Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keajaiban Itu Datang
Cahaya lampu ruangan menyapa retinanya. Tarikan napas pertama yang dalam dan segar langsung mengisi rongga dadanya—sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan tanpa hambatan rasa sakit. Tidak ada lagi rasa sesak yang membakar, tidak ada lagi cengkeraman maut di dada kirinya. Jantungnya kini berdetak kuat, mantap, dan penuh energi kehidupan baru.
Feng Zhi yang melihat perubahan itu langsung membelalakkan matanya kencang. Air mata kelegaan tumpah begitu saja dari sudut mata sang sekretaris yang biasanya dikenal dingin dan kaku.
"Tuan Ma...!" bisik Feng Zhi bergetar, segera membungkuk mendekati ranjang majikannya. "Anda... Anda sudah sadar? Syukurlah..."
Ma Yong Hua menolehkan kepalanya pelan. Suaranya terdengar serak, namun kini jauh lebih tegas dan bertenaga dibandingkan hari-hari sebelumnya.
"Feng Zhi..." panggil Ma Yong Hua dengan nada rendah yang berwibawa. "Berapa lama aku tidak sadarkan diri pasca operasi?"
"Hampir duabelas jam, Tuan," jawab Feng Zhi cepat, menyeka air matanya dengan punggung tangan lalu segera menuangkan air hangat ke dalam gelas. "Operasinya berjalan sukses besar. Profesor Hendrawan mengatakan jantung baru Anda beradaptasi dengan sangat luar biasa."
Ma Yong Hua meneguk air itu perlahan, lalu mengangkat tubuh bagian atasnya bersandar pada bantal ranjang. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan kekuatan fisik yang kembali mengalir deras ke seluruh pembuluh darahnya. Rasa sakit yang selama ini membelenggunya seolah lenyap tak bersisa. Ia bukan lagi pria sekarat yang dilecehkan oleh musuhnya. Ia adalah sang naga yang baru saja terlahir kembali dari abu kepedihan.
Feng Zhi yang berdiri di sampingnya langsung merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah gawai tablet lalu menyerahkannya dengan ekspresi wajah serius.
"Tuan... sambil menunggu pemulihan Anda, ada laporan penting mengenai situasi luar yang harus Anda ketahui," ucap Feng Zhi dengan nada tertahan. "Selama Anda berada di ruang operasi semalam, Xander Wiryawan melancarkan serangan finansial besar-besaran. Dia sengaja mengembuskan rumor palsu bahwa Anda tidak akan selamat, membuat panik para pemegang saham, dan memborong murah saham Ma Group untuk menguasai perusahaan kita."
****
Mendengar laporan tersebut, sudut bibir Ma Yong Hua tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Sebaliknya, sebuah seringai dingin, tajam, dan mematikan terukir sempurna di bibirnya.
Ma Yong Hua menerima tablet dari tangan sekretarisnya, melirik sekilas grafik anjloknya saham serta laporan transaksi pembelian yang dilakukan oleh Wiryawan Corporation. Sepasang mata sipitnya memancarkan kilatan cahaya yang sangat berbahaya.
"Xander Wiryawan..." gumam Ma Yong Hua pelan, menyebut nama itu bagaikan sebuah vonis hukuman mati tanpa ampun. "Dia pikir dengan memanfaatkan keadaanku saat aku di meja operasi, dia bisa meruntuhkan Ma Group dan menginjak-injak Evita sesuka hatinya?"
"Benar, Tuan," timpal Feng Zhi geram. "Bahkan pagi ini, kekasih gelapnya—Viola Sanustika—datang ke rumah sakit khusus untuk menghina Nona Evita dan keluarganya di depan umum, menertawakan kehancuran kita dengan sangat angkuh."
****
Ma Yong Hua mengepalkan telapak tangannya di atas selimut rumah sakit. Detak jantung barunya berdegup semakin kencang, memompa keberanian dan kekuatan penuh ke seluruh tubuhnya. Pria itu mengangkat kepalanya, menatap lurus ke depan dengan sorot mata setajam pisau belati.
"Dia masuk ke dalam perangkap yang dia gali sendiri, Feng Zhi," ucap Ma Yong Hua dengan suara baritonnya yang dingin, berat, dan mutlak. "Xander sengaja membeli seluruh saham yang dilepas itu dengan menggunakan pinjaman likuiditas bank skala besar dan dana cadangan perusahaan mereka yang terkuras habis."
Feng Zhi mengangguk cepat. "Ya, Tuan! Neraca keuangan Wiryawan Corporation saat ini sedang dalam posisi paling rapuh karena mereka mempertaruhkan seluruh modal likuid untuk memborong saham kita."
Ma Yong Hua berdiri perlahan dari ranjangnya. Meski tubuhnya masih sedikit kaku pasca operasi, ia menolak untuk berbaring lebih lama lagi. Ia mengenakan jubah rumah sakit berbalut mantel hitam panjang yang disiapkan Feng Zhi.
"Bagus," ujar Ma Yong Hua dingin. "Beri tahu tim penasihat hukum dan direktur keuangan kita. Mulai detik ini, buka pintu gerbang pasar modal seluas-luasnya. Biarkan Xander merasa dirinya sudah memenangkan seluruh saham Ma Group... sebelum kita menarik karpet di bawah kakinya secara serentak."
Ma Yong Hua memandang ke arah jendela besar yang memperlihatkan langit sore ibu kota.
"Permainan baru saja dimulai, Xander Wiryawan. Dan aku akan pastikan kau dan wanita iblis itu merasakan kejatuhan yang jauh lebih menyakitkan daripada apa yang kalian perbuat pada Evita."
****
Suasana kantin lantai dasar Rumah Sakit Internasional Santa Carolus pada sore hari itu terasa begitu senyap dan lengang. Cahaya matahari kemerahan menerobos masuk melalui dinding kaca besar, memantulkan bayangan panjang di atas lantai keramik putih yang bersih. Di salah satu sudut ruangan yang agak tersembunyi dari lalu-lalang pengunjung, Evita Desniati duduk seorang diri di sebuah meja kecil berbalut melamin.
Di hadapannya, secangkir teh hangat yang telah dipesannya sejak setengah jam lalu sudah mendingin sepenuhnya, mengepulkan uap tipis yang perlahan lenyap di udara.
Evita menatap kosong ke arah permukaan cangkir tersebut. Pikirannya berkecamuk hebat, dipenuhi oleh serpihan-serpihan luka yang terus menggores batinnya tanpa ampun. Kata-kata hinaan yang dilemparkan oleh Viola Sanustika kemarin siang di koridor rumah sakit masih berputar-putar tajam di dalam kepalanya, berdenging nyaring bagai sirene peringatan akan kehancuran total hidupnya.
“...Kamu akan menjadi seorang janda miskin, melarat, tidak punya pekerjaan, tidak punya uang, dan hidup menumpang di jalanan bersama ayah dan ibumu yang penyakitan ini! Ha-ha-ha-ha!”
Suara tawa melengking penuh kepuasan psikopat dari Viola itu seolah menusuk-nusuk relung hatinya yang paling dalam. Evita menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang gemetar. Air mata hangat kembali mendesak keluar dari pelupuk matanya, menetes pelan membasahi jemarinya. Ia merasa dirinya adalah wanita paling malang di muka bumi. Kariernya sebagai dosen dihancurkan secara tidak hormat oleh suaminya sendiri, nama baiknya difitnah sebagai wanita tuna susila, ibunya terbaring kritis di ruang perawatan, dan pria berbaik hati yang menolongnya—Ma Yong Hua—tumbang sekarat di ruang ICU akibat serangan jantung yang dipicu oleh fitnah keji tersebut.
****
Apakah hidupku memang ditakdirkan untuk hancur sehancur-hancurnya? batin Evita merintih pedih dalam keheningan. Tidak ada lagi tempat berlindung. Tidak ada lagi keadilan yang tersisa untukku.
Di tengah lamunannya yang kelam, suara gesekan kaki kursi di lantai tiba-tiba terdengar pelan dari seberang mejanya.
Srekk...
Evita sama sekali tidak mendongak. Ia mengira itu adalah petugas kebersihan rumah sakit yang hendak membersihkan meja sebelah. Ia terus membiarkan pandangannya tertunduk lesu, tenggelam dalam lautan keputusasaannya sendiri.
Namun, aroma parfum maskulin berkelas tinggi—perpaduan aroma kayu manis segar dan kasturi yang sangat khas—tiba-tiba menguar lembut memenuhi indra penciumannya. Aroma itu begitu familier, begitu kuat, dan sama sekali bukan aroma milik petugas rumah sakit.
Sebuah suara bariton yang rendah, berat, tenang, namun penuh wibawa mutlak tiba-tiba memecah keheningan di hadapannya.
"Melamun di tempat sunyi seperti ini tidak akan menghapus air mata kesedihanmu, Nona Evita."