Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Albino Sang CEO

Istri Albino Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: QueenMardhiah

Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.

----------

Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.


Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.

----------

Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanpa Sadar

Yasmin tertegun, lalu menatapnya dengan bingung. "Karena... karena saya takut, Pak. Saya takut kalau saya bilang saya takut, atau saya ceritakan hal-hal yang mengganggu saya, Bapak akan marah. Bapak kan sering bilang kalau saya itu menyusahkan, sering bilang kalau saya ini tidak berguna... Jadi saya pikir, lebih baik saya pendam saja sendiri daripada membuat Bapak kesal lagi."

Kata-kata itu seolah menjadi tusukan tajam di hati Baskara. Ia memalingkan wajah, tidak sanggup menatap mata istrinya itu. Tangannya mengepal pelan di samping tubuhnya, berusaha menahan keinginannya untuk mengakui kesalahannya. Memang aku yang salah. Aku yang membuat dia berpikir seperti itu. Aku yang selalu berkata kasar padanya, aku yang membuat dia merasa tidak berharga. Tapi bagaimana aku harus mengatakannya? Aku tidak bisa begitu saja bilang aku salah, aku tidak bisa minta maaf...

Ia kembali menatap Yasmin, lalu berjalan mendekat dan duduk di sampingnya, jaraknya lebih dekat dari biasanya. Suaranya terdengar agak kaku, namun penuh perhatian.

"Dengar Saya, Yasmin. Apa yang Saya katakan dulu... itu... itu cuma omongan saja saat Saya sedang marah atau kesal. Saya tidak benar-benar bermaksud begitu. Kau mengerti kan?" ucapnya, mencoba menjelaskan tanpa harus mengucapkan kata permintaan maaf secara langsung.

Yasmin menatapnya dengan pandangan yang bingung, tidak mengerti sepenuhnya maksud perkataannya. "Jadi... maksud Bapak, Bapak tidak benar-benar menganggap saya menyusahkan dan tidak berguna? Tapi... saat itu nadanya begitu serius, bapak marah-marah." Ucap Yasmin begitu polos.

Baskara mengerutkan keningnya, merasa semakin tertekan karena kesalahannya sendiri. Ia menggaruk tengkuk lehernya yang terasa kaku, gengsinya masih menahan dirinya untuk tidak mengakui secara terang-terangan.

"Kau... kau terlalu mudah percaya begitu saja. Omongan orang saat sedang marah itu tidak bisa dijadikan patokan. Saya... Saya hanya kesal saat itu, tidak berpikir panjang sebelum berbicara. Saya tidak benar-benar berpikir bahwa kau tidak berguna atau menyusahkan. Jadi... jangan selalu ingat kata-kata buruk itu, paham?" ucapnya, suaranya terdengar sedikit tergesa-gesa seolah berusaha menutupi perasaannya.

Ia menatap ke arah jendela yang masih diterangi kilatan cahaya sesekali, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih pelan.

"Kalau Saya benar-benar menganggap kamu tidak berguna, apakah Saya akan duduk di sini menemanimu sekarang? Apakah Saya akan repot-repot datang ke sini saat kau berteriak? Pikirkan saja dengan akal sehatmu. Aku melakukan ini semua karena... karena itu memang tugas Saya. Jadi, jangan selalu berpikir yang tidak-tidak lagi."

Yasmin menatap wajah Baskara yang terlihat agak canggung dan tegang, namun dari nada bicaranya, ia bisa merasakan ada ketulusan di balik kata-kata itu. Perlahan, senyum tipis terukir di bibirnya.

"Jadi... Bapak tidak membenciku, dan tidak menganggap saya beban berat, ya, Pak?" tanyanya dengan nada lembut dan penuh keceriaan.

Baskara menoleh sejenak, lalu mendengus pelan dan memalingkan wajah lagi. "Dasar gadis ini, banyak sekali pertanyaannya. Sudah Saya bilang, tidak. Saya tidak membencimu, dan Saya juga tidak menganggap mu beban. Jadi, berhenti memikirkan hal-hal yang tidak perlu itu. Mulai sekarang, kalau ada apa-apa, katakan saja. Jangan dipendam sendiri lagi. Kalau kau diam saja, Saya yang akan kesal, mengerti?"

Meskipun ia tidak mengucapkan kata "maaf" secara langsung, Yasmin sudah mengerti maksud hatinya. Ia bisa merasakan perubahan pada diri suaminya itu, dan ia tahu bahwa Baskara sedang berusaha memperbaiki sikapnya, meskipun dengan caranya sendiri yang agak kaku.

"Baik, Pak. Saya mengerti. Terima kasih sudah menjelaskan pada saya. Sekarang saya merasa jauh lebih lega dan sedikit tidak takut lagi," ucapnya dengan senyum yang lebih lebar.

Mendengar jawaban itu, rasa bersalah di hati Baskara sedikit berkurang, namun ia masih merasa tidak nyaman. Ia meraih selimut yang terlipat rapi di samping tempat tidur, lalu membentangkannya dan menutupinya dengan hati-hati.

"Sudah, sekarang tidurlah. Aku akan duduk di sini sampai kau tertidur. Jadi, kau tidak perlu khawatir ada apa-apa lagi. Tidurlah dengan tenang," ucapnya, suaranya kini terdengar jauh lebih lembut dari sebelumnya.

Ia duduk di tepi tempat tidur, matanya menatap ke arah Yasmin yang mulai berbaring dan memejamkan mata. Di dalam hatinya, ia terus berbicara pada dirinya sendiri, meskipun tidak diucapkan dengan lantang.

Aku memang salah, Yasmin. Aku yang terlalu kasar padamu, aku yang membuat kau merasa tertekan. Maafkan aku... Aku tidak bisa mengatakannya langsung.

Yasmin membuka matanya sedikit, menatap wajah Baskara yang terlihat tenang namun ada perasaan yang tersembunyi di balik tatapannya.

"Pak..." panggilnya pelan.

"Apa lagi? Kenapa belum tidur juga?" jawab Baskara, menatapnya kembali.

"Apakah... Bapak juga tidak akan marah kalau suatu saat nanti saya membuat kesalahan lagi, atau memiliki kekurangan lain yang mengganggu Bapak?" tanyanya dengan nada ragu.

Baskara terdiam sejenak, lalu mengulurkan tangannya dan menepuk pelan lengan Yasmin dengan lembut.

"Kau ini... kenapa masih memikirkan hal itu? Sudah Saya katakan, Saya tidak akan marah sembarangan lagi. Setiap orang pasti punya kekurangan dan membuat kesalahan. Saya juga punya banyak kekurangan, kan? Jadi, tidak apa-apa. Selama kau berusaha melakukan yang terbaik, itu sudah cukup. Saya tidak akan memarahi atau mengatai mu dengan kata-kata kasar lagi... Saya janji," ucapnya, dan kali ini nadanya terdengar sangat tulus, meskipun ada sedikit nada canggung yang tersisa di ujung kalimatnya.

Yasmin tersenyum puas, lalu menutup matanya kembali. "Terima kasih, Pak. Saya percaya pada Bapak. Selamat malam, Pak. Semoga Bapak juga tidur dengan nyenyak nanti."

"Selamat malam. Tidurlah," jawab Baskara pelan.

Ia tetap duduk di sana, menatap Yasmin yang perlahan terlelap dalam tidurnya.

Tring!

Lampu akhirnya menyala dengan terang benderang membuat Baskara yang awalnya menatap Yasmin langsung mengalihkan pandangan ke penjuru kamar hingga akhirnya kembali menatap Yasmin. Namun saat netranya menatap Yasmin dalam keadaan lampu yang terang, tidak seperti tadi yang hanya remang karena sedikit pencahayaan, Baskara menatap sesuatu yang membuatnya menelan Saliva. Sesuatu dalam dirinya seolah berontak.

1
Santy 2a
semoga banyak yang baca semangat kak
QueenMardhiah: aamiin... terimakasih sudah mampir. jangan lupa follow juga ya 🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!