Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Sasi mendekatkan ke arah Adrian yang sedang berada di samping Fitria.
"Mas, apa maksud semua ini? Kamu melakukan poligami? Kamu menikahi ku tanpa memberitahukan kalau kamu sudah memiliki istri?" tanya Sasi dengan suara Sasi melengking, bergetar hebat di udara terbuka pelataran rumah megah itu.
Seluruh persendiannya lemas, seolah lantai berpijak mendadak runtuh menghimpit badannya.
Trauma semalam yang membakar batinnya belum padam, kini tersiram minyak gas oleh kenyataan pahit di depan mata.
Fitria tertawa kecil—sebuah tawa elegan yang terdengar begitu dingin dan meremehkan.
Langkah kakinya mendekat, memangkas jarak lalu berdiri bersedekah dada tepat di samping Adrian.
"Mas Adrian menuruti perkataanku, Sasi. Kami hanya meminjam rahimmu," ucap Fitria tenang, tanpa sedikit pun rasa bersalah di raut wajah cantiknya.
"Aku tidak bisa memberikan Mas Adrian keturunan, dan kami butuh penerus untuk keluarga Maheswara. Kamu adalah kandidat paling sempurna: muda, penurut, dan berutang budi pada janji almarhum ayah Mas Adrian."
Dada Sasi naik turun memburu. Rasa mual melilit perutnya bertubi-tubi.
Ia memegang dadanya yang sesak, menatap dua orang di hadapannya dengan pandangan horor.
Sasi menggelengkan kepalanya kuat-kuat, melangkah mundur satu jengkal demi satu jengkal.
"Kalian berdua sakit jiwa!"
"Jaga bicaramu, Sasi!" potong Fitria tajam, kilatan matanya mendadak menyalang penuh ancaman.
"Kamu hanya wanita miskin di sini! Jangan berakting seolah kamu korban yang paling teraniaya. Tanpa uang mas kawin dan amplop bantuan dari Mas Adrian semalam, ayahmu yang sakit-sakitan itu mungkin sudah terlantar di rumah!"
Kata-kata itu menghantam Sasi tepat di ulu hati. Ia tak bergeming, matanya yang berkaca-kaca berpindah menatap sosok pria bertubuh tegap di samping Fitria.
Pria yang baru beberapa jam lalu mengucapkan akad nikah secara sah untuk menjaganya.
"Mas, katakan kalau semua ini bohong!!" jerit Sasi melepas seluruh batas kesabarannya. Air matanya merembes deras, membilas pipinya yang pucat pasi.
"Katakan, Mas! Katakan kalau wanita ini cuma bohong!"
Adrian tetap berdiri tegak dengan posisi tangan terbenam di dalam saku celana bahan mewahnya.
Wajah tampannya terukir kaku, tak memperlihatkan riak emosi sedikit pun saat menyaksikan kehancuran emosional wanita muda di hadapannya.
"Semua yang dikatakan Fitria benar, Sasi," sahut Adrian dengan suara berat dan datar, dingin tanpa kehangatan.
"Pernikahan ini terjadi atas kesepakatan saya dan istri saya. Tugasmu di rumah ini sederhana: patuhi aturan, lahirkan anak untuk kami, dan kamu akan mendapatkan hidup yang terjamin."
"Aku bukan barang dagangan! Aku manusia!" teriak Sasi seraya mencengkeram kepala sendiri.
Dunia di sekelilingnya berputar hebat.
Di dalam kepalanya, ingatan tentang jeritan membisunya di kamar kos Hendrik semalam berbenturan keras dengan kenyataan bahwa dirinya kini hanyalah sebuah alat reproduksi bagi pasangan kaya raya ini.
Kehormatan yang direnggut paksa, disusul kebebasan yang dirampas tanpa persetujuan.
Tanpa memedulikan koper kecilnya yang masih tergeletak di bagasi, Sasi berbalik dan berlari kencang menuju gerbang utama pelataran rumah megah itu, berniat melarikan diri dari neraka baru tersebut.
Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh jeruji gerbang, dua orang pengawal berbadan tegap yang berjaga di depan langsung berdiri menghadang langkahnya, mengunci setiap jalan keluar bagi Sasi.
"Lepaskan aku! Biarkan aku keluar dari sini!" jerit Sasi histeris, memukul-mukul dada salah satu pengawal yang membentenginya.
Adrian berjalan santai mendekat, mengisyaratkan para pengawal untuk memegang kedua lengan Sasi yang terus memberontak.
"Jangan buang-buang tenagamu, Sasi," ucap Adrian dingin tepat di samping telinganya.
"Pernikahan kita sudah sah secara hukum dan agama. Kamu tidak punya tempat untuk kembali tanpa merusak ingatan almarhum ayahku dan memperburuk kesehatan ayahmu sendiri."
Sasi terkulai lemas dalam cengkeraman para pengawal.
Kesadarannya kembali terguncang hebat, rasa panik menelan habis sisa otaknya saat Adrian memberi tanda agar tubuhnya diseret masuk ke dalam rumah terkutuk tersebut.
Fitria memeluk tubuh suaminya mesra, menyandarkan kepala di dada tegap pria itu.
"Terima kasih, Mas," bisiknya penuh rasa puas.
Adrian menganggukkan kepalanya pelan, lalu melangkah kaku menuju kamar utama, meninggalkan area lorong.
Ia memilih untuk membiarkan Sasi berada di kamar pengantin yang sudah disiapkan untuknya.
Namun, keputusasaan dan rasa dihina yang amat sangat meledakkan seluruh benteng pertahanan jiwa Sasi.
Dengan sisa tenaga yang tersisa, Sasi mendorong pengawal yang memegangnya hingga terhuyung, lalu berteriak histeris di tengah lorong rumah mewah tersebut.
Ia menuduh Adrian dan ayahnya sendiri telah menipunya secara keji.
Ia merasa telah dijual, dijadikan alat pencetak keturunan, dan sama sekali tidak diperlakukan sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat.
Mendengar kegaduhan yang kian menjadi, Adrian memutar langkahnya kembali.
Saat Adrian berusaha mendekat dan memegang bahunya untuk menenangkan, Sasi menjerit kesetanan.
Tubuhnya gemetar hebat, matanya membelalak liar memancarkan ketakutan mendalam. I
Ia melempar barang-barang dan pajangan di sekitarnya hingga hancur berantakan di lantai, lalu berteriak histeris, "Jangan sentuh aku! Kalian semua penjahat! Lepaskan aku!"
Sasi meracau tanpa arah. Jemarinya yang bergetar mulai mencakar lengannya sendiri sampai memerah dan lecet-lecet.
Ia ditarik kembali oleh bayangan kelam peristiwa pemerkosaan semalam—perasaan kotor dan jijik yang menjalar di seluruh kulitnya membakar otaknya.
Dengan napas tersengal, ia berusaha merobek gaun pengantin putih yang masih melekat di tubuhnya karena merasa teramat jijik dan terperangkap dalam sangkar ini.
Melihat kondisi Sasi yang sudah membahayakan dirinya sendiri dan tidak bisa lagi diajak bicara secara logis, raut tenang Adrian seketika berubah menjadi sangat tegas dan dingin.
Adrian meminta Fitria atau pelayan yang berada di sekitar untuk segera menjauh.
Sementara itu, dengan keteguhan tenaganya, ia bergerak maju mengunci pergerakan Sasi yang terus memberontak liar.
Dalam histerianya yang menakutkan, Sasi mencakar dan menggigit lengan Adrian dengan sangat keras demi melepaskan diri.
Gigitan dan cakaran itu begitu dalam hingga lengan Adrian mengeluarkan darah segar, namun raut wajah pria itu sama sekali tidak meringis.
"Ambilkan tasku!!" teriak Adrian bergema keras menembus keheningan rumah.
Seorang pelayan dengan gemetar menyerahkan tas kerja milik Adrian.
Dengan satu tangan yang menahan impitan tubuh Sasi, Adrian merogoh tasnya, mengambil sebuah jarum suntik berisi cairan obat penenang yang memang selalu disiapkannya.
Di tengah rontaan terakhir Sasi yang menangis terisak dan memohon dengan suara serak untuk dilepaskan, jarum suntik dingin itu dengan cepat menembus kulit lengannya.
Jeritan histeris Sasi perlahan-lahan mereda, berubah menjadi bisikan parau yang nyaris tak terdengar.
"Kalian... jahat," gumamnya lirih.
Penglihatannya mulai kabur dan membayang. Efek obat penenang menjalar cepat menyerang saraf dan kesadarannya.
Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran dan ambruk di dalam dekapan Adrian, pandangan mata Sasi yang makin meredup tertuju pada Fitria yang berdiri menatapnya dingin dari ambang pintu tanpa rasa iba sedikit pun.
Dalam kegelapan yang menyapa kesadarannya, Sasi akhirnya menyadari satu kenyataan pahit: rumah mewah bernuansa megah ini bukanlah tempat perlindungan, melainkan sebuah sangkar besi yang siap menghancurkan sisa-sisa jiwanya yang telah hancur
Fitria melangkah mendekat saat melihat tubuh Sasi yang tak berdaya meluruh dalam dekapan Adrian.
Tatapannya dingin, tanpa sedikit pun empati pada wanita muda yang terbaring lemah itu.
"Mas, lakukan sekarang! Mumpung dia tidur!" desak Fitria dengan suara ketus.
Adrian menoleh tajam, matanya menyalang penuh amarah yang menahan letupan emosi hebat.
"Fitria, aku bukan hewan! Aku lelaki normal. Lihat kondisi dia sekarang, seperti orang ketakutan!"
"Mas, dia hanya alat! Setelah semuanya selesai, kita akan membuangnya!" sahut Fitria tak mau kalah, suaranya meninggi menuntut.
"DIAM!!"
Teriakan Adrian menggema keras menembus seluruh sudut ruangan, menyapu habis kata-kata Fitria dalam sekejap.
Keheningan yang mencekam seketika melingkupi rumah mewah itu.
Para pengawal yang berdiri di sekitar lorong hanya bisa menunduk ketakutan dan terdiam membisu melihat letupan amarah Adrian yang tak pernah mereka saksikan sebelumnya.
Bahkan Fitria bungkam dengan napas tertahan, membelalak tak percaya pada gertakan suaminya.
Tanpa memedulikan Fitria lagi, Adrian menyusupkan tangannya ke bawah tubuh Sasi, membopong wanita yang pingsan itu ke dalam pelukannya.
Langkah kakinya yang lebar dan tegas membawanya naik menyusuri tangga menuju kamar di lantai atas.
Setibanya di dalam kamar yang dituju, Adrian meletakkan tubuh Sasi yang kaku dan pucat secara perlahan di atas kasur berukuran besar.
Ia menarik selimut tebal hingga menutup dada wanita itu, lalu berdiri mematung di sisi ranjang.
Matanya tertuju pada memar-memar kebiruan di leher dan lengan Sasi yang sempat tersingkap di balik gaun pengantinnya yang robek.
Memar dan ketakutan ekstrem yang diperlihatkan Sasi bukan sekadar reaksi dari pernikahan yang dipaksakan—ada jejak luka traumatik yang jauh lebih kelam dan tersimpan rapat dari wanita muda itu.
Adrian mengusap wajahnya yang kasar dengan jemarinya yang masih meneteskan darah akibat gigitan Sasi.
Ia merogoh ponsel di dalam saku jasnya, menyapu layar cepat, lalu menempelkannya di telinga.
"Dokter Maya, datang ke rumah saya sekarang. Bawa peralatan lengkap dan obati seseorang untuk saya. Jangan tanyakan apa pun," perintah Adrian dingin sebelum langsung mematikan sambungan telepon.
Pria itu berbalik menatap Sasi yang terlelap dalam pengaruh obat penenang.
Di luar kamar, gemuruh angin malam mulai terdengar, seolah menyertai benih-benih konflik baru yang siap meledak di dalam rumah tersebut.