Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Pagi itu, rumah besar Wijaya terasa seperti medan perang. Televisi di ruang tamu menampilkan berita tentang keruntuhan Wijaya Corporation dengan judul-judul besar yang menyerang reputasi keluarga. Adrian duduk di kursi dengan wajah pucat, menatap layar yang menampilkan wajahnya sendiri dengan tulisan "Pengusaha Terkenal Terlibat Skandal Keuangan". Elena duduk di sampingnya, menggenggam tangannya erat, tetapi air mata terus mengalir di pipinya.

"Kita harus melakukan sesuatu," kata William dengan suara tegas. "Kita tidak bisa membiarkan mereka menghancurkan nama baik keluarga kita."

Adrian menghela napas panjang. "Aku sudah mengadakan konferensi pers kemarin. Tapi media tetap saja memberitakan hal-hal negatif. Mereka lebih suka menjual cerita tentang kehancuran daripada kebenaran."

Nathan yang berdiri di sudut ruangan, mengepalkan tangannya. "Apa kita hanya bisa diam? Ada yang harus kita lakukan untuk membalas semua ini."

Adrian menatap putranya dengan tatapan lelah. "Kita tidak bisa membalas dengan kekerasan, Nathan. Kita harus menyelesaikan ini dengan cara yang benar. Tapi butuh waktu. Dan waktu adalah sesuatu yang semakin kita kekurangan."

Di luar rumah, beberapa wartawan berkumpul di depan pagar besar, berusaha mendapatkan komentar dari anggota keluarga. Keamanan rumah diperketat, tetapi suara-suara mereka masih terdengar jelas di dalam rumah besar itu. Adeline duduk di sudut ruangan, memeluk boneka beruangnya dan menutup telinga dengan kedua tangan. Suara-suara hati orang-orang di sekitarnya begitu keras dan penuh emosi sehingga dia kesulitan bernapas.

Suara hati ayahnya adalah yang paling menyakitkan. Di balik ketenangan yang dia tunjukkan, Adrian menyimpan ketakutan yang begitu dalam. Dia takut kehilangan segalanya. Dia takut tidak bisa melindungi keluarganya. Dia takut semua usahanya selama bertahun-tahun akan hancur dalam sekejap. Dan yang terburuk, dia takut bahwa dia adalah penyebab semua ini.

Adeline membuka matanya dan menatap ayahnya. Adrian tersenyum padanya, senyum yang sama yang selalu dia tunjukkan ketika ingin membuat putrinya merasa aman. Tetapi Adeline tahu bahwa senyum itu palsu. Di balik senyum itu, ayahnya sedang berteriak dalam hati.

"Ayah," bisik Adeline pelan, mendekati ayahnya. "Ayah tidak sendiri. Adeline di sini."

Adrian memeluk putrinya erat. "Ayah tahu, Sayang. Ayah selalu tahu."

Tetapi Adeline merasakan tubuh ayahnya bergetar. Adrian berusaha keras untuk tetap kuat, tetapi tekanan sudah terlalu berat. Gadis kecil itu memejamkan matanya dan mendengarkan lebih dalam. Suara hati ayahnya berbicara tentang keputusasaan yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapapun.

Aku gagal. Aku gagal sebagai pemimpin. Aku gagal sebagai ayah. Aku gagal sebagai suami. Keluargaku menderita karena kesalahanku. Aku tidak tahu bagaimana memperbaikinya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

Adeline merasakan air mata mengalir di pipinya. Dia memeluk ayahnya lebih erat dan berbisik, "Ayah tidak gagal, Ayah. Ayah adalah ayah terbaik. Adeline sayang Ayah. Adeline percaya pada Ayah."

Adrian menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata tidak bisa keluar dari tenggorokannya. Dia hanya memeluk Adeline dan membiarkan kehangatan putrinya menenangkan hatinya.

Sementara itu, di ruang lain, Elena dan William berbicara dengan serius. "Ayah, kita harus mengambil tindakan. Adrian tidak bisa sendirian menghadapi semua ini," kata Elena dengan suara tegas.

William mengangguk. "Aku tahu. Tapi Adrian adalah orang yang keras kepala. Dia tidak suka meminta bantuan. Dia pikir dia harus menyelesaikan semuanya sendiri."

"Maka kita harus membantunya tanpa dia meminta," jawab Elena. "Aku akan menghubungi beberapa kontak lama di media. Mungkin mereka bisa membantu meluruskan berita. Dan kau, Ayah, kau masih punya pengaruh di kalangan bisnis. Mungkin kau bisa berbicara dengan beberapa investor untuk meyakinkan mereka."

William tersenyum bangga pada menantunya. "Kau wanita yang kuat, Elena. Adrian beruntung memilikimu."

Nathan yang mendengar percakapan itu, mendekati ibunya. "Aku juga bisa membantu, Bu. Aku bisa mengumpulkan teman-temanku untuk menyebarkan informasi yang benar di media sosial. Anak muda seperti kami bisa melawan berita palsu dengan cepat."

Elena menatap putranya dengan mata haru. "Kau anak yang baik, Nathan. Ibu bangga padamu."

Malam itu, ketika semua orang sudah mulai beristirahat, Adrian duduk sendirian di ruang kerjanya. Dia menatap tumpukan dokumen yang belum selesai dan merasakan beban yang begitu berat di pundaknya. Ponselnya terus berdering dengan pesan-pesan dari investor yang panik dan mitra bisnis yang mulai menjauh.

Pintu terbuka perlahan dan Adeline masuk dengan langkah pelan. Gadis kecil itu membawa segelas susu hangat dan meletakkannya di atas meja ayahnya. "Ayah, minum susu dulu. Adeline buatkan sendiri."

Adrian tersenyum melihat usaha putrinya. "Terima kasih, Sayang. Ayah akan minum nanti."

Adeline tidak pergi. Dia berdiri di samping ayahnya dan menatapnya dengan mata jernih. "Ayah, Adeline tahu Ayah takut. Adeline tahu Ayah menyembunyikannya. Tapi Ayah tidak perlu menyembunyikan ketakutan dari Adeline. Adeline bisa mendengar semuanya."

Adrian terkejut. Dia menatap putrinya dengan perasaan campur aduk. "Kamu ... kamu bisa mendengar ketakutanku?"

Adeline mengangguk. "Setiap malam, Ayah. Adeline mendengar Ayah berbisik dalam hati bahwa Ayah takut gagal. Tapi Ayah tidak gagal, Ayah. Ayah adalah pahlawan Adeline."

Adrian tidak bisa menahan perasaannya lagi. Air mata mengalir deras di pipinya saat dia memeluk putrinya erat. "Ayah minta maaf, Sayang. Ayah tidak bermaksud membuatmu khawatir. Ayah hanya ... Ayah hanya tidak tahu bagaimana menjadi kuat untuk kalian semua."

Adeline membalas pelukan ayahnya dengan erat. "Ayah sudah kuat, Ayah. Ayah selalu kuat untuk kami. Tapi sekarang giliran Adeline yang kuat untuk Ayah. Adeline akan selalu ada di sini. Adeline akan selalu mendengarkan. Adeline akan selalu melindungi Ayah."

Adrian menangis dalam pelukan putrinya, melepaskan semua beban yang selama ini dia pendam. Dan di dalam pelukan itu, dia merasakan kedamaian yang sudah lama tidak dia rasakan. Dia tidak sendirian. Dia memiliki putrinya, gadis kecil yang akan selalu berada di sisinya, mendengar setiap bisikan hatinya, dan memberinya kekuatan untuk terus berjuang.

Malam itu, rumah besar Wijaya terasa sedikit lebih hangat. Keluarga itu mungkin sedang runtuh di mata dunia, tetapi di dalam hati mereka, ikatan yang mereka miliki semakin kuat. Dan dengan Adeline sebagai perekatnya, tidak ada yang bisa benar-benar menghancurkan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!