Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Super Cool Berseragam Loreng

Suami Super Cool Berseragam Loreng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:22.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.

Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.

Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Ada hari-hari ketika ia hanya mampu berbaring sambil memeluk bantal, berharap rasa mual itu segera berlalu. Tangisnya pun menjadi lebih mudah pecah, bukan karena ia menyesal hamil, melainkan karena tubuhnya terasa bukan lagi miliknya sendiri. Di saat-saat seperti itu, keberadaan Sarif sangat membantu. Ia menerima kata-kata penyemangat, lalu kembali menjalani hari-harinya dengan sabar.

Memasuki trimester kedua, kondisinya perlahan membaik. Tenaganya mulai kembali, wajahnya tidak lagi sepucat beberapa bulan sebelumnya, dan ia sudah bisa mengajar les bahasa Inggris meski dengan jadwal yang lebih ringan. Rasa mual memang belum benar-benar hilang. Sesekali ia masih muntah, terutama ketika mencium aroma tertentu atau jika terlambat makan. Namun setidaknya ia sudah bisa menikmati kehamilannya dengan lebih tenang. Perutnya mulai membulat, dan untuk pertama kalinya ia merasakan gerakan kecil dari calon buah hatinya. Setiap tendangan mungil itu seolah menjadi hadiah yang menghapus semua rasa lelah selama berbulan-bulan. Tara selalu tersenyum setiap kali mengusap perutnya sambil berbisik, "Nak, ternyata perjuangan Ibu sepadan ya. Kamu tumbuh dengan baik di dalam sana."

Perjalanan itu mengajarkan Tara satu hal. Menjadi seorang ibu ternyata dimulai jauh sebelum seorang anak lahir ke dunia. Sejak dua garis merah muncul di alat tes kehamilan, seorang perempuan telah belajar mengorbankan kenyamanan, tenaga, waktu, bahkan tubuhnya sendiri demi kehidupan kecil yang sedang bertumbuh. Dan meski setiap harinya penuh rasa mual, lelah, Tara tidak pernah sekali pun menyesali perjuangan itu. Karena di balik setiap muntah, setiap air mata, dan setiap malam yang terasa panjang, ada satu alasan yang selalu membuatnya bertahan sebentar lagi, ia akan bertemu dengan buah hati yang selama ini hanya bisa ia peluk melalui doa.

***

Memasuki trimester ketiga, Sarif akhirnya mengabarkan kabar yang sebenarnya tak ingin Tara dengar. Suaminya akan dikirim dinas. Kabar itu disampaikan Sarif saat mereka jalan-jalan sore. Saat diperjalanan pulang, beberapa kali Sarif terlihat ingin berbicara, tetapi ia tampak ragu-ragu.

Senyum Tara perlahan memudar ketika melihat wajah Sarif kembali berubah serius. Sejak tadi, suaminya beberapa kali ingin mengatakan sesuatu, tetapi selalu mengurungkannya. Bahkan setelah makan siang selesai, Sarif belum juga menghidupkan mesin mobil. Ia hanya menggenggam kemudi beberapa saat, lalu menoleh ke arah Tara.

"Sayang, Ada satu kabar yang harus aku sampaikan." Akhirnya Sarif memberanikan diri bicara.

Entah mengapa, dada Tara langsung terasa sesak.

Sarif menarik napas panjang. "Aku mendapat penugasan. Lokasinya cukup jauh. Dan aku harus berangkat dalam pekan ini. Kamu tahu berita kerusuhan itu, kan?" Sarif menyebutkan sebuah lokasi di provinsi sebelah. Memang berita tentang keamanan di sana sedang memanas. Makanya batalyon Sarif juga ikut diturunkan untuk pengamanan tersebut.

Kalimat itu seperti menghentikan dunia Tara sejenak. Matanya langsung memerah. "Berapa lama?"

"Belum bisa dipastikan."

Air mata Tara jatuh begitu saja. Ia berusaha menahannya, tetapi semakin ditahan justru semakin deras.

Sarif segera meraih tangannya. "Hei!"

Tara menggeleng berkali-kali. "Aku tahu. Aku tahu dari awal menikah sama tentara pasti akan ada hari seperti ini. Tapi aku tetap nggak siap." Tangisnya pecah.

Sarif memindahkan posisi duduknya lebih dekat, membiarkan Tara menangis di bahunya.

Di sela isak tangisnya, Tara menggenggam erat baju suaminya. "Bang, pokoknya apa pun yang terjadi Abang harus pulang."

Sarif mengusap pelan rambut istrinya. "Pasti aku usahakan."

Tara menggeleng. "Bukan diusahakan. Harus. Aku belum siap jadi janda."

Kalimat itu membuat dada Sarif ikut sesak.

Tara mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata. "Aku lho cinta banget sama Abang. Jangan tinggalin aku. Jangan tinggalin aku sama anak kita." Suara Tara bergetar hebat.

Sarif memeluknya lebih erat. "Sayang, dengarkan aku."

Tara hanya mengangguk pelan di dalam pelukannya.

"Aku berangkat bukan karena ingin meninggalkan kalian. Aku berangkat karena itu amanah yang harus ku jalankan. Tapi satu hal yang bisa ku janjikan," Sarif mengangkat dagu Tara agar mata mereka bertemu. "aku akan menjaga diriku sebaik mungkin. Karena aku punya alasan untuk pulang." Sarif kemudian meletakkan telapak tangannya di atas perut Tara. "Alasanku ada di sini. Lalu," Tangannya berpindah menggenggam tangan Tara. "dan di sini. Aku ingin pulang. Aku ingin melihat anak kita lahir. Aku ingin melihat dia tumbuh. Aku ingin menjadi tua bersamamu."

"Kamu akan pulang sebelum anak kita lahir, kan?" Tara langsung memastikan. Ia memang belum bisa membayangkan bertaruh nyawa tanpa suaminya.

"Semoga kalau semua sudah aman, aku akan segera pulang." Sarif berusaha mengautkan meski ia tahu kemungkinan pulang secepat itu sangat mustahil mengingat bagaimana kacaunya kondisi di lapangan saat ini.

"Berarti ada kemungkinan," Tara langsung menangis keras.

"Sayang, tenang ya. Kamu akan jadi ibu yang kuat untuk anak kita. Kamu berusaha. Dua trimester ini kamu sudah sangat kuat, kamu pasti bisa."

Tangis Tara belum sepenuhnya berhenti, tetapi kini ia mengangguk pelan. "Janji, kamu akan pulang. Aku juga janji akan kuat!"

"Janji." Sarif mengecup kening istrinya dengan lembut.

Di dalam mobil itu, mereka saling berpelukan cukup lama. Untuk pertama kalinya sejak menikah, Tara benar-benar merasakan beratnya menjadi istri seorang prajurit. Ia tidak menangis karena tidak mendukung tugas suaminya, melainkan karena ia terlalu mencintai lelaki itu. Dan justru karena cinta itulah, doa yang paling sering ia panjatkan mulai hari itu menjadi sangat sederhana, semoga setiap langkah Sarif dalam menjalankan tugas selalu berada dalam lindungan Tuhan, dan semoga selalu ada jalan yang membawanya pulang kepada keluarga yang menunggu dengan penuh rindu.

***

Sejak hari itu, Tara tidak lagi menghabiskan waktunya untuk menangis. Setelah menguatkan hati, ia memilih melakukan hal yang menurutnya jauh lebih bermanfaat, membantu mempersiapkan seluruh perlengkapan dinas Sarif. Seisi rumah berubah menjadi tempat pengecekan barang. Seragam dinas yang telah dicuci disetrika kembali hingga benar-benar rapi. Sepatu dibersihkan sampai mengilap. Tas ransel dibuka, lalu diisi kembali dengan pakaian secukupnya, perlengkapan mandi, obat-obatan pribadi, perlengkapan ibadah, dan berbagai kebutuhan lain yang telah disusun berdasarkan daftar yang dibuat Sarif.

Tara bahkan memberi label kecil pada beberapa kantong agar suaminya lebih mudah menemukan barang yang dibutuhkan. Sesekali ia bertanya, "Bang, ini sudah cukup?" atau "Yang ini perlu dibawa juga nggak?"

Sarif hanya tersenyum melihat kesungguhan istrinya.

Diam-diam, Tara juga menyelipkan beberapa kejutan kecil ke dalam tas suaminya. Ia memasukkan sebungkus camilan favorit Sarif, foto-foto USG calon bayi mereka yang sudah dimasukkan ke dalam plastik bening agar tidak rusak, serta secarik kertas kecil bertuliskan, "Jangan lupa makan. Jangan lupa istirahat. Dan jangan lupa pulang. Kami menunggu Abang di rumah. Dari Istri dan calon anakmu." Tulisan itu dibuat dengan huruf yang sedikit miring karena tangannya masih gemetar setiap kali membayangkan hari keberangkatan.

1
Rian Moontero
mampiirr👍👍🤣
Jumi Eko
Bagus
falea sezi
lanjut
falea sezi
lanjut donk
Hara Hari
orang yang iri dengki itu wajahnya bakalan kusut🤣🤣🤣
Hara Hari
Syok ga tuh Ratna hahahahaha, makanya tobat, jangan iri dengki
Hara Hari
beruntungnya punya ibu mertua yang baik
lin sya
apakah ratna akan mnjdi antagonis buat sepupunya tara, hnya krn iri dan gk bersyukur pdhl udh dinasehatin sm nenek dan ibunya, smga gk jdi pelakor ya, pdhl masa remaja tara susah pas dewasa dia beruntung dpt suami dan mertua baik plus kaya💪
lin sya
lbih baik tara fokus sm kelahiran anak dan suami, klo berkunjung kermh nenek jgn trllu dkt tp bkn sombong ya, tkutnya ratna msih pnya sft iri dan mngkin krma krn pernah nyinyirin tara gk kuliah sedangkan ratna gk lulus kuliahnya
Hara Hari
Hara Hari
InshaAllah ✓
Hara Hari
🤣🤣🤣🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!