"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali rumah Bu Marni sudah tampak sibuk. Nadia dan Arya direncanakan akan pulang kembali ke kota nanti sekitar jam sembilan pagi. Arya yang seorang polisi memang tidak bisa mengambil libur lama-lama, terlebih ada tugas piket dan dinas di kepolisian yang sudah menunggunya.
"Bi, nanti jam sembilan kan Nadia sama Arya mau pulang ke kota."
"Kamu bisa tolong Ibu ke pasar sekarang ndak? Ibu mau masak agak banyak buat bekal dan sarapan mereka sebelum berangkat."
Abi meletakkan sendok kopinya lalu mengangguk tanpa ragu. Hari memang masih pagi sekali, udara luar pun masih terasa sangat dingin menembus kulit.
"Bisa, Bu. Mau berangkat sekarang saja biar pasarnya belum terlalu ramai," sahut Abi siap membantu. "Apa saja yang mau dibeli, Bu?"
Bu Marni tersenyum lega, lalu mulai berjalan ke arah meja untuk mengambil secarik kertas catatan belanjaan dan selembar uang.
"Ini, beli daging ayam yang segar pilih, bumbu dapur lengkap, sama sayuran buat bikin sup. Jangan lupa beli buah juga ya buat bekal."
Bu Marni menyodorkan lembaran uang itu, namun Abi menolaknya dengan halus. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet kulitnya yang agak kusam, lalu membukanya untuk mengambil beberapa lembar uang hasil panen sawahnya semalam.
"Pakai uang Abi saja, Bu," ucap Abi sambil menyunggingkan senyum tipis dan memasukkan kembali dompetnya ke saku. "Uang hasil panen kemarin kan masih utuh. Lagian buat makan adik sendiri ini."
Bu Marni menatap putranya dengan tatapan haru, lalu mengusap bahu Abi pelan. "Ya Allah, Bi... Terima kasih ya. Selalu repot kamu ini."
"Mboten Bu, ora papa. Sekalian Abi mau mampir beli jajanan pasar," sahut Abi santai. Ia melirik ke arah kamar belakang tempat Akbar dan Aqil masih tertidur lelap bergulung selimut.
"Abi titip Akbar sama Aqil ya, Bu. Anak-anak belum bangun. Nanti kalau mereka bangun, suruh cuci muka dulu, jangan dibiarkan langsung main."
"Iya, beres. Nanti Ibu yang jagain. Kamu hati-hati naik motornya, jalannya masih agak licin kena embun pagi," pesan Bu Marni.
Abi mengangguk, lalu meraih kunci motor di atas meja dan melangkah keluar menembus dinginnya udara subuh desa menuju pasar.
Abi menyalakan mesin motornya yang menderu pelan di kesunyian pagi. Udara dingin khas perdesaan merasuk hingga ke tulang saat ia menyusuri jalanan tanah yang masih dibasahi embun subuh.
Pasar tradisional desa sudah mulai menggeliat riuh saat Abi memarkirkan motornya di tepi area pasar. Bau rempah-rempah bercampur aroma sayuran segar menyambut langkahnya. Abi berjalan menyusuri lorong pasar yang makin ramai, mengeluarkan kertas catatan dari Bu Marni sambil melihat-lihat lapak pedagang.
Ia bergerak cepat dan cekatan. Abi membeli dua kilogram daging ayam segar, bumbu dapur lengkap seperti bawang, cabai, dan rempah sup, serta beberapa ikat sayuran hijau. Tak lupa, ia juga mampir ke lapak buah untuk membelikan sekeranjang jeruk manis dan apel sebagai bekal perjalanan untuk Arya dan Nadia.
Saat hendak menuju parkiran motor, langkah Abi terhenti di depan lapak jajanan pasar tradisional. Bau harum kue lapis, cenil, dan klepon hangat menggugah selera. Abi tersenyum membayangkan wajah kedua buah hatinya jika melihat jajanan favorit mereka.
"Mbak, bungkuskan kue lapisnya sepuluh, klepon satu mika, sama cenilnya satu porsi ya," pesan Abi ramah.
Saat baru saja keluar dari area lapak jajanan pasar menuju tempat parkir motor, langkah Abi mendadak terhenti. Di depan lapak bumbu dan sayuran, ia melihat sosok gadis yang tak asing lagi baginya.
Kayla sedang berdiri memegang kantong plastik berisi bumbu dapur, sibuk memilih cabai merah segar. Sinar matahari pagi yang baru muncul tipis menimpa wajahnya, membuatnya tampak begitu segar alami.
Abi sempat ragu sejenak, namun akhirnya ia melangkah mendekat sambil membawa bungkusan belanjaan di tangannya.
"Belanja juga, Dek?" sapa Abi pelan.
"Eh, Mas Abi..." sahut Kayla.
"Iya, Mas. Disuruh Ibu beli bumbu dapur sama sayur yang kurang buat masak pagi. Mas Abi belanja sebanyak itu buat apa?"
"Ini, Ibu minta tolong dibelikan bahan masak. Nadia sama suaminya mau pulang ke kota jam sembilan nanti," jawab Abi ramah, lalu melirik kantong belanjaan Kayla.
"Sudah selesai belanjanya?"
"Ini tinggal bayar cabai aja, Mas," jawab Kayla sambil menyodorkan uang ke pedagang sayur.
Setelah menerima uang kembalian dan kantong plastik belanjanya, Kayla melangkah berdampingan dengan Abi menuju area parkiran motor.
"Naik motor, Dek?" tanya Abi memastikan.
"Nggak, Mas, tadi jalan kaki dari rumah. Kan deket," senyum Kayla.
Abi menatap kantong belanjaan Kayla yang tampak agak berat, lalu menawarkan dengan canggung namun tulus.
"Mau bareng saja? Sekalian saya mau lewat depan rumah bapak kok."
Kayla tersenyum canggung sambil menggelengkan kepalanya pelan, merasa tak enak hati. "Nggak usah, Mas... Rumah aku kan paling ujung dekat persawahan sana, muter jauh dari rumah Mas Abi."
"Ora papa, Dek. Naik saja," sahut Abi tenang namun penuh kepastian, sambil memiringkan posisi motor dan menepuk pelan jok belakangnya yang masih kosong.
"Sekalian saya mau lewat sana juga kok, nggak usah sungkan."
Ia tak bisa menolak lagi. Dengan perlahan dan hati-hati, Kayla melangkah mendekat lalu naik ke jok belakang motor Abi, merapatkan kantong belanjanya di pangkuan.
"Sudah, Mas..." bisik Kayla pelan dari belakang.
"Nggeh, pegangan Dek," pesan Abi singkat.
Di tengah embusan angin pagi yang dingin, Kayla sedikit memajukan posisinya di boncengan agar suaranya terdengar jelas mengalahkan deru mesin motor.
"Mas..." panggil Kayla pelan.
Abi melirik sedikit ke kaca spion motornya, lalu membalas dengan suara bassnya yang teduh. "Pripun, Dek? Ada apa?"
Kayla menggeser sedikit kantong belanjaannya di pangkuan sebelum bertanya, "Mbak Nadia kapan lagi main ke sini, Mas?"
"Ngga tahu, Dek. Nunggu lahiran aja mungkin," jawab Abi santai sambil fokus memperhatikan jalanan tanah yang bergelombang.
"Soalnya Mas Arya kan dinasnya, liburnya ndak bisa lama-lama. Nanti kalau sudah makin besar perutnya Mbak Nadia, kasihan kalau bolak-balik perjalanan jauh."
"Oalah... iya juga sih, Mas. Berarti ini mumpung masih bisa pulang ya," sahut Kayla mengangguk-angguk paham dari belakang.
Tak lama kemudian, motor Abi berhenti tepat di depan gapura bambu rumah Pak Darno. Suasana di sekitar rumah terasa begitu asri dengan embun pagi yang masih menetes dari dedaunan pohon mangga di halaman.
Kayla perlahan turun dari boncengan, lalu merapikan rok dan kantong belanjanya. "Matur nuwun ya, Mas Abi, udah dibarengin sampai depan rumah."
"Sami-sami, Dek. Saya langsung pamit ya, kasihan Ibu nungguin bumbu belanjaan di dapur," pamit Abi sambil melemparkan senyum hangat.
"Nggeh, Mas. Hati-hati di jalan ya."
Abi mengangguk pelan, memutar arah motornya, lalu melaju kembali menuju rumah ibunya. Kayla berdiri sejenak menatap punggung Abi yang makin menjauh, menyunggingkan senyum manis yang sukar pudar, sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di halaman rumah sang ibu, Abi langsung mematikan mesin motornya. Namun, senyumnya mendadak berganti menjadi rasa panik saat melihat pintu depan sudah terbuka lebar.
Di sana, berdiri sosok mungil Aqil yang sedang terisak pelan. Matanya sembap, pipinya basah oleh air mata, dan bibir mungilnya maju beberapa senti. Kedua tangan kecilnya mengepal di samping paha, menatap sang ayah dengan wajah paling merajuk yang ia punya.
"Ayah....." panggil Aqil.
Abi bergegas menstandarkan motornya dan berlari kecil menghampiri anak bungsunya itu. Ia berjongkok di depan Aqil, memegangi kedua bahu kecilnya yang naik turun menahan tangis.
"Loh, loh... Kenapa anak ganteng Ayah menangis pagi-pagi gini? Hm?" tanya Abi lembut sambil mengusap air mata di pipi Aqil.
Aqil mengusap hidungnya dengan punggung lengan, lalu menatap Abi dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa Aqil ndak di ajak ke pasal, Yah? Hiks... Aqil kan mau ikut beli jajanan sama Ayah... Ayah jahat ndak ngajak Aqil!"
Dari dalam rumah, Bu Marni keluar sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat cucunya. "Baru aja bangun tidur langsung nyari kamu, Bi. Begitu tahu kamu ke pasar sendiri, langsung lari ke pintu depan terus nangis bombay begitu," terang Bu Marni terkekeh pelan.
Abi tersenyum maklum, merasa bersalah sekaligus gemas melihat tingkah anak bungsunya. Ia menyapu rambut Aqil yang berantakan bangun tidur, lalu mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
"Maaf ya, Sayang. Tadi Ayah berangkatnya subuh-subuh sekali, Aqil-nya masih tidur nyenyak banget bergulung selimut," bisik Abi menenangkan sambil mengusap-usap punggung Aqil.
"Tapi Ayah nggak lupa kok. Ayah belikan jajanan pasar banyak banget buat Aqil sama mas Akbar."
"Beli klepon ndak, Yah?" tanya Aqil polos dengan sisa-sisa air mata di pipinya.
"Beli dong! Beli klepon, beli kue lapis, sama cenil juga ada di motor," jawab Abi sambil terkekeh pelan, lalu mencium gemas pipi bungsunya yang masih basah kuyu oleh air mata.
Mendengar daftar makanan kesukaannya dipanggil, tangis Aqil seketika sirna. Pipi cabinya terangkat, menyunggingkan senyum lebar tanpa dosa meski hidungnya masih kumat-kumit menahan sisa sedu.
"Mana Yah? Akil mau kleponnya!" rengek Aqil semangat, langsung meronta pelan Minta turun dari gendongan Abi.
"Sabar dulu, cuci muka sama gosok gigi dulu sana sama Kakak Akbar. Baru boleh makan kue," sahut Abi sambil menurunkan Aqil ke lantai teras.