Indonesia
NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Amarah yang membakar

Ibu Lily terduduk dengan napas yang kini berembus lancar. Namun, begitu kesadarannya pulih sepenuhnya dan matanya menangkap sosok Arlen serta Kai, binar kebahagiaan di wajahnya lenyap seketika. Tubuh wanita itu mendadak kaku, dan ia menarik Lily ke dalam dekapannya dengan sangat erat, seolah-olah sedang berhadapan dengan sekelompok serigala kelaparan.

Sepasang matanya membelalak penuh ketakutan. Bukan karena pakaian Arlen dan Kai yang rapi dan bersih di tengah kubangan lumpur desa ini, melainkan karena sebuah trauma mendalam yang langsung terpicu di kepalanya. Di mata wanita itu, setiap orang yang berpakaian layak adalah perpanjangan tangan dari para bangsawan serakah yang kejam.

"I-Ibu...?" Lily mendongak bingung, merasakan pelukan ibunya yang gemetar hebat.

Arlen yang melihat reaksi tersebut tidak memundurkan langkahnya. Ia tetap berlutut, menjaga agar tatapan matanya tetap sejajar dengan wanita itu. "Tenanglah. Kami tidak akan menyakitimu," ucap Arlen, suaranya tetap selembut embun pagi, mencoba meruntuhkan dinding ketakutan yang begitu tebal.

Kai yang berdiri di belakang Arlen mengerutkan kening, merasa ada yang tidak beres dengan atmosfer di desa ini. Keluarga Ashford memang menyandang gelar bangsawan, namun mereka hanyalah bangsawan kecil yang memiliki tanah di atas Bukit Jangkar dan sekitarnya. Mereka tidak memiliki sepasukan prajurit, tidak memerintah kota, dan tidak pernah memungut pajak dari rakyat jelata. Mereka justru hidup mandiri dan sama-sama harus menyetor pajak kepada penguasa wilayah yang lebih tinggi. Melihat ketakutan yang begitu murni ini, ada sesuatu yang salah di tanah Utara.

"Siapa kalian...?" suara wanita itu bergetar parau, matanya menyapu jubah sederhana namun bersih yang dikenakan Arlen. "Kumohon... kami tidak punya apa-apa lagi untuk diperas. Pajak, makanan, semuanya sudah diambil... Jangan bawa putriku lagi..."

Arlen menghela napas pelan, lalu berdiri. "Aku Arlen, putra dari Cedric Ashford. Kami tinggal di bukit atas. Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi di desa ini? Mengapa tempat ini berubah menjadi seperti kuburan?"

Mendengar nama Ashford, ketegangan di bahu wanita itu sedikit mengendur, namun tangisnya justru pecah. Dengan suara yang terputus-putus oleh sisa trauma, dia mulai menceritakan mimpi buruk yang sedang menimpa desa mereka.

Beberapa bulan lalu, seorang bangsawan baru dari ibu kota kerajaan dikirim untuk menjadi penguasa wilayah yang mengawasi tanah Utara. Bangsawan itu adalah sosok yang korup, kejam, dan serakah. Begitu tiba, aturan pertama yang ia tetapkan adalah menaikkan pajak hingga tiga kali lipat secara sepihak. Rakyat yang tidak mampu membayar diseret dari rumah mereka, dipukuli, dan dijadikan budak pekerja paksa tanpa diberi makan yang layak.

Namun, kekejaman bangsawan itu tidak berhenti di sana.

"Dia... dia monster yang mesum..." wanita itu terisak, memeluk Lily semakin erat hingga bahunya terguncang. "Prajurit-prajuritnya berkeliaran setiap hari bukan untuk menjaga keamanan, melainkan untuk menculik gadis-gadis muda di desa ini untuk dibawa ke kediamannya. Kakak Lily... putri sulungku... dua hari lalu mereka menyeretnya pergi secara paksa dari rumah ini. Kami tidak tahu apakah dia masih hidup atau..."

Kata-kata wanita itu terhenti oleh tangisan yang semakin histeris.

Mendengar penuturan itu, atmosfer di dalam lorong buntu tersebut mendadak turun drastis.

*Clang!*

Suara besi beradu terdengar samar. Kai secara terang-terangan mencengkeram gagang belatinya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Mantan pembunuh lingkaran kelam itu tidak bisa lagi menahan amarahnya. Energinya berfluktuasi liar, memancarkan hawa membunuh yang pekat. Mata Kai menyalang merah. "Bangsawan bajingan... Ibu kota benar-benar mengirim sampah ke tempat ini! Arlen, biarkan aku merobek tenggorokannya!"

Berbeda dengan Kai yang kemarahannya meledak-ledak di permukaan, Arlen justru berdiri tegak dalam keheningan yang mencekam.

Wajahnya tampak sangat tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mendengar kisah sekotor itu. Matanya yang hitam legam menatap lurus ke arah ujung lorong, tak berekspresi. Namun, di balik topeng ketenangan itu, batin sesosok "Raja Tanpa Mahkota" sedang bergejolak hebat layaknya gunung berapi yang siap memuntahkan magma.

Sebagai Aster Valerius di kehidupan pertamanya, ia menghabiskan seluruh hidupnya di medan perang demi melindungi orang-orang yang ia sayangi. Baginya, kekuatan ada untuk melindungi yang lemah, bukan untuk menginjak-injak mereka demi hasrat yang menjijikkan. Di dalam dadanya, sirkulasi Aura berputar dengan kecepatan yang menakutkan, membuat udara di sekitar tubuhnya perlahan-lahan mendingin secara tidak sadar. Kemarahannya terkunci rapat di dalam batin, namun justru karena itulah kemarahan itu terasa ratusan kali lebih berbahaya.

"Kai," panggil Arlen. Suaranya datar, dingin, dan bebas dari emosi. Namun, nada bicara itu justru membuat Kai merinding dan langsung meredam hawa membunuhnya.

"Ya, Tuan Muda?"

"Simpan senjatamu untuk sekarang. Kita punya tempat yang harus dikunjungi," ujar Arlen sambil membalikkan badannya.

Tanpa membuang waktu lagi, Arlen melangkah lebar meninggalkan lorong buntu tersebut, memimpin jalan menuju ke arah kediaman sang bangsawan baru penguasa wilayah. Kai segera menyusul di sampingnya dengan langkah yang dipenuhi kepatuhan mutlak. Sepanjang jalan keluar desa, setiap orang yang berpapasan dengan Arlen secara insting akan langsung menepi dan menunduk—bukan karena mereka tahu siapa Arlen, melainkan karena tatapan mata pemuda itu memancarkan aura intimidasi kuno yang membuat jiwa mereka gemetar ketakutan.

Hari itu, badai dari puncak Bukit Jangkar bergerak turun, siap meratakan keserakahan yang telah mengotori tanah Utara.

Malam di tanah Utara tidak pernah benar-benar ramah, namun kegelapan kali ini terasa jauh lebih pekat, seolah-olah enggan memberi ruang bagi cahaya apa pun untuk bernapas. Di sepanjang jalan setapak yang membelah keheningan lereng bukit menuju kediaman penguasa wilayah, dua bayangan bergerak dalam kesunyian yang mencekam.

Arlen berjalan di depan. Langkah kakinya konstan, tanpa suara berisik, dan wajahnya tampak begitu tenang—seperti permukaan danau yang tidak terjamah angin. Namun, ketenangan di permukaan itu justru menjadi kontras yang mengerikan bagi apa yang sebenarnya terjadi pada atmosfer di sekitarnya, Batinnya yang bergejolak hebat membuat kontrol energinya sedikit merenggang.

Akibatnya, riak-riak tekanan tak kasat mata merembes keluar dari pori-pori jubah wol sederhananya, mendistorsi udara di sekeliling tubuhnya hingga tampak bergetar samar. Udara di sekitar radius dua meter dari tubuh Arlen mendadak terasa dingin, berat, dan pekat, memaksa setiap partikel debu malam jatuh lebih cepat ke tanah.

Kai, yang berjalan beberapa langkah di belakangnya, bisa merasakan tekanan itu dengan sangat jelas. Dadanya terasa agak sesak, dan insting bertarungnya yang tajam terus-menerus mengirimkan sinyal bahaya, seolah-olah ia sedang berjalan di belakang seekor binatang buas raksasa yang sewaktu-waktu bisa berbalik dan merobek langit.

Menatap punggung Arlen, Kai menyadari bahwa pemuda di depannya ini tidak sedang menahan amarah; ia sedang menahan sebuah badai penghancur.

Ketegangan yang kian menebal itu akhirnya memaksa Kai untuk memecah kesunyian. Dia mempercepat langkah, menjajajari posisi Arlen tanpa berani masuk terlalu dalam ke area distorsi udara tersebut.

"Tuan Muda," panggil Kai, suaranya ditekan serendah mungkin, sarat akan kecemasan yang tertahan. "Kemarahan Anda... hampir tidak bisa dibendung lagi. Tapi, apakah kita benar-benar akan melangkah sejauh itu?"

Arlen tidak menoleh. Pandangannya tetap terkunci pada siluet kastil mewah yang mulai membayang di ujung tebing landai. "Apa yang membuatmu ragu, Kai?"

"Saya tidak meragukan kekuatan Anda," jawab Kai cepat, menggelengkan kepala. "Namun, membunuh seorang penguasa wilayah yang ditunjuk langsung oleh ibu kota bukanlah perkara sederhana.

Dia adalah perpanjangan tangan takhta. Jika kepalanya jatuh di tanah ini, kerajaan tidak akan tinggal diam. Mereka akan mengirimkan pasukan yang lebih besar, penyihir-penyihir tingkat tinggi yang jauh lebih merepotkan. Masalah ini akan menjadi gulungan benang kusut yang bisa menjerat seluruh wilayah Utara, termasuk keluarga Ashford. Apakah menghancurkan satu bajingan sepadan dengan risiko memicu perang melawan hukum tirani yang menguasai dunia saat ini?"

Langkah kaki Arlen melambat, hingga akhirnya ia berhenti tepat di batas vegetasi liar sebelum tanah lapang kastil. Keheningan kembali merayap di antara mereka selama beberapa detik.

Arlen perlahan membalikkan tubuhnya, menatap Kai. Di dalam kegelapan malam, sepasang matanya yang hitam legam tidak memancarkan kobaran api amarah yang liar, melainkan sebuah kilatan dingin yang mutlak dan tak tergoyahkan.

"Hukum yang kau takuti itu, ditulis oleh mereka yang memegang kekuasaan demi melindungi kenyamanan mereka sendiri," ucap Arlen pelan. Suaranya tidak meledak-ledak, namun setiap kata yang keluar memiliki bobot yang sanggup meruntuhkan keraguan. "Dunia ini telah lama keliru. Mereka mengira, jubah sihir dan lembaran maklumat dari ibu kota bisa menjadi tameng abadi untuk membenarkan setiap ketidakadilan yang mereka semai kepada mereka yang lemah."

Arlen mengangkat sedikit tangan kanannya, membiarkan sirkulasi energi di batinnya berdesis rendah. "Jika kita mundur hari ini hanya karena takut akan rumitnya hari esok, maka kita tidak ada bedanya dengan para penindas itu—membiarkan kebusukan tumbuh subur demi keselamatan diri sendiri. Ketahuilah, seorang Ksatria tidak bertarung karena dia tahu dia akan menang, atau karena jalannya akan mudah. Kita bertarung karena ada prinsip yang terlalu berharga untuk di biarkan mati terinjak lumpur."

Kai terpaku. Kalimat itu menghantam kesadarannya, meruntuhkan seluruh kalkulasi logis yang sempat menahan jemarinya di atas gagang belati.

"Kerajaan boleh mengirimkan pasukan mereka, takhta boleh menyatakan kita sebagai pemberontak," lanjut Arlen, membalikkan badannya kembali menatap gerbang kastil yang dijaga oleh dua penyihir wilayah. "Jika sejarah menganggap keadilan yang kita tegakkan malam ini sebagai sebuah kejahatan, maka biarlah pedang kita yang menulis ulang lembaran sejarah yang baru."

Mendengar itu, Kai tidak lagi merasakan ketakutan. Rasa cemasnya melebur, berganti menjadi sebuah kesetiaan mutlak yang membakar jiwanya. Ia menegakkan tubuhnya, menyeringai tipis di balik kegelapan. "Saya mengerti, Tuan Muda. Jika itu adalah ketetapan Anda, maka biarkan saya menjadi bayangan pertama yang membersihkan jalan Anda."

Arlen kembali melangkah, keluar dari kegelapan hutan menuju area terbuka di depan gerbang kastil. Kebocoran tekanan dari tubuhnya kini tidak lagi ditekan; ia membiarkannya mengalir bebas, bersiap untuk meremukkan apa saja yang berani menghalangi jalan nya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!