Indonesia
NovelToon NovelToon
Jadi Janda? Siapa Takut?

Jadi Janda? Siapa Takut?

Status: tamat
Genre:CEO / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.

Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.

Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.

Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?

"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.

"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.

Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jadi Janda? Siapa Takut? 34

Rumi bangkit dengan tubuh yang terasa remuk. Kram di perutnya masih terasa sesekali, namun ia menguatkan hati. Dia mandi, dan bersiap untuk bekerja. Inilah alasan Rumi menolak keinginan suaminya untuk berhenti dari pekerjaannya.

Tepat saat dia sudah tiba di ruang tamu, suara mobil terdengar memasuki halaman. Jantung Rumi berdegup kencang, bukan karena rindu. Melainkan karena rasa sakit yang kembali berdenyut. Kecewa dengan perlakuan dan keputusan suaminya.

Pintu terbuka, menampakkan sosok Fathur dengan kemeja yang kusut dan wajah yang amat lelah. Matanya yang merah menatap Rumi dengan keterkejutan yang nyata. Ia tak menyangka akan mendapati istrinya sudah siap berangkat dengan tas di bahu. Padahal kemarin sebelum mendapatkan kabar ibunya sakit. Rumi sudah setuju untuk berhenti bekerja, apalagi kandungannya masuk ke bulan ke empat. Namun sekarang Arumi sudah bersiap kembali berangkat kerja.

"Dek... Kamu mau ke mana? Bukannya semalam ..." tanya Fathur dengan suara serak.

Dia melangkah mendekat ingin menyentuh bahu Rumi. Rumi mundur satu langkah, menghindari sentuhan itu seolah-olah tangan Fathur adalah bara api yang akan membakarnya.

"Bekerja, Mas," jawabnya datar, tanpa emosi.

"Mas minta maaf, Dek. Semalam Ibu benar-benar kritis, Mas tidak mungkin meninggalkan beliau. Bukannya kemarin kita sudah sepakat kamu berhenti kerja?"

"Cukup, Mas," potong Rumi. Suaranya tidak tinggi, namun tajam.

"Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun. Semalam aku sudah mendapatkan jawaban yang sangat jelas tentang di mana posisiku di hidupmu."

"Kamu sudah menunjukkan keputusan kamu dengan jelas begitupun dengan aku. Aku akan tetap bekerja. Kelak, aku harus belajar untuk mengurus dirimu sendiri," jawab Rumi membuat Fathur menggeleng.

Fathur mematung. Keheningan di antara mereka terasa jauh lebih menyesakkan daripada bentakkan semalam. Dia melihat Rumi yang tampak begitu asing dalam semalam. Fathur takut, karena ketenangan Rumi terasa sangat menyesakkan.

"Ibu dan keluargamu benar, Mas. Kamu adalah anak yang berbakti. Dan aku? Aku hanyalah orang asing yang kebetulan sedang mengandung anakmu. Orang asing yang tak pernah di anggap dan hanya di lihat saat di butuhkan baik oleh keluarganya apalagi oleh suamiku sendiri!," lanjut Rumi.

"Dek ... Bukan begitu maksudnya!"

"Pergilah ganti baju. Bukankah jabatan barumu menuntutmu untuk selalu tampil sempurna di depan rekan kerjamu? Jangan sampai citramu rusak karena urusan rumah tangga. Apalagi tanggungan kamu semakin besar dengan biaya rumah sakit ibu yang pastinya harus kamu sendiri yang menanggung seperti biasa," jawab Rumi sinis.

"Rumi, jangan bicara seperti itu! Mas sayang kamu, Mas sayang anak kita!" seru Fathur mulai panik dengan perubahan sikap Rumi. Rumi benar-benar marah padanya.

Rumi berhenti tepat di ambang pintu, ia menoleh sedikit tanpa menatap mata suaminya.

"Sayang itu menjaga, Mas, bukan membiarkan istrinya di-bully dan ditinggalkan sendirian saat hatinya han-cur bahkan di bentak di depan semua keluarga kamu. Apalagi di sana juga ada mantan kekasih terindahmu, Dona! Mulai hari ini, lakukanlah kewajibanmu sebagai anak yang berbakti sepuas hati. Aku tidak akan lagi melarang atau protes. Tapi ingat satu hal..."

Rumi mengelus perutnya dengan lembut, sebuah gerakan yang membuat Fathur merasa kehilangan dunianya saat itu juga.

"Aku tidak akan pernah membiarkan anak ini tumbuh melihat ibunya diperlakukan seperti sam-pah. Jika bagimu pintu rumah ibumu adalah surga yang harus selalu ada di atas kepalamu! Maka bagiku, pintu keluar dari hidupmu adalah keselamatanku."

Tanpa menunggu balasan, Rumi melangkah keluar. Naik ke atas motor ojek online yang sudah dia pesan. Fathur mengejar ke teras, berteriak memanggil namanya, namun Rumi tidak menoleh.

Rumi menghirup udara pagi yang dingin, membiarkan angin menghapus sisa-sisa sesak di dadanya. Keputusannya sudah bulat, dia tidak akan lagi mengemis perhatian pada hati yang sudah penuh dengan orang lain. Pada pria yang tak bisa di pegang janji dan ucapannya. Pada pria yang tak bisa menjaga kehor-matan istrinya.

Bagi Rumi, pernikahan ini sudah berakhir semalam, di balik pintu yang tertutup rapat. Ketika suaminya lebih memilih pergi untuk sebuah sandiwara daripada bertahan untuk sebuah kejujuran dan merajut masa depan bersama dia dan anak dalam kandungannya.

Apa yang sudah aku lakukan?" rintihnya ambruk di sana.

Suara bentakannya sendiri di rumah sakit kemarin terus terngiang, bergema di telinganya seperti kaset rusak. Dia ingat bagaimana mata Rumi yang biasanya teduh dan penuh cinta. Tiba-tiba meredup dan mati seketika. Saat itu, Fathur merasa sedang membela ibunya, namun kini Dia sadar. Dia baru saja meni-kam jantung wanita yang sedang mengandung da-rah dagingnya.

Fathur terduduk di tepi ranjang, meremas kemeja kusutnya. Keheningan rumah ini adalah hukuman yang lebih berat daripada makian mana pun. Dia membayangkan semalaman Rumi menangis sendirian. Berjuang demi janin mereka tanpa ingin lagi bergantung padanya.

"Aku bodoh, Rumi... Aku baji-ngan, pecun-dang yang paling bodoh," umpatnya pada diri sendiri.

Setetes air mata jatuh di pipi pria itu. Dia sadar, memenangkan hati keluarganya semalam adalah kekalahan terbesar dalam hidupnya. Dia memiliki restu ibunya, tapi ia kehilangan nyawa dari pernikahannya.

Perubahan sikap Rumi yang dingin dan mandiri bukanlah sebuah kemarahan biasa, itu adalah perpisahan batin. Dan Fathur tahu, menjemput Rumi pulang sore nanti tidak akan pernah sama lagi. Rumah ini bukan lagi surga, melainkan hanya sebuah bangunan kosong yang dihuni oleh dua orang asing yang dipisahkan oleh luka sedalam samudera. Semua karena kesalahannya sendiri yang selalu tak bisa bersikap tegas.

1
Atun
kapan cere nya sih
mooociii
laki bini sama² tolol semua, mau² nya di di suruh²
mooociii
ogah banget gue punya laki kayak gini, mending ga nikah klo model suaminya kyak gini
Sapna Anah
katanya Hana kerja anak orang kaya TPI masuk rmh sakit sudah sekali nyaru duitnya💪💪💪
Sapna Anah
s dona ini katanya kerja ko tiap hari ada d rmh shi🤦
Sapna Anah
saudara dan ibunya avtor sinting semua takut sama istri
VaNiLaLuLaBo
Allahuakbar.... di sinilah UJIAN MASYARAKAT... kita DIHITUNG,adak kita ini membantu pengurusan jenazahnya?
VaNiLaLuLaBo
mati jln penyelesaian bg orang2 zalim yg tak pernah mau mengakui kezalimannya... untung juga dia mati... kurang beban dosa berpanjangan... sempat atau tidak pertaubatannya hanya dirinya sendiri yang tahu.. Nauzubillahiminzalik.....DIHARI PERHITUNGAN nnt apakah nasib mereka atau kita..?.. ( cereka novel ini banyak pengajaran buat manusia yang mahu berfikir ).... Tahniah Thor...
VaNiLaLuLaBo
begitulah... bila orang zalim,lalu dizalimi masyarakat juga... tiada kesudahan sampai akhir... SUDAH TIDAK ADA KEBAIKAN MANUSIA MEMANUSIAKAN MANUSIA... KEBANYAKAN SIFAT PENZALIM DIIKUTI MASYARAKAT... SAMA2 SALING MENZALIMI... segala cara MENGHALALKAN perbuatan ZALIM.
VaNiLaLuLaBo
betul.... kau anak baik Thur.... keluarga kau jahat pada kau dn Arum... jika kau PANDAI,TIDAK BUTA, dan PEKA, rumah tangga kau boleh dipertahankan... aku kasihan sama Fathur dn Arumi... aku tahu, kau banyak salahnya, salah kau sebab TIDAK PANDAI,TIDAK PEKA DAN BUTA... sedihnya
VaNiLaLuLaBo
kasihannya... 😭
VaNiLaLuLaBo
nyawa manusia menggunakan wang jika mahu hidup.....? wow... gila.... mati jika tak ada wang... hospital yg sepatutnya utk RAWATAN, PERTOLONGAN CEMAS jadi Rumah Sakit..... patutlah dinamakan RUMAH SAKIT,nyawa jadi taruhan dengan wang.... HEBAT.... baru aku faham maksud RUMAH SAKIT.... huuurmmmm
VaNiLaLuLaBo
laaaaaaa kata KAYA .... buruh aja?.. (aku tk hina pekerja buruh ya)...
VaNiLaLuLaBo
kasihan Fathur... dia anak yang baik...adik yg baik... abang yg baik... suami yg baik.... tapi.... TIDAK PANDAI bukan bodoh,,, cuma dia dibodohkan oleh keluarganya sendiri.... MIRIS .... aku sedih dgn nasib yang buruk.... BUTA ... sedihnya....
Rezeki
suka fathur aku..
dia cuma salah langkah tapi hati dan fisiknya tetap pada rumi,
dan membalas dendam ke keluarganya sendiri,walaupun dia ikut hancur.
Rezeki
suka banget mulut enteng elisa ini🤣
syska
ʙᴀɢᴜs sᴇᴋᴀʟɪ ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ,..
sᴇᴘᴇʀᴛɪ ᴋɪsᴀʜ ɴʏᴀᴛᴀ...
ᴅᴀɴ ᴍᴇᴍᴀɴɢ ʜɪᴅᴜᴘ ɪᴛᴜ ᴘᴇɴᴜʜ ᴍɪsᴛᴇʀɪ...
®™Maxime😈
dahlah jadi janda aja biar sma gua🤣
Hijriani Ibrahim
heran,,, bisanya yg punya rumah malah kalah dengan dona
ayunia
kaaann jadi fajar sadboy endingnya😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!