Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.
Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.
Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.
Sialan emang.
Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.
Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Mode Posesif Sahabat Playboy
Rendy berjalan mendekat dengan senyum ramah yang terkembang sempurna di wajahnya. Dia menaruh satu kaleng minuman dingin rasa lychee tepat di depan gue.
"Nih, buat kamu, Ra. Tadi aku lihat kamu kayaknya kecapekan habis dari ruang dosen," kata Rendy manis, sama sekali gak menyadari aura dingin mematikan yang mendadak menguar dari cowok di sebelah gue.
"Eh, makasih ya, Ren," jawab gue agak canggung.
Rendy baru mau menarik kursi kosong di sebelah Abel untuk duduk, tapi Kian tiba-tiba berdehem kencang. Suaranya rendah dan dalam, memotong gerakan Rendy seketika.
Kian menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap Rendy lurus dengan tatapan intimidatif yang belum pernah gue lihat sebelumnya.
"Sori, Bro," kata Kian tenang, tapi tiap kata yang keluar dari mulutnya punya bobot yang bikin suasana kantin mendadak senyap. "Kursinya mau dipakai. Kita lagi ada urusan internal."
Rendy mematung. Senyum di wajahnya memudar perlahan, digantikan raut bingung. "Urusan internal? Bukannya ini meja umum ya? Lagian aku cuma mau ngobrol sebentar sama Elora soal kepanitiaan."
"Elora sibuk," potong Kian cepat, tanpa kompromi sedikit pun. "Dia ada jadwal sama gue sore ini. Jadi kalau mau ngobrol soal panitia, bisa lewat chat aja."
Gue, Naya, dan Abel sampai menahan napas berjamaah. Ini Kian yang biasanya tengil dan bercandaan kenapa mendadak berubah jadi kayak mafia yang lagi nandain wilayahnya sendiri?!
Rendy menatap Kian, lalu beralih menatap gue. "Ra... ini beneran?"
Gue menelan ludah, serba salah. Gue melirik Kian dari sudut mata. Mata cowok itu menatap Rendy tajam banget seolah-olah siap mengajak Rendy duel di ring tinju sekarang juga.
"I-iya, Ren," jawab gue akhirnya dengan suara mencicit. "Sore ini gue emang ada janji konsultasi sama Kian..."
Rendy mengangguk pelan, walau raut kecewa jelas terlihat di wajahnya. "Oh... ya udah kalau gitu. Minumannya diminum ya, Ra. Gue duluan." Rendy berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kantin.
Begitu sosok Rendy benar-benar menghilang, gue langsung menoleh penuh emosi ke arah Kian.
"Kian! Lu apa-apaan sih?!" semprot gue pelan tapi tajam. "Galak banget sama Rendy! Dia kan cuma mau kasih minuman dan nanya soal panitia!"
Kian gak langsung menjawab. Dia menyambar kaleng minuman rasa lychee dari Rendy di meja, lalu menggesernya jauh-jauh dari jangkauan gue. Sebagai gantinya, dia mendorong es teh manis miliknya ke depan gue.
"Minum yang ini aja. Gak usah minum pemberian dari cowok lain," kata Kian datar.
"Lah, kok lu yang ngatur?!" seru gue gemas. "Rendy itu baik ya! Lagian kita kan—"
"Kita dijodohin, Elora," potong Kian tegas. Dia memajukan tubuhnya, menatap gue tepat di mata. Gak ada lagi jejak kejahilan di sana. Cuma ada rasa cemburu dan posesif yang meledak-ledak. "Lu lupa kita lagi dalam masa percobaan enam bulan? Dan dalam enam bulan ini, lu calon istri gue. Gue gak suka lihat cowok lain tebar pesona dan caper ke lu di depan mata gue."
DEG.
Kata "calon istri" yang keluar dari mulut Kian dengan nada se-posesif itu sukses bikin jantung gue serasa mau meledak. Muka gue panas bukan main. Naya dan Abel di depan kami bahkan sampai menutupi mulut mereka pakai tangan karena gemas.
Gue mencoba menetralkan degupan jantung gue dengan berdehem kaku. "Ya... ya tapi kan lu gak perlu segalanya digalakin! Lagian lu sendiri gimana? Dulu cewek lu berderet dari Sabang sampai Merauke!"
"Itu DULU," tegas Kian, menekankan kata dulu dengan penuh penekanan. "Sekarang beda. Kan gue udah bilang, gue gak lagi dekat sama siapa-siapa."
Kian melirik jam tangannya, lalu berdiri dari kursi. Tanpa pamit ke Naya dan Abel yang masih cengo, dia langsung menyambar pergelangan tangan gue, menarik gue berdiri dari kursi dengan lembut tapi tak terbantahkan.
"Yuk," kata Kian.
"Ke mana?!"
"Ke ruang dosen lu. Gue anterin sekarang biar skripsi lu cepat kelar, dan lu gak punya alasan buat ngobrol sama Rendy-Rendy itu lagi."
Gue cuma bisa pasrah diseret langkah lebar Kian menyusuri koridor kampus. Tapi di balik kejengkelan gue atas sikap diktatornya barusan, ada satu kenyataan manis yang merayap di dalam dada, Kian cemburu. Cowok yang punya gengsi setinggi langit itu... baru saja menembak Rendy dengan cemburu buta di depan umum.
Dan buat pertama kalinya dalam sejarah, gue mulai percaya kalau masa enam bulan ini mungkin bukan cuma sekadar simulasi permainan gengsi buat Kian.