Aku menikahi dia, tapi justru pamannya yang membuatku kehilangan akal. Setiap kali pria itu menatapku, ada bara yang tak bisa kupadamkan. Di mata keluarga, pria itu hanyalah paman dari suamiku. Di hatiku, dia adalah pria yang tak pernah boleh kusentuh. Namun, semakin aku menghindar, semakin dekat dia datang, membawa bisikan-bisikan yang memecah pertahananku. Bagaimana jika cinta ini terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENAHAN DIRI
Seline memandang kepada Nyonya Gia. Dia merasa seharusnya dulu tidak memgambil resiko untuk menikah dengan Eric. Perbedaan mereka cukup jauh. Dia hanyalah seorang mahasiswa kedokteran yang mendapatkan beasiswa. Ibu dan Ayahnya hanyalah seorang pensiunan guru.
Namun, Eric berhasil meyakinkan hatinya, agar mau menerima pinangannya. Tapi, sepertinya Eric tidak benar-benar bisa menaklukan hati Nyonya Gia untuk bisa menerima Seline sebagai menantunya.
Yang Nyonya Gia inginkan adalah menantu dari keluarga kaya terpelajar dan kaya raya. Dan Riana adalah pilihan yang tepat untuk Eric. Jadi bagi Nyonya Gia, kehadiran Seline adalah sebuah kekacauan.
Mendengar perkataan Mama mertuanya itu, tidak semerta-merta membuatnya marah. Seline berdiri dengan tenang, lalu dia berkata dengan nada sedikit sarkas, "Untuk apa aku cemburu, bukankah dia yang tidak ingin bercerai dariku!"
"Jika Mama punya cara agar dia bersedia menceraikanku, maka aku akan sangat berterima kasih!"
"K-kau... dasar menantu tidak tahu diri!" hardik Nyonta Gia.
Belum juga perdebatan mereka selesai. Pada saat ini Nyonya Mia masuk ke ruangan Seline. "Jadi kau orangnya ya! Yang telah membunuh cucuku?"
Seline tertawa sarkas, sambil mengusap tengkuk lehernya yang baru saja merasa bergidik. Melihat reaksi Seline yang biasa saja. Nyonya Mia pun berkata lagi sambil mengancam. "Aku akan melaporkan ini ke polisi. Lihat saja, aku akan pastikan kau dipenjara!"
"Oh silakan saja!" kata Seline seraya mengambil tasnya dan langsung pergi meninggalkan ruang kerjanya. Sampai-sampai lupa melepas jas putih panjangnya.
"Sial, seharusnya aku tidak datang!" Lagi-lagi Seline menyesali keputusan hatinya. Berniat ingin memperjelas semuanya kepada Riana, malah berakhir ricuh dan dituduh sebagai pembunuh.
Seline pun memutuskan untuk pulang, dia melajukan mobilnya. Rasa lelah yang sangat dalam menderanya lagi. Sambil menghela napas panjang dia masuk ke unitnya. Lalu memutuskan beristirahat lebih cepat tanpa makan malam.
Keesokan paginya, dia dibangunkan oleh bunyi suara ponselnya. "Apa sudah siap?" sapa suara Xander melalui ponsel.
Xander, pikirnya, mulai mengenali suara pria itu. "Ah, iya. Kita akan Ke sekolah Rafael ya!" kata Seline dengan sedikit sengau.
"Kami sudah di bawah, menunggumu!" kata Xander lagi.
"15 menit, beri aku waktu 15 menit!" Kata Seline yang langsung bangkit dari ranjang dan langsung mandi ala ala koboi, alias secepat kilat.
Setelah mandi, Seline tampak jauh lebih segar. Rambutnya yang masih sedikit basah tergerai lembut di bahunya, sementara beberapa helai menempel di sisi wajahnya. Kulitnya terlihat bersih dan bercahaya alami, seolah kesegaran air yang membasuh tubuhnya masih tertinggal di sana.
Wajahnya tampak cerah tanpa banyak riasan. Pipinya memiliki rona lembut, bibirnya terlihat segar, dan matanya tampak lebih jernih. Aroma sabun yang samar masih menguar ketika dia melangkah keluar dari kamar mandi.
Dengan pakaian rumah yang sederhana dan rambut yang perlahan dikeringkannya, kecantikannya justru terlihat semakin alami meski tidak di rias. Selesai merapihkan diri, Seline langsung turun ke bawah. Dan, tepat sampai dalam waktu 15 menit ke bawah.
Menjadi seorang dokter kandungan, Seline sudah terbiasa disiplin dengn waktu. Dengan napas tersengal, seline berkata. "Ayo, kita lihat sekolahnya!"
Tiba-tiba saja Xander membalikan badannya. Dia bertelak pinggang, sambil mendongakan wajahnya. Mengambil napas panjang beberapa kali lalu mengembuskannya. "Oh ya ampun, dia cantik sekali!"
Pasa saat ini, Xander benar-benae sedang menahan diri untuk tidak memeluk seline. "Sial, aroma ini benar-benar sangat menggangguku sedari kemarin!"
"Hei! Kau ini kenapa?" Panggil Seline kepada Xander.
"Ah! Tidak apa-apa!" kata xander yang langsung masuk ke dalam mobil, tanpa melirik Seline.
"Hari ini dia aneh sekali!" Imbuh Seline dalam hati sambil membukakan pintu untuk Rafael. Lalu dia membuka pintu depan mobil. Dan duduk di kursi sebelah Xander.
Dengan masih sedikit canggung Xander pun melajukan mobilnya. Menuju ke Taman kanak-kanak Rafael. Seline melirik kepada Xander, "Apa sudah tahu mau ke sekolah yang mana!"
Xander menganggukan kepalanya tanpa berani menatap Seline. Saat ini dia takut jika dia menatapnya sekali lagi maka dia akan benar-benat langsung memeluknya dengan erat di depan Rafael.
Pada akhirnya mereka pun sampai di sekolah TK tujuan mereka. Sekolah ini
berdiri megah di kawasan yang tenang dan eksklusif. Dari luar, bangunannya tampak modern dengan arsitektur elegan, dikelilingi taman hijau yang terawat rapi serta pepohonan rindang yang membuat suasananya terasa sejuk dan nyaman.
Lagi-lagi Seline mengerutkan keningnya, lalu dia menoleh kepasa Xander. "Hei! Apa kau tidak salah tempat. Ini terlihat seperti sekolah mahal!"
"Lihatlah! Betapa bagusnya bangunan sekolah ini!" kata Seline lagi.
Xander diam tak menjawab, saat ini dia benar-benar menjaga kefokusannya agar tetap waras karena aroma manis Seline. Begitu mereka memasuki area sekolah, kesan mewah sekaligus hangat langsung terasa.
Mereka pun turun, seorang guru paruh baya menyambut mereka. "Selamat datang di sekolah kami!" Kata Kepala Sekolah.
Mereka langsung dibawa melihat lihat. Ruang kelasnya luas, bersih, dan dipenuhi cahaya alami. Setiap ruangan dirancang khusus agar anak-anak dapat belajar sambil bermain dengan aman dan menyenangkan. Perabotannya menggunakan material berkualitas tinggi, berukuran sesuai tubuh anak, tanpa sudut tajam yang membahayakan.
Sekolah itu memiliki berbagai fasilitas unggulan, mulai dari perpustakaan anak, ruang seni dan musik, laboratorium sederhana untuk mengenalkan sains, ruang bermain indoor, hingga playground outdoor dengan permainan edukatif yang memenuhi standar keamanan. Bahkan tersedia ruang kesehatan dan area makan yang bersih dengan pengawasan ketat.
"Para guru kami di sini, dipilih melalui proses yang ketat. Mereka bukan hanya memiliki kompetensi pendidikan anak usia dini, tetapi juga dikenal sabar, hangat, dan mampu memahami karakter setiap anak!" Jelas kepala sekolah
"Jumlah murid dalam setiap kelas pun dibatasi agar guru dapat memberikan perhatian secara personal.
Kurikulumnya tidak sekadar mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Anak-anak diperkenalkan pada bahasa asing, seni, kreativitas, sains, kemampuan bersosialisasi, serta kemandirian sejak dini. Setiap kegiatan dirancang untuk mengembangkan rasa ingin tahu tanpa membuat anak merasa sedang dipaksa belajar." Kepala sekolah menbahkan penjelasannya lagi.
"Wah ini pasti akan sangat mahal!" pikir Seline.
Karena tak akan mengherankan jika TK tersebut dikenal sebagai salah satu sekolah anak usia dini paling bergengsi. Orang tua tidak hanya membayar fasilitas yang lengkap, tetapi juga lingkungan pendidikan yang aman, berkualitas, dan mampu memberikan fondasi terbaik bagi masa depan anak-anak mereka.
Rafael berjalan terus di depan mereka, sambil digandeng oleh kepala Sekolah. Sementara Seline menarik Xander. "Apa yakin menyekolahkan Rafael di sini?"
"Kenapa tidak?" kata santai Rafael.
Seline mengkerutkan keningnya lagi. "Sebenarnya kerjamu apa sih!"
seline kamu polos bed
thor pengen visuaaaaalllllll
biar halu ny enak🤭
semoga si pelakor kena jebakan Batman..niat hati menjebak Selin malah dia yg terbukti bersalah
suka banget dg ketegasan tuan Mo..tapi lebih suka lagi kalau mereka di izinkan berpisah biar Selin jadi adik ipar saja 🤭
pph you the best,,,tp maaf bentar lg bkal jd istri paman
xender aku mau satuuuu