Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arrive at Evelia
Waktu berlalu begitu lambat di dalam lambung kapal yang bergoyang konstan. Tanpa sadar, kelelahan fisik dan demam yang sempat menderanya membuat pertahanan Miyura runtuh, membawanya hanyut ke dalam tidur yang lelap namun diwarnai mimpi-mimpi buruk masa lalu.
Beberapa jam kemudian, guncangan pelan saat lambung kapal berbenturan dengan dinding kayu dermaga memecah keheningan. Langkah kaki berat terdengar mendekati sudut tempatnya beristirahat. Seorang kru kapal bertubuh tegap mengetuk dinding pembatas di dekat Miyura sambil bersuara nyaring.
"Bangun, Nak. Kita sudah tiba di pelabuhan tujuan," seru kru kapal itu tanpa basa-basi. "Selesaikan barang bawaanmu dan segera turun. Kapal ini tidak melayani tempat singgah."
Miyura tersentak pelan dari tidurnya. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih kabur, lalu mengusap matanya yang terasa berat. Dengan gerakan lambat, ia beranjak perlahan dari bangku kayu tempatnya meringkuk tadi, merapikan jubah dan topi petnya sebelum melangkah keluar dari lambung kapal.
Begitu ia menapakkan kakinya keluar dari area pelabuhan, suasana yang sangat kontras langsung menyambutnya. Miyura berjalan menyusuri jalanan kota sambil memeluk tubuhnya sendiri, mencoba menghalau sisa-sisa hawa dingin laut yang masih menusuk tulang.
Ia mendongak perlahan, memandang ke langit luas yang terbentang tanpa awan mendung. Langit begitu cerah, memancarkan kehangatan matahari yang lembut dan menenangkan. Di sekelilingnya, warga kota tampak hilir mudik dengan santai, bercengkrama, dan tertawa kecil di teras-teras kedai kopi. Tidak ada bayang-bayang ketakutan, tidak ada ketegangan politik, dan tidak ada suasana mencekam seperti di Hikari. Semuanya terasa begitu nyaman dan damai.
Miyura hanya terdiam, berdiri mematung di tengah keramaian asing itu, merasakan kehampaan di dadanya yang kontras dengan kehangatan dunia luar. Ia kemudian melangkahkan kakinya masuk lebih dalam ke jantung kota.
Sepanjang perjalanan, telinganya tanpa sengaja menangkap percakapan para warga yang berpapasan dengannya.
"Selamat pagi, Bibi! Harga gandum hari ini benar-benar stabil," seru seorang pemuda kepada penjual di pinggir jalan.
"Ah, puji Tuhan. Semenjak Raja baru memimpin Evelia ini, hidup kita jadi jauh lebih tenang tanpa ada kekacauan," balas sang bibi dengan senyuman lebar.
Miyura terus berjalan mendengarkan potongan-potongan percakapan itu, menyadari bahwa negeri tempat ia kini berpijak bernama Evelia—sebuah tempat baru yang asing, di mana ia hanyalah bayangan tanpa masa lalu.
Karena perutnya mulai terasa perih dan tenggorokannya kering, Miyura memutuskan untuk mampir ke sebuah kedai roti kecil yang tampak hangat di sudut jalan. Ia membuka pintu kayu kedai yang berderit pelan, memesan sepotong roti gandum hangat dan segelas susu kepada pelayan dengan suara serak, lalu memilih sebuah meja kosong di sudut paling gelap dan tersembunyi. Ia duduk seorang diri di sana, menatap makanan di hadapannya tanpa nafsu, membiarkan kesunyian merengkuhnya di tengah keramaian kota yang asing.
Suasana kedai roti yang tenang dan hangat itu tiba-tiba terusik oleh suara gaduh dari luar pintu. Sekumpulan anak muda seusia Miyura masuk dengan ribut, tertawa terbahak-bahak sambil mendorong satu sama lain. Kehadiran mereka langsung menciptakan ketidaknyamanan bagi para pengunjung kedai.
Saat berlari kecil melewati meja di sudut, salah satu dari anak-anak nakal itu tidak sengaja menyenggol pinggir meja Miyura.
Prank!
Gelas kaca di atas meja tersenggol dan jatuh menghantam lantai batu, pecah berkeping-keping dengan sisa susu putih yang tumpah membasahi lantai.
Anak laki-laki yang menyenggolnya menoleh sekilas, mengangkat sebelah tangan dengan cuek. "Ah, maaf ya, tidak sengaja," ucapnya asal-asalan tanpa rasa bersalah yang nyata.
Miyura hanya terdiam kaku di tempatnya. Ia sama sekali tidak menanggapi ucapan minta maaf yang setengah hati itu; pandangannya menatap kosong ke pecahan gelas, lalu ia kembali melanjutkan suapan rotinya dengan tangan yang sedikit bergetar.
Melihat sikap Miyura yang diabaikan, anak nakal itu merasa tersinggung dan kesal. "Hei, sombong sekali kau!" gerutunya dengan nada tinggi. Karena ingin mencari masalah, ia mengulurkan tangan hendak merebut sisa roti di piring Miyura. "Kalau gelasnya sudah pecah, sebagai ganti rugi, rotinya ini buat kami saja!"
Namun, sebelum tangan anak itu menyentuh piring, sebuah cengkeraman kuat tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya dari samping.
"Jangan berani-berani menyentuhnya atau membuat kekacauan di kedai ini," suara berat yang dingin dan menusuk menggelegar di meja sudut tersebut.
Anak nakal itu terkesiap, mendongak dan mendapati seorang pemuda tinggi berwajah tegas—putra dari pemilik kedai—berdiri tepat di samping mejanya. Pemuda itu memandangnya dengan tatapan dingin tanpa ampun, lalu mempererat cengkeramannya. "Atau aku tidak akan segan-segan mematahkan tanganmu sekarang juga."
Wajah anak nakal itu seketika pucat pasi. Nyalinya menciut seketika melihat aura mengintimidasi dari pemuda tersebut. Dengan tubuh gemetar dan senyum yang dipaksakan untuk mencairkan suasana, ia menarik tangannya perlahan.
"A-Ah... Kak Goto! Ampun, ampun, aku hanya bercanda tadi," ujar anak itu terbata-bata, mencoba mengalihkan perhatian dengan nada canggung. "Ngomong-ngomong, Kak Goto tumben sudah kembali dari barak militer kerajaan? Apa liburan tugas kalian sudah mulai?"
Mendengar nama "Goto" yang dilontarkan anak tersebut, jantung Miyura seolah berhenti berdetak. Namanya begitu mirip—bahkan nyaris sama—dengan nama kakaknya, Aragoto.
Seketika, Miyura mengangkat kepalanya perlahan dari balik tudung jubahnya. Ia menatap lurus ke arah pemuda yang berdiri di hadapannya. Garis wajah, bentuk rahang, sorot mata yang tegas namun teduh, hingga postur tubuh pemuda bernama Goto itu tampak bagaikan pantulan bayangan dari mendiang kakaknya yang telah tiada.
Napas Miyura tercekat di tenggorokan. Tanpa bisa ia kendalikan, air matanya menggenang di pelupuk mata, dan bibirnya bergetar hebat saat ia bergumam pelan, melontarkan kata yang sudah lama terkubur dalam duka:
"Kakak...?"
Suara bisikan itu begitu lirih, nyaris tenggelam oleh bisingnya kedai. Goto, yang baru saja hendak melanjutkan tegurannya kepada anak-anak nakal, sempat menoleh sekilas ke arah Miyura. Ia menangkap basah sorot mata penuh kerinduan dan air mata di wajah gadis itu. Namun, sebelum ia sempat memproses arti panggilan tersebut, Goto kembali memalingkan pandangannya ke depan, menatap tajam kelompok anak nakal tadi dengan kemarahan yang kembali membara di suaranya.
"Cepat enyah dari sini sebelum kesabaranku habis!" bentak Goto dingin kepada anak-anak nakal tersebut, membuat mereka langsung kocar-kacir berlari keluar kedai ketakutan, meninggalkan Miyura yang terpaku sendirian dalam debar jantung yang tak beraturan.
Saat Miyura hendak menunduk untuk memungut pecahan-pecahan gelas yang berserakan di lantai, Goto dengan sigap menghentikannya.
"Biarkan saja, jangan disentuh," cegah Goto dengan suara beratnya seraya menahan tangan Miyura agar tidak mendekati serpihan tajam itu. "Biar aku saja yang membersihkannya."
Miyura menggelengkan kepalanya pelan, menarik tangannya perlahan sambil menatap lantai. "Tidak... aku tidak ingin menyulitkan orang-orang lagi di sini," gumamnya lirih, merasa bahwa kehadirannya selalu membawa beban bagi siapa pun di sekitarnya.
Goto tertegun sejenak, mengerutkan kening karena kebingungan melihat reaksi gadis berkerudung itu yang begitu sungkan. Namun, alih-alih berdebat, ia menghela napas pendek dan memutuskan ikut berlutut bersama Miyura, membantu memunguti pecahan kaca dan mengelap sisa susu yang tumpah.
Setelah beberapa saat bekerja bersama hingga lantai kembali bersih, Goto bangkit berdiri, menatap gadis di hadapannya dengan saksama. "Kau bukan berasal dari kota ini, ya? Baru pertama kali kulihat di sini," tebak Goto dengan nada penasaran.
Miyura mengangguk pelan, menyembunyikan kegugupannya di balik tudung. Saat Goto menanyakan identitasnya, Miyura terdiam sejenak, meresapi keterasingannya di dunia baru ini, sebelum akhirnya merangkai sebuah nama baru di kepalanya. "Namaku... Rin," ucapnya berbohong demi menutupi masa lalunya yang kelam.
Goto mengangguk paham. Melihat kondisi Miyura yang tampak lelah, berantakan, dan butuh tempat perlindungan, ia menawarkan kebaikan. "Kalau kau belum punya tempat tinggal, kau bisa menginap di sini dulu. Di bagian belakang kedai ada kamar mandi, silakan bersihkan diri kalau mau."
Miyura merasa tidak enak hati dan langsung menolak secara halus, namun Goto tersenyum tipis meyakinkan. "Tenang saja, aku tidak punya niat buruk. Aku pria baik-baik, kok."
Ayah Goto yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari meja kasir dan mengamati kejadian itu mendadak tersenyum penuh arti. Dengan nada bercanda, ia langsung menimpali kepada anaknya, "Wah, kalau begitu, bagaimana kalau kau nikahi saja gadis ini—"
Belum sempat sang ayah merampungkan candaannya, Goto langsung memotong dengan nada tegas namun menyiratkan kepedihan mendalam. "Jangan bicara sembarangan, Ayah. Tidak baik mengucapkannya, karena aku sudah menikah. Meskipun Evelyn sudah meninggal... aku tidak akan pernah menikah lagi dengan siapapun."
Ayah Goto hanya terkekeh kecil mengiyakan dengan nada bercanda, tidak berniat memperpanjang ucapan putranya. Di saat yang sama, ibu Goto keluar dari balik pintu dapur, menghampiri meja mereka dengan senyuman ramah dan menyapa Miyura dengan hangat. Miyura balas menyapa dan kembali memperkenalkan dirinya sebagai Rin kepada sang ibu. Sementara itu, Goto melanjutkan pekerjaannya merapikan meja, menceritakan sekilas kejadian keributan anak-anak nakal tadi kepada ibunya dengan santai.
Malam hari pun tiba, suasana kedai mulai berangsur sepi seiring dengan ditutupnya pintu kayu utama dan dipadamkannya sebagian lampu gantung. Di meja makan keluarga yang terletak di bagian belakang kedai, sang ibu menyajikan mangkuk-mangkuk berisi sup hangat dan hidangan sederhana, lalu menatap Miyura dengan senyuman ramah penuh keibuan.
"Maaf ya, Rin... hanya ini yang bisa ibu sajikan untuk makan malam kita hari ini," ucap sang ibu dengan nada lembut, merasa tidak enak kepada gadis muda yang baru saja datang menumpang.
Miyura menggelengkan kepalanya pelan, menarik senyuman tipis di bibirnya. "Tidak apa-apa, Nyonya. Ini sudah lebih dari cukup, terima kasih banyak," balas Miyura sopan.
Sambil menikmati makanan, Goto berdiri bersandar santai di dekat dinding dengan kedua tangan terlipat di dadanya. Ia mengamati gadis di hadapannya sebelum akhirnya membuka percakapan untuk memecah keheningan.
"Rin," panggil Goto dengan suara berat yang tenang. "Kalau boleh tahu, di mana orang tuamu sekarang? Kenapa kau sampai harus menyeberang sendirian ke negeri ini?"
Miyura terdiam sejenak. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Bayangan tragis tentang ayah kandungnya yang tewas, istana yang hancur, serta pengorbanan besar Aragoto berkelebat di benaknya. Dengan suara lirih dan mata yang menerawang jauh, ia menjawab, "Keluargaku... semuanya sudah meninggal. Hanya aku yang tersisa di dunia ini. Karena tidak ada lagi yang bisa dipertahankan di sana, aku memutuskan untuk menyeberang ke negara ini demi mencari awal yang baru."
Mendengar pengakuan itu, Ibu dan Ayah yang duduk berdampingan langsung saling bertukar pandang dalam diam. Ada kilatan iba dan ketulusan yang terbesit di mata mereka tanpa perlu diucapkan.
Melihat reaksi kedua orang tuanya, Goto mengerutkan kening keheranan, merasa ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh mereka berdua.
Belum sempat Goto mengatakan apa pun, sang Ibu tiba-tiba meletakkan sendoknya, menatap Miyura dengan mata berbinar hangat, lalu beralih memandang suaminya. "Bagaimana kalau kita mengadopsi Rin saja menjadi anggota keluarga kita? Menjadikannya adik perempuan di rumah ini?"
Mendengar usul yang mendadak itu, Goto langsung terperanjat dari sandarannya. Ia mengangkat kedua tangannya, berusaha menenangkan Ayah dan Ibunya yang tampak begitu antusias. "Tunggu, tunggu dulu, Ibu, Ayah! Jangan mengambil keputusan gegabah seperti itu. Kalian bahkan baru mengenalnya hari ini!"
Ibu mengerucutkan bibirnya, memasang ekspresi merajuk manja yang membuat sang ayah hanya bisa tersenyum sabar. "Kenapa memangnya, Goto? Kau tahu sendiri, sebentar lagi kau pasti akan kembali bertugas ke barak militer kerajaan, dan rumah ini akan kembali terasa sunyi senyap tanpa ada suara anak muda yang meramaikan," keluh Ibu dengan nada manja, melipat tangan di depan dada.
Ayah tersenyum kecil melihat istrinya, sementara Miyura terpaku di kursinya, diliputi rasa terkejut dan haru yang mendalam mendapati kehangatan keluarga asing yang begitu mudah menerimanya di saat ia merasa paling sebatang kara di dunia ini.
Miyura menundukkan kepalanya sedikit, merespons tawaran hangat tersebut dengan nada bicara yang amat sopan namun penuh kehati-hatian.
"Ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kebaikan Tuan dan Nyonya," ucap Miyura lembut, meremas jemarinya sendiri di atas meja. "Tapi... tawaran ini rasanya terlalu cepat. Kalian bahkan tidak tahu siapa aku yang sebenarnya."
Miyura menarik napas pelan, lalu melanjutkan tujuannya, "Lagipula, besok aku berencana untuk pergi ke gereja di kota ini terlebih dahulu untuk berdoa dan menenangkan diri."
Mendengar penolakan yang halus itu, Ayah, Ibu, dan Goto saling bertukar pandang dalam keheningan sejenak. Goto menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, tampak kebingungan menghadapi keteguhan hati gadis di hadapannya, lalu menghela napas pasrah.
"Baiklah, kalau itu mau mu," ujar Goto dengan nada mengalah. "Tinggallah di sini selama yang kau mau, dan jangan terlalu memikirkan hal yang merepotkan."
Sebaliknya, Ibu dan Ayah justru menyambut keputusan Miyura dengan antusias yang luar biasa. Ibu tersenyum lebar, merasa semakin menyukai ketulusan dan kesopanan gadis muda tersebut.
Miyura menatap pasangan paruh baya di hadapannya dengan kikuk, lalu menunduk hormat. "Baik, Tuan, Nyonya..." ucapnya ragu-ragu. Ia kemudian melirik ke arah pemuda di dekat dinding, lalu menambahkan dengan suara pelan, "Dan juga... Tuan Goto."
Mendengar panggilan formal tersebut, Ayah langsung melambaikan tangan, terkekeh kecil. "Eh, jangan panggil kami begitu! Panggil saja Ayah dan Ibu, nak."
Ibu mengangguk antusias menyetujui suaminya, lalu menatap putranya. "Dan untuk anak ini, jangan panggil dia Tuan, panggil saja Goto."
Miyura sedikit tertegun mendengar kehangatan yang begitu tulus dari keluarga tersebut. Ia mengerjap pelan, lalu mengangguk patuh. Di dalam hatinya, sebuah debar kecil muncul; mengingat kemiripan pemuda itu dengan mendiang kakaknya, ia akhirnya memilih sebuah panggilan yang terasa jauh lebih pas di hatinya. "Baik... Kak Goto," ralat Miyura pelan dengan senyuman tipis yang hampir tak terlihat.
Merasa percakapan malam itu mulai mereda dan kantuk mulai menyerang, Goto memutuskan untuk mengundurkan diri lebih dulu. Ia meregangkan otot-otot bahunya yang kaku.
"Kalau begitu, aku naik ke lantai dua duluan ya, sudah mengantuk," pamit Goto seraya berbalik melangkah menuju tangga kayu.
Miyura mengangkat sedikit wajahnya, menatap punggung pemuda itu yang berlalu menaiki tangga. Dengan suara yang tulus dan sarat akan ketenangan baru di dadanya, ia berucap, "Selamat tidur... Kak Goto."
Goto sempat menghentikan langkahnya sejenak di anak tangga pertama, menoleh ke belakang sekilas untuk mengangguk kecil sebagai balasan, sebelum akhirnya benar-benar menghilang di balik pintu lantai atas.
Miyura kembali menunduk, meresapi kehangatan yang perlahan merayap di ruang hampa dalam hatinya. Di tempat baru ini, di bawah atap keluarga asing yang penuh kasih, ia bertekad dalam hati untuk menjalani hidup dengan lebih baik—berubah menjadi pribadi yang kuat, demi memenuhi janji terakhir dan keinginan mendiang kakak kembarnya yang telah berkorban demi kebebasannya.