Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.
Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.
"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."
Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan untuk Sang Ratu
"G-Gabriel, ini mau ke mana? K-kenapa mataku ditutup?" cicit Amara cemas seraya memegangi kain renda hitam yang terikat lembut menutupi matanya.
Langkah kaki Amara terasa ragu-ragu. Tangan mungilnya meremas erat lengan tegap Gabriel, sementara satu tangannya lagi sigap menopang perut buncit empat bulannya.
"Pelan-pelan, Sayang. Ada aku di sampingmu, kamu tidak akan jatuh," bisik Gabriel penuh kehangatan tepat di samping telinganya. Lengan kokoh pria itu melingkar protektif di pinggang Amara, menuntun langkah istrinya dengan teramat hati-hati.
"T-tapi ini sudah malam sekali, Gabriel... K-kenapa harus jam dua belas malam?" tanya Amara makin penasaran. "A-aku mengantuk, t-tapi aku juga penasaran..."
Gabriel terkekeh renyah, tawa hangatnya bergetar menenangkan. "Sebentar lagi sampai, Ratu kecilku. Tahan sebentar, ya?"
Pria itu membawa Amara melangkah keluar menuju area taman belakang mansion yang biasanya gelap gulita di jam segini. Namun malam ini, udara dingin malam terhapus oleh kehangatan tempat yang sudah disiapkan Gabriel secara khusus.
Gabriel menghentikan langkah mereka tepat di tengah area taman. Dari belakang tubuh Amara, ia menyusupkan jemarinya perlahan untuk melepas ikatan kain di mata istrinya.
"Hitungan ketiga, buka matamu ya, Sayang... Satu... dua... tiga."
Kain itu terlepas. Amara mengerjapkan matanya beberapa kali menyesuaikan cahaya. Betapa terkejutnya ia saat melihat seluruh taman belakang telah disulap menjadi lorong cahaya nan indah dengan ribuan lampu gantung lembut, kelopak bunga mawar putih kesukaannya yang membentang di sepanjang jalan, serta sebuah meja makan malam romantis di bawah gazebo berdinding kaca.
Di tengah meja, terdapat kue ulang tahun bertingkat cantik bertuliskan: * Selamat Ulang Tahun, Istriku & Ratu Kecilku, Amara.*
Amara membeku di tempat. Matanya membelalak tak percaya, lalu seketika berbinar dan menggenang air mata haru.
"G-Gabriel..." panggil Amara bergetar, menutupi mulutnya dengan kedua tangan. "I-ini..."
Gabriel melangkah ke hadapan Amara, menatap wajah cantik istrinya yang diterangi cahaya lampu taman. Pria berkuasa itu menarik napas panjang, lalu tersenyum amat tampan dan berlutut lembut di depan Amara—sejajar dengan perut buncit istrinya.
"Selamat ulang tahun, Sayangku, Ratu kecilku, ibu dari anak-anakku," bisik Gabriel penuh rasa cinta yang mendalam, mengecup perut buncit Amara lama sebelum berdiri kembali dan mengecup kening istrinya. "Maaf kalau dulu kamu tidak pernah merayakan hari lahirmu dengan bahagia. Mulai detik ini dan selamanya, aku yang akan memastikan kamu jadi wanita paling bahagia di dunia."
Air mata bahagia Amara menetes membasahi pipinya yang merona. Ia langsung menghambur memeluk leher Gabriel erat-erat, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher suaminya.
"T-terima kasih... G-Gabriel..." tangis Amara pecah, suaranya terdengar begitu jernih meluapkan kebahagiaan. "A-aku... aku bahkan lupa hari ini ulang tahunku..."
"Aku tidak akan pernah lupa hal sekecil apa pun tentangmu, Amara," balas Gabriel mantap, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Amara dan mengusap punggungnya lembut. "Ayo kita tiup lilinnya bersama anak kita."
Amara melangkah mendekat ke arah meja diiringi bopongan lembut Gabriel yang tak lepas menopang pinggangnya. Ditatapnya nyala lilin angka yang menari-nari di atas kue cantik tersebut, memantulkan bayangan hangat di iris matanya yang masih basah.
"Ayo, buat satu permintaan dulu sebelum ditiup, Sayang," bisik Gabriel amat lembut tepat di samping telinganya, menyusupkan jemarinya untuk menggenggam erat telapak tangan Amara.
Amara mengangguk pelan. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, merapatkan kedua tangan di depan dada sembari mengelus lembut perut buncit empat bulannya. Dalam hatinya, ia berbisik menguncapkan rasa syukur yang tak terhingga karena telah dikirimkan pelindung seperti Gabriel dalam hidupnya.
Perlahan, Amara membuka mata lalu mendekatkan wajahnya. Fuuuh...
Lilin itu padam dalam sekali hembusan napas. Seketika itu pula, isak tangis terharu yang sejak tadi ditahannya pecah tanpa bisa dibendung lagi. Amara menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya tergetar hebat.
"A-aku... a-aku tidak pernah... dirayakan seperti ini..." tangis Amara pecah, suaranya terdengar begitu serak dan rapuh di tengah keheningan malam. "D-dulu... tidak ada yang p-pernah ingat... t-tidak ada yang peduli..."
Gabriel yang tak sanggup melihat istrinya menangis langsung merengkuh tubuh mungil Amara ke dalam pelukan hangatnya. Pria itu menenggelamkan wajah Amara di dada bidangnya, mengusap punggung dan rambut panjang istrinya dengan penuh keposesifan dan kelembutan.
"Sshh... tidak apa-apa, Sayang. Menangislah," bisik Gabriel dalam dan serak, hatinya bagai diiris-iris mengingat penderitaan masa lalu istrinya. "Dulu mereka memang buta dan tidak punya hati. Tapi sekarang kamu punya aku. Kamu punya seluruh hidupku, Amara."
Amara meremas erat bagian belakang jas Gabriel, menyerap seluruh kehangatan dan rasa aman yang disalurkan oleh pria itu. "T-terima kasih, Gabriel... T-terima kasih sudah mau m-mencintaiku..."
Gabriel melonggarkan pelukannya sedikit, lalu menangkup kedua pipi Amara yang basah oleh air mata. Dengan penuh kehati-hatian, ibu jarinya menyapu sisa bening di paras cantik istrinya.
"Bukan kamu yang harus berterima kasih, Ratu kecilku," ujar Gabriel mantap, menatap lurus ke dalam manik mata Amara dengan binar cinta yang membara. "Akulah yang bersyukur karena kamu memilih bertahan dan hadir di hidupku. Selamat ulang tahun, Sayang. Mulai malam ini, setiap ulang tahunmu hanya akan berisi kebahagiaan."
Amara mengangguk anggun, menyunggingkan senyuman manis nan memesona di balik sisa air matanya. "I-iya, Gabriel... A-aku sangat bahagia hari ini."
Gabriel tersenyum amat tampan, lalu menunduk mendaratkan kecupan hangat berdurasi lama di bibir manis istrinya, merayakan bertambahnya usia sang permaisuri di bawah naungan cahaya lampu taman yang indah.
"Mau makan kue, Sayang?" tawar Gabriel lembut, menyapu sisa air mata di pipi Amara sebelum perlahan menarikkan kursi empuk agar sang istri bisa duduk dengan nyaman.
Amara mengangguk pelan, menyunggingkan senyuman manis nan anggun. Tangannya yang mungil tak berhenti membelai perut buncit empat bulannya yang terasa sedikit menegang karena emosi haru tadi.
"M-mau..." cicit Amara pelan, matanya berbinar menatap kue ulang tahun cantik bernuansa merah muda di hadapannya. "K-kelihatannya enak sekali, Gabriel..."
Gabriel terkekeh hangat. Pria itu mengambil pisau pemotong kue, menyatukan jemari kokohnya di atas jemari lembut Amara untuk memotong suapan pertama bersama-sama. Dengan sangat telaten, Gabriel memotong sepotong kecil kue lalu menyuapkannya menggunakan sendok perak ke bibir merona istrinya.
"Buka mulutmu, Ratu kecilku. Aam..." goda Gabriel dengan nada suara yang begitu dalam dan memanjakan.
Amara menerima suapan itu dengan patuh. Matanya membulat berbinar begitu rasa manis krim dan lembutnya bolu mawar menyatu sempurna di lidahnya.
"E-enak sekali!" puji Amara jujur, suaranya terdengar begitu renyah dan jernih. "K-kamu... beli di mana, Gabriel?"
"Aku menyewa koki pastry terbaik dari Prancis khusus untuk membuatkan kue ini malam ini," jawab Gabriel santai seraya mengambil sendok baru, lalu memakan sisa kue dari potongan yang sama. "Selama istriku suka dan bahagia, apapun akan aku datangkan ke rumah ini."
Amara merona hebat mendengar jawaban santai namun penuh totalitas dari suaminya. Ia meraih jemari tegap Gabriel, menggenggamnya erat di atas meja.
"G-Gabriel... k-kamu terlalu memanjakanku..." bisik Amara malu-malu, menunduk menyembunyikan senyum bahagianya.
Gabriel mencondongkan tubuhnya ke depan, mengusap sudut bibir Amara yang terkena sedikit krim manis dengan ibu jarinya, lalu menyesap jari itu tanpa ragu.
"Memanjakanmu dan anak kita adalah tugas utamaku seumur hidup, Amara," tegas Gabriel mantap dengan sorot mata protektif yang begitu hangat. "Jadi, nikmati saja semuanya. Jangan pernah ragu untuk meminta apa pun padaku."
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
Gabriel gx kn percaya lgi ma janji mu nyonya ,,
selamat menikmati hidup baru kalian di hotel prodeo yx kalian berdua ,, 😒😒😒😒😒
untung nyonya Eleanor cepat sadar yx ,, dn bnr2 berubah kepada Amara ,,