Kini, rasa ingin selalu dekat itu tidak bisa ia tahan lagi. Karena itulah, ia yang langsung mengorbankan egonya untuk menghampiri Lia terlebih dahulu. Dan, ternyata itu sangat membahagiakan buat Zihan. Mengorbankan rasa egois sangat sebanding dengan kebahagiaan yang ia rasakan saat ini.

Karena itu pula lah, Zihan bertekad jika ia akan selalu mengesampingkan rasa ego yang selama ini besar hanya untuk selalu bersama dengan Lia. Dengan kata lain, perlahan ia menginginkan Lia untuk tetap dia miliki walau bagaimanapun caranya.

"Mm ... Kak Zihan kok malah tersenyum sih? Apa yang Kakak pikirkan?"

Ucapan Lia membuyarkan lamunan Zihan. Dia yang ketahuan diam sambil menatap Lia pun langsung menyembunyikan rona merah wajahnya akibat malu.

"Aku ... tidak ada apa-apa kok. Oh iya, aku bawakan kamu minuman nih. Duduk di kursi dulu yuk," ucap Zihan berusaha menenangkan hatinya sendiri dengan mengalihkan pokok pembicaraan sebisa mungkin.

"Eh, sejak kapan Kak Zihan bawa minuman itu?" Lia berucap sambil melihat ke arah minuman yang ada di atas meja taman.

"He he ... bukan aku yang bawakan. Mbok Yah yang mengantarkannya tadi."

"Mbok Yah? Kapan Mbok Yah datang? Kenapa aku tidak lihat ia sama sekali?"

"Mbok datang bareng aku, Lia. Kamu tidak lihat karena terlalu fokus sama tanaman kesayangan kamu itu. Lagian, aku sengaja minta Mbok jangan terlalu berisik. Karena ... mm ... aku ingin bicara berdua aja sama kamu sekarang."

Lia pun langsung menatap lekat Zihan. "Bicara ... berdua aja? Mau bicara apa?"

"Banyak. Ayo duduk dulu!"

Tanpa berucap, Lia pun langsung mengikuti apa yang Zihan katakan. Mereka pun duduk berhadapan di kursi taman yang ada di bawah pohon hias yang rindang dan terawat.

Angin sepoi menerpa menambah suasana sejuk yang tercipta di antara keduanya. Selama beberapa saat, keduanya saling diam sambil menikmati minuman masing-masing. Hingga pada akhirnya, Zihan membuka obrolan di antara mereka lagi.

"Lia, apakah ada yang ingin kamu katakan padaku sekarang?"

Dengan tatapan lekat, Lia pun menatap lurus ke arah Zihan. "Tidak ada," ucap Lia sambil menggelengkan kepalanya pelan.

"Kalau begitu, biar aku yang bercerita tentang kehidupan masa lalu yang sebelumnya aku lalui. Tepatnya, sebelum aku menderita lumpuh seperti ini."

"Lia, aku yakin kamu tahu dan pernah mendengar semua kisah hidupku yang sangat buruk sebelum kita menikah, bukan? Mustahil jika tidak pernah mendengar. Karena aku adalah bahan gosip terhangat bagi ibu-ibu di kampung."

Ucapan itu membuat Lia memberikan tatapan serius ke arah Zihan. "Kak ... Zihan tahu akan gosip buruk tentang Kakak di kampung? Bagaimana mungkin? Bukannya ... Kak Zihan tinggal di kota, sedangkan ibu-ibu yang bergosip itu tempatnya di kampung kita."

Ya, Lia cukup kaget dengan apa yang baru saja Zihan katakan. Karena sebelumnya, ia pikir Zihan tidak tahu kalau selama ini, ia sering dijadikan bahan omongan para ibu-ibu saat mereka bersama. Karena itu, saat Zihan mengatakan hal tersebut, tentu saja Lia jadi cukup kaget.

Sementara Zihan, dia malah tersenyum lebar kembali. "Lia, jangan lupa akan satu hal. Ayahku ada di kampung. Dia juga orang terpandang di kampung bukan? Jadi, sebatas informasi yang beredar, itu sangat gampang untuk aku dapatkan."

"Ayah Kak Zihan tahu? Tapi kenapa dia tidak pernah melakukan apapun pada ibu-ibu yang bergosip? Seakan, dia tidak pernah mendengar gosip itu sama sekali. Dia tidak marah atau kesal pada ibu-ibu yang bermulut jelek itu."

Kini, ucapan Lia barusan bukan hanya membuat Zihan tersenyum. Tapi, langsung membuat Zihan terkekeh karena ucapan itu sangat menggelitik hatinya.

"He he he .... Kamu berharap Ayah melakukan apa, Lia? Apakah Ayah harus membungkam mulut para ibu-ibu yang sudah bergosip itu? Atau ... apa?"

Lia malah menatap kesal ke arah Zihan yang masih tertawa. Karena dia yang serius bicara, malah Zihan tanggapi dengan candaan juga cemoohan.

Namun, Lia memilih bungkam sekarang. Ia yang kesal, tidak ingin menambah kesal hatinya dengan menjawab apa yang Zihan katakan barusan.

Zihan yang melihat Lia diam, kini langsung menghentikan tawanya. Ia pun langsung memasang wajah serius karena ia tahu, Lia tidak suka dengan apa yang ia lakukan barusan.

"Maaf, Lia. Aku sudah bikin kamu kesal. Tapi, wajah kamu yang barusan itu sangat lucu, tahu tidak? Masa iya Ayah harus melakukan sesuatu untuk gosip buruk tentang aku. Karena gosip itu benar adanya."

Ekspresi wajah Lia pun semakin menunjukkan rasa tidak enak untuk dilihat. Zihan tahu kalau Lia sedang kesal atau bahkan tidak suka padanya saat ini. Tapi ia ingin berterus terang pada Lia sekarang.

Kali ini, Zihan ingin jujur pada Lia. Dia tahu, masa lalunya yang buruk mungkin akan mempengaruhi hubungannya dengan Lia. Tapi, jujur lebih baik dari pada diam tanpa menjelaskan apapun.

Meskipun Lia mungkin tidak akan bisa menerima dia dengan baik. Tapi setidaknya, dia sudah menunjukkan kalau dia bisa berubah meskipun sudah terlambat. Tapi, itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.

1
sunaryati jarum
Sadar diri namanya buruk,takut jika usahanya tidak dilirik masyarakatnya karena citramu buruk.Cerdik juga.
sunaryati jarum
Baru mampir
Green_Rose: yuhu... moga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!