Selama lima tahun, Vincent Huang tidak pernah berhenti mengejar Stella Mo.
Namun, Stella selalu menolaknya dan memilih menjaga jarak tanpa pernah menjelaskan alasannya.
Ketika rahasia masa lalu Stella akhirnya terungkap, Vincent harus menghadapi pilihan sulit. Tetap menggenggam tangan wanita yang dicintainya, atau menjauh setelah mengetahui luka yang selama ini Stella sembunyikan.
Apakah cinta Vincent cukup kuat untuk menerima seluruh masa lalu Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
“Bercerai karena Fran menginginkan Stella,” lanjut Lussy dengan suara bergetar.
Ruangan itu mendadak sunyi.
Vincent menatap Fran.
“Menginginkan Stella?”
Fran menundukkan kepala. Wajahnya pucat.
“Apa maksudmu, Lussy?” suara Vincent terdengar semakin dingin.
Lussy menggigit bibirnya sebelum akhirnya berkata, “Malam itu Fran mengatakan bahwa dia... memiliki perasaan yang tidak seharusnya kepada Stella.”
Tatapan Vincent berubah tajam.
“Perasaan?”
Fran langsung memejamkan mata. “Aku hanya—”
“Diam!” bentak Vincent.
Fran langsung terdiam.
Vincent berjalan mendekatinya.
“Jadi selama ini kau bukan hanya ayah Stella.”
Fran tidak berani mengangkat wajah.
“Sepuluh tahun lalu, apa yang kau lakukan kepadanya?”
“Aku tidak melakukan apa-apa!” bantah Fran panik.
Vincent mencengkeram kerah bajunya. “Kalau begitu, kenapa Stella meninggalkan rumah setelah malam itu?”
Fran membeku.
Lussy mulai menangis.
“Tuan... semuanya bukan seperti yang Anda pikirkan.”
“Kalau begitu jelaskan.”
“Fran hanya mencintai Stella sebagai seorang pria,” jawab Lussy dengan suara gemetar.
“Sebagai seorang pria?” ulang Vincent. Tatapannya semakin dingin. “Lalu apa yang terjadi?”
Anak buah Vincent yang sudah kehilangan kesabaran langsung mencengkeram pundak Lussy dengan erat.
“Aahh!” rintih Lussy menahan sakit.
“Aku tidak punya banyak kesabaran. Cepat katakan semuanya sebelum aku menghabisi kalian sekeluarga,” kecam Vincent.
Lussy menangis ketakutan.
“Karena aku tidak mau kehilangan Fran, aku hanya bisa menyerahkan Stella kepadanya. Aku... dan Jason bekerja sama memberikan obat kepada Stella agar dia tidak bisa melawan. Lalu kami membiarkan Fran...”
Lussy terdiam.
“Lanjut,” perintah Vincent.
Ia mengenakan sepasang sarung tangan hitam dengan tatapan yang semakin mengerikan.
“Membiarkan Fran memiliki Stella,” jawab Lussy lirih.
Willy mengepalkan tangannya.
“Kau benar-benar iblis!” bentaknya. “Nona Mo adalah putrimu sendiri! Demi mempertahankan suamimu, kau tega menghancurkan hidup putrimu sendiri. Pantas saja Nona Mo membencimu!”
Willy melangkah maju dan menendang punggung Lussy dan Fran.
“Bruk! Bruk!”
“Aahh!”
Keduanya tersungkur menahan sakit.
Vincent tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian.
Kemudian ia mengambil sebuah berkas dari atas meja dan melemparkannya ke hadapan Lussy dan Fran.
“Baca!”
Lussy dengan tangan gemetar mengambil berkas itu. Fran ikut melihat isinya.
Itu adalah laporan medis dari seorang psikiater.
Wajah keduanya perlahan berubah pucat.
“Pada usia tujuh belas tahun, Stella mengalami trauma berat, depresi, dan mimpi buruk yang terus menghantuinya,” ujar Vincent dengan suara rendah.
Tatapannya menusuk keduanya.
“Selama sepuluh tahun dia harus hidup dengan penderitaan yang kalian berikan.”
Vincent melangkah mendekat.
“Lussy, kau masih berani menyebut dirimu seorang ibu?”
Lussy hanya bisa menangis.
Vincent kemudian menatap Fran.
“Dan kau. Sebagai ayah tiri, seharusnya kau menjadi orang yang melindunginya. Tapi justru kau yang menghancurkan hidupnya.”
Tangannya mengepal.
“Kalau aku tahu sejak awal apa yang kalian lakukan kepadanya...” Vincent berhenti sejenak.
“...kalian tidak akan pernah hidup sampai hari ini.”
Tangan Lussy gemetar. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
“Selama ini aku berusaha menebus kesalahanku. Tapi Stella selalu menolak dan menganggap kami sebagai musuhnya,” ucap Lussy lirih.
“Menebus?” Vincent tertawa sinis.
“Sebagai seorang ibu, seharusnya kau melindunginya, bukan memberinya mimpi buruk yang harus dia bawa selama bertahun-tahun.”
Tatapan Vincent beralih kepada Fran.
“Demi pria tidak berguna seperti dia, kau mengorbankan putrimu sendiri.”
Ia kembali menatap Lussy.
“Menurutmu, setelah semua yang kalian lakukan, apakah kau masih layak dimaafkan?”
Lussy hanya bisa menangis.
“Kalian...” Vincent mengepalkan tangannya. “Kalian semua adalah bajingan.”
Lussy menatap Vincent dengan kebingungan.
“Kalau begitu... apa hubunganmu dengan putriku?”
Vincent terdiam sejenak.
“Lima tahun lalu, aku mulai mengejar Stella.”
Mata Lussy membesar.
“Selama lima tahun itu, dia tidak pernah menerimaku. Berkali-kali aku bertanya pada diriku sendiri, apa kekuranganku? Kenapa dia terus menolakku tanpa alasan? Sekarang aku akhirnya tahu.”
Tatapannya kembali kepada Lussy.
“Bukan karena dia tidak memiliki perasaan kepadaku. Stella hanya merasa dirinya tidak layak bersamaku. Karena itulah dia terus menolakku. Selama ini aku tidak pernah mengerti kenapa dia selalu menjauh dariku.”
Suaranya terdengar lebih berat.
“Aku tidak pernah tahu bahwa di balik semua penolakannya, Stella sedang berusaha hidup dengan luka yang kalian tinggalkan.”
Lussy menutup mulutnya sambil menangis.
Vincent menatap mereka dengan dingin.
“Dan setelah mengetahui semuanya, aku baru sadar... selama lima tahun ini, aku telah memaksa seorang wanita yang bahkan belum sembuh dari masa lalunya untuk menerima cintaku.”
“Aku akan menebus semuanya dengan segala cara. Beri aku kesempatan untuk melakukannya,” pinta Fran dengan suara bergetar.
Vincent menatapnya tanpa sedikit pun belas kasihan.
“Tidak ada kesempatan untuk kalian.”
Ia berbalik.
“Willy!”
“Iya, Tuan,” jawab Willy.
“Kirim mereka ke tambang batu bara. Mulai hari ini, tempat itu menjadi rumah mereka. Biarkan mereka menjalani sisa hidup di sana.”
Wajah Lussy langsung pucat.
“Tidak! Tuan, jangan!”
Jason juga panik.
“Aku tidak mau ke sana!” teriaknya. “Aku masih punya impian! Aku ingin menjadi orang sukses!”
Vincent menoleh dan menatap Jason dengan dingin.
“Manusia seperti kalian tidak pantas mendapatkan kehidupan yang mudah setelah apa yang kalian lakukan.”
Jason terdiam.
“Kalian bertiga telah menghancurkan hidup Stella selama sepuluh tahun.”
Vincent melangkah mendekat.
“Sekarang rasakan sendiri bagaimana rasanya kehilangan masa depan yang kalian inginkan.”
Ia menatap Lussy, Fran, dan Jason satu per satu.
“Penderitaan yang kalian berikan kepada Stella akan kubalas satu per satu.”
Willy langsung memberi isyarat kepada anak buahnya.
“Bawa mereka pergi.”
“Tidak! Lepaskan aku!” teriak Jason.
Namun tidak ada yang peduli.
Ketiganya diseret keluar dari ruangan, sementara Vincent hanya berdiri diam dengan tatapan dingin.
"Stella, aku tidak percaya kau tidak punya perasaan padaku. Karena aku sudah tahu alasannya. Aku akan membuatmu rela menerimaku," gumam Vincent.