Indonesia
NovelToon NovelToon
Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Dosen
Popularitas:48.7k
Nilai: 5
Nama Author: dtyas

Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.

Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.

Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.

"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”

Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"

“Mas, panggil saya mas Bara.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menggoda Iman

Bab 10

 

Ruby masih tertidur, sesekali merintih. Dahinya berkeringat padahal kamar itu menggunakan AC. Bara yang baru saja mandi dan berganti pakaian, mendekat dan duduk di tepi ranjang.

“Ruby,” panggilnya pelan dijawab dengan erangan.

Tadi Bibi sudah membawakan makan, tapi hanya dimakan beberapa suap. Makan malam dengan anak-anak pun dilewati tanpa kehadiran gadis itu.

“Ruby, bangun. Kamu harus makan. Kalaupun tidak mandi, setidaknya ganti pakaianmu.”

“Nanti dulu, perutku sakit.” Ruby bergerak untuk mengeratkan selimutnya.

“Bangun, lalu makan. Bibi sudah buatkan bubur, sebentar lagi diantar atau kamu mau pindah ke IGD.”

Ruby mengerjap pelan lalu beranjak duduk sambil mengusap wajar, melirik Bara yang menatapnya. “Heran, nyebelin kok jadi hobi. Saya masih sakit pak, dimanja kenapa sih.” Perlahan Ruby beranjak turun dari ranjang dan Bara sigap berada di hadapannya, khawatir istrinya itu butuh bantuan.

“Minggir, pak!”

“Mas, panggil saja, mas.”

“Iya, mas suami. Sana geser, saya mau mandi.”

“Perlu bantuan?”

Ruby menoleh horor. “Si duda mulai mesum.”

Masih mengenakan bathrobe, dengan mandi kilat karena sudah malam. Ada telpon dari Meldi, Ruby menjawab sambil merebah di sofa. Tidak ada Bara di kamar, cukup lama berbincang, tidak menyadari kedatangan pria itu membawa nampan dengan semangkuk bubur di atasnya.

“Iya, nanti gue kabarin kalau udah beres. Ini masalah bukan jangka pendek tapi jangka panjang.”

“Gak pake lama ya beb, jadwal lo udah mulai rame lagi. Cepet selesaikan itu skripsi, kalau dosen lo ogah ngelulusin, biar gue yang mindahin tali toga lo ya.”

“Iya, cerewet banget. Gue potong gaji lo, nanti.” Terdengar makian Meldy di ujung sana, Ruby menjauhkan ponsel dari telinga. “Ya udah, nanti gue hubungi lagi. Bye, Meldi sayang.”

Brak

Ruby menoleh. Bara meletakan nampan tanpa budi.

“Makan, minum obat lalu tidur. Jangan menyusahkan.”

“Kalau nyusahin balikin aja saya ke apartemen. Gitu aja kok repot.” Sudah dalam posisi duduk lalu mengaduk bubur dengan topping kecap dan telur rebus, juga ada suwiran ayam. Bara duduk di tepi ranjang, mengawasi sambil bersedekap.

“Makan bubur berasa kayak orang sakit.”

Rasanya Bara ingin mengetuk kepala Ruby dengan gayung.

Jelas-jelas tadi mengeluh sakit. Seperti ada yang salah dengan otaknya. Siapa pula yang disebut sayang? Mungkinkah pacarnya, pikir Bara.

Berada di bawah tatapan Bara, tidak ada alasan untuk tidak menghabiskan porsi makannya. Meneguk air mineral yang memang sudah terhidang di meja sofa.

“Minum obatmu!”

Mulut Ruby komat-kamit menirukan kata yang keluar dari bibir Bara. Bergerak tanpa mengeluarkan suara, menuju nakas di mana tasnya berada. Ada kotak obat yang sudah disiapkan Meldi selalu dia bawa.

“Mas, saya tidur di ranjang ya.” Ruby bicara sambil menuju toilet. Rupanya ia menggosok gigi dan berganti piyama. Bara menaiki ranjang dan mengganti penerangan dengan lampu temaram. “Loh, kok di ranjang,” keluhnya mendapati sang suami sudah berbaring nyaman di sana.

“Menurut kamu saya harus tidur di mana, balkon?”  

“Temboklah, kayak cicak-cicak di dinding. Maksudnya mas Bara ngapain di ranjang, tadi udah bilang saya tidur sini. Terserah mas mau tidur di mana. saya lagi kurang sehat loh, harus ngalah sama cewek.”

“Jangan berisik, cepat naik dan tidur! Jangan sampai ada yang dengar perdebatan kita.”

“Tapi saya belum rela di unboxing. Kita nggak saling cinta, rugi saya serahkan keperawanan bukan karena cinta.”

“Percaya diri sekali, kamu pikir saya mau. Saya minta kamu tidur, bukan mau cicipi kamu. Kalau tidak bisa tenang, kamu bisa tidur di walk in closet. Ada karpet dan selimut tambahan di sana!”

Ruby kembali mengoceh tanpa suara mengejek Bara yang berbaring membelakanginya.

“Dasar duda karatan, awas aja macam-macam.”

“Saya dengar Ruby. Justru kamu jangan macam-macam, jangan mengganggu tidur saya.”

Menaiki ranjang sisi kosong dan membatasi area mereka dengan guling, tepat berada di tengah.

“Nggak romantis banget, udah tahu istrinya sakit. Malah ngancem-ngancem. Pantes aja jadi duda udah lama. Ini guling pembatas wilayah, kita gencatan senjata dulu. besok lanjut perang lagi,” tutur Ruby.

Bara mengabaikan ocehan Ruby, memejamkan mata menahan kesal. Hari-harinya ke depan pasti akan semakin seru, setiap saat emosinya terpancing oleh kelakuan istri kecilnya itu.

“Ya ampun, baru kali ini berbagi ranjang sama orang lain.”

“Orang lain ini, suami kamu.”

“Eh, iya, ya. Berkah atau musibah ya, dari skripsi jadi ibu tiri.” Ruby berdecak, memposisikan tubuhnya dengan nyaman dan menarik selimut. “Pak, eh, mas. Udah tidur belum?” tanya Ruby menolehkan wajahnya menatap punggung Bara. “Masa cepet tidur banget. Satu ranjang sama anak perawan, nggak bikin mas Bara tegang gitu?”

“Astaga, Ruby!” Bara sudah berbalik dengan wajah geram. “Sekali lagi kamu bicara, saya buat kamu tidak bisa nafas.”

“Ya ampun, ganasnya.” Kedua tangan Ruby gegas menutup mulut dan Bara kembali berbaring.

“Emang masih ingat caranya pak, jangan-jangan harus pake tutorial.” Ruby akan tergelak, tapi Bara sudah beranjak lagi dan siap menerkam. “Iya, iya, saya tidur.” Menarik  selimut menutupi sampai kepala.

“Ya ampun,” lirih Bara mengusap wajah dengan nafas memburu. Sungguh memancing emosi dan jiwa kelelakiannya.

 

 

1
Nur Wakidah
adik bayi segera otewe 🤭🤭🤭
sikepang
sabar y jelita bahan y masih baru di cek out dikerangjang kuning, ntar di adon adek baby y sama daddy dan bunda 🤣
tiara
hayo Ruby Jelita minta adik tuh
mery harwati
Meldy aq padamu 😛❤️
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
'Nchie
semoga ada ke ajaiban untuk adly😭😭
Melania Kiaa
ehh gak sooan🙄
'Nchie
awas aja kamu ruby kalo adly udah sembuh boleh pulang🤣🤣yg ada kamu yg di makan bara🤣🤣
'Nchie
spesial pake telor ya by🤣🤣🤣
'Nchie
🤣😀jaelangkung
Melania Kiaa
yang ada malah papamu yang ketuaan dek🤭
Anonim
Ruby .....emang sok berani
Anonim
Iih ada jaelsngkung keluyuran 🤭
Anonim
Jangan sampai kenapa "Adly
Anonim
Tuhkan Ruby....kamu sih ....sok"an tantang Mas Bara .....
Dozky 2 Crazy
mas duda bisa gak cara penyampaian jgn lempeng banget🥲🥲
Dozky 2 Crazy
jangan kan adly kita ajj yg baca selalu dibikin ketawa sama ruby😁😁😁
Anonim
Ruby ngapain kamu tantangin Bara
Awas ya kamu .....🤭
Dozky 2 Crazy
makasih bunda udh ada buat adly 🥲🩷🩷
Anonim
Benar .....Ipar adalah iblis
Iccha Risa
ngebangun rumahtangga bersama mas Bara apalagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!