Indonesia
NovelToon NovelToon
Before The Red Winter

Before The Red Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:357
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tujuh Hari

Sudah tujuh hari berlalu sejak Aiden pertama kali berdiri di depan Empire State sambil mendongakkan kepala sampai tengkuknya sakit. Dalam waktu sesingkat itu, gedung yang awalnya terasa seperti labirin perlahan mulai mempunyai arah yang dapat dikenalnya.

Ia sudah mengetahui lift mana yang paling sering berhenti, lorong mana yang menuju ruang makan, dan pintu mana yang tidak boleh dibuka tanpa izin. Cahaya listrik tidak lagi membuatnya terus menatap langit-langit, meskipun Aiden masih sesekali menekan tombol lampu hanya untuk melihat ruangan berubah terang dan gelap.

Beberapa warga mulai mengenali wajahnya. Mereka mengetahui Aiden sebagai keponakan Tetua Kolkov, anak baru berambut cokelat yang datang dari Haven bersama ayahnya dan seorang gadis pirang.

Aiden belum mengingat semua nama mereka. Namun, ia sudah berhenti menunduk setiap kali seseorang menyapanya dan tidak lagi merasa semua orang sedang memperhatikan pakaian, cara bicara, atau kebiasaannya yang berasal dari permukiman kecil.

Tempat yang paling sering didatanginya berada di luar gedung. Sebidang tanah lapang telah dibersihkan di sisi bangunan, dikelilingi pagar logam dan dinding kendaraan yang memisahkannya dari reruntuhan Manhattan.

Tanah di sana keras akibat ribuan pijakan. Saat udara kering, debu naik sampai setinggi lutut, sedangkan hujan mengubah bagian tengah lapangan menjadi lumpur lengket yang menahan sol sepatu.

Para penjaga berlatih di sana sejak pagi. Aiden sering datang lebih awal hanya untuk duduk dekat pagar dan melihat mereka berlari, menjatuhkan tubuh, mengangkat beban, serta bergerak dalam barisan dengan senapan pada dada.

Kepala penjaga mereka bernama Eddie. Tubuhnya kekar, rambut hitamnya dipotong pendek, dan suaranya mampu menembus benturan sepatu, dengus napas, serta teriakan puluhan pria tanpa perlu mengulang perintah.

Eddie jarang berdiri diam. Ia berjalan di antara para penjaga, membetulkan posisi kaki menggunakan ujung sepatu, menekan punggung yang melengkung, atau merampas senapan dari tangan orang yang bergerak terlalu lambat.

Tidak ada yang dipuji hanya karena menyelesaikan latihan. Orang yang tiba paling akhir mendapat putaran tambahan, sedangkan orang yang menjatuhkan senjata harus mengulang seluruh gerakan sampai lengannya kembali stabil.

Aiden menyukai cara Eddie bekerja. Kepala penjaga itu keras, tetapi setiap hukuman mempunyai sebab yang dapat dilihat dan tidak pernah diberikan hanya karena suasana hatinya buruk.

Dmitri menepati janji pada hari kedua setelah kedatangan Aiden. Ia membawa bocah itu ke lapangan, memanggil Eddie keluar dari barisan, lalu menyuruhnya memasukkan Aiden ke dalam kelompok anak laki-laki yang disiapkan untuk menjadi penjaga Empire.

Eddie tidak menanyakan apakah Aiden benar-benar keponakan tetua. Ia hanya memandang tubuh kurus, bahu sempit, serta telapak tangan yang belum memiliki kapalan latihan, kemudian menyuruhnya datang setiap hari setelah latihan para penjaga selesai.

Kelompok anak laki-laki berkumpul ketika matahari mulai turun dari puncak gedung. Sebagian lebih tinggi daripada Aiden, sebagian lebih kecil, tetapi Eddie memberi mereka perintah yang sama tanpa memedulikan usia atau keluarga.

Mereka belum diperbolehkan menyentuh senapan. Latihan dimulai dengan berlari mengelilingi lapangan, merangkak di bawah tali, berguling pada tanah, mengangkat karung, dan menahan tubuh menggunakan kedua lengan sampai siku gemetar.

Eddie mengajari mereka jatuh tanpa menahan seluruh berat menggunakan pergelangan tangan. Setelah itu, mereka harus segera berdiri, menemukan arah, dan bergerak lagi sebelum orang di belakang menginjak tubuh mereka.

Pada hari pertama, Aiden muntah dekat pagar setelah putaran terakhir. Eddie hanya memberikan air secukupnya untuk membersihkan mulut, menunggu napasnya turun, lalu menyuruhnya berjalan agar kedua kakinya tidak langsung kaku.

Hari berikutnya tidak terasa lebih mudah. Telapak Aiden robek, lututnya memar, dan sisi wajahnya tergores ketika ia terlambat menunduk saat melewati tali rendah.

Meskipun begitu, ia selalu kembali. Setiap rasa sakit membuat janji Dmitri mengenai latihan senjata terasa sedikit lebih dekat, walaupun Aiden belum pernah melihat pamannya datang membawa senapan untuknya.

Ketika latihan berakhir, tubuh Aiden biasanya dipenuhi debu. Keringat mengalir melalui rambut cokelat pendeknya, meninggalkan garis bersih pada wajah dan membuat kemejanya menempel pada punggung.

Robin menjalani hari yang berbeda. Selma membawanya ke bagian perawatan dan memperkenalkannya kepada para perawat yang bekerja menangani luka, demam, persalinan, serta penyakit warga Empire.

Robin belum diizinkan merawat siapa pun seorang diri. Ia belajar membersihkan kain pembalut, mengenali botol obat, menumbuk daun kering, mencatat persediaan, serta memasang perban pada lengan kayu yang digunakan untuk latihan.

Sebagian besar pelajaran dilakukan sambil duduk di meja panjang. Selma atau salah satu perawat akan memperlihatkan cara tertentu, kemudian Robin harus mengulanginya sampai lipatan kain, ikatan simpul, dan jumlah bahan yang diambil benar.

Pada sore hari, anak laki-laki dan perempuan meninggalkan latihan masing-masing menuju lantai dua puluh satu. Di sana terdapat beberapa ruangan belajar dengan meja panjang, papan tulis, tumpukan buku lama, dan jendela yang menghadap bagian kota.

Nyonya Elma mengajar mereka membaca dan berhitung. Suaranya tidak sekeras Eddie, tetapi satu tatapan darinya cukup membuat anak yang berbicara sendiri menutup mulut dan kembali memperhatikan papan.

Aiden duduk bersama Robin pada meja dekat jendela. Robin membaca lebih lancar, sedangkan Aiden lebih cepat ketika menghitung benda nyata, terutama jika Nyonya Elma menggunakan peluru kosong, baut, atau potongan logam sebagai contoh.

Kadang-kadang Robin berbisik membantunya mengenali kata panjang. Sebagai gantinya, Aiden menggeser hitungan menggunakan jari ketika Robin kehilangan angka di tengah penjumlahan.

Pada waktu yang sama, Marcus bekerja jauh di bawah mereka. Dmitri menempatkannya pada bagian perawatan generator karena tangan Marcus terbiasa membongkar pompa, mesin, dan peralatan yang berkali-kali diperbaiki menggunakan komponen berbeda.

Pintu menuju ruang bawah tanah berada di balik lorong sempit dekat bagian belakang gedung. Di sana tidak ada lift untuk warga biasa, hanya tangga yang turun melewati lampu-lampu jarang dan menghilang di balik pintu baja.

Aiden tidak menyukai tempat itu. Marcus pernah membawanya sampai pintu pertama, dan dari sana Aiden melihat beberapa cabang lorong menembus bagian bawah bangunan dengan pipa besar memenuhi dinding serta langit-langit.

Udara yang keluar berbau minyak, air berkarat, dan batu basah. Dengung generator merambat melalui lantai seperti geraman rendah yang tidak pernah berhenti untuk menarik napas.

Setiap kali Marcus turun, Aiden membayangkan salah satu cabang lorong berakhir pada ruangan yang tidak pernah diperiksa. Dalam bayangannya, sesosok Remnant menunggu di sana dalam gelap, diam selama bertahun-tahun sampai suara sepatu ayahnya mendekat.

Tidak seorang pun pernah menemukan Remnant di bawah Empire. Para pekerja bahkan berjalan tanpa senapan di sebagian lorong, tetapi hal tersebut tidak cukup membuat ketakutan Aiden hilang.

Ia selalu memperhatikan pakaian Marcus ketika ayahnya kembali pada malam hari. Noda minyak, debu hitam, dan bau logam dapat diterima selama tidak ada darah atau sobekan baru pada kain.

Sore itu, kelas membaca dan berhitung berakhir setelah Nyonya Elma memberi mereka beberapa baris kata untuk dibaca kembali keesokan hari. Anak-anak menutup buku, mengembalikan potongan arang, lalu berdesakan keluar menuju lift dan tangga.

Aiden bangkit lebih lambat. Paha serta punggungnya masih sakit akibat latihan bersama Eddie, dan luka pada telapak tangannya tertarik setiap kali jari diluruskan.

Robin menunggunya dekat pintu. Ia membawa dua buku tipis pada dada, sedangkan sekantong kecil kain perban tergantung pada pinggang sebagai bagian dari latihan bersama Selma.

Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor lantai dua puluh satu. Cahaya sore masuk melalui jendela, memanjangkan bayangan mereka pada lantai dan membuat debu yang melayang terlihat seperti butiran kecil berwarna emas.

Robin beberapa kali melirik Aiden. Tatapannya berhenti pada kulit yang terkelupas di buku-buku jari, memar dekat rahang, serta goresan baru di atas alis.

“Belakangan ini kau sering terluka.”

Aiden mengangkat tangan untuk melihat bagian yang diperhatikan Robin. Luka pada telapak sudah dibersihkan, tetapi debu masih menempel pada pinggirannya dan membuat kulit tampak lebih gelap.

“Tuan Eddie melatih kami dengan sangat keras.”

Ia mengucapkannya tanpa mengeluh. Rasa sakit pada tubuh justru menjadi bukti bahwa dirinya benar-benar mulai menjalani latihan yang dijanjikan Dmitri.

Robin merapatkan kedua buku pada dada. Wajahnya mengarah ke depan, tetapi alisnya bertahan dalam kerutan kecil.

“Kenapa aku tidak boleh ikut berlatih bertarung?”

Aiden tidak mempunyai jawaban sendiri. Ia hanya mengetahui perkataan Dmitri di kamar Mikael dan melihat bahwa tidak ada satu pun anak perempuan di lapangan setelah latihan penjaga selesai.

“Entahlah. Paman Dmitri yang menetapkan peraturannya.”

Mereka sampai di depan lift dan menunggu bersama beberapa anak lain. Robin menggoyangkan salah satu bahu, kemudian memindahkan buku ke lengan berbeda.

“Aku menyukai pelajaran mengenai obat dan semua hal yang diajarkan Selma.”

Pintu lift terbuka dan anak-anak di depan mereka masuk. Aiden serta Robin menunggu sampai bagian tengah kosong sebelum berdiri berdampingan dekat dinding.

“Hanya saja, duduk terus-menerus membuat seluruh tubuhku pegal.”

Aiden menoleh kepadanya. Lift mulai turun, membuat kedua lutut mereka sedikit menekuk akibat perubahan gerakan.

“Kau pikir berlatih bertarung tidak membuat tubuhmu pegal?”

Ia mengangkat kedua tangannya sebagai bukti. Robin melihat luka pada telapak, lalu menahan senyum yang hampir muncul.

“Setidaknya aku bisa banyak bergerak.”

Lift berhenti pada beberapa lantai dan anak-anak keluar sedikit demi sedikit. Aiden serta Robin tetap berada di dalam sampai hanya mereka dan seorang anak kecil bersama kakaknya yang tersisa.

Robin menunggu kedua anak tersebut turun pada lantai berikutnya. Setelah pintu tertutup dan mereka tinggal berdua, ia memiringkan tubuh menghadap Aiden.

“Dengar, Aiden. Kau sudah berjanji akan menikahiku dan membawaku ke Commonwealth suatu hari nanti.”

Panas langsung menjalar dari leher menuju wajah Aiden. Ia memandang angka-angka di atas pintu, berharap Robin tidak melihat warna merah yang pasti muncul pada kedua telinganya.

Janji di ujung jalan layang kembali teringat dengan sangat jelas. Jari kelingking Robin pernah melingkari jarinya, sementara Haven masih berada di bawah mereka dan kedua orang tua gadis itu masih hidup.

“Jadi, setelah kau bisa bertarung, kau harus mengajariku melindungi diri.”

Robin tidak terdengar sedang menggoda. Tatapannya tetap pada Aiden dan tangan yang memegang buku mengencang, membuat sudut-sudut kertas menekan kain bajunya.

Lift mencapai lantai mereka. Pintu terbuka, tetapi Aiden tidak segera melangkah keluar karena Robin masih menunggu jawaban.

“Baik.”

Senyum kecil muncul pada wajah Robin. Ia berjalan keluar lebih dahulu, kemudian menunggu sampai Aiden menyusul sebelum mereka kembali bergerak beriringan menuju kamar.

1
Pena Quality
nice, saling support
Annabelle
Lanjutkan 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!