Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fahmishodiq Abdullah

Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang tak terduga

Pagi itu, Kirana berdiri di depan cermin rumah kosnya lebih lama dari biasanya.

Ia memakai blazer abu-abu gelap yang ia beli sendiri dari hasil kerja kerasnya—bukan pemberian siapa pun, bukan hasil belanja bersama ibu mertua yang dulu selalu mendikte apa yang pantas dan tidak pantas ia kenakan. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tenang, meski jantungnya tidak berhenti berdegup sejak semalam.

"Siap, Bu Kirana?" tanya salah satu analis mudanya, Dimas, yang akan ikut mendampingi ke pertemuan.

"Siap," jawab Kirana, meski di dalam hati ia masih menata napas.

Pak Hadi menawarkan diri untuk ikut, tapi Kirana menolak halus. "Biar saya sendiri dulu, Pak. Ini bukan cuma soal bisnis buat saya."

Pak Hadi menatapnya lama, seperti mengerti ada sesuatu yang tidak diucapkan Kirana, lalu mengangguk. "Kalau begitu, hati-hati. Dan ingat—apa pun yang terjadi di sana, kamu sudah jadi orang yang jauh lebih kuat dari beberapa bulan lalu."

Kata-kata itu Kirana bawa sepanjang perjalanan menuju gedung PT Sentosa Abadi Grup—gedung kaca tinggi yang dulu, saat masih berstatus istri Rangga, hanya pernah ia kunjungi sebagai tamu di acara-acara formal keluarga, tak pernah sebagai pihak yang setara.

Ruang rapat di lantai delapan belas itu didesain mewah—meja kayu panjang mengilap, dinding kaca menghadap kota, dan deretan kursi kulit yang sudah terisi separuh oleh jajaran direksi Sentosa Abadi saat Kirana dan Dimas masuk.

Rangga duduk di kepala meja, menunduk membaca berkas, belum mendongak saat pintu terbuka.

"Perwakilan dari PT Cahaya Abadi Investama sudah hadir, Pak," kata sekretaris yang mengantar mereka masuk.

Rangga mendongak, siap memberikan senyum formal standar untuk menyambut mitra bisnis baru.

Senyum itu membeku di wajahnya.

Untuk beberapa detik, ruangan itu terasa seperti berhenti berputar. Rangga menatap sosok yang berdiri di depan pintu—wajah yang sangat ia kenal, meski kini terlihat berbeda: lebih tegak, lebih tenang, dengan tatapan yang tidak lagi mencari persetujuannya seperti dulu.

"Kirana?" Suara Rangga keluar nyaris berbisik, cukup keras untuk membuat beberapa direksi lain saling pandang bingung.

Kirana melangkah masuk dengan tenang, mengulurkan tangan seperti protokol bisnis formal pada umumnya. "Selamat pagi. Saya Kirana Kusuma Broto, perwakilan dari PT Cahaya Abadi Investama."

Rangga menatap tangan itu, lalu menatap wajah Kirana, tidak segera membalas uluran tangannya. "Kamu... K. Broto?"

"Benar," jawab Kirana, tetap tenang, tangannya masih terulur profesional. "Ada masalah, Pak Wijaya?"

Panggilan formal itu—"Pak Wijaya"—terasa seperti tamparan halus bagi Rangga. Selama lima tahun, wanita ini memanggilnya "Mas", "Sayang", bahkan di saat-saat paling sederhana sekalipun. Sekarang, di hadapan jajaran direksinya sendiri, ia dipanggil dengan sapaan seformal orang asing.

Rangga akhirnya menjabat tangan itu, terasa canggung. "Tidak. Tidak ada masalah. Silakan duduk."

Pertemuan berlangsung dengan suasana yang aneh—sebagian besar direksi tidak tahu latar belakang di antara Rangga dan Kirana, sehingga rapat tetap berjalan formal membahas kemungkinan kerja sama pendanaan untuk menyelamatkan proyek Kavling Timur.

Kirana mempresentasikan analisisnya dengan tenang, membuka laptop, menunjukkan data yang sudah disiapkan timnya semalam.

"Berdasarkan laporan yang saya terima, masalah utama proyek ini bukan soal kekurangan dana," kata Kirana, suaranya jelas dan percaya diri. "Masalahnya ada di manajemen kontraktor. Biaya membengkak karena kontraktor baru yang dipilih tidak efisien, sementara kontraktor lama sebenarnya sudah punya rekam jejak lebih baik untuk proyek skala ini."

Beberapa direksi mengangguk setuju, sebagian mulai berbisik satu sama lain. Rangga duduk diam, rahangnya mengeras—karena Kirana benar, dan semua orang di ruangan itu tahu siapa yang memutuskan mengganti kontraktor tersebut.

"Jadi rekomendasi Anda?" tanya Pak Wijaya, yang sejak tadi memperhatikan Kirana dengan tatapan penuh minat, tanpa tahu sedikit pun hubungan masa lalu antara Kirana dan putranya.

"Kembalikan ke kontraktor lama, atau cari kontraktor baru yang benar-benar dipilih berdasarkan rekam jejak, bukan berdasarkan... preferensi pribadi," jawab Kirana, memilih kata-katanya hati-hati, meski semua orang di ruangan itu tahu ke mana arah kalimat itu. "Soal pendanaan, PT Cahaya Abadi Investama bersedia membantu sebagian, dengan syarat manajemen proyek diperbaiki dulu. Kami tidak berinvestasi di proyek yang fondasinya masih goyah."

Kalimat itu—"kami tidak berinvestasi di proyek yang fondasinya masih goyah"—terasa seperti ditujukan bukan hanya untuk proyek Kavling Timur.

Setelah rapat resmi selesai dan sebagian besar direksi meninggalkan ruangan, Rangga meminta waktu bicara empat mata dengan Kirana. Dimas mengerti isyarat itu, undur diri lebih dulu ke luar ruangan.

"Kenapa nggak bilang dari awal kalau kamu yang jadi K. Broto?" tanya Rangga begitu ruangan kosong, suaranya campuran antara bingung dan sesuatu yang lain—mungkin kagum, mungkin menyesal, ia sendiri tidak yakin.

"Kenapa saya harus bilang?" Kirana balik bertanya, menutup laptopnya perlahan. "Kita bukan lagi apa-apa, Rangga. Saya cuma perwakilan perusahaan yang datang untuk urusan bisnis."

"Kirana, aku—" Rangga berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. "Aku nggak nyangka kamu bisa jadi seperti ini. Secepat ini."

"Kamu nggak pernah benar-benar tahu siapa aku dari awal," jawab Kirana, tanpa nada amarah, hanya fakta yang diucapkan datar. "Itu yang jadi masalahnya."

Rangga terdiam, kata-kata itu terasa lebih menyakitkan daripada bentakan sekalipun.

"Soal proposal kerja sama tadi," lanjut Kirana, kembali ke nada profesional, "tim saya akan kirim detail syarat dan ketentuannya minggu ini. Kalau perusahaan Anda setuju, kita lanjutkan. Kalau tidak, tidak masalah juga."

Ia mengangguk sopan, lalu berjalan menuju pintu, meninggalkan Rangga berdiri sendirian di ruang rapat yang tiba-tiba terasa jauh lebih besar dan kosong dari biasanya.

Sebelum benar-benar keluar, Kirana berhenti sejenak di ambang pintu, tanpa menoleh.

"Satu hal lagi, Rangga," katanya pelan. "Terima kasih sudah menceraikan aku waktu itu. Kalau bukan karena itu, mungkin aku nggak akan pernah tahu aku bisa jadi seperti ini."

Ia melangkah keluar, meninggalkan Rangga dengan kalimat yang akan terus terngiang di kepalanya sepanjang hari itu—dan mungkin, sepanjang hidupnya.

1
sunaryati jarum
Semoga segera dapat cari solusi atau pilihan
sunaryati jarum
Pinter Kirana , sesuai dengan cara kerjamu berinvestasi, pemikiran Alya
sunaryati jarum
Selamat sudah sukses Kirana
sunaryati jarum
Bagus Kirana,kamu tidak menyimpan dendam,Itu membuat.langkah kamu meniti karir lebih ringan
sunaryati jarum
Belum.bisa menguasai Rangga sudah jatuh. Tanpa melakukan apapun sudah ada yang membahas Kirana.Yang bukan Kam atau perubahan kamu yang membuatnya
sunaryati jarum
Baru bertunangan kok sudah satu rumah dan ada rekening bersama
sunaryati jarum
Cara kotor yang kamu gunakan untuk menjatuhkan Kirana yang tetap berdiri kokoh akan menghancurkan dirimu sendiri, Vania
sunaryati jarum
Semoga segera ketahuan jika Vania pelakunya
sunaryati jarum
Perkataan telak menghunjam hati Rangga jika merasa, diceraikan malah berterimakasih.Dulu di keluarga kamu meremehkan Kirana orang biasa tidak bisa apa- apa tidak selevel dengan Vania.
sunaryati jarum
Ikutilah hasil pengalaman ayahmu, semoga merupakan langkah menuju keberhasilan,Kirana
sunaryati jarum
Selalu berkembang dan merambah ke usaha lain yang butuh suntikan dana dan pengembangan pemasaran,semoga semua berhasil.Untuk Rangga siap- siap perusahaan kamu ditinggalkan investor karena mengikuti Vania yang tidak tahu apa- apa.
A-iwak
ok akan di lanjutkan
sunaryati jarum
Kamu jeli Kirana, pertahankan walau perusahaan sudah besar nanti tetep teliti
sunaryati jarum
Sukses Kirana
sunaryati jarum
Mungkin yang memiliki masalah kesuburan Rangga.Emak baru mampir Thoor /Heart//Heart//Heart/
Kumbang di taman
Kirana, sebuah nama yang indah
Kumbang di taman
semangat selalu 😍
A-iwak: terimakasih atas kunjungannya
total 1 replies
Kumbang di taman
sukses selalu Author 👍
Kumbang di taman
sangat menarik
Adinda
toko utamanya Kirana atau dimas Dan alya,kalau bisa libatkan toko pemeran utamanya Dan tokoh yang jadi pendamping hidup Kirana,jadi ceritanya makin seru.
A-iwak: ok kak masukan saya terima kak,makasih atas masukan dan sarannya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!