Indonesia
NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 35 SINYAL PERANG DI UTARA

****

Beberapa Hari Kemudian

Suasana pagi yang cerah di taman paviliun terasa damai, meski terik matahari musim panas mulai menyentuh kulit. Iris duduk di kursi rotan yang teduh, tangannya yang halus mengusap perlahan perutnya yang kini membesar, menandakan usia kandungannya yang sudah menginjak enam bulan. Di sekelilingnya, bunga-bunga musim panas mekar penuh warna, angin sepoi-sepoi menerpa lembut rambut peraknya yang tergerai dengan rapi.

Di sampingnya, Lisa dan Kapten Arven berjaga, berjarak beberapa langkah dari tempat Iris duduk, memberi ruang bagi Grand Duchess untuk menikmati waktu senggangnya. Namun, meskipun suasana tampak tenang, ada satu hal yang menarik perhatian Iris. Satu tangan yang menyentuh perutnya seakan merasakan tendangan kecil yang datang dari dalam, membuatnya tersenyum lembut.

"Aduh... tendangannya makin kuat saja," gumam Iris, mengusap lembut perutnya yang kini membulat sempurna. "Kau ingin keluar dan ikut perang seperti ayahmu, ya?"

Ia tertawa kecil, namun senyum di wajahnya perlahan berubah menjadi senyum geli, matanya tertuju pada selembar surat yang ada di tangannya. Surat itu—yang sudah menemaninya sepanjang beberapa hari terakhir—adalah surat dari suaminya, Darian, yang kini berada di perbatasan utara. Surat ini adalah kabar yang sangat ia tunggu-tunggu, meskipun sedikit terlambat.

Tanpa bisa menahan rasa penasarannya, Iris membuka kembali surat itu dan membacanya pelan.

Iris mendengus. "Dan baru menulis surat setelah satu minggu lebih! Apa dia pikir aku ini batu karang yang tak punya perasaan?"

Kapten Arven, yang berdiri tegap di sisi kanan taman sambil pura-pura sibuk memeriksa formasi penjagaan, menahan tawa. “Kurasa Grand Duke hanya sedang sibuk… mungkin menyelamatkan dunia… atau mencari pena yang cocok untuk menulis surat cinta.”

Lisa tertawa makin keras. Iris menoleh dengan ekspresi datar, lalu menunjuk keduanya dengan manja.

“Kalau kalian tidak berhenti menggoda, aku akan menyuruh bayi ini menendang lebih keras dan menjadikan kalian target latihan sihir.”

Mereka semua tertawa, lalu Iris membuka kembali surat dari Darian yang sudah berulang kali ia baca namun tetap berhasil membuat pipinya merah dan hatinya berdebar.

‘Sayangku Iris…’

"Iris, aku tahu kau pasti sudah mendengar kabar yang salah tentang aku di medan perang. Jangan khawatirkan apa pun, aku baik-baik saja. Mereka yang mengabarkan aku tak akan sadar lagi... tidak tahu apa yang mereka hadapi. Aku ini bukan hanya Grand Duke biasa, aku juga punya kekuatan luar biasa—terutama di ranjang, haha."

Iris tersenyum geli membaca bagian itu. "Darian!" gumamnya dalam hati, namun di bibirnya tersungging senyum tipis yang tidak bisa ia sembunyikan.

Ia melanjutkan membaca surat itu.

"Memang benar, medan perang di utara tidak mudah. Tapi ada ayah mertuaku, Duke Maeltorn, yang selalu ada untuk mendampingiku. Walaupun dia sering mengomel seperti anak kecil, terutama mengenai istriku yang satu ini—yaitu kamu, Iris."

Iris tertawa kecil, membayangkan bagaimana Duke Maeltorn—ayahnya yang terkenal dengan ketegasan dan kekerasannya—sangat peduli pada menantunya meski tidak pernah menunjukkannya secara langsung. Ia melanjutkan membaca.

"Tunggu aku, aku akan segera menyelesaikan peperangan ini dan kembali ke Ravengard untuk memelukmu dan anak kita. Jangan khawatir tentang apa pun, lakukan apa yang kau mau di sana, karena aku selalu di belakangmu. Aku juga merindukan saat-saat kau mengomeliku. Jadi, jangan khawatir... aku akan segera pulang."

Darian, Suami yang Selalu Mencintaimu.

“Dasar Grand Duke tak tahu malu,” desis Iris, mencubit lembut ujung suratnya. "Surat resmi kok isinya tentang ranjang..."

Lisa menahan tawa. “Setidaknya dia masih hidup dan cukup sehat untuk membuat candaan.”

“Aku tahu...” ucap Iris dengan suara lirih. “Tapi kenapa seminggu lebih baru menulis? Tahu nggak betapa aku khawatir? Aku sampai mimpi buruk dan....”

Perutnya bergerak. Tendangan kecil terasa begitu jelas hingga ia terdiam, dan tiba-tiba tersenyum.

“Ah, dia marah juga, rupanya. Kau marah juga, Nak? Ibu juga.”

Lisa dan Arven tertawa lagi, menyaksikan bagaimana perubahan emosi Grand Duchess mereka sangat manusiawi dan manis.

“Baiklah,” kata Iris dengan suara pelan namun mantap. Ia mengambil pena dan mulai menulis di atas kertas tebal berhias emblem Ravengard.

Iris menghela napas panjang, membaca surat itu sekali lagi. Ia menatap langit biru yang cerah, mengingat betapa Darian selalu bisa membuatnya tersenyum bahkan dalam situasi yang penuh ketegangan. Meskipun ia tidak bisa melihatnya, Darian selalu hadir dalam setiap kata-kata yang ditulisnya.

Tiba-tiba, sebuah suara lembut terdengar dari belakangnya.

"Grand Duchess... kau baik-baik saja?" tanya Lisa dengan nada khawatir, berjalan mendekat. "Kenapa Anda tersenyum begitu? Dan... menangis?"

Iris mengusap mata dengan jari, tersenyum sambil menahan isak tangis. "Tidak apa-apa, Lisa. Aku hanya... terharu. Surat dari suamiku itu membuatku merasa begitu dekat dengannya, meskipun dia jauh di sana."

Lisa tersenyum simpati. "Saya bisa merasakannya, Yang Mulia. Surat itu membuat Anda sangat bahagia, tapi juga sedikit kesal, ya?"

Iris tertawa pelan. "Kesal? Kau bisa mengatakan itu. Sudah seminggu lebih sejak aku menerima surat terakhir darinya, dan kini baru saja dia menulis lagi. Mengirimkan humor seperti itu... kalau tidak tahu lebih baik, aku kira dia hanya ingin membuatku lebih stres!"

Kapten Arven yang mendengarkan dari kejauhan mendekat, membawa secangkir teh dingin khas musim panas. "Yang Mulia Grand Duke Darian memang selalu begitu, Grand Duchess. Tidak bisa hanya mengirimkan surat yang sederhana. Selalu ada humor dalam setiap kalimatnya."

Iris menoleh kepada Arven, mengangkat alis. "Tapi apakah dia tahu bahwa aku sedang menanggung rindu dan kecemasan setiap hari? Mengapa dia tidak bisa sedikit lebih serius?"

"Karena itulah dia, Grand Duchess," jawab Arven sambil tersenyum. "Grand Duke tidak akan pernah bisa menjadi orang lain selain dirinya sendiri. Ia akan selalu membuat Anda tersenyum, meskipun itu membuat Anda menjadi marah atau kesal."

Iris terdiam sejenak, lalu menghela napas, meletakkan surat itu di pangkuannya. "Kau benar, Arven. Aku tahu itu. Meskipun aku marah, aku rindu dia. Aku rindu mengomelinya, bahkan saat dia tidak mendengarkan."

Lisa duduk di samping Iris, mengusap punggungnya dengan lembut. "Anda akan segera bersamanya lagi, Grand Duchess. Saya yakin Grand Duke Darian tidak akan pernah membiarkan Anda dalam keadaan seperti ini terlalu lama."

Iris tersenyum penuh harapan, merasakan kehangatan dari orang-orang yang selalu setia mendampinginya. "Aku tahu. Dan aku tidak akan berhenti menunggu sampai dia kembali. Anak kita sudah tumbuh dengan baik, dan aku yakin... dia juga merindukan ayahnya."

Tiba-tiba, tendangan kecil terasa lagi dari dalam perut Iris, dan ia terkekeh. "Hei, anak kecil ini pasti lebih kuat dari ayahnya. Aku yakin kita akan menghadapi banyak hal bersama-sama."

Arven tersenyum tipis. "Itulah yang membuat Anda begitu luar biasa, Grand Duchess. Kekuatan Anda tak hanya datang dari darah bangsawan, tapi dari hati Anda yang penuh cinta."

Iris tersenyum lebar, matanya penuh dengan harapan. "Kekuatan kita berasal dari keluarga. Dan keluarga ini... akan selalu bertahan."

**

Markas Besar Perbatasan Utara.

Beberapa Hari Kemudian.

Salju masih menyelimuti tanah dan atap markas, namun cuaca sedikit lebih bersahabat dibandingkan minggu lalu. Di dalam tenda utama yang hangat, Darian duduk di kursi kayu dengan bantal tebal, tangan kanannya masih dibebat, namun matanya berbinar saat ajudannya masuk membawa surat bersegel merah muda.

"Wah, ini pasti surat dari istriku tercinta..." gumamnya. “Akhirnya dia membalas... semoga dia tidak...”

‘Yang Mulia Grand Duke Darian von Ravengard, Grand Duke yang bisa menaklukkan medan perang tapi tidak bisa melawan kemalasan menulis surat,’

Kau berani menulis setelah SEMINGGU lebih? Tahu tidak, aku hampir melempar kursi ke arah Kapten Arven hanya karena dia menyebutkan namamu tanpa hormat? Aku bahkan hampir mengutuk pena agar bisa terbang mengejar kepalamu yang keras itu!

Dan bagian tentang ranjang? Cih. Tidak pantas. Tapi... lucu. Aku tertawa. Tapi jangan ulangi itu di surat resmi lain. (Meskipun aku menyimpannya diam-diam di laci).

Tendangan anak kita semakin kuat. Aku yakin dia mendengar suaramu dari kejauhan dan langsung menendang sebagai balasan. Kau tahu, dia sangat aktif. Lisa bilang dia mungkin mengembangkan semacam badai mini di perutku. Bagaimana kalau nanti dia bisa membuat tornado kecil saat menangis? Selamat datang, ayah yang siap panik tiap malam.

Aku akan menunggumu, Darian. Tapi jangan terlalu lama, atau kau akan menghadapi aku dalam dua bentuk: istri yang kesal dan bayi yang lebih kuat darimu.

Iris, wanita yang kau buat jatuh cinta dan naik pitam dalam satu surat.

Darian terkekeh begitu puas, bahkan tertawa kecil sampai bahunya terguncang. “Dia marah. Tapi juga merindukanku…”

Duke Maeltorn yang duduk di dekat perapian, menyesap teh hangat, melirik Darian dari balik uap.

“Dia marah, ya?” tanyanya datar.

“Marah… tapi sayang. Seperti biasanya,” jawab Darian tanpa dosa.

“Bagus. Kalau dia tak memarahimu, berarti dia berhenti peduli. Aku akan lebih khawatir kalau surat itu isinya dingin-dingin saja.”

Darian menoleh. “Ayah mertua sudah jadi pakar cinta rupanya.”

“Jangan sok akrab. Kau masih terluka dan bisa kupukul dengan tongkat ini,” balas Maeltorn tanpa mengubah nada suara atau ekspresi wajah.

Tiba-tiba, dari luar tenda, suara keras bergema.

“Dendang sinyal dari menara barat!”

Suasana di tenda langsung berubah. Darian berdiri pelan, wajahnya berubah serius. “Sinyal?”

Seorang penjaga masuk tergesa. “Tuan, kami mendeteksi pergerakan aneh di hutan utara. Pasukan berkuda terlihat… dan sepertinya bukan pasukan kita.”

Darian mengnoduk. “Baik. Bangunkan seluruh pasukan elit. Aku ingin siaga dalam waktu dua puluh menit. Dan siapkan kuda kesayanganku.”

“Yang biasa, atau yang spesial?” tanya ajudan.

Darian tersenyum tipis. “Yang spesial. Yang bisa lari kencang seperti omelan istriku.”

Maeltorn mendengus, “Kau memang sudah gila…”

Darian menoleh sekilas pada surat dari Iris dan menyelipkannya ke dalam baju zirah bagian dalam.

"Karena sekarang... aku punya dua alasan untuk bertahan hidup. Anak yang akan menendangku jika aku gagal, dan wanita yang akan membunuhku dengan pelukan dan ciuman jika aku berhasil pulang."

****

Bersambung

1
Delta
lanjuuut thor👍👍👍
Delta
👍👍👍👍up yg byk thoor😄😍
Heresnanaa_: stay tune beb 😚🫶
total 1 replies
Delta
👍👍👍👍
Delta
maantaap thor👍
kiu kiu
suka bangdt ma cerita fantSi
Heresnanaa_: maaciw kak, happy reading yaa 🫶😍
total 1 replies
Dewi Anggraeni
Up lagi thor 👍 semangat
Dewi Anggraeni
lanjutttt dong thor 👍jangan lama" 🙏
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!