Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gawat, Pak Reyhan Ngambek!
Malam telah telah menyambut saat mobil SUV hitam milik Reyhan memasuki area garasi rumah dua lantai itu. Suara deru mesin yang mati meninggalkan sunyi yang mendadak terasa pekat.
Reyhan melepas sabuk pengaman, namun jemarinya masih bertahan di atas kemudi untuk beberapa saat. Di balik kacamata berbingkai tipisnya, tatapan pria itu lurus menatap tembok abu-abu garasi.
Rekaman kejadian sore tadi di aula FSD kembali berputar tanpa henti di kepalanya, tawa riang Nadhira, pelukan spontan yang diberikan pria bernama Rangga Dewa Kusuma itu, serta kalimat percaya diri sang mantan yang mengklaim masa lalu mereka.
Sebagai seorang dosen dan akademisi, Reyhan selalu bangga pada kemampuannya mengendalikan emosi dengan logika rasional. Namun malam ini, ada rasa sesak asing yang mengganggu dadanya. Bukan hanya amarah karena hak kepemilikannya diusik, melainkan ada semacam keraguan yang jarang ia rasakan.
Bagaimana jika Nadhira sebenarnya memang masih menyimpan rasa untuk mantan kekasihnya itu? Bagaimanapun, pernikahan mereka hanyalah sebuah ikatan formalitas tanpa dasar cinta dari sisi gadis itu.
Reyhan mengembuskan napas pendek, membawa tas kerja serta map kurasinya, lalu keluar dari mobil. Hari ini dia memang pulang lebih terlambat dari biasanya karena urusan pameran besok, sementara Nadhira sudah pulang duluan.
Begitu pintu utama rumah terbuka, aroma harum masakan rumahan langsung menyapa penciumannya. Dari arah dapur, Nadhira muncul sambil membawa mangkuk sup panas.
Gadis itu mengenakan kaus oblong kebesaran berwarna abu-abu dan celana kain santai, rambut panjangnya dicepol asal ke atas, gaya khasnya setiap kali berada di rumah.
"Eh, Pak Reyhan udah pulang!" sapa Nadhira.
Reyhan hanya menanggapi dengan gumanan pendek. "Hm."
"Ini saya lagi bereksperimen buat sup ayam Pak, belajar resep dari medsos," sambung Nadhira semangat.
Pria itu melangkah kaku menuju meja makan, meletakkan tas kerjanya di salah satu kursi, lalu melepaskan jam tangan serta kacamatanya untuk dibersihkan dengan kain khusus.
Wajahnya datar, dingin, dan benar-benar tertutup rapat. Tidak ada teguran rutin soal kecerobohan Nadhira, tidak ada pertanyaan tentang persiapan pameran besok. Hanya keheningan yang menyelimuti.
Nadhira yang berdiri di dekat meja makan langsung bisa merasakan atmosfer yang tak biasa itu.
"Aduh, mampus gue. Pak Dosen ngambek parah," batin Nadhira meratapi nasib.
Sejak perjalanan pulang tadi, Nadhira memang sudah kepikiran. Ia tahu betul Reyhan menyukai ketertiban dan ketegasan, dan insiden pelukan dadakan dari Rangga di depan umum tadi sore pasti mencoreng harga diri pria itu sebagai suami, walaupun status mereka masih disembunyikan dari dunia luar.
Lebih dari itu, Nadhira tidak mau Reyhan berpikiran yang tidak-tidak. Bagi Nadhira, Reyhan adalah sosok suami yang sangat ia hormati.
Pria itu sudah menyelamatkan mukanya dari insiden maket, membentenginya dari perundungan Siska, dan memberinya tempat tinggal yang aman.
Nadhira tidak ingin hubungan kerja sama mereka yang makin membaik ini rusak gara-gara kemunculan Rangga yang tiba-tiba.
"Pak Reyhan mau makan malam dulu atau mandi dulu?" tanya Nadhira membuka percakapan sambil menyodorkan segelas air putih hangat.
"Mandi dulu," jawab Reyhan singkat, bahkan tanpa menatap mata Nadhira. Ia mengambil gelas itu, meminumnya sedikit, lalu berbalik melangkah menuju kamarnya.
Nadhira menghela napas panjang, menepuk dahi pelan. "Aduh, dingin banget kayak es batu di dalam kulkas. Harus dipancing pakai cara apa nih biar nggak ngambek lagi?"
Dua puluh menit kemudian, Reyhan keluar dari kamar dengan pakaian santainya, celana kaus panjang hitam dan kaus polos berwarna senada.
Pria itu berjalan menuju ruang kerja pribadi di samping ruang tamu, berniat mengurung diri bersama tumpukan berkas ketimbang duduk berdua dengan Nadhira di meja makan.
Melihat pergerakan tersebut, Nadhira tidak tinggal diam. Ia segera menyusun strategi konyolnya.
Dengan membawa senampan mangkuk sup ayam hangat dan sepiring nasi, Nadhira membuntut di belakang langkah Reyhan.
Begitu Reyhan hendak menutup pintu ruang kerja, ujung kaki Nadhira yang mengenakan kaus kaki tebal bermotif kepala kucing langsung diganjalkan di sela pintu.
Glek.
Reyhan menunduk, menatap kaki berkepala kucing di pintu, lalu menatap Nadhira yang menyengir lebar di depannya.
"Ada apa, Nadhira?" tanya Reyhan, suaranya sedingin es di Kutub Utara.
"Makan malamnya saya bawain ke sini aja ya, Pak! Soalnya kalau makan di meja makan sendirian, berasa lagi uji nyali di rumah hantu," cerocos Nadhira tanpa rasa bersalah, meloloskan tubuhnya masuk ke dalam ruang kerja Reyhan sebelum diusir.
Ia memaksa masuk, menaruh nampan di sudut meja kerja kayu jati milik Reyhan, lalu mendudukkan dirinya secara tidak sopan di atas sofa empuk di samping meja kerja.
Reyhan menghela napas panjang, ia mengelus pangkal hidungnya. "Saya belum lapar. Kamu bisa makan sendiri di luar."
"Nggak bisa, Pak. Peraturan tidak tertulis rumah ini kan bilang kalau jam makan malam harus makan bareng. Nanti saya dikira melanggar dari kesepakatan," sanggah Nadhira.
Reyhan menatap gadis di depannya dengan pandangan menilai. "Sejak kapan ada peraturan seperti itu?"
"Sejak lima menit yang lalu, pas saya buat peraturannya," sahut Nadhira santai seraya menepuk-nepuk busa sofa di sebelahnya.
"Ayo duduk sini, Pak. Supnya masih hangat lho. Kalau dingin nanti rasanya kayak sikap Pak Reyhan malam ini, gak enak dingin."
Reyhan memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa-sisa kesabarannya menghadapi kelakuan ajaib mahasiswi yang juga berstatus istrinya ini.
Namun melihat Nadhira yang pantang menyerah dan sejujurnya bau gurih sup itu cukup menggoda perutnya yang kosong, Reyhan akhirnya melangkah mendatangi sofa dan duduk di sisi lain, mengambil jarak aman dari Nadhira.
Nadhira tersenyum puas. Ia menyodorkan sendok ke tangan Reyhan.
Reyhan menerima sendok itu, mulai memakan supnya dalam diam yang panjang. Setiap kali Reyhan menyendok kuah, Nadhira memperhatikannya dengan lekat, membuat Reyhan merasa tidak nyaman.
"Kalau kamu mau bicara, bicara saja. Jangan menatap saya seperti itu," tegur Reyhan, ia meletakkan sendoknya kembali ke mangkuk.
Nadhira tertawa kecil, membetulkan posisi duduknya menjadi bersila di atas sofa, menghadap penuh ke arah Reyhan.
"Tuh kan! Pak Reyhan tuh sebenarnya lagi kesel kan gara-gara kejadian tadi sore di aula?" tebak Nadhira blak-blakan tanpa ragu.
Reyhan terdiam seketika. Jemarinya yang menempel di lutut mengetat kaku. "Saya hanya menegakkan profesionalisme di lingkungan kampus."
"Halah, profesionalisme apaan. Muka Pak Reyhan tadi sore tuh udah kayak mau nelen Si Rangga bulat-bulat tau gak!" cerocos Nadhira heboh, memeragakan ekspresi melotot Reyhan sore tadi yang malah terlihat konyol.
"Pak, saya jujur ya... demi apa pun, saya tadi sore itu kaget banget. Saya gak tahu sama sekali kalau Si Rangga itu yang jadi sponsor acara kita. Beneran deh, sumpah demi apapun!" ucap Nadhira sembari mengangkat dua jarinya.
Reyhan menyipitkan matanya di balik kacamata. "Dia mantan pacar kamu. Dan dari caranya bicara, dia merasa masih memiliki hak atas diri kamu."
Nadhira menepuk pahanya sendiri karena gemas. "Ya itu kan pikiran dia yang belum move on, Pak! Bukan pikiran saya, Rangga tuh emang dari zaman SMA gaya bicaranya kelewat percaya diri begitu. Pas dia mutusin buat kuliah ke luar negeri empat tahun lalu, hubungan kita tuh udah clear alias tamat, garis keras!" jelas Nadhira panjang lebar.
"Tapi dia memeluk kamu," potong Reyhan cepat, suaranya merendah, menekankan poin yang paling mengganggu pikirannya sejak sore.
Nadhira meringis pelan, merasa bersalah. "Ya itu kan reflex dia, Pak. Saya mana sempat mengelak, orang dia maen nyosor aja kayak bebek! Tapi kan Pak Reyhan lihat sendiri, saya langsung dorong dia mundur. Saya juga risih kali dipeluk-peluk di depan umum begitu, apalagi di depan dosen galak saya."
Reyhan tidak menanggapi godaan Nadhira. Sorot matanya masih sangat tajam. "Kamu tidak perlu berbohong atau merasa tertekan hanya karena status pernikahan kita, Nadhira. Jika kamu sebenarnya masih menyimpan perasaan untuk dia-"
"Eh, eh! Tahan dulu, Pak Dosen!" sela Nadhira cepat sambil merentangkan kedua tangannya membentuk tanda silang di depan dada. "Jangan mulai nulis skenario drama picisan sendiri deh. Siapa juga yang masih ada rasa sama dia? Males banget."
"Pak Reyhan, dengarin saya baik-baik ya," ujar Nadhira pelan.
"Saya sama Rangga itu udah masa lalu. Masa SMA yang udah basi. Waktu dia memilih pergi ke luar negeri dan ninggalin saya tanpa kepastian, rasa suka saya ke dia tuh udah habis, menguap gak berbekas."
Reyhan menatap mata bulat Nadhira, mencari kejujuran di sana. "Lalu kenapa kamu kelihatan panik tadi sore?"
"Ya panik lah, Pak! Panik bukan karena baper, tapi panik takut Pak Reyhan ngamuk terus nilai pameran saya dikasih E lagi!" seru Nadhira polos yang membuat alis Reyhan terangkat sebelah.
"Lagian... saya ini kan tahu diri, Pak. Walaupun pernikahan kita mendadak dan cuma formalitas di atas kertas, saya tuh sangat menghormati Pak Reyhan sebagai suami saya."
Kata 'suami' yang meluncur dari bibir Nadhira membuat jantung Reyhan berdegup dengan ritme yang sedikit tak beraturan.
"Saya tahu batasan diri kok," lanjut Nadhira lagi seraya menyenggol lengan Reyhan pakai sikunya pelan.
"Pak Reyhan udah baik banget sama saya. Udah belain saya dari Siska, udah ngasih saya tumpangan rumah sebagus ini, udah sabar ngadepin kerandoman saya sehari-hari. Saya gak sejahat itu buat main belakang atau bikin malu nama Pak Reyhan di depan orang lain. Jadi, Pak Reyhan gak usah khawatir ya? Rangga mau ngoceh apa juga gak bakal saya ladenin."
Keheningan kembali melingkupi ruangan itu. Namun kali ini, hawa dingin yang mencengkeram perlahan menipis, tergantikan oleh sensasi hangat yang merayapi dada Reyhan.
Penjelasan polos, konyol, namun sangat jujur dari Nadhira berhasil menumbangkan seluruh tembok keraguan yang dibangun logikanya sepanjang malam.
Reyhan tahu Nadhira belum mencintainya, gadis ini masih memandangnya sebatas dosen, pelindung, dan suami yang dihormati secara rasional. Belum ada benih cinta yang berkembang di hati gadis muda itu.
Namun bagi Reyhan, kepastian bahwa Nadhira tidak lagi menginginkan masa lalunya sudah lebih dari cukup untuk saat ini.
Reyhan berdeham pelan, mengoreksi posisi duduknya agar kembali tegap dan berwibawa, mencoba menutupi rasa lega yang meluap di hatinya.
"Hm. Bagus kalau kamu sadar posisi kamu," sahut Reyhan datar, kembali memegang sendok supnya.
"Saya tidak ingin ada skandal personal yang mengganggu kredibilitas pameran besok."
Nadhira memutar matanya pasrah. "Iya, iya, Pak Dosen yang terhormat."
Reyhan melirik Nadhira dari sudut matanya. "Habiskan makan malam kamu. Setelah itu langsung tidur. Besok kamu harus berada di lokasi pameran pukul tujuh pagi."
"Siap, Komandan!" Nadhira memberikan hormat konyol dengan tangannya, lalu tertawa kecil melihat Reyhan yang akhirnya mau menyuap sup buatannya dengan tenang.
Saat Nadhira sibuk menyendok nasinya sendiri, Reyhan menatap punggung gadis itu sekilas. Sudut bibir tipis sang dosen muda terangkat sangat tipis, senyuman samar yang tersembunyi rapat dari pandangan siapa pun.
...Bersambung... ...
...****************...
Gimana-gimana, chapter kali ini gemesin gak?
tinggalin komenan kamu di bawah ya, mincoo tunggu😘