Indonesia
NovelToon NovelToon
Tujuh Kembaran

Tujuh Kembaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Seven Gu

⚠️ PERINGATAN

Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.

Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst



Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.

Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.

Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:

Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.

Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.

Ketika seseorang telah memiliki segala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PINTU YANG TERBUKA HANYA UNTUKNYA [POV FRAGMEN KETUJUH: SHEN WUYI]

Dua tahun setelah Hari Uji Akar, Shen Wuyi masih tidak punya Dao.

Ia sudah berhenti diuji setiap upacara berikutnya. Tetua desa memutuskan itu tidak perlu—hasilnya tidak akan berbeda, dan mengulanginya hanya mengingatkan semua orang, termasuk dirinya sendiri, tentang sesuatu yang tidak bisa diubah siapa pun.

Ia tidak keberatan.

Ia menghabiskan hari-harinya membantu Nenek Ru mengumpulkan kayu bakar, kadang duduk di tepi Reruntuhan Xuwu tanpa alasan yang jelas, memandangi simbol-simbol yang sesekali masih berkedip pelan, seperti sebelumnya, seperti biasa.

Orang-orang desa sudah berhenti bertanya kenapa ia melakukan itu.

Mereka juga sudah berhenti bertanya kenapa, meski ia sering duduk begitu dekat dengan reruntuhan yang membunuh siapa pun yang masuk terlalu jauh, tidak ada satu pun hal buruk yang pernah menimpanya.

 

Orang-orang asing tiba di musim gugur.

Enam orang, berpakaian sekte yang tidak dikenali siapa pun di desa, membawa peta tua dan alat-alat yang bersinar aneh, mengaku sebagai "peneliti" yang tertarik pada Reruntuhan Xuwu.

Tetua desa memperingatkan mereka. Reruntuhan itu sudah membunuh puluhan orang sepanjang sejarah desa, kata tetua. Tidak ada yang pernah kembali dari bagian dalamnya.

Pemimpin rombongan, seorang pria berjubah ungu dengan senyum yang terlalu lebar untuk dipercaya, hanya tertawa.

"Kami bukan orang biasa," katanya. "Kami tahu risikonya."

Mereka masuk keesokan paginya.

 

Suara pertama terdengar sebelum tengah hari—bukan teriakan, lebih seperti retakan, dalam, dari perut bumi sendiri, membuat seluruh desa bergetar sesaat.

Kemudian tanah di sekitar tepi reruntuhan mulai berubah warna, merah tua, seperti luka yang baru terbuka.

Dua dari enam orang asing berlari keluar, wajah pucat, tubuh sebagian mereka sudah tidak terlihat seperti tubuh manusia lagi—lebih seperti sesuatu yang setengah menjadi batu, setengah menjadi asap.

"Kami membangunkan sesuatu," salah satu dari mereka mengerang sebelum roboh. "Formasi kuno... rusak... empat orang lainnya masih di dalam..."

 

Tetua desa memerintahkan semua orang mundur. Ini bukan lagi masalah desa. Ini masalah yang harus diserahkan pada sekte-sekte besar, kalau ada yang mau datang, kalau ada yang mau peduli pada desa sekecil ini.

Tapi retakan merah terus melebar. Perlahan, tapi pasti, menjalar mendekati batas terluar desa.

"Kalau ini terus melebar," seseorang berkata, panik, "seluruh desa bisa..."

Tidak ada yang berani menyelesaikan kalimat itu.

 

Shen Wuyi berdiri di kerumunan, mendengarkan semuanya, wajahnya tetap seperti biasa—tidak takut, tidak juga tenang dengan cara yang dipaksakan. Hanya diam, seperti biasa, memproses sesuatu dengan cara yang tidak pernah bisa ditebak orang lain.

"Aku bisa masuk," ia berkata akhirnya.

Semua orang menoleh.

"Kau bercanda," seseorang berkata. "Itu akan membunuhmu."

"Reruntuhan itu tidak pernah menyentuhku," Shen Wuyi berkata sederhana. "Delapan belas tahun. Tidak sekali."

Tidak ada yang bisa membantah itu. Itu fakta yang sudah lama mereka ketahui, meski tidak pernah benar-benar mereka pikirkan artinya sampai hari ini.

 

Nenek Ru mencengkeram lengannya. "Kau tidak tahu apa yang ada di dalam sana sekarang. Formasi yang rusak bisa berbeda dari reruntuhan yang biasa kau kunjungi."

"Aku tahu," Shen Wuyi berkata.

"Lalu kenapa kau tetap mau masuk?"

Ia berpikir sejenak.

"Karena kalau bukan aku, tidak ada yang bisa," ia berkata. "Itu saja."

Ia melepaskan tangan Nenek Ru, pelan, tanpa kekerasan, dan berjalan menuju tanah merah yang terus melebar.

 

Retakan itu memanas begitu ia mendekat—orang-orang di belakangnya bisa merasakan panasnya bahkan dari jarak lima puluh langkah.

Shen Wuyi berjalan langsung melewatinya.

Tidak ada jeritan. Tidak ada tubuhnya yang berubah menjadi batu atau asap. Ia hanya berjalan, seperti berjalan di atas tanah biasa, menembus batas yang sudah membunuh dua orang beberapa jam sebelumnya.

Di dalam, reruntuhan tidak lagi terlihat seperti reruntuhan biasa yang ia kenal sejak kecil. Simbol-simbol yang biasanya diam kini menyala terang, berputar dalam pola yang bergerak terus, membentuk sesuatu yang menyerupai mulut raksasa yang perlahan terbuka di tengah struktur batu kuno.

Empat orang asing tergeletak di sekitarnya, tidak bergerak, tapi masih bernapas—terjebak dalam semacam medan yang membuat tubuh mereka membeku di tempat, seperti serangga dalam damar.

 

Shen Wuyi berjalan mendekati pusat formasi, tempat cahaya paling terang berasal.

Sebuah batu utuh melayang di tengahnya, berputar lambat, dipenuhi retakan cahaya merah yang sama dengan yang menjalar ke desa.

Ia tidak tahu apa itu. Ia tidak tahu cara memperbaikinya, cara menghentikannya, cara melakukan apa pun yang biasanya dilakukan seorang kultivator terlatih dalam situasi seperti ini.

Ia hanya melakukan satu hal yang terasa masuk akal baginya.

Ia menyentuhnya.

 

Tidak ada ledakan.

Tidak ada teriakan kesakitan.

Batu itu, yang baru saja memancarkan cahaya cukup terang untuk membutakan mata biasa, meredup seketika saat tangan Shen Wuyi menyentuh permukaannya—bukan perlahan, bukan bertahap, tapi seperti lilin yang tiba-tiba kehabisan sumbu.

Retakan merah di sekelilingnya berhenti melebar. Perlahan, seperti luka yang mengering dari tepinya, warna itu mulai memudar kembali menjadi tanah biasa.

Empat orang asing yang terjebak dalam medan beku perlahan bisa bergerak lagi, terengah, kebingungan, tidak sepenuhnya paham apa yang baru saja terjadi kepada mereka.

Shen Wuyi berdiri di sana, tangannya masih menempel pada batu yang kini benar-benar diam, tidak berkilau, tidak berdenyut, seperti batu biasa yang kebetulan berbentuk aneh.

"Selesai," ia berkata, kepada tidak ada siapa-siapa secara khusus.

 

Ia berjalan keluar dengan langkah yang sama seperti saat masuk, melewati batas yang sudah tidak lagi memanas, menembus kerumunan yang menatapnya dengan campuran ketakutan dan sesuatu yang lebih rumit—kekaguman yang tidak berani mereka ucapkan keras-keras.

"Bagaimana kau melakukannya?" tetua desa bertanya, suaranya bergetar.

"Aku tidak tahu," Shen Wuyi menjawab.

"Kau harus tahu sesuatu," tetua itu mendesak. "Tidak ada yang bisa melakukan itu tanpa mengetahui apa pun."

Shen Wuyi diam sejenak, benar-benar mencoba mencari jawaban yang lebih baik daripada yang biasa ia berikan.

"Aku menyentuhnya," ia akhirnya berkata. "Dan ia berhenti. Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak melakukan teknik apa pun. Aku tidak tahu teknik apa pun untuk dilakukan."

Itu jawaban yang sama sekali tidak memuaskan. Tapi itu, sekali lagi, satu-satunya jawaban jujur yang bisa ia berikan.

 

Enam orang asing itu pergi keesokan paginya, terlalu terguncang untuk mengucapkan terima kasih dengan benar, terlalu bingung untuk menjelaskan pada siapa pun—termasuk diri mereka sendiri—apa yang sebenarnya baru saja mereka saksikan.

Desa Muyun kembali tenang, tapi sesuatu telah berubah, meski tidak seorang pun bisa mengatakan dengan tepat apa itu.

Anak-anak yang dulu menjauhinya kini menatapnya dari kejauhan dengan mata yang berbeda—bukan lagi mengejek, tapi juga belum sepenuhnya berani mendekat.

Nenek Ru duduk dengannya malam itu, mangkuk bubur seperti biasa, tapi diam lebih lama daripada biasanya sebelum akhirnya berkata:

"Kau menyelamatkan seluruh desa hari ini."

"Aku tahu," Shen Wuyi berkata sederhana, tanpa kebanggaan, tanpa juga kerendahan hati yang dipaksakan. Hanya fakta, diucapkan seperti fakta lain apa pun.

"Kau tidak merasa bangga?"

Ia berpikir sejenak.

"Aku merasa lapar," ia akhirnya berkata, menunjuk mangkuknya yang kosong.

Nenek Ru tertawa—tawa yang sudah lama tidak keluar dari mulutnya, campuran lega dan sesuatu yang lebih dalam, yang tidak sepenuhnya ia pahami sendiri.

 

Malam itu, seperti setiap malam sepanjang delapan belas tahun hidupnya, Shen Wuyi tertidur tanpa gema, tanpa suara, tanpa bisikan dari tempat yang tidak bisa ia jangkau.

Hanya kegelapan biasa.

Hanya tidur biasa.

Jauh di tepi desa, di dalam Reruntuhan Xuwu yang kini kembali diam, batu yang sempat menyala terang tergeletak diam di tempatnya, dingin, tidak berdenyut—seolah sesuatu di dalamnya, yang sempat terbangun sesaat, telah memilih untuk kembali tidur begitu mengenali siapa yang datang menyentuhnya.

Tidak ada yang menyaksikan itu.

Tidak ada yang akan tahu untuk waktu yang sangat, sangat lama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!