Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Awal Pencarian
Beberapa hari setelah sidang berakhir, kehidupan di Kota Perhimpunan Pengrajin perlahan kembali normal, meski nama Ji Ming kini dikenal luas—bukan lagi sebagai buronan yang harus ditakuti, melainkan sebagai pemuda yang berhasil membongkar konspirasi tiga puluh tahun dan membuka kembali sejarah yang selama ini disembunyikan.
Mereka berkumpul di kediaman sementara Nyonya Rui untuk membahas langkah selanjutnya, peta besar Su Han—yang kini telah diperbarui dengan catatan tambahan dari Tetua Feng—tergelar di meja tengah ruangan.
"Kalau kita ingin mencari pengukir jiwa lain yang masih bersembunyi," Su Mei berkata, jarinya menelusuri beberapa titik yang ditandai di peta, "kita perlu tanda pengenal yang dulu kami gunakan untuk saling mengenali secara diam-diam setelah pemusnahan—simbol sederhana, sebuah ukiran kecil berbentuk bulan sabit dengan tiga titik di bawahnya, biasa disembunyikan di benda sehari-hari yang tak akan menarik perhatian orang awam."
Tetua Feng mengangguk. "Aku pernah mendengar rumor tentang simbol itu muncul di beberapa kota selama bertahun-tahun terakhir—tanda bahwa mungkin ada lebih banyak dari kami yang bertahan hidup dibanding yang kukira selama menyendiri di lembah."
Sebuah ketukan pintu menginterupsi diskusi mereka, dan begitu Old Bo membuka pintu, semua orang terkejut melihat sosok yang berdiri di ambang—Han Lie, kali ini tanpa jubah gelap seorang pemburu bayaran, melainkan pakaian sederhana seorang pengembara biasa.
"Aku dengar kalian akan memulai pencarian baru," Han Lie berkata, sedikit canggung berdiri di hadapan orang-orang yang pernah menjadi targetnya. "Aku ingin menawarkan diri untuk membantu—melacak orang adalah keahlianku, dan aku pikir sudah waktunya aku menggunakan keahlian itu untuk sesuatu yang benar-benar berarti, bukan sekadar bayaran."
Yun Xia menatapnya dengan campuran keraguan dan penghargaan yang perlahan mereda menjadi penerimaan. "Kau sudah membuktikan dirimu di Aula Utama. Aku pikir kami bisa mempercayaimu."
Ji Ming mengangguk setuju, mengingat betapa besar peran Han Lie dalam menyelamatkan mereka dari tuduhan palsu. "Kami akan senang punya bantuanmu, Han Lie."
Dengan Han Lie kini resmi bergabung dalam rombongan, mereka mulai menyusun rencana pencarian yang lebih sistematis—menggunakan jaringan kontak Han Lie di kalangan pemburu bayaran dan pedagang untuk mengumpulkan rumor tentang simbol bulan sabit tiga titik, sementara Nyonya Rui menawarkan akses ke jaringan guild yang tersebar di seluruh benua untuk membantu pencarian.
Setelah tiga hari mengumpulkan informasi, sebuah petunjuk menarik perhatian mereka—laporan dari seorang pedagang keliling tentang seorang pandai besi tua di kota pesisir jauh di timur, yang katanya selalu mengukir simbol aneh berbentuk bulan sabit di setiap karyanya, sebuah kebiasaan yang dianggap pelanggan sebagai tanda tangan unik sang pengrajin, bukan sesuatu yang lebih dalam.
"Kota Pelabuhan Cahaya Timur," Su Mei membaca nama itu dari laporan, matanya berkilat penuh harap. "Aku tidak pernah dengar nama pengukir jiwa yang cocok dengan deskripsi itu, tapi tiga puluh tahun adalah waktu yang panjang untuk seseorang membangun identitas baru sepenuhnya."
"Berapa jauh dari sini?" Ji Ming bertanya, sudah merasakan semangat petualangan baru yang menggantikan ketegangan pelarian yang selama ini mewarnai perjalanan mereka.
"Dua minggu perjalanan, mungkin kurang kalau kita menggunakan jalur kapal dagang di sepanjang pesisir," Han Lie menjawab, sudah mulai menghitung rute tercepat dengan naluri seorang pelacak berpengalaman.
Tetua Feng, yang memilih untuk sementara tinggal di Kota Perhimpunan membantu proses rehabilitasi resmi para pengukir jiwa bersama Dewan Aliansi, menatap mereka dengan senyum penuh kebanggaan saat mereka bersiap untuk keberangkatan baru.
"Kalian membawa sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pencarian orang hilang," katanya, menyerahkan salinan terakhir catatan simbol pengenal kepada Ji Ming. "Kalian membawa harapan bahwa tak seorang pun dari kami harus terus hidup dalam bayang-bayang ketakutan yang sama seperti yang kami alami selama ini."
Ji Ming menerima catatan itu dengan hormat, menatap Xiao Mu dan Xiao Yu yang tampak sama bersemangatnya menghadapi petualangan baru ini.
"Kita akan menemukan mereka semua," ia berjanji, suaranya penuh tekad yang telah tumbuh jauh sejak hari ia pertama kali melarikan diri dari Puncak Elang Hitam sebagai buronan ketakutan. "Satu per satu, sampai seni ini benar-benar hidup kembali seperti seharusnya."
Rombongan yang kini bertambah dengan kehadiran Han Lie—Ji Ming, Su Mei, Yun Xia, Old Bo, dan Han Lie, ditemani Xiao Mu dan Xiao Yu—meninggalkan Kota Perhimpunan Pengrajin menuju pelabuhan.